Archive for June 2013

Untill Now I Still Love You (Part2)

Aku terbangun dari tidur nyenyakku, entah mengapa beberapa minggu ini aku selalu bermimpi tentangnya, padahal semenjak putus dengannya tiga bulan yang lalu, aku mulai menerima keadaan, bahkan aku sudah sangat hapal dengan rasa sakit dihati ini yang sering datang tiba-tiba, semua keadaan ini harus kujalani bahkan sampai detik ini, sosoknya belum pernah terganti oleh siapapun, untuk beberapa saat, sempat aku mulai melupakannya dan menjalani hari-hariku seperti biasa, karena aku tahu, buat apa terus memikirkan orang yang sama sekali tak pernah memikirkan rasa sakit ini, tapi sialnya tak segampang itu, sekuat apapun usahaku melupakannya tetap bayangan-bayangan wajah itu, sosoknya yang selalu membelai kepalaku disaatku sedih, ahh… sampai kapan aku terus seperti ini?
Dua bulan yang lalu, Ardi pindah sekolah, aku tak tahu apa alasan pasti dia memilih untuk pindah dari sekolahku, tapi dengan kepindahannya kupikir akan lebih mudah melupakannya, tetapi nyatanya, itu malah semakin sulit, tapi aku berusaha menahan hati ini, menahan rasa rindu ini.  Parahnya semenjak kepindahannya dua bulan yang lalu, dia sama sekali tidak pernah mengabariku, tak pernah menelponku lagi, tak ada kabar apapun, terakhir kali aku berkomunikasi dengannya pada tanggal 12 mei 2012, itu adalah hari ulang tahunnya, sebelumnya aku masih ragu untuk memberi ucapan itu atau tidak, tetapi setelah kupikir-pikir apa salahnya untuk terus berhubungan baik dengannya? Aku hanya ingin dia sadar, bahwa sampai hari itu pun aku masih perduli dengannya.
Setelah aku mengucapkan selamat ulang tahun padanya dan memberi sebuah gambar untuk mengingatkan masa-masa manis kami dulu, kupikir dia akan luluh, tetapi aku salah, responnya sama sekali membuat luka dibagian dalam hatiku, dia hanya memberi jawaban tiga kata, yang sampai sekarang masih kuingat ‘Amin, sip makasih’ dan itu cukup membuatku berhenti untuk terus berharap, dia sama sekali tak menghargaiku, mungkin memang aku yang terlalu banyak berharap, toh aku tahu, Ardi memang cuek,ya walaupun karena sifat cuek nya itu yang buat aku penasaran dan memilih mencintainya, tapi kenapa setelah berpisah dengannya aku masih merasa dia mencintaiku? Kalaupun iya, aku harap kita masih bisa berteman baik Di, kamu cowok yang beda yang pernah aku temuin..

Aku tersadar dari lamunanku, aku merasakan setetes air mata tiba-tiba meluncur keluar dari mataku, bahkan sampai sekarang, sampai detik ini air mata ini tak pernah habis untuknya.
Aku cepat-cepat menepis air mataku dan bergegas mandi, sekarang bukan saat yang tepat untuk flashback semua kenanganku tentang dirinya, aku harus fokus pada sekolahku, karena sebentar lagi aku harus dihadapkan pada ujian kelulusan. Aku sadar jika aku terus seperti ini, mau tak mau akan berpengaruh pada nilai ujianku.

“Abis nangis lagi ya lo Mit? Kenapa? Mikirin Ardi lagi?” tanya Nisa teman sebangkuku, aku hanya mengangguk pasrah, tak ada gunanya berbohong pada sahabatku ini, tak akan berhasil, karena kutahu dia adalah sahabat yang paling tak bisa kubohongi masalah perasaan ini.
“Aduh sayang, udahlah.. ngapain dipikir lagi? Dia juga udah gak pernah ngasih kabar ke lo kan? Lupain dong.. lupain!”
“Lo tahu gue lah Nis, dia berpengaruh banget dihidup gue, gak segampang itu ngelupain dia” jawabku pelan, “Iya gue tahu, tapi kenapa gak dicoba buka hati buat yang lain? Liat tuh sih Dani, dia itu berusaha banget buat dapetin cinta lo, kenapa lo gak kasih kesempatan buat dia?” tanya Nisa yang mengalihkan perhatianku pada Dani, Dani memang menyukaiku, dan aku sangat mengetahui hal itu, tapi kenapa aku sama sekali tak bisa mulai menyukainya juga? Dani memang baik, pintar, lumayan menarik bagi kebanyakan wanita, tapi apapun usaha yang ia lakukan untukku, tetap belum berpengaruh besar bagiku pribadi, aku juga terkadang bingung dengan perasaan ini, ya Tuhan.. lalu aku harus bagaimana?
“Udah deh Nis, gak usah bahas Dani deh, gue udah coba buka hati buat dia, tapi?”
“Tapi lo belum bisa ngelupain Ardi? Duh Mit, gue bingung sama lo, kurang apa coba si Dani? Lo pikir baik-baik deh, jangan nyesel ntar kalau Dani udah nyerah dan menjauh dari lo”
“Lo kan tau gue udah coba, mungkin usaha sih Dani belum cukup buat hati gue” jawabku. Nisa hanya menggeleng-geleng tanda menyerah.

***
“Mit, hari ini gue bawa motor, gue antar pulang ya?” Tiba-tiba Dani sudah ada disampingku dan menawarkan tumpangan, Dani memang sudah beberapa kali mengantarkanku pulang, bahkan aku sudah sering jalan bersamanya hanya sekedar untuk melepaskan kepenatan dihati ini, aku pikir dengan begitu aku bisa melupakan Ardi, tak ada salahnya aku memberi kesempatan pada cowok ini.
“Eum boleh, tapi gue laper, temenin makan dulu yah” pintaku,
            “Anytime Mitha, gue traktir deh” jawabnya santai, aku hanya tersenyum dan mengambil helm dari tangannya kemudian kami meluncur ke rumah makan terdekat.

            “Lo baik banget sih sama gue Dan, maaf gue belum bisa balas apapun sampai sekarang” ujarku ketika kami menikmati makan siang, aku merasa tak enak pada Dani yang terus berbuat baik padaku. “Gue ngerti, gak usah dipaksain Mit, gue juga gak mau lo nerima gue karena terpaksa”
            “Tapi sumpah gue udah berusaha, gue udah coba” ujarku lagi, “Ya gue tahu kok, gak papa, gue ngelakuin ini semua ikhlas kok, ya anggap aja ini rasa sayang gue ke lo” Aku hanya tersenyum datar mendengar kata-kata itu. Ingatanku kembali pada Ardi, bahkan disaat bersama Dani, aku masih terus mengingat mantanku, percuma aku berusaha melupakannya, itu malah membuatku semakin dan terus mengenang masa-masa itu.
           
            Besok tanteku dari Inggris akan datang ke Indonesia untuk berlibur, mendengar kabar itu wajahku langsung menjadi ceria, sudah berapa lama aku tak berjumpa dengannya, begitu banyak hal yang akan kuceritakan padanya ketika bertemu nanti, selama hidupku hanya dengan tanteku itu aku merasa nyaman saat aku menceritakan semua masalah dikehidupanku, dia yang selalu memberi nasihat yang menyentuh hatiku, aku merasa sangat merindukannya, tak sabar menunggu hari esok. Aunty, there so much many have problem will I tell with you, I miss you so much.
            Keessokan harinya aku memilih untuk menunggu kedatangan tanteku dirumah, aku membiarkan kedua orang tuaku yang menjemput tanteku di bandara, karena mama menugaskanku membersihkan rumah menyambut kedatangan tanteku itu.
            Ardi, boleh ya aku cerita tentang kita ke tante aku, kamu gak akan keberatankan? Aku butuh teman berbagi Di, aku butuh orang yang bisa kasih masukan ke aku buat gimana caranya benar-benar lupain kamu, aku capek Di, aku capek terus kayak gini.
***

            “Aunty.. ya Allah, Mitha kangen banget sama Aunt, apa kabar aunty?” Aku langsung memeluk tanteku ketika dia memasuki rumahku, seperti biasa, dia hanya tertawa geli melihat tingkahku yang sangat manja padanya, “Aunty baik kok sayang, kamu gimana?”
            “Aku baik kok aunt,” jawabku tersenyum, “Nanti aja deh kangen-kangenannya Mit, aunty kamu capek tuh baru nyampe, ntar aja ya curcolnya, biarin dia istirahat dulu” ujar mama, “Oke deh, aunty istirahat aja dulu, ntar malam sharing ya aunt, aku mau cerita banyak nih sama aunty” ujarku,
“Hahaha,,, aunty tau kamu mau cerita apa, oke-oke gampang, aunty istirahat dulu ya sayang” Aku mengangguk lalu membiarkan tanteku istirahat dikamarnya. Tante Vera, salah satu orang yang paling mengerti aku didunia ini setelah kedua orang tuaku.

