Archive for April 2014

9Month for Failed (24-04-2014)

“Udah 3 bulan kamu gak ada saat hari penting kita kak! Udah 3 bulan kamu kecewain aku, udah 3 bulan kamu berubah! Kenapa sih gak pernah dikit aja ngertiin perasaan aku? Aku gak tahan lagi, aku mau kita berakhir aja sampai disini. Makasih!” aku memutuskan sambungan telpon setelah aku mengeluarkan unek-unekku pada Indra, tanpa sempat memberinya kesempatan untuk berbicara. Kekasihku semenjak 8 bulan yang lalu, orang yang paling kucintai, lelaki satu-satunya yang ada dalam hati dan pikiranku. Ntah apa yang kuucapkan padanya malam ini, aku tak tahu apakah keputusan ini tepat, yang jelas aku benar-benar kacau saat ini, air mata ku tak dapat kutahan, mengalir dan membasahi pipiku sesuka hatinya, ntah ini benar atau tidak yang jelas aku butuh sendiri saat ini, butuh menjauh darinya, tapi aku sendiri pun tak yakin bakal sanggup putus dengannya. Sudahlah ... kita lihat saja nanti.

            Lima menit setelah aku memutuskan telpon hp ku bergetar menandakan sms masuk, benar itu dari Indra, aku perlahan menghapus air mataku dan membaca pesan itu.

     Putus? Kamu minta putus? Disaat hubungan kita masuk bulan ke 8, iya? Udah berapa kali kamu mutusin aku? Hah? Gampang banget bilang kata-kata putus hanya karena hal yang sepele, aku udah ikutin kemauan kamu, udah nelpon kamu malam ini untuk merayakan 8bulanan kita, tapi akhirnya apa? Kamu mutusin aku lagi, seperti bulan lalu! Aku juga yang salah? Iya? Kamu nyalahin aku lagi? Aku gak tau harus gimana lagi L, terserah kamu!  

            Akhirnya setelah membaca itu air mataku dengan liarnya mengalir lagi, bahkan labih deras dari sebelumnya, aku menutup mulutku agar isakan ku tak terdengar orang dirumahku karena malam sudah sangat larut, sudah pukul 12.00 malam, aku memeluk gulingku dan menyembunyikan mukaku di balik guling.

 Aku capek kak, sifat kamu gak pernah berubah, aku capek dnegan ketidakpedulian kamu, maafin aku. Lalu tak lama, aku tertidur.

Besok harinya disekolah aku cerita pada sahabat-sahabatku tentang aku putus dengan Indra, ya, seperti dugaanku, mereka pada tak menyangka dan menenangkanku. Aku sempat tak fokus belajar dan berpikir, pikiranku melayang ntah kemana, Indra berusaha mengirim pesan padaku, dan aku berusaha tak menggubris tapi tetap saja pesan-pesannya masih terus ku balas walau aku tahu kata-kataku menyakitinya lagi.

Sudah seminggu ku lewati hari-hariku tanpa Indra, and trust me it so hard, beberapa kali dia menelponku saat dia pulang kerja tapi aku hanya berbicara seadanya, demi tuhan aku tak bermaksud seperti itu, mendiamkannya, membuatnya sakit, no! It’s fake, seriously it’s hurt me too Indra.. aku rindu padanya, suaranya, perhatiannya, ketawanya, semuanya aku rindu ya Tuhan.. what can I do?

Hari-hariku suram, tentunya karena lelaki itu, apakah aku egois? Aku jahat? Aku terlalu anak-anak? Ntahlah, aku tak sempat memikirkan itu semua, yang aku tahu aku rindu pada nya, jujur aku ingin kembali kepelukannya, tapi aku terlalu takut, dan terlalu malu untuk itu. Andai kata putus itu tak pernah ada ya Tuhan. Shit, aku mulai menyesali keputusanku. What the fucking stupid of me!

Sebenarnya, aku dan Indra berhubungan jarak jauh, itu yang membuat kami agak sulit jika ada pertengkaran, tak bisa menyelesaikan secara langsung, aku di Medan dan dia di Depok. Yeah, so far. Tapi sejauh apapun jarak diantara kami, itu tak terlalu masalah, bukannya cinta itu masalah perasaan dan kenyamanan? Sehingga pada akhirnya kami bertahan selama 8 bulan, walaupun hanya baru 2 kali bertemu, tapi itu sudah sangat berharga bagi kami, walaupun kini aku harus menerima kenyataan karena kebodohan keputusanku aku memutuskannya disaat kami memasuki bulan ke8.