            Seminggu sudah tanteku di Indonesia, tetapi sampai detik ini aku belum ada waktu yang tepat untuk menceritakan semua masalah perasaan ini, mungkin nanti, karena aku bingung dengan keadaan ku saat ini, sekarang bukan hanya Ardi yang kupikirkan, tetapi juga Dani. Entah sejak kapan aku merasa bersalah pada cowok itu, dia mulai menjauhiku, mulai tak memberi perhatian padaku lagi. Sejak saat itu pula hati ini mulai kehilangan, aku bingung, aku khawatir, aku merasa cewek paling munafik sedunia, aku sadar sifat itu wajar dia berikan padaku, mengingat sikapku yang  terlalu cuek dan tak pernah membalas perasaannya sampai detik ini, itu yang membuat ku menyesal, apa ini yang dinamakan kehilangan? Aku mencoba menghubungi Dani, aku coba untuk minta maaf, tapi usahaku tak berhasil, dia tak membalas smsku dan tak mengangkat telponku, andai aku bisa beri dia sedikit peluang waktu itu, sekarang aku benar-benar menyesal, aku terlalu banyak memberi dia harapan palsu, dan pada akhirnya dia menyadari dan memilih menjauhiku. Sekarang aku benar-benar sendiri, ya Tuhan, andai aku dikasih kesempatan lagi, aku janji tak akan menyia-nyiakan Dani. Aku sadar aku butuh dia, semua yang Nisa katakan benar, aku menyesal ketika dia benar-benar menjauh.
            Malam ini hujan lebat, aku tak bisa menghalangi air mataku, aku sadar malam ini aku mulai memikirkan Dani, mengingat semua hal yang ia berikan padaku, usahanya yang selalu membuatku kagum, tapi aku terlalu menganggap semua yang ia lakukan dengan sebelah mata, dia bilang dia menjauh dariku karena tak ingin membuatku merasa tak nyaman saat bersamanya, dia tak mau memaksaku, ya sekarang yang kudapat hanyalah sifat cueknya terhadapku, Dani benar-benar menjauh dan itu yang membuatku tersiksa, sekarang setelah Ardi pergi, perlahan Dani juga meninggalkanku, terus bagaimana aku menahan perasaan ini? bagaimana aku harus menjadi wanita yang kuat? Ardi…Dani…. Aku butuh kalian.
            Hujan  semakin lebat dan air mata ini semakin bertambah, Twitter dan Facebook ku hiasi dengan semua kata-kata maaf untuk Dani, semua penyesalanku kutumpahkan di timeline twitterku, semakin ku mencoba tegar, semakin lemah diri ini. Namun sama sekali tak ada hasil, dia benar-benar bertekad untuk menjauhiku. Dan sekarang aku harus belajar menerima (lagi) rasa kehilangan itu.
            “Sayang… “ panggil tanteku yang tiba-tiba sudah ada dipintu kamarku, dengan cepat aku menghusap air mata yang terlihat jelas di wajahku, tante Vera duduk disebelahku dan membelai rambut panjangku, “Kamu kenapa? Aunty liat kok status kamu galau banget ya? Terus sekarang kamu nangis, ada apa Mit?” tanya tente Vera, mungkin ini saat yang tepat untuk bercerita semua pada tante Vera, aku memang sangat butuh teman curhat. Perlahan aku memeluk tanteku dan menangis sepuasnya dipelukan tanteku itu, lalu kemudian dengan pelan aku menceritakan tentang Ardi, kuceritakan semua kisah cinta kami kemudian aku juga bercerita tentang Dani, dari awal pendekatan sampai akhirnya dia menjauh dariku.
            “Jadi itu yang bikin kamu nangis kayak gini?” tanya Tante Vera, dan aku hanya mengangguk mengiyakan ucapan tanteku, tante Vera kembali tersenyum dan menghusap air mata yang jatuh dari pipiku.
“Denger ya, kamu berani menjalin suatu hubungan, berarti kamu harus berani mengambil koensekuensi yang akan kamu alami di akhir cerita, dalam hubungan, seharusnya kita gak mikirin indahnya terus, sekali-sekali mikirin gimana kamu harus kuat disaat kamu mengalami kehilangan, karena apapun ceritanya dalam pacaran kata ‘putus’ itu pasti ada sayang”
            “Ya aku tahu aunt, tapi kenapa? Kenapa Cuma gara-gara latar belakang dia itu, dia gak mau berhubungan sama aku lagi, padahal dia tahu aku gak pernah mempermasalahkan hal itu”
            “Kamu emang gak mempermasalahkan, tapi dia? Mungkin emang dia ngelakuin ini untuk yang terbaik buat kalian, kalau dia sayang sama kamu , percaya deh sama aunty, suatu saat, dia bakal datang untuk ngejelasin sama kamu, apa alasan dia kayak gitu”
            “Aku yakin dia sayang sama aku aunt, aku tahu dia gimana. aku cinta sama dia aunty, itu yang buat aku susah buat ngerelain dia jauh dari aku.” ujarku parau, suaraku mulai habis, aku sesenggukan karena menahan agar tangis ini tak keluar lagi.
            “Aunty tau kok Mitha, aunt ngerti, so, how about Dani?” tanya tante Vera, aku terdiam sesaat, Ya Allah, egoiskan perasaan ini jika ternyata aku juga mencintai Dani dan sulit untuk jauh darinya?lalu, apa jadinya jika lagi-lagi aku harus merelakan orang yang kucintai menjauh dariku? Bahkan kali ini karena aku yang terlalu tidak peka, atau tepatnya aku yang selalu membandingkan Dani dengan Ardi.
            “Aku sadar aunt, aku juga mulai sayang sama Dani, tapi jujur cinta aku ke Ardi masih terlalu besar”
            “Jangan mikir gimana caranya buat ngelupain Ardi, coba pikir gimana caranya buat buka hati buat yang lain, dengan begitu dengan mudah kamu bisa ngelupain Ardi, satu hal ya sayang, kita gak akan merasakan betapa pentingnya seseorang dihidup kita sebelum kita kehilangan orang itu, sekarang kamu udah ngerasain kan? Saran aunty, nanti, kalau ada orang yang dengan tulus sayang sama kamu, jangan kamu sia-siakan yah, kamu jaga dia, jangan pernah menyakitinya, karena kamu tahu disakitin itu suatu hal yang gak enak kan?” jelas tante Vera panjang, aku mulai menyadari semua perkataan tante Vera itu benar, perasaan ku mulai lega, aku mulai bisa tersenyum walau belum bisa menghilangkan rasa sakit ini.
            Setelah curhat dengan tante Vera, aku rasa tugasku sekarang hanyalah menjalankan hidupku tanpa perlu memikirkan apapun, tak usah memikirkan rasa sakit ini, aku ingin hidup bebas tanpa beban perasaan untuk sementara, aku janji pada diriku untuk tak terus-terusan mengingat hal-hal yang membuatku galau.
            Ardi… kamu sekarang dimana? Lagi apa? Aku kangen banget sama kamu… kangen banget.. udah hampir tiga bulan kita gak pernah berhubungan, wajar jika rasa rindu ini menghampiriku, tapi kamu tenang aja yah, aku disini, aku baik-baik aja, aku janji aku akan menjalankan hari-hariku seperti biasa walaupun kamu gak disampingku lagi.
            Dani… makasih udah beri begitu banyak pelajaran, begitu banyak perhatian sehingga saat kamu menjauh aku merasa sangat kehilangan, maaf karena menggoreskan luka dihatimu karena keterlambatanku menyadari bahwa aku butuh kamu, aku sayang kamu. Kamu benar, mungkin memang lebih baik, kita berteman seperti dulu!!!


            Hari ini adalah hari kelulusanku, Alhamdulillah aku dinyatakan lulus dan mendapatkan hasil yang lumayan bagus. Sekarang aku punya kehidupan baru, selamat tinggal putih abu-abu, selamat datang dunia baru, di kampus yang baru dan pergaulan yang baru. Dan aku berharap disini aku menemukan hidupku, menemukan apa yang kuinginkan dan bisa melupakan
Ardi. Jujur aku rindu padanya, tapi hanya sekedar rindu, karena aku mulai kebal dengan rasa sakit ini, biarkan saja dia membekas direlung hatiku dan aku hanya tinggal menjalani alur cerita hidupku selanjutnya, aku bisa, aku kuat, aku mampu! Bantu aku ya Allah.


Next? keep waiting yah :)

thanks for reading ^.^

Hallo ^..^
apa kabar yang lagi baca blog aku ini? haha wlaupun termasuk blogger baru, tapi aku senang kok alhamdulillah semakin hari semakin banyak yang ngunjungi Blog aku, untuk yang sering diam-diam lihat blog aku, makasih yaa ;)
Aku disini cuma mau ngabarin cerita pertamaku "Untill now i still love you" ada kelanjutannya loh, bagi yang merasa ceritaku itu masih gantung, sabar guys. insyallah bakal aku terusin, bagi yang minat  sama cerita itu, keep wait ya ceman-ceman ;;) *mulaialay -_-
so, thx for everything, makasih untuk semua yang udah nyempetin waktunya buat baca ceritaku yang ala kadarnya ini .-. ya maklum lah ya, aku juga penulis baru, jadi tulisannya agak-agak labil mungkin, hihihi, enjoy yah ;) thx for read yah, love love buat kalian :D