Tapi tentu bukan karena tak ada alasan, yah walaupun alasannya tidak terlalu spesifik, tapi bagiku masalah ini besar walaupun tidak baginya, aku merasa semenjak 3 bulan yang lalu tepat disaat dia memulai selingkuh dariku walaupun akhirnya dia tetap memilih untuk bertahan padaku dan meninggalkan selingkuhannya, ya mulai sejak itu aku jadi terlalu sensitif, terlalu berlebihan, terlalu takut,terlalu sering marah-marah padanya, dia memang selalu menyakinkanku bahwa dia tak akan melakukan hal yang sama lagi, tapi bukannya aku tidak memercayainya, tapi wajarkan aku takut dan trauma?

Ya, aku tahu dia mencintaiku, he’s the best and always the best in my life, aku nyaman dengannya, dia punya cara sendiri untuk membuat ku hari demi hari semakin mencintainya, walaupun dia bukan seorang yang romantis, orang yang suka mengumbar kata cinta, bahkan bukan seorang cowok yang perhatian, dia sering cuek padaku, tapi dibalik itu semua aku tahu itu memang sifatnya, walaupun dengan sifatnya itu sering membuatku jengkel, ya, sesekali aku butuh itu,  tapi sebenarnya bukan itu alasan yang membuatku memutuskannya.

“Gimana sama kak Indra Van? Udah balikan belum? Udah 2 minggu kalian putus” ujar Ceni sahabatku, “Ntahlah Cen, dia sekarang juga menghilang dan gak berusaha hubungin Vani lagi, mungkin dia udah nerima kali diputusin sama Vani” jawabku sedih.

“Kamu sih, mutusin dia seenaknya, sekarang aku tanya nih ya, alasan Vani mutusin kak Indra apa? Dari awal putus sampe sekarang kamu gak pernah kasih alasan pasti” sambung Zie, teman sebangku ku dan termasuk sahabatku juga, pertanyaannya membuatku malu sendiri, jawaban apa yang harus ku kasih padanya.

“Emm.. gak tau lah Zie, Vani juga bingung, waktu itu Vani putusin kan karena pas malam kami anniv ke 8 bulan dia gak mau nelpon, kalau gak Vani suruh, terus dia pas nelpon juga diem aja, Vani kan kesel, udah 3x dia kayak gitu. Itukan hari penting kami”

“Dan Vani juga udah 3 x mutusin dia, Van, come on lah, masa Cuma gara-gara hal sepele gitu Vani putus sama kak Indra, toh akhirnya dia nelpon kan? Kasian loh dia Van, dia udah berusaha ikutin kemauan kamu, tapi kamu nya malah mutusin, siapa coba yang gak sakit? Balikan gih, hapus gengsi kamu, kalian masih sama-sama cinta” lanjutnya

“Vani gak gengsi kok, waktu kemaren itu Vani udah minta balikan, udah berusaha memperbaiki semuanya, eh dia malah gak ada kabar, giliran vani sms baik-baik dia menghilang, giliran vani marah-marah dia balik marah, mau nya apa sih huh” kesalku,

“Vani udah berubah seperti yang dia mau belum? Vani tau kan dia maunya apa? Coba Vani selama libur duduk diem dirumah, dan gak pergi sama temen-temen pasti ntar dia juga baik sendiri” ujar Ceni, aku terdiam sesaat dan tak bisa membela diri.

“Vani kesel tau gak sih Cen, bbm Vani di hapus, Fb di blokir, sms gak balas. Gimana gak kesel? Yaudah Vani pergi-pergi aja, Vani sosmedan sepuasmya, biar dia marah dengan gitu kan pasti dia sms Vani”

“Udah nelpon belum? Sms mulu, telpon kek sekali-sekali” ujar Safrina yang sedari tadi diam mendengar ocehan kami. “Nelpon? Ah gak mau ah takut, lagian Vani malu lah, ntar gak diangkat mau ditarok dimana muka Vani” jawabku asal,

“Yee dasar, Van,Van, urusan percintaan orang kamu urusin, giliran urusan perasaan dan percintaanmu kamu lemah banget, huh payah nih” ujarnya lagi, aku hanya tersenyum sekilas.

“Jangan kayak gitu lah Vani sayang, ayo kali ini keluarin pikiran dewasa kamu, udah mau 17 tahun masih aja gak bisa urus masalah sendiri, kamu kenal dia 8 bulan, kamu tahu apa yang dia mau. Ikutin aja dulu, biar semua baik”

“Hmm.. nanti Vani coba deh”

“Mau selamanya kehilangan dia dan dia muak sama Vani?, dia capek sama Vani?, dan dia menghilang selamanya, cowok gampang cari yang baru loh, kamu jauh dan dia bisa cari yg dekat hahha”

“Aaaa,gak mau!!! Gak boleh lahhh kayak gitu L tapi gimana? Udah 3 hari dia gak ada kabar. Atau mungkin dia udah ada yang lain, udah lupa sama Vani”

“Gak akan secepat itu sayang, aku yakin kak Indra sayang sama Vani, dia masih mau baikan sama Vani, tapi Vani harus berubah dulu, ikutin aja apa kata dia.”

“Iyadeh nanti Vani coba, huuhh payah nih kak Indra bikin Vani gak tenang, nyebelin banget makhluk satu itu!!!” jawabku mengakhiri pembicaraan kami, mereka hanya tersenyum sendiri melihat jawabanku, ya.. apa kata mereka benar, apa kata Indra juga benar, mungkin memang ini salahku, aku yang terlalu cepat dan bandel. Yah, aku harus terima resiko di cuekin sama Indra, ntahlah sampai kapan seperti ini. Aku hanya takut akan satu hal, dia udah dapat pengganti ku L Oh kak Indra... kamu lagi ngapain?????

Hari ini tanggal 20, dan tanggal 24 nanti tepat sebulan aku putus dengannya, dan tepat 9 bulan hubungan ini. Tapi sampai sekarang tanda-tanda baikan dengan Indra belum terlihat, aku sudah beberapa kali menghubunginya tapi tetap dia tak merespon usahaku, aku tak bisa melihat kabarnya karena semua sosmed ku di blokir olehnya, ya dia sangat marah padaku. Aku harus bagaimana? Aku hanya bisa mendengar kabarnya dari sahabat dekatnya, kak Anna.

Ini benar-benar menyiksaku, aku tidak tahu bagaimana perasaan ku saat ini, sangat jauh dari kata normal. Aku tak tahu harus bagaimana lagi, Indra sama sekali tak ada kabar, yang kubutuhkan saat ini hanya kepastian, apakah hubungan ini sudah benar-benar berakhir atau belum? Jika memang ini tak bisa dilanjutkan lagi, aku ingin mencoba merelakan dan melupakannya, aku tak sanggup dengan hal seperti ini, aku bisa gila Indra.

Harus bagaimana lagi?  Aku tahu aku masih melanggar semua permintaan-permintaannya, bahkan sedikitpun aku tak memperdulikan larangannya, karena aku pikir sekarang aku dan dia dalam kondisi putus, jadi dia tak berhak melarangku, tapi aku janji pada diriku sendiri nanti jika hubungan ini bisa kembali, aku akan mengikuti larangannya.. aku hanya butuh Indra untuk saat ini, dan selama aku tak bisa mendapatkannya kembali, aku tak mau mengikutinya, biarkan dia marah, dia kesal, dia kecewa yang jelas ini kulakukan agar aku tahu apakah dia masih peduli denganku? Aku rasa tidak, bahkan sampai sekarang sama sekali dia tak ada kabar, benar-benar menghilang. Perasaan takut mulai menggelitikku, apakah dia disana sedang bersama pacar barunya? Apakah dia sedang tertawa melihat ku menderita? Apakah dia sedang asik dengan dunianya? Apakah dia sedang memikirkanku? Apakah dia sama sekali tak ingat lagi denganku? Oh Tuhan!!!!!!! Aku benar-benar takut, apakah secepat ini kau berpaling dan melupakanku Indra? Sulit dipercaya L L aku memutuskan untuk menunggu tanggal 24, ya kalau semua ini masih seperti ini, kalau dia masih tak ada kabar, aku janji akan melupakan dan tak mengharapkannya lagi.