Trivani <3

Ke’egoisan Hati Ini


          “Gue jemput lo ntar lagi, tunggu pokoknya? Oke? Awas lo kalau kemana-mana.” Ujar Talitha pada sahabatnya Arin, “Iya Lithaku sayang, gue tunggu lo disini, makanya cepetan, udah siang banget nih, gue laper..” gerutu Arin kesal terhadap sahabat kesayangannya itu, kemudian dengan kesal dia langsung mengakhiri pembicaraan terhadap Talitha dan memutuskan untuk melanjutkan tugas kantornya yang masih menumpuk sambil menunggu sahabatnya itu menjemputnya untuk makan siang.
            Sepuluh menit kemudian Arin keluar dari kantornya dengan menggunakan stiletto hitam yang dia gunakan dan berjalan dengan kesal kearah mobil yang tengah menunggunya siang itu, kemudian dia membuka pintu mobil dan langsung masuk kedalamnya. “Huh.. akhirnya lo jemput juga, hampir ubanan gue nunggu lo dikantor tau, mana perut udah bunyi terus nahan laper.” Sewot Arin pada Talitha yang hanya memberi ekspresi datar seperti tak ada masalah apapun, “Iya maaf Rin, lo bawel banget sih, nyantai aja napa sih.” balas Talitha tenang.
  Arin manyun melihat jawaban sahabatnya itu, Talitha mulai menyadari tingkah sahabatnya yang konyol itu dan sedikit tersenyum sambil mencolek dagu Arin dengan sebelah tangannya dan sebelah lagi konsentrasi menyetir.
            “Jangan ngambek dong, gue yang traktir deh” Mendengar kata ‘Traktir’ ekspresi Arin berubah menjadi senyum lebar, “Ciyusss? Gitu dong, jadi gue gak bt lagi. Tumben lo baik, ada apa nih?” tanya Arin memastikan, “Ih monyong lo, gue baik salah, gue jahat salah. Sekarang pake nuduh lagi,” Sekarang Talitha yang kesal.
            “Hahah piss piss, yaa biasanya kan kalau gue minta traktir lo pelit banget. Huh” dengus Arin,
            “Idih, mana pernah gue pelit, gue sering ya neraktir lo Rin, lo tuh yang sering pelit minjemin gue barang-barang bagus lo huh” balas Talitha tak mau kalah, tawa Arin meledak mendengar kalimat yang dikeluarkan Talitha, “Iya ya.. haha.. maaf deh. Gue bukannya pelit Tha, Cuma barang-barang yang lo pinjem pasti barang kesukaan gue, ya mikir dua kali dong buat minjemin ke elo.”
            “Udah ah, males gue berdebat sama lo Rin, bawelllll.. nyebelin” Kemudian Talitha dan Arin tertawa berbarengan melihat percakapan konyol itu, Talitha dan Arin sudah hampir satu tahun bersahabat, memang belum terbilang lama, tetapi bagi kedua wanita itu satu tahun belakangan ini sudah cukup bagi mereka mengenal satu sama lain. Pertama kali bertemu ketika mereka sama-sama mencari rumah kost di Jakarta, waktu itu Talitha dan Arin baru saja diterima kerja disebuah perusahaan swasta di Jakarta sebagai karyawan tetap, kemudian diwaktu yang sama mereka sama-sama menyewa disebuah kost yang sama. Karena kamar kost tinggal satu, jadi mereka memutuskan untuk satu kamar berdua dan akhirnya mereka merasa dekat dan menjadi sangat dekat sampai sekarang ini.
           
            “Eh Rin, kita cari apartmen aja yuk yang lebih bagus, bukannya gue sombong atau apa ya Tha, tapi jujur gue udah kurang nyaman sama kostan kita sekarang ini, apalagi semenjak ibu kost kita ganti, udah gak senyaman dulu lagi” ujar Arin pada Talitha yang tengah asik memainkan iphone ditempat tidurnya,  Arin kemudian berbaring disebelah Talitha dan menggoyangkan bahu Talitha.
            “Lo dengar gue napa Tha, gue serius nih”
            “Iya gue denger, bentar dulu napa sih, gue lagi balas mention nih”
            “Twitteran sama siapa sih lo asik banget, sampe gue dicuekin. Ahh males gue” Karena kesal Arin mengambil gulingnya dan berbalik badan untuk tidur, malam sudah larut Arin pun sudah terlelap tidur. Talitha kemudian mematikan lampu kamar dan mengikuti Arin yang sudah memasuki alam mimpi.
           
“Kemana hari ini? jalan yuk Rin, kan libur kerja.” Ajak Talitha, “Lo gak jalan sama pacar lo sih boy? Biasanya kan lo jalan sama dia kalau udah libur gini” tanya Arin, “Dia lagi diluar kota Rin, ayo dong… bt nih di kostan mulu” Arin memikirkan sesuatu kemudian menjentikkan jarinya tanda bahwa dia mendapatkan ide bagus. “Kita cari apartemen aja yuk…” ujar Arin antusias, kemudian dengan cepat Talitha menatap Arin bingung sambil menaikkan satu alisnya, “Maksud lo?” tanya Talitha, “Maksud gue, gue mau kita pindah Tha, serius deh gue gak betah disini… sumpah!” ujar Arin tegas.
            “Ya ampun Rin, lo kira gampang apa pindah-pindah? Kita udah setahun lo disini,  banyak banget barang yang harus kita pindahin, dan semua orang yang kenal kita tahunya kan alamat kita disini, terus kalau kita pindah ada yang nyariin kita gimana? Lo mikir dong.” Repet Talitha kesal, “Ih kenapa harus dipermasalahin sih? hallo media komunikasi udah berkembang sayang, percuma lo banyak gadget tapi gak digunain.” Balas Arin.
            “Ngebet banget mau pindah kostan?” tanya Talitha akhirnya, Arin pun mengangguk antusias, dengan berbagai persyaratan akhirnya Talitha luluh juga dengan permintaan Arin sahabat kesayangannya itu, Arin memang pintar merayu Thalita dengan berbagai alasan yang ia utarakan. Akhirnya hari libur mereka, mereka gunakan untuk mencari-cari apartemen yang setara dengan kemampuan mereka.
            Setalah melihat berbagai apartemen diJakarta, akhirnya mereka menemukan apartemen yang tepat. “Kapan kita pindah Tha?” tanya Arin ketika mereka sedang asik menikmati makan malam disebuah kafe, Thalita menatap Arin kesal, “Sabar dong Rin, lu sibuk banget sih sama apartemen, bingung gue” ujar Thalita kesal, “Hehe, iya nih udah gak tahan banget” sambung Arin
***

            Seminggu kemudian Talitha dan Arin resmi menempati apartemen baru mereka, Boy kekasih Talitha sejak dua bulan lalu ikut membantu perihal kepindahan mereka. Setelah selesai berbenah, Thalita duduk disamping Boy yang terlihat lelah, “Capek sayang?” tanya Talitha perhatian, Boy hanya tersenyum sambil menghelus rambut Thalita, “Gak capek kok kalau udah liat senyum kamu” goda Boy smabil mencolek dagu pacarnya itu, Talitha hanya tertawa kecil. Arin yang melihat kemesraan diantar Talitha dengan Boy hanya dapat menahan tangis, sakit didadanya mulai ia rasakan semenjak melihat kemesraan sahabatnya itu, dia sadar dia egois, tetapi dia tak dapat menahan perasaannya, dia memang cemburu melihat kemesraan mereka, dia sadar dia memendam perasaan terhadap Boy semenjak Talitha mengenalkan pacarnya itu padanya. Tetapi Thalita adalah sahabat baiknya, apapun keadaannya dia tidak mau Talitha mengetahui tentang perasaannya ini, bisa hancur persahabatan diantara mereka.
            Tha, kalau aja gue bisa jujur sama lo, gue sayang juga sama Boy, apa respon lo? Apa lo bakal marah sama gue? gue yakin lo gak bakal mau sahabatan sama gue lagi, emang gue salah mendam perasaan ini, maafin gue Tha. Perasaan ini terlalu egois.

            “Hey, jam segini kok belum tidur Rin? Sibuk banget sama tuh diary? Nulis apa sih? gue liat dong”
            “Eitt, namanya aja juga diary, masa bisa diliat-liat sih, lo kira ini novel apa” sewot Arin, Talitha menyengir lebar, “Haha ya mana tau lo mau ngasih liat persoalan hidup lo, kok kayaknya tiap hari gak bisa ya gak nulis diary” ujar Talitha sambil menaikkan alisnya, “Iya dong, lo juga kan? Tiap hari hobinya mentionan di twitter” balas Arin menjulurkan lidahnya, “Lah itu beda dong” jawab Talitha, “Apa bedanya?” tanya Arin lagi, “Udah ah, udah malem males gue berdebat. Daa gue mau tidur”
            “Dihh, yaudah tidur sana, siapa juga yang mau ngelarang? Wekk” Arin kembali menjulurkan lidahnya lalu membiarkan Talitha terlelap.