Aku mencintaimu Indra Rusyandi, aku tak sanggup lama-lama seperti ini, hidupku berantakan, hatiku sakit, andai aku masih punya kesempatan untuk memperbaiki ini semua, andai kesempatan itu masih ada untukku, aku janji tak akan mengulang kata-kata itu lagi. Kamu sumber kebahagiaanku, hanya bersamamu aku nyaman, hanya bersamamu aku mampu bertahan sejauh ini, kamu udah jadi bagian dari hidupku, I hope you the last in my life without another person again, aku ingin selamanya memilikimu, aku ingin berbagi kisah dan cerita lagi, aku rindu akan setiap hal yang kamu ceritakan padaku, setiap keluhan yang kamu keluhkan padaku, aku rindu caramu memanggilku, caramu tertawa, caramu menunjukkan kasih sayangmu, aku rindu semua itu, jangan siksa aku seperti ini kak, jangan coba pergi dari hidupku, aku sudah terbiasa dengan kehadiranmu walaupun secara tidak langsung, aku sudah terlanjur mencampuri mu disetiap kegiatan dan aktifitasku, kembalilah padaku, kita perbaiki ini semua, dan jangan berpikir untuk pergi selamanya dariku, demi tuhan aku tak sanggup. Maafin aku membuat mu sempat menangis, maafkan aku sempat membuatmu marah dan kecewa, maafkan kata-kata kasarku selama ini, dibalik sifat ku semua itu, ada rasa cinta yang tulus untukmu, jauh dilubuk hatiku, hanya namamu yang kuharap untuk menemani seluruh hidupku, aku hanya ingin denganmu selamanya.....

Malam ini aku benar-benar sangat merindukan Indra, sejenak terpikir olehku untuk mencoba meng’sms nya, Cuma aku agak sedikit ragu, takut-takut dia tak menghiraukan sms ku seperti sebelum-sebelumnya, tapi aku pikir aku tak butuh balasan, karena kemungkinan untuk dibalas itu sangat kecil, aku hanya ingin memberi tahunya jika aku sangat merindukannya. Ya, dia hanya perlu tahu bahwa aku masih selalu memikirkannya walau aku sudah memutuskannya, dan aku yakin, dia pun tahu bahwa ini bukan mau ku. Aku mengambil hp ku dan mulai memikirkan kata-kata apa yang pantas ku kirim padanya, akhirnya setelah lama berpikir...

Selamat malam pria yang mengisi seluruh hatiku, :’) apa kabar kamu disana? Gimana keadaan kamu? Aku harap kamu baik-baik aja ya. Masih pernyataan yang sama ‘Aku merindukanmu’ J aku masih membutuhkan kata maaf dari mu L

Pesan terkirim..........

Bodohnya aku masih mengharapkan balasan dari dia, dan seperti dugaanku, dia tak merespon, aku yakin jam segini dia sudah pulang kerja disana, dan aku yakin dia sudah membacanya, dan dia pun memutuskan dia, tanpa sadar air mata mulai mengalir lagi, bukan karena dia tak membalas pesanku, tapi terlebih ke bagaimana aku membuat segalanya berantakan, ya.. berantakan. Sudahlah, aku terlalu lelah hari ini, sebelum tidur aku mengecheck beberapa sosial mediaku, yang pertama ku buka adalah path ku, ada tiga pemberitahuan disana, pertama like’an status dari teman-temanku, kedua balasan komen dari kakakku, dan terakhir, hatiku rasanya tenang dan tak bisa ku tahan senyumku, Indra meng’Visit path ku, lalu kemudian aku tertidur.

Entah apa yang kau lakukan disana kak, aku yakin kamu masih memikirkan ku walaupun hanya sekejap, ya aku berharap begitu. Selamat malam untuk kamu, tidur nyenyak yah.. aku harap tiga hari lagi, tepat tanggal 24 hubungan ini berakhir indah seperti biasanya.

24-04-2014

Tanggal ini adalah tanggal penting bagiku, hari dimana sembilan bulan yang lalu aku mengenalnya, dan dia memintaku menjadi pacarnya, haruskah secepat ini semuanya menjadi kenangan Tuhan? Apakah memang kami tak dapat bersama lagi? Akan kah semua kenangan yang selama ini kami buat harus menjadi kenangan juga? Bagaimana mungkin aku sanggup menjalankan hari ini? Bagaimana mungkin aku mampu menepisnya dari hidupku?