Hari ini Talitha pulang kerja lebih cepat dari Arin, sepulang kerja dia langsung pulang ke apartemennya karena mengingat mereka baru pindah, jadi banyak barang yang harus Talitha bereskan agar mereka bisa tinggal di apartemen itu dengan nyaman tanpa barang yang berantakan. Arin sepertinya hari ini pulang sore karena ada meeting penting dikantornya, dan Talitha dapat memaklumi sahabatnya itu. Akhirnya Talitha memutuskan untuk berbenah sendiri, Talitha mulai membereskan barang-barangnya, kemudian beralih kebarang Arin, Talitha merapikan baju Arin yang masih berantakan dikamar mereka, kemudian memasukkannya kedalam lemari pakaian Arin. Dasar sih Arin, pakaiannya berantakan banget ya ampun, dasar ni anak, lemari gak pernah rapi. Akhirnya gue juga yang rapiin kan. Huh!
Tengah asik merapikan lemari baju Arin, tak sengaja Talitha melihat diary kecil Arin disela-sela baju yang berserakan itu,  Talitha mengambil diary kecil itu dan mengamatinya beberapa menit. “Ini nih yang tiap malam selalu Arin tulis, dia nulis apaan ya di diary ini?  jadi penasaran gue, baca gak yaa? Tapi kalau gue baca dia pasti marah, tapi kalau gak tau gak papa dong? Emm penasaran gue” Talitha masih ragu ingin membaca diary milik Arin itu, dia masih menimbang-nimbang keputusannya membaca diary Arin, karena kelewat penasaran akhirnya dengan perlahan Talitha membaca halaman pertama diary itu, senyum mewarnai wajah Talitha ketika membaca halaman pertama sampai halaman tengah diary milik sahabatnya itu, karena yang ditulis Arin tak lain kebanyakan tentangnya dan tentang teman-temannya dikantor, ada banyak foto dirinya yang ditempel Arin dibeberapa halaman diary itu. Akhirnya Talitha sampai pada halaman terakhir di diary itu, ada perubahan diwajah Talitha, semakin dia membaca halaman terakhir di diary itu,  dadanya semakin terasa sesak. Dia mulai memegang dadanya dan mencoba tenang. Kemudian dia merasakan matanya mulai basah dengan buliran air mata yang membasahi pipinya, hal satu-satunya yang dirahasiakan sahabatnya itu padanya, setelah membaca halaman terakhir diary itu Talitha dengan cepat menutup diary itu dan menyimpannya ditempat semula agar Arin tak mengetahui bahwa diary nya telah dibaca oleh Talitha. Talitha menangis tersedu-sedu dilantai apartemennya, baru kali ini dia merasakan sakit karena merasa tak peka, sakit karena bingung harus bagaimana…. Sakit karena harus memikirkan bagaimana rasa sakit yang Arin alami karenanya.

Dir Diary, hari demi hari yang kulewati bersama Talitha, terasa begitu indah bagiku, Talitha sahabat yang lebih dari baik buatku, disaat itu juga, Tuhan menghadirkan sosok pria dalam kehidupannya, semenjak Talitha mengenalkan pacar barunya denganku, disaat itu juga perasaanku merasakan suatu hal yang salah pada cowok itu. Aku tahu, aku terlalu egois memiliki perasaan ini, aku terlalu rapuh untuk tidak mengakuinya, toh kenyataannya aku gak bisa bohongi perasaan ku sendiri, andai aku bisa menghilangkan perasaan sakit ini setiap melihat mereka berdua, andai aku bisa tersenyum tulus melihat sahabatku bahagia, aku akan lakukan hal itu. Tapi aku juga manusia dan aku gak bisa munafik dengan keadaan. Aku cemburu, aku nangis walau dia tak tahu.
Tha, gue sayang sama lo, tapi kenapa gue juga harus sayang sama cowo lo? Salahkah perasaan ini? salahkan kalau kenyataannya gue selalu nangis setiap lihat lo bersamanya? Ya… gue tahu gue salah, tapi gue harus gimana? Perasaan ini muncul tiba-tiba, dan gue gak bisa melarangnya masuk. Mungkin gue yang terlalu lancang, mungkin gue yang terlalu egois, tapi gue harus gimana Tha? Gue Cinta sama Boy, gue juga sayang sama lo, Boy Cinta sama lo, terus gue gimana? Sakit hati ini setiap melihat kalian itu rasanya nyesek banget Tha, sampai kapan gue harus kayak gini? Bantu gue, maafin gue. Gue tahu gue salah….
Kata-kata terakhir yang ditulis Arin mesih terngiang dipikiran Talitha, dia berusaha menahan isakannya tetapi tetap tak berhasil, terlalu banyak hal yang dia pikirkan, Boy.. Arin..Boy..Arin..
“Terus gue harus gimana Rin? Kenapa lo harus suka sama Boy? Kenapa lo harus cinta sama cowok gue? gu.gu..ee sayang sama lo, tapi gue gak bisa ngelepas Boy, maafin gue.. gue cinta sama Boy, dan lo bilang lo juga cinta sama Boy, terus gue sebagai sahabat lo harus ngelakuin apa buat kita bertiga? Ya Tuhan.. apa aku yang terlalu tak memahami Arin? Apa aku yang terlalu mengabaikan perasaan Arin selama ini? andai aku tahu Arin juga suka sama Boy, Rin… kenapa kenyataan ini terlalu berat buat gue? maaf selalu buat lo sakit dan nangis saat gue bersama Boy. Demi Tuhan gue nyesel gak pernah peka sama perasaan lo”
Talitha terus terisak di kamarnya, memikirkan setiap hal-hal indah yang dia alami dengan Boy dan Arin. Terlalu sulit membayangkan harus memilih satu diantara mereka, Talitha sayang pada Arin tetapi dia juga sayang pada kekasihnya, Arin juga sayang pada Boy, terus apa yang harus Talitha lakukan saat ini? rasa bersalah yang ada didalam hatinya teramat sakit, dia sudah mengenal sahabatnya itu setahun lebih, tetapi kenapa hal seperti ini dia tak pernah peka.
Kenapa harus sama Boy Rin? Kenapa lo harus nyembunyiin ini dari gue? kenapa lo selalu tersenyum saat gue sama Boy seakan tak pernah terjadi apa-apa dengan lo? Kenapa lo sekarang buat gue jadi merasa bersalah Arin? Kenapa ? kenapa??? Ya Allah…
***

“Eh lemari gue udah rapi aja nih, thanks ya Tha hehe” ujar Arin pada Talitha yang hanya tersenyum kecil, Arin menyadari perubahan Talitha hari ini, sahabatnya itu jadi lebih banyak diam, dan dia melihat mata Talitha sedikit membengkak. Kemudian Arin menghampiri sahabatnya itu, mana tahu Talitha lagi ada masalah. Pikirnya.
“Tha, mata lo kok bengkak gitu ya? Kenapa say? Abis nangis?” tanya Arin, Talitha menggeleng cepat “Enggak kok Rin, gatau kenapa nih mata, kelilipan tadi. Makanya bengkak gini” dusta Talitha, “Masa? Lo gak lagi bohong sama gue kan Tha?” tanya Arin memastikan, “Enggak kok, suer, emang gue pernah bohong sama lo? Hehe udah ah, gak usah dipikirin” elak Talitha cepat agar Arin tak banyak bertanya-tanya lagi.
Gue nangis aja lo bisa nebak Rin, lo bisa peka sama kondisi gue, tapi kenapa saat lo nangis gue gak pernah tau dan gak pernah peka? Lo salah kalau bilang gue sahabat yang baik, nyatanya gue buruk banget Rin, maaf. Batin Talitha.

Jam sudah menunjukkan pukul 02.00 pagi, Arin sudah tertidur pulas, tetapi tidak dengan Talitha yang sama sekali tidak dapat tidur, dia masih gelisah dengan semua permasalahan ini, dia tidak bisa tenang memikirkan perasaan Arin, akhirnya dia  mengambil ponselnya dan menekan satu tombol dikontak ponselnya.
“Hallo Tha, kamu belum tidur?” sapa cowok disebrang sana, air matanya perlahan menetes mendengar kelembutan dinada bicara cowok itu, cowok yang sudah dua bulan mengisi hidupnya, member warna baru dalam hidupnya. Ya Allah, apa keputusan ini tepat? Apa aku harus menambah luka dihati seseorang lagi? Kalau dengan begitu aku bisa melihatnya bahagia?
“Hey, kok diam sayang?”
“Emm Boy, ada yang mau aku omongin sama kamu”
“Mau ngomong apa?” tanya Boy lembut, perlahan Talitha menarik napasnya kemudian membuangnya, air mata terus mengalir membanjiri pipi dan bajunya, dengan terpaksa dan rasa sakit yang teramat dalam, dia akhirnya mengatakan kalimat itu. “Kita putus aja ya” Talitha berusaha kuat untuk tidak terlihat tengah menangis, “Apa? Kamu jangan bercanda Tha, please ini gak lucu sayang,” balas Boy panik, “Aku gak lagi becanda Boy, aku mau kita putus. Maafin aku, aku udah gak ngerasa apa-apa lagi sama kamu, mungkin ini yang terbaik buat kita. Makasih Boy” Kemudian dengan cepat Talitha menutup telponnya dan menutup mulutnya dengan kedua tangannya, sekuat tenaga dia menahan agar isakan itu terhenti agar dia tak mengganggu tidur sahabatnya.
“Maafin aku Boy, aku sayang sama kamu… sayang banget. Tapi aku juga sayang sama Arin, lama-lama kamu pasti ngerti kondisinya Boy, aku gak mau bikin luka yang terlalu dalam dihati Arin karena kita, hikkkss… aa…aa..ku ya Allah, aku mohon apa yang aku lakuin ini adalah yang terbaik untuk kami bertiga” gumam Talitha ditengah tangisnya, ponselnya terus bergetar dan itu panggilan dari Boy, dia tak menghiraukan dan mematikan hpnya, Talitha menatap Arin yang tengah tertidur pulas, kemudian dia mencium kening sahabatnya itu.
            “Jika ini bisa buat lo lebih baik dan gak tersiksa Rin, gue bakal lakuin, gue gak mau lo terus-terusan mendam perasaan sakit lo, sekarang gue udah putus sama Boy, lo punya peluang besar buat dapatin cintanya, buat dia cinta sama lo Rin, biar gue benar-benar bisa liat orang yang gue sayang bahagia”
            Kemudian Talitha terlelap tidur.
***

            “Lo baik-baik di sana yah, duh bakal sepi deh gak ada lo Tha, jangan lama-lama ya sayang” Arin memeluk Talitha erat, Talitha ditugaskan dari kantornya untuk keSamarinda selama sebulan, jadi terpaksa dia harus meninggalkan sahabatnya itu sendirian diapartemen mereka. “Iya sayang, lo jangan macem-macem lo selama gue di Samarinda.. pokoknya jangan sampe pulang-pulang nih apartemen udah jadi kayak sarang laba-laba haha” . “Iya Talitha kusayang, lo tenang aja. udah gih sana, ntar telat pesawat lagi” Kemudian Arin memeluk Talitha lagi beberapa saat sebelum Talitha naik ke taxi.
Arin menghapus setetes air mata yang keluar membasahi pipinya, “Gue gak pernah ditinggal selama sebulan sama lo Tha, berat banget rasanya tanpa lo”

Talitha sayang, sumpah gue gak tahu gimana rasanya sebulan tanpa lo, duhh kan jadi nangis nih, gue emang cengeng tau tanpa lo, lo itu berpengaruh banget deh kayaknya dihidup gue. oh ya lo baca diary gue kok gak bilang-bilang sih Tha? Gue kan jadi malu sama lo. Tapi gak papa, mungkin emang Tuhan takdirkan lo untuk baca semua isi hati gue lewat diary gue itu. Gue kayak anak-anak banget kan Tha? Maaf ya bikin lo terlalu banyak berkorban hanya untuk bikin gue bahagia, maaf bikin semua ini menjadi rumit sayang. You know What? Lo itu udah kayak malaikat bagi gue, lo itu sahabat gue yang … yang gimana ya? Susah deh diungkapin sama kata-kata, Tha, tanpa lo harus berkorban, tanpa lo harus ngorbanin perasaan lo demi gue,  lo itu udah jadi malaikat banget buat gue, maaf bikin lo nangis kemaren malam karena lo harus mutusin Boy demi gue.
Talitha menarik napas perlahan, kemudian menghusap air mata yang mulai membasahi matanya, kemudian melanjutkan membaca e-mail dari Arin.

Lo tau gak? Waktu lo mutusin Boy kemarin malam, waktu denger lo nangis begitu kuat, saat itu gue sadar Tha, liat lo menderita itu jauh bikin gue sakit dibanding sakitnya perasaan gue saat gue lihat lo berdua sama Boy. Lo salah kalau lo pikir malam itu gue udah tidur, gue Cuma pura-pura tidur biar bisa tau apa masalah lo sehingga mata lo bengkak banget hari itu. Tha, kenapa lo bodoh banget sih? hah? Kenapa lo ngelakuin hal itu Cuma buat gue? lo gak perlu mutusin Boy, apa lo pikir dengan lo putus dengan Boy gue mau gitu sama Boy? Lo salah, sekarang gue tau, rasa sayang gue sama lo jauh lebih besar dari pada rasa sayang gue ke Boy, sumpah Tha, lo gak perlu mikirin perasaan gue, malah dengan lo kayak gitu, gue jauh lebih sakit sayang. Boy itu cinta banget sama lo, dan bukan sama gue, kasian dong si Boy lo putusin tanpa alasan gitu, please, sekarang setelah lo baca email dari gue, gue mohon , telpon Boy dan minta maaf sama dia, bilang lo sayang sama dia, gue udah jelasin semua sama Boy, dan Boy bisa ngertiin lo kok, awas kalau lo gak nurutin permintaan gue, gue bakal ngambek loh. Oke Talitha ? jangan mikirin gue terus-terusan Tha, lo harus mikirin diri lo. Masa depan lo. Trust me, im fine here, please. Back with Boy yah J :* {} I love u more than I love my self sista J  

Talitha akhirnya tersenyum membaca e-mail yang masuk dari sahabatnya itu, dia merasa semua beban pikiran yang ia alami beberapa hari ini telah menemukan titik terang. Semua terasa begitu ringan sekarang, ya mungkin Arin benar, Tuhan telah menakdirkan diary Arin untuk terbaca olehnya, agar tak ada kebohongan diantara mereka. “Makasih banget Rin, gue beruntung banget bisa dapat sahabat yang selalu ngertiin gue kayak lo. Sekarang lo bener, gue harus minta maaf ke Boy” Aku mengambil Telponku dan aku menelpon Boy, semua masalah sudah selesai, hubunganku dengan Boy sudah kembali seperti biasa. Setelah berbicara dengan Boy melalui telpon, aku membalas email Arin.
Aaa… Arin L kamu the best banget sih sayang, makasih udah banyak ngertiin aku, makasih untuk semuanya, aku tahu aku salah, aku terlalu cepat mutusin hubungan dengan Boy, aku tahu aku bodoh…. Maaf.. tapi bener kamu gak papa kan? Aku yakin kamu bisa dapat pasangan yang terbaik buat kamu ya sayang. Aku udah balikan kok sama Boy, pokoknya makasih sekali lagi, I Love u too. Much more darl :*

            Beberapa menit kemudian Arin membalas email Talitha, dan Talitha dengam cepat membaca email itu.

            Lama banget sih balasnya L  gue nungguin kabar dari lo dari tadi tau! Beneran udah balikan sama Boy? Gak lagi bohongin gue tah? Hehe, gue lega deh sekarang. Im okey, lo tenang aja. lagian sekarang gue nyadar kok perasaan ini Cuma sesaat, gue yakin ini Cuma keegoisan sesaat. Lo gak usah minta maaf, lo gak salah, gue gak salah dan Boy juga gak salah, kita gak salah Tha, Cuma kondisi aja yang gak tepat. Dengan kejadian ini gue yakin kita bisa lebih dewasa dalam menghadapi masalah. Iya, gue yakin kok pasti gue bakal dapat yang terbaik buat gue J 
            Setelah membaca balasan dari Arin, Talitha mematikan laptopnya kemudian berbaring dikamar Hotelnya, dia sadar betapa dia tengah merindukan sahabatnya itu saat ini, dan untuk sebulan kedepan dia bakal terus merindukan Arin dan Boy, andai waktu bisa dipercepat. Dia ingin segera kembali ke Jakarta, tidur bersama Arin, bercanda bersama Arin dan bermesraan dengan Boy. Malam ini dia dapat tidur dengan pulas, tanpa harus memikirkan apapun.
***

            Sebulan Kemudian..
            Talitha sampai di Bandara Soekarno Hatta dan langsung disambut oleh orang yang Ia rindukan selama beberapa bulan ini, Arin dan Boy.
            Talitha langsung memeluk Arin dengan erat, betapa rindunya dia dengan sahabatnya itu. “Gue kangen bangett Rin… sumpah” ujar Talitha, “Gue juga Tha, kesepian gue tidur sendirian dikamar gak ada lo” balas Arin tak mau kalah, Talitha melepaskan pelukannya kemudian matanya beralih pada Boy, lalu dia menatap Arin lagi.
            “Samperin dong cowok lo Tha, dia juga kangen sama lo” ujar Arin yakin, Talitha mengangguk dan memeluk Boy, “Maafin aku Boy, I miss you honey” ujarnya, “I miss you more than everything beb, love you” Aku menatap mata Boy dan melihat Arin tersenyum, aku yakin senyum Arin sekarang senyum ketulusan. Tak terlihat tanda-tanda kesakitan disana, dengan yakin aku membalas tatapan Boy “I Love you too sayang.”


            Kebahagiaan itu sederhana ternyata, hanya dengan menyadari betapa berharganya senyuman itu, hanya dengan melihat orang yang aku sayang tersenyum itu sudah menjadi kebahagiaanku. Mungkin kau yang dikatakan sahabat sejati Talitha, kau yang selalu mengubah tangis ini menjadi senyum, mungkin aku yang terlalu egois memaksa kan sesuatu hal yang aku tahu itu salah, sekarang aku bisa yakin, aku bisa menerima kenyataan. Hanya dengan melihat mu tersenyum aku rela melakukan apapun didunia ini, karena aku tahu, kau terlalu banyak berkorban untukku. Itu yang menydarkanku, bahwa semua hal tak bisa dipaksakan, kita hanya harus belajar bagaimana menerima, sesakit apapun itu.  