Aku membuka jendela kamarku, aku melihat rintik-rintik hujan menyapaku pagi ini, pagi ini basah, aku menikmati hujan itu, pikiranku melayang ntah kemana-mana, hujan... hey, banyak cerita yang kita titipkan lewat hujan Indra. Perlahan air mataku mengalir, semakin lama semakin deras, aku merasakan sakit yang teramat dalam di lubuk hati ini, rasa rindu yang menumpuk, penyesalan yang mendalam semua bercampur jadi satu, haruskah penantian ini berhenti sampai hari ini? Apakah hati ku sanggup melepasmu? Melepas semua impian kecil kita, kenangan indah bersamamu. Semua pengorbanan kita selama ini, dapatkah aku bertahan tanpamu lagi?

Ya Tuhan, bagaimana ini? Bagaimana caraku agar hari ini bisa sedikit menghiburku, tiga bulan aku melewati tanggal ini tanpanya, apakah harus untuk yang keempat kali? Kelima kali? Keenam kali? Atau bahkan seterusnya? Tanpanya...

Kebetulan hari ini sekolahku libur karena acara perpisahan kakak kelas, semakin membuat ku frustasi, jika masih bersamanya mungkin aku bisa menghabiskan sisa hari ku dengannya, di hari ini, di tanggal yang selalu ku nanti-nanti ini. Tapi aku cukup sadar untuk tidak terlalu mengharap akan hal itu. Mungkin dia sudah memutuskan untuk pergi dan tak kembali, mengingat akan hal itu membuatku sakit, dasar bodoh... padahal sebulan yang lalu, aku yang meminta ini semua tapi sekarang aku yang menyesal, hal bodoh macam apa ini? Kenapa aku bisa sebodoh ini Tuhan???? L

Apa yang dikatakan sahabat-sahabatku benar, apa jadinya aku tanpa Indra? Karena memang tak bisa ku pungkiri hidupku sudah mulai terbiasa dengan hadirnya di kehidupanku, apalagi saatpertama masuk SMA dia pacarku, kehidupanku di SMA dia cowok yang masuk dikehidupanku saat ku memulai dunia baruku di SMA.

‘Aku gak bisa bayangin Van, gimana hidup mu tanpa kak Indra, haha... sedikit-sedikit Indra, semuanya serba kak Indra, tiada hari tanpa dia ya. Haha’

Gagasan itu yang selalu mereka beri padaku, ya, sekarang beginilah aku tanpanya, hidupku tak terletak pada tempatnya, berantakan walau sebisa mungkin didepan para sahabat dan orang tua ku aku berusaha setegar mungkin.

Awalnya aku tak tahu apa beda cina dan suka, bahkan aku tak sempat meyakinkan perasaanku sendiri padanya, sampai pada akhirnya aku tahu cinta adalah dimana seseorang memasukkan orang lain disetiap aktifitas dan kegiatan dalam hidupnya, ada ataupun tak ada orang tersebut didekat kita.

Aku sangat mencintaimu kak, buktinya tiada hari yang kulewati tanpa memikirkanmu, sampai aku lupa bagaimana caranya agar aku berhenti membayangkan indahnya bersamamu, aku lupa caranya bagaimana tidak menyebut namamu disetiap hariku, selalu kamu, kamu, dan Cuma kamu yang aku pikirkan, terkadang hati ini naif, aku menginginkanmu pergi agar kau bisa berbahagia dengan wanita lain yang jauh lebih baik dariku, ya aku menginginkan itu, aku menginginkan kebahagiaanmu, tapi dilain sisi aku harus menerima kenyataan dengan melepasmu aku juga melepaskan kebahagiaanku sendiri, so how about this ? can I’m?

  Jam sudah menunjukkan pukul 10.00 malam, ya aku masih belum bias tertidur, jujur aku sangat lelah hari ini, menunggu hari ini begitu lama bagiku,hari ini penantian terakhirku, aku menebak bahwa Indra belum pulang kerja, apakah dia mengingat tanggal ini? Apakah dia masih mau menelponku atau hanya sekedar sms untuk mengingatkan hari ini jam 11.35 nanti? Apakah aku masih bisa berharap akan hal itu Tuhan? Tiba-tiba hpku bergetar, tanda sms masuk, ya itu dari sahabatku Ceni.

Gimana Van? Udah baikan belum sama kak Indra? *berharapsudah* :D kalau udah aku ikut seneng ya, semoga gak berantem2 lagi, kalian gak boleh putus apalagi sampai saling melupakan.

Aku tersenyum membaca sms sahabatku itu, memang mereka sangat mengharapkan aku dengan Indra lagi, aku menarik napas panjang kemudian menyiapkan balasan untuknya.

Ntahlah Cen, Aku gak bisa berharap banyak. Aku belum balikan sama dia, komunikasi aja belum -_- haha aku juga berharap gitu, tapi gak tau lah liat nanti aja sayang J

Loh belum baikan? -_- iss balikan dong kalian :’( aku pikir kalian udah baik-baik aja. Ceni tuh mau Vani tetap sama kak Indra, Ceni Cuma liat Vani Cuma bisa bahagia sama dia Van, kak Indra itu yang terbaik buat Vani begitupun sebaliknya.

Vani lebih ke menunggu ya Cen, toh Vani yakin kebahagiaan Vani bukan Cuma dia, lanjut atau enggaknya hubungan ini juga tergantung dia sih, Vani udah berkali-kali ngajak baikan tapi ga pernah direspon, yaudah mungkin ini memang harus Vani yang tanggung, yang terbaik buat kami itu hanya kami dan Allah yang bisa nentuin. Kalau akhirnya harus pisah, kami harus bias nerima.

Hmm, iya bener Van, banyak sabar ya sayang :* aku Cuma bisa doain yang terbaik buat kalian, ceni tidur yah. Gudnite {}

Perlahan air mataku mengalir setets demi setetes, membayangkan berapa banyak orang yang mengharap aku dan Indra kembali seperti biasanya, ini menjadi begitu rumit bagiku, ntah baginya. Bagaimana aku dapat melupakannya, bagaimana aku dapat melepasnya jika semua hal yang didekatku memaksaku kembali padanya ya Tuhan?

Aku melirik jam jam didinding kamar, sudah menunjukkan pukul 11.00, itu berarti 35 menit lagi, aku menghapus air mataku, aku ambil boneka pemberian Indra yang terletak tepat disebelah bantalku, aku pandangi boneka itu, dadaku terasa perih, tanpa sadar aku pun tertidur.

“Hah jam 11.37? what the f*** oh God,” ujarku panik, aku telat dua menit, aku melihat hpku, tak ada sms ataupun telpon, aku kembali lemas, padahal aku sangat berharap dia mencoba menelponku, oke, sepertinya harapanku hancur. Aku melihat androidku, ada satu pesan darinya melalui telegram, ya salah satu social media yang khusus berteman dengannya seorang. Aku cepat-cepat membuka pesan itu, ‘Happy 9mothsarry J but fail L’ Just it? Seriously my tears fall again, damn!  Aku hanya membalas seadanya, aku sudah sangat kecewa, separah inikah rasanya? Sesakit ini kah rasanya? Satu bulan bukan waktu mudah aku menunggunya, sebenarnya inikah namanya cinta? Melakukan suatu hal yang membuat orang yang dicintainya kecewa dan sakit? Bukan sekali aku rasakan ini, terlalu sering merasakannya membuatku hapal dengan sifatnya itu.

Aku mengecek social media ku, terutama Path, salah satu hal yang masih menghubungkanku dengan Indra, seperti dugaanku, dia mem’visit pathku, aku tersenyum simpul.  “kenapa harus kayak gini kak? Kenapa kamu bikin semua menjadi sulit? Hari ini harapan terakhirku dan semua hancur, kenapa gak dari awal seharusnya kita memang tak saling mengharapkan lagi agar tak sesakit ini kecewa yang ku terima?”

Dia hanya membaca balasanku, karena kesal aku mengirimnya pesan lagi, aku tak tahan begini terus mungkin memang seharusnya ini cepat di akhiri, agar aku tahu apa yang kulakukan selanjutnya. Ya aku tahu, akhirnya kami bertengkar lagi, lagi, dan lagi seperti biasanya. Aku dan Indra tak pernah sependapat dan sepahan mengenai hubungan ini.