This my second short story, thanks for read guys... hope u like ;) Love Vani :*

Untill Now I still love you

“Ma.. aku berangkat sekolah dulu yah, udah mau telat nihh.. ntar pintu gerbang ditutup, bye mama muaachh “ Mitha gadis berumur 17 tahun yang sekarang duduk dibangku kelas 3 SMA itu dengan terburu-buru mencium mamanya kemudian berlari menuju mobil untuk segera berangkat kesekolah, “Hati-hati sayang… jangan buru-buru. Makanya lain kali jangan kesiangan bangun” teriak mama, “Iya mama… dada..” 
Aku langsung naik kemobilku tanpa menghiraukan mama.
            “Pak cepetan dong… nanti aku telat nih” ujarku pada pak supir, “Ini juga udah ngebut neng.. makanya lain kali bangun jangan kesiangan lagi”  balas pak supir, aku hanya diam sambil memonyongkan bibirku. Sesampainya disekolah aku menarik napas lega karena ternyata aku belum telat, dengan cepat aku turun dari mobil dan masuk kekelasku.
            “Huh.. hampir aja” Aku mengelus dadaku, “Kenapa lo Mit? Kok ngos-ngosan gitu, kayak baru dikejar setan” sapa Ardi teman sekelasku, sebenarnya aku dan Ardi tidak berapa dekat bahkan jarang mengobrol satu sama lain, tetapi melihatku yang bercucuran keringat karena takut telat menarik perhatian cowok cuek itu untuk bertanya padaku.
            “Hehe.. gak papa kok Di, Cuma tadi takut telat aja. makanya buru-buru jadi keringatan gini deh” jawabku jujur. “Hmm.. pantesan aja, makanya lain kali bangun jangan kesiangan.” Ujar cowok itu sambil tersenyum kearahku kemudian berlalu dari hadapanku untuk duduk dibangkunya.
            Perasaan hari ini udah tiga orang deh yang berturu-turut nyuruh gue jangan bangun kesiangan, duhh harus tobat nih insomnia malam-malam.. bisa telat tiap hari gue. batinku.
            Bel tanda masuk kelas sudah berbunyi, pelajaran pun segera dimulai. Jam pelajaran pertama adalah Biologi, pelajaran paling kubenci, tidak tahu mengapa, setiap pelajaran ini aku selalu badmood sendiri dikelas, padahal hampir rata-rata semua murid dikelasku ini menyukai pelajaran itu, ditambah dengan gurunya yang baik dan menyenangkan, tapi tidak untukku.
“Baik anak-anak, ibu minta satu dari kalian mengerjakan soal yang ada dipapan, ibu akan menunjuk salah satu dari kalian” ujar bu Risa selaku guru biologi disekolahku, semua orang pada antusias untuk mengerjakan soal dipapan tulis itu, terkecuali diriku.. tetapi aku pura-pura antusias seperti teman yang lain agar guru biologiku itu tidak memilihku untuk mengerjakan soal yang sama sekali tak kumengerti itu,  aku melihat sekeliling kelas siapa yang akan dipilih oleh Bu Risa untuk mengerjakan soalnya itu, semua orang terlihat ingin mengerjakan soal itu, ya semua murid terkecuali aku, tetapi mata ku terpaku pada satu orang yang ku pikir sama seperti diriku, tidak antusias mengikuti pelajaran biologi ini, sekilas aku tersenyum karena mendapatkan teman yang sepertinya sama dengan diriku walaupun hanya untuk saat ini. orang itu adalah sih cuek Ardi, cowok yang terkenal paling cuek, suka ngomong asal-asalan,  dan penampilannya yang selalu acak-acakan dikelas, dia memang terkenal sedikit badung disekolah ku, tetapi cowok itu bukan berarti bodoh, dia selalu mendapat nilai yang memuaskan disetiap semester, sangat bertolak belakang pada ku. Tetapi ntah mengapa aku melihat sesuatu yang aneh pada cowok itu hari ini, dia seperti lagi banyak masalah, tidak seperti biasanya.
“Ardi, bisa tolong kamu kerjakan soal dipapan tulis itu?” ujar bu Risa tiba-tiba yang sedari tadi sudah memperhatikan sikap Ardi yang tak acuh.  Semua orang menatap Ardi, begitupun aku, tetapi Ardi tetap memegang pulpennya dan mencoret-coret bukunya tanpa menghiraukan guru itu.
“Bro, lo disuruh ngerjain tugas didepan tuh sama bu Risa,” bisik Tian teman sebangku Ardi, lalu kemudian Ardi tersadar dan kemudian berdiri mengambil spidol dari tangan bu Risa, dengan santai Ardi mengerjakan soal dipapan tulis dan dalam waktu kurang dari dua menit dia menyelesaikan soal itu dengan sempurna, semua orang terkejut begitupun bu Risa.

***

“Oh mama pake mobil ya? Yaudah gak papa kok ma, aku kan bisa naik kendaraan umum. Tenang aja ma… oke ma.. bye” Aku menutup telpon dan menyimpannya ditas kemudian berjalan menuju gerbang untuk mencari kendaraan umum. Aku berdiri didepan gerbang sekolah sambil menunggu angkot yang mengarah kerumahku, sudah hampir setengah jam aku berdiri untuk menunggu angkot, tetapi tidak satupun terlihat angkot kearah rumahku.
“Tet..tet..” bunyi klakson motor membuat lamunanku buyar,
“Kok belum pulang Mit? Gak dijemput?” tanya cowok itu sambil membuka helmnya agar Aku dapat melihatnya, “Eh elo Di, gue kira siapa, ngagetin aja. hehe.. iya nih, mobil dipake nyokap jadi gue pulang disuruh naik angkot hehe.. lo kenapa belum pulang?” tanyaku pada Ardi, aku mengingat kejadian dikelas tadi, aku yakin tadi mukanya seperti sangat bete, tapi sekarang aku melihat perubahan pada wajahnya.
 “Iya tadi abis main baskeat bentar sama anak-anak, bareng gue aja yuk. Kasian lo’nya jam segini belum dapat angkot.” tawar Ardi, aku menggeleng “Nyantai aja kali Di, gak papa kok, ntar juga angkotnya datang.” Jawabku santai, “Udah deh gak usah sok malu-malu gitu, gue tau lo juga bt kan nunggu sampe jam segini? Udah tenang aja gue gak bakal macem-macem kok Mitha, gak usah takut.” Ujar Ardi asal, aku memukul bahunya pelan.
“Hahah dasar lo, siapa juga yang mikir kayak gitu, yaudah kalau lo maksa okedeh gue gak ada alasan lain” ujarku akhinya, “Tuh kan bener apa kata gue, bt kan lo disini? Haha yaudah yuk naik” Aku tertawa sebentar kemudian memegang bahu Ardi dan naik keatas motor besarnya.
Setelah memberi tahu alamat rumahku, akhirnya kami sampai dirumah ku dengan cepat aku turun dari motor Ardi dan berterima kasih, “Gue pulang yah, bye” Ardi bersiap-siap menghidupkan motornya tetapi aku menghalanginya. “Bentar Di, gue boleh nanya gak?”
“Mau nanya apa Mit?”
“Eum.. gue liat, tadi dikelas lo.. kayak bt gitu, lagi ada masalah ya? Soalnya gue gak pernah liat lo kayak gitu selama gue kenal lo sih”
“Gak ada apa-apa kok Mit, eum mungkin karena gue kurang suka aja sama pelajarannya” ujar Ardi asal,  aku menaikkan kedua alisnya tanda bingung. Ardi gak suka pelajaran biologi? Tapi kenapa tadi dia bisa nyelesaikan soal-soal dipapan itu dengan begitu mudah? Gak mungkin, pasti dia bohong.. oke Mitha.. sejak kapan lo jadi suka ikut campur masalah orang?
“Oh gitu, gue kira lagi ada maslah gitu, ternyata gue salah, eh tapi gue juga gak suka tuh sama pelajaran yang satu itu” aku ku tanpa ditanya, Ardi hanya tersenyum. “berarti kita sama dong, wow banget yaa”  ujar Ardi, “Apaan sih lo, ngeledek huh. Udah pulang sana”
“Ngusir nih ceritanyaa? Oke Fine,” Aku dan Ardi kemudian tertawa bersamaan melihat tingkah kami yang konyol tadi.
Lo mungkin bener Mit, gue emang lagi ada masalah.. gue gak tahu apakah masalah ini bisa selesai dan buat senyum tulus gue terukir lagi kayak dulu, gue coba untuk tertawa didepan lo dan semua orang, padahal nyatanya, rasa sakit dan kecewa ini masih tertahan didalam hati.. ya Tuhan.. andai bunuh diri bukan suatu hal yang dosa, udah gue lakuin dari dulu. Batin Ardi, dia melajukan motornya dengan sangat kencang, sangat kencang sampai ia tak tahu kemana dia akan membawa langkahnya.

Aku yakin, Ardi sedang ada masalah, senyum itu… aku tahu persis dibalik senyum dan tawa cowok itu pasti terdapat luka, aku dapat melihat mata Ardi yang menyembunyikan begitu banyak konflik, walau bagaimanapun Ardi adalah teman sekelasku, walaupun tidak terlalu dekat tetapi aku tahu Ardi selalu ceria dengan gaya acuh tak acuhnya itu, bagiku Ardi itu cowok yang menarik, baik, pintar, dan masa bodo dengan penampilan dan sejauh aku mengenal Ardi, menurutku Ardi gampang bergaul dengan semua orang. Tetapi tidak pernah sekalipun aku mendengar cerita cinta tentang cowok satu itu, lebih tepatnya Ardi selalu cuek dengan masalah cinta, padahal untuk tipe wajah sepertinya, dikategorikan ‘lumayan’.
***

Aku dan Ardi sekarang semakin dekat setelah peristiwa Ardi mengantarkan aku pulang siang itu, kami sering sharing tentang sekolah dan pelajaran yang mereka sukai atau yang tidak mereka sukai, aku merasa nyambung dekat Ardi, begitupun sebaliknya. Tapi jujur, sering sekali aku melihat ekspresi sedih pada cowok itu, walaupun aku hanya mengambil sikap tak acuh, karena aku tahu, Ardi paling tidak suka ditanya tentang masalah hidupnya. Sebenarnya aku pun begitu.
Tanpa disadari, aku yakin, aku memendam perasaan lebih dari seorang teman pada cowok itu, tetapi aku berusaha menghilangkannya. Entah sejak kapan, perasaan itu muncul, berawal dari sikap Ardi yang konyol dan selalu membuat ku nyaman berada didekatnya, sikap cuek dan apa adanya yang membuat ku tertarik pada cowok itu, tetapi aku sadar, sangat kecil kemungkinan untuk Ardi membalas perasaanku ini, mengingat sikapnya yang selalu cuek pada persoalan mengenai cinta, bahkan selama dekat dengannya beberapa minggu ini, tak sekalipun aku mendengar tentang wanita dari mulut Ardi. Hari demi hari yang aku lewatkan bersama cowok itu terasa indah, sekarang tanpa sadar setiap melihat matanya dia mulai merasa canggung dan gugup. Demi Tuhan, andai aku bisa menghilangkan perasaan ini, aku akan menghilangkannya dari dulu.
Ya Allah, kenapa tak kau ubah saja perasaan ini menjadi perasaan sayang sebagai sahabat? Itu jauh lebih baik, dari pada aku terus memendam rasa cinta ini.