Aku pikir semuanya sudah selesai, andai dia tahu, tanpa dia suruh pun pada akhirnya aku akan menuruti permintaannya untuk tidak aktif di sosmed  

“Ini semua kulakukan agar aku tahu kabar kamu dan bisa lebih dekat dengan kamu, aku rindu kamu kak, kenapa rasanya kamu sulit banget mengerti hal itu?”

Dia sudah tak membalas lagi pesanku, mungkin dia sudah terlalu lelah dan pada akhirnya tertidur, salah satu kebiasaan buruknya, tanggal 24 ini terlewati begitu saja, sudah 4 kali seperti ini, aku menepuk dadaku, agar sakitnya tidak terlalu terasa, sudah pukul 02.00 pagi aku tahu aku harus tidur karena besok sekolah, tapi mataku tak bisa terpejam, banyak hal yang masih kupikirkan, terlalu banyak kenangan yang terlintas di otakku saat bersamanya, kini harus ku kubur dalam-dalam. Aku membuka facebook  dan path ku, aku nonaktifkan keduanya, berusaha menghilangkan jejak, berusaha untuk tidak mengingat semua kenangan yang sudah tersimpan diotakku, mungkin ini saatnya, aku berusaha dan belajar bagaimana melepas orang yang kucinta.

Aku masih tak bisa tertidur, aku memutuskan mendnegar lagu dan sialnya semua lagu di playlist ku memutar lagu-lagu galau, membuat ku terbawa suasana, aku membuka aplikasi picture di androidku, melihat satu-satu foto aku dan dirinya saat di Jakarta, kemudian menghapusnya. Setiap foto yang kuhapus tanganku bergetar, antara tak ikhlas dan sedih, haruskah ku lakukan ini? Ya harus, aku merasa dia pun tak peduli lagi.

Selamat tinggal 24ku, Indra Rusyandi tetap menjadi yang terindah sampai kapanpun dalam hidupku.. banyak hal yang kupelajari saat bersamanya. Banyak hal… ya banyak hal. Ya Allah…. Bantu aku untuk ikhlas L

Terimakasih kak, maaf terlalu sering menyakitimu dan selalu mengambil keputusan yang salah, mungkin aku bukan yang terbaik. Maaf gak bisa menjadi terbaik dalam hidupmu…

NB : based on true story, last story of Trivani Desyara, Indra Rusyandi. Wherever you are, I always miss and love you J lanjutkan kisah cintamu yang lain kak, jaga orang yang akan menjadi pendampingmu setelah aku, lanjutkan kisah dan cintamu, aku selalu support kamu :*


Posted via Blogaway

:') :'(

Ingin sekali rasanya aku berteriak.
Ingin sekali aku menangis.
Perasaan ini ya Allah..
Sampai kapan air mata ini jatuh?
Se gak penting ini kah aku?
Aku yg selalu berusaha mengembalikan semuanya?
Tapi seperti tak dihargai?
Aku yg selalu ingin dia ngerti, aku disini...
Terlalu dalam mencintainya.
Sampai aku gak bisa yakinin diri sendiri sampai kapan aku bisa menghapus tangis ini.
Semudah ini dia melupakan semuanya disaat aku masih sangat berharap dirinya tetap menjaga perasaan ini.
Untuk kesekian x nya Tuhan.
Aku ga sanggup :(
Aku terlalu berharap dicintai tulus sama seseorang.
Disaat aku butuh penopang tangis ini.
Disaat aku percaya hatinya tetap untukku.
Tapi knpa semua terbalik?
Mudah baginya , terlalu sulit untukku :'(
Ini yg terbaik?
Demi Tuhan aku rela.
Apapun demi dia aku rela,
Jaga dia,
Beri kemudahan untuk semua kegiatannya.
Beri wanita terbaik untuknya.
Aku janji aku akan melepasnya walau hati ini belum sepenuhnya ikhlas.
Sampaikan salam rindu ku untuknya :')
Katakan padanya, aku akan selalu merindunya dalam hujan :')
Forever


Posted via Blogaway

My Slide Show Photo

My Slide Show Photo by Slidely Slideshow

- Copyright © 2013 Trivani Desyara - Trivani Desyara - Powered by Blogger - Designed by Rain Boy -