“Mit, gue liat lo lagi pdkt sama Ardi ya? Cyee.. kapan mau jadian?” goda Nisa teman sebangku ku, aku hanya tersenyum sendiri mendengar sahabatku itu, “Apaan sih Nis, enggak kok. Gue sama Ardi Cuma temen” jawab aku, “Temen atau temen? Dekat banget kalian, sampai-sampai lo jarang main sama gue” ujar Nisa cemberut, “Maaf deh sayang, bukan maksud gue kayak gitu, maaf yaa” sesalku yang menyadari semua perkataan Nisa.
“Hahha yaudah gak papa, ehh hari ini Ardi gak masuk, kemana dia?” tanya Nisa, aku melihat disekeliling kelas, “Iya yah, gak tau gue, dia gak ada bilang sih” jawab ku, kemudian memberhentikan percakapan dengan sahabatku itu karena pelajaran sudah dimulai.

***

Sudah tiga hari Ardi tidak sekolah tanpa keterangan, aku mulai khawatir dan merindukan cowok itu, aku tidak tahu harus melakukan apa, ditelpon tidak aktif dan disms pun tidak dibalas, sempat aku menangis memikirkan Ardi, walaupunku tahu mungkin terlalu bodoh menangisi cowok yang sama sekali bukan siapa-siapaku.

Dear Diary,
Perasaan rindu ini sudah tak bisa kusimpan sendiri, tangis ini pun sudah mulai bosan keluar, haruskah aku terus memendam perasaan cinta ini padanya? Apakah aku terlalu egois untuk mengharap dia akan membalas perasaan ku ini Tuhan?? Jika perasaan ini salah, tolong hapus rasa ini, Jika perasaan ini benar, buat dia merasakannya juga Tuhan, mungkin Ini terlalu cepat, mungkin ini terlalu egois tapi, hanya dengan dia, aku merasa hal yang salah itu berubah menjadi benar. Dimana dia saat ini? sedang apa dia saat ini? apakah ada masalah yang harus dia pendam sendiri sampai dia harus menghilang? Ardi.. aku rindu sama kamu.. adakah kamu merasakan hal yang sama? Adakah kamu sedikit aja memkirikan ku? Kau membuatku tersiksa dengan perasaan ini…

“Lo kemana aja Di? Kenapa hampir 3 hari gak masuk? Gue sms gak dibalas, telpon selalu sibuk, gue khawatir sumpah” ujarku to the point pada Ardi ketika Ardi menyuruh aku menemuinya disebuah taman di dekat rumahku, “Maaf bikin lo khawatir, gue Cuma lagi ada maslaah dikit” jawab Ardi singkat, “Masalah apa sih Di? Cerita dong sama gue, biar lo bisa lega” ujarku perhatian dan duduk disebelah Ardi dibangku taman, “Nyokap bokap gue cerai, hidup gue hancur sekrang Mit, gue jadi broken home, sial..” Ardi mengausap mukanya dengan kedua tangannya, aku tahu Ardi sedang menahan tangisnya, aku terdiam sesaat, kemudian memgang bahu Ardi, “Maaf.. gu..gue gak maksud” Omonganku terpotong oleh Ardi, “Gak perlu merasa sungkan gitu, lo gak salah kok” jawab Ardi, “Sabar Di, semua ini ada hikmahnya, gue ngerti.. gue.. gue” Aku tak bisa berbicara apapun, aku sedih dan sakit melihat wajah menderita yang terlihat jelas diwajah Ardi, “Satu-satunya hal, yang paling gue takutin didunia ini, satu-satunya orang yang paling gue sayang berpisah, dan yang bikin gue sakit, gue harus memilih.. gue gak bisa Mit, andai bunuh diri itu adalah pilihan, akan gue pilih.arrghh”
Terlihat setetes air mata mulai menetes dipipi Ardi, aku menggenggam tangan Ardi, dan menenagkannya.. Rasa sakit seperti apa yang sedang lo rasain Di? Andai bisa lo transfer rasa sakit dan sedih itu, andai gue bisa membantu mengurangi dikit aja kesedihan lo itu Di, gue akan lakuin. Please gue gak sanggup liat lo kayak gini.
“Mitha, gue gak punya siapa-siapa buat cerita selain elo, maaf udah cerita terlalu banyak, gue butuh teman curhat, dan Cuma lo, Cuma sama lo gue bisa merasa sakit ini berkurang, sedih ini berkurang. Gue mohon, jangan tinggalin gue.” ujar Ardi memelukku, aku membiarkan Ardi memelukku erat snagat erat sampai aku sulit bernapas, aku merasakan sekujur tubuhku membeku seketika mendengar penuturan itu, Ardi.. merasa nyaman bersamaku.. apakah aku mimpi?
Aku hanya bisa diam dan mencoba merasakan sakit itu, menggenggam tangan Ardi, aku tahu cowok itu membutuhkanku saat ini, “Terkadang hidup ini gak bisa kita tebak Di, dan mau gak mau kita harus terima hal seburuk apapun itu, ini cobaan, buat lo, buat ortu lo, dan buat masa depan lo, Tuhan anggap lo udah dewasa untuk menghadapi masalah ini. keep strong yah, gue janji selalu ada saat lo butuh” Tanpa sadar air mataku menetes juga, dan cepat-cepat aku menghapusnya agar tak terlihat oleh Ardi, “Thanks for there by my side, trying to comfort me and strengthen me” ujarnya tulus, “Anytime Di, aku janji mengubah sedih itu menjadi kebahagiaan”  
“Kebahagiaan aku Cuma ada sama kamu” ujar Ardi yang berhasil membuatku terkejut, “Sebelumnya aku pikir, gak ada yang bisa buat aku bahagia selain kedua orangtua ku, sekarang bahagia itu lenyap, dan aku sadar, kamu menghadirkan bahagia itu lagi Mit, hanya kamu yang bisa buat aku bisa tertawa lepas,” ujarnya lagi .
Ya Allah, jika bisa kukatakan padanya kalau aku merasakan itu juga, aku merasakan lebih dari sekedar bahagia, aku merasakan cinta, aku cinta kamu Ardi…
“Aku yakin aku jatuh cinta sama kamu Mit,”  ujar Ardi akhirnya, aku menutup mataku menahan tangis, aku merasakan angin sangat kencang dan membuat rambut panjangku menari-nari dikepalaku, bunga-bunga ditaman ini terlihat sangat indah ketika Ardi mengatakan itu, mengatakan dia mencintaiku. Aku hanya diam, membiarkan air mataku mengalir dihadapannya, tak ada pilihan lain, tak ada gunanya juga aku menghentikan tangis ini.
“Aku sadar aku gak sempurna, aku broken home, aku gak pantas buat kamu, aku sadar, gak akan ada cewek yang mau sama aku, apalagi setelah mengetahui latar belakang keluargaku, tapi aku juga gak bisa bohongi perasaanku, disaat aku benar-benar gak punya semangat hidup, disaat aku benar-benar butuh seseorang untuk menguatkanku, disaat itu juga pikiranku gak bisa memikirkan hal lain selain kamu, satu-satunya teman cewek aku, yang bisa berteman dengan aku tanpa melihat bagaimana aku,” jelas Ardi, “Kamu baik Ardi, aku gak ada alasan buat gak nyaman berada didekat kamu.. dan aku sadar aku juga butuh kamu” ujarku jujur. Aku melihat Ardi tertawa kecil,
 “Baik? Setelah kamu tahu hidupku hampir berantakan, apa kata baik itu masih pantas buat aku?” tanya Ardi, “Yang berantakan itu kedua orang tua kamu, bukan kamu! Please jangan karena hal ini kamu berubah Ardi, aku yakin kamu cowok baik, kamu cukup dewasa untuk hal ini…”
“Kamu bisa bilang kayak gini sekarang, tapi nanti? Aku gak yakin, sumpah aku benar-benar gak bisa jauh dari kamu sekarang.”
“Kamu tahu gak apa alasan aku tetap ada disisi kamu?” tanyaku pelan, “Aku tahu, karena kamu kasihan sama aku” jawab Ardi asal, aku menggeleng kemudian menarik napasku. Aku diam sesaat… “Karena aku juga cinta kamu Di, aku tersiksa saat kamu jauh dari aku. aku butuh kamu, aku sayang sama kamu” jawabku jujur. Ardi tertegun dan menatapku, “Kamu cinta sama aku? aku gak pantes kamu cintai, dengan kondisi keluarga aku…”
“Aku cinta sama kamu, bukan sama latar belakang keluarga kamu Ardi, aku mohon.. jangan ungkit hal itu”  Kemudian Ardi memelukku dan aku berharap detik berhenti detik ini juga, dan aku yakin, Doa kuselama ini tak sia-sia, memang dia yang kubutuhkan.
“Yakin Di, Tuhan menciptakan segala sesuatu itu karena sebuah alasan, seburuk apapun hal itu” ujarku, “Dan aku yakin, Tuhan menciptakan kamu untuk terus ada buat aku” ujarnya yakin.
***

Malam itu Ardi menelponku dan akhirnya menembakku, aku dan Ardi sama-sama sepakat untuk mencoba menjalin hubungan, aku pikir tak ada salahnya, kami sama-sama saling mencintai, dan aku tak butuh waktu lama untuk menerimanya, karena memang itu yang kuinginkan selama aku memutuskan mencintainya. Beberapa minggu aku menjalin hubungan dengannya aku merasa hubungan kami tak akan bertahan lama, karena aku merasa Ardi sangat cuek padaku, bahkan aku sempat berpikir dia hanya memainkan perasaanku, tetapi dugaanku salah ketika tadi siang sepulang sekolah, Ardi kerumahku dan memberikanku sepucuk bunga mawar.
“Maaf akhir-akhir ini sering cuek sama kamu, aku tau aku salah, maafin aku ya sayang” ujar Ardi sambil menyerahkan bunga itu untukku, aku mengambil mawar itu dengan hati berbunga-bunga melihat perubahan sikap Ardi, “Tapi kenapa Di? Kenapa kamu selalu cuek sama aku?” tanyaku, “Bukannya aku emang sering cuek ya? Hmm?” tanyanya yang membuatku kesal dan cemberut lagi, kemudian Ardi menghelus rambut panjangku, “Maaf janji deh gak bakal gitu lagi, maaf ya sayang” Lalu dia memelukku.

“Aku harus gimana Di? Aku gak sanggup nahan ini sendirian, aku sedih liat mama yang terus-terusan nangis karena ulah kakak aku,” Aku menceritakan masalah keluargaku dengan Ardi melalui telpon, aku sudah tidak tahu harus bagaimana dengan sikap kakak kandungku yang terus-terusan membuat ulah dan akhirnya mengakibatkan kedua orang tuaku bertengkar, hanya Ardi satu-satunya orang yang dengan siap mendengar segala keluh kesahku.
“Sayang.. ada kalanya hidup ini gak seindah yang kamu bayangkan, dan aku udah merasakan apa yang kamu rasa itu lebih dari sekali, kamu hanya butuh sabar, kamu berdoa sama Allah, untuk yang terbaik buat keluarga kamu, Allah yang tahu semua itu, Allah gak pernah ngasih cobaan diluar batas kemampuan kamu dan keluarga kamu, aku yakin kakak kamu lama-kelamaan bakal sadar, betapa penting orang tuanya itu.”
“I just realized what you feel as long as it is not as easy as I thought. Forgiveme sayang” ujarku sambil terisak, aku sadar apa yang kurasakan belum seberapa dibanding apa yang Ardi rasakan, “Jangan nangis, aku gak mau kamu nangis. Aku bakal berdoa buat kebaikan keluarga kamu, agar kamu gak terus-terusan merasakan apa yang kurasa sayang, keep strong honey”
“Maaf kalau aku bikin kamu teringat tentang masalah kamu, maafin aku sayang,”
“Gak papa, bukannya aku dan kamu itu dipertemukan untuk saling mengerti? Yang kuat, kamu gak sendiri, ada aku. seperti kamu yang selalu ada buat aku.”
“Aku cinta kamu Mitha”
“Aku juga cinta kamu Ardi”

Sudah lima bulan kami menjalani hubungan dengan baik-baik, aku merasa sangat beruntung bisa menjadi pacarnya, aku sangat beruntung hatiku memilihnya sebagai orang yang kucintai, Ardi sangat mengertiku dengan berbagai sifat dan setiap hal-hal yang kualami dihidup ini, dia selalu membuatku tersenyum disaat aku tak punya alasan untuk tersenyum. Aku juga selalu berusaha untuk membuatnya tetap tabah dengan semua masalah-masalah yang dialaminya. Sampai pada akhirnya ketika hubungan kami menginjak umur enam bulan, entah ada angin apa yang merasuki Ardi, dia membuatku hampir hilang kesadaran, membuat air mata ku hampir mengering, membuat hatiku sakit yang teramat dalam…
“Aku sadar aku gak pantes buat kamu Mit, maafin aku, aku minta kita putus aja,”
“Kamu kenapa sir Di? Kenapa minta putus? Kamu gak boleh kayak gini, aku gak mau.. aku mohon aku cinta banget sama kamu” Air mataku menangis mengingat hari-hariku tanpa Ardi, apakah aku sanggup?
“Jujur Mit, aku juga cinta banget sama kamu, tapi percaya sama aku, kamu sama aku itu gak cocok, aku dari keluarga yang berantakan, broken home Mitha, aku gak baik buat kamu. Aku gak mau kamu terbebani dengan latar belakang aku.”
“Aku gak perduli siapa keluarga kamu!!! Aku cinta sama kamu Ardiiii aku gak mau kita putus, please. A..a..aku… hikss..” Aku terisak sedalam-dalamnya, bibirku bergetar dan tak sanggup berbicara banyak. Aku hampir pingsan.
“Aku gak bisa nerusin hubungan ini Mit, maaf udah bikin kamu nangis lagi, maaf udah bikin kamu terlanjur mencintaiku terlalu dalam.”
“Kenapa Ardi kenapa?? Kenapa kamu bikin semua terasa sesulit ini? kenapa gak dari awal kamu jauhin aku kalau emang kamu gak niat buat hubungan kita ini, demi apapun Di, sumpah demi apapun… aku gak pernah mempermaslaahkan siapa kamu! Siapa keluarga kamu. Tolong... aa.aku.. gak bisa..”
“Ya aku tahu itu, kamu gak mempermasalahkannya, tapi aku selalu berpikir tentang masa depan kamu. Kamu bisa kok tanpa aku, aku yakin Mit, gak usah nangisin aku, gak usah nangisin cowok kayak aku.”
“Terserah kamu Di.. hikss… terserah kamu mau apa… yang jelas dan yang paling pasti perasaan ini udah terlanjur dalam, aku udah gak bisa jauh dari kamu. Kamu mau putus, kamu mau ninggalin aku terserah… aku gak bisa ngelarang kamu. Aku ikhlas kok. Walau butuh waktu yang lama buat lupain kamu, kamu emang keras kepala, aku gak bisa ubah sifat itu dari diri kamu”
“Maafin aku Mit, aku sadar aku terlalu banyak beri luka dihati kamu. Aku disini masih sangat menyayangimu… tapi mungkin ini yang terbaik untuk kita.”
Aku memtuskan telpon dan mencampakkannya ke lantai, aku melakukan semua itu diluar kesadaranku, aku tidak tahu apa yang harus kulakukan sekarang ini, aku lelah, aku kecewa, aku sedih, aku sakit. Ya .. sakit ini.. sakit dihati ini, terlalu sulit dilupakan. Terlalu sulit menerima kenyataan, terlalu sakit mengenang hal-hal indah bersamanya.. andai waktu bisa diulang, ya Tuhan.. sakit…

Tigabulan berlalu, semenjak aku putus dengan Ardi, aku merasa hidupku hambar tetapi apapun itu aku tetap harus menjalankan hidupku senormal mungkin tanpanya, walaupun sampai sekarang perasaan ini tak pernah berubah terhadapnya, terhadap lelaki satu-satunya yang sudah mengambil seluruh hatiku. Sahabat-sahabatku berusaha untuk menghiburku, aku mencoba selalu bersikap baik-baik saja didepan sahabatku, tetapi tetap tidak bisa, air mataku selalu tak henti-hentinya mengalir. Setiap hari, bahkan sampai detik ini. Ardi masih sering sms hanya untuk sekedar menanyakan kabarku, dan menelponku hanya untuk mendengar suaraku, dan sifat dia itu yang membuatku tambah sakit. Karena kutahu, dia bukan siapa-siapaku lagi.
Terlalu banyak luka yang kau gores sehingga membuatku kebal akan rasa sakit itu, terlalu banyak juga hal indah yang kau beri seingga mambuatku tak pernah menyesali pertemuan kita. Setiap saat bersamamu itu adalah anugerah terindah yang tuhan berikan buat kita. Mungkin kau benar, terkadang tak semua hal itu seperti yang kita harapkan, mungkin dulu aku mengharapkan agar kita tak pernah terpisah, tetapi kini aku hanya berharap kau bisa bahagia dan aku juga bisa bahagia tanpamu lagi. Makasih Ardi, until now really I still love you.

Inspirasi by : Riza Muvidya (Ree TI)
Tunggu kelanjutannya sayang :*

My Slide Show Photo

My Slide Show Photo by Slidely Slideshow

- Copyright © 2013 Trivani Desyara - Trivani Desyara - Powered by Blogger - Designed by Rain Boy -