Archive for June 2013
Untill Now I Still Love You (Part2)
Aku
terbangun dari tidur nyenyakku, entah mengapa beberapa minggu ini aku selalu
bermimpi tentangnya, padahal semenjak putus dengannya tiga bulan yang lalu, aku
mulai menerima keadaan, bahkan aku sudah sangat hapal dengan rasa sakit dihati
ini yang sering datang tiba-tiba, semua keadaan ini harus kujalani bahkan
sampai detik ini, sosoknya belum pernah terganti oleh siapapun, untuk beberapa
saat, sempat aku mulai melupakannya dan menjalani hari-hariku seperti biasa,
karena aku tahu, buat apa terus memikirkan orang yang sama sekali tak pernah
memikirkan rasa sakit ini, tapi sialnya tak segampang itu, sekuat apapun
usahaku melupakannya tetap bayangan-bayangan wajah itu, sosoknya yang selalu
membelai kepalaku disaatku sedih, ahh… sampai kapan aku terus seperti ini?
Dua
bulan yang lalu, Ardi pindah sekolah, aku tak tahu apa alasan pasti dia memilih
untuk pindah dari sekolahku, tapi dengan kepindahannya kupikir akan lebih mudah
melupakannya, tetapi nyatanya, itu malah semakin sulit, tapi aku berusaha
menahan hati ini, menahan rasa rindu ini.
Parahnya semenjak kepindahannya dua bulan yang lalu, dia sama sekali
tidak pernah mengabariku, tak pernah menelponku lagi, tak ada kabar apapun,
terakhir kali aku berkomunikasi dengannya pada tanggal 12 mei 2012, itu adalah
hari ulang tahunnya, sebelumnya aku masih ragu untuk memberi ucapan itu atau
tidak, tetapi setelah kupikir-pikir apa salahnya untuk terus berhubungan baik
dengannya? Aku hanya ingin dia sadar, bahwa sampai hari itu pun aku masih
perduli dengannya.
Setelah
aku mengucapkan selamat ulang tahun padanya dan memberi sebuah gambar untuk
mengingatkan masa-masa manis kami dulu, kupikir dia akan luluh, tetapi aku
salah, responnya sama sekali membuat luka dibagian dalam hatiku, dia hanya
memberi jawaban tiga kata, yang sampai sekarang masih kuingat ‘Amin, sip
makasih’ dan itu cukup membuatku berhenti untuk terus berharap, dia sama sekali tak menghargaiku, mungkin
memang aku yang terlalu banyak berharap, toh aku tahu, Ardi memang cuek,ya
walaupun karena sifat cuek nya itu yang buat aku penasaran dan memilih
mencintainya, tapi kenapa setelah berpisah dengannya aku masih merasa dia
mencintaiku? Kalaupun iya, aku harap kita masih bisa berteman baik Di, kamu
cowok yang beda yang pernah aku temuin..
Aku
tersadar dari lamunanku, aku merasakan setetes air mata tiba-tiba meluncur
keluar dari mataku, bahkan sampai sekarang, sampai detik ini air mata ini tak
pernah habis untuknya.
Aku
cepat-cepat menepis air mataku dan bergegas mandi, sekarang bukan saat yang tepat
untuk flashback semua kenanganku
tentang dirinya, aku harus fokus pada sekolahku, karena sebentar lagi aku harus
dihadapkan pada ujian kelulusan. Aku sadar jika aku terus seperti ini, mau tak
mau akan berpengaruh pada nilai ujianku.
“Abis
nangis lagi ya lo Mit? Kenapa? Mikirin Ardi lagi?” tanya Nisa teman sebangkuku,
aku hanya mengangguk pasrah, tak ada gunanya berbohong pada sahabatku ini, tak
akan berhasil, karena kutahu dia adalah sahabat yang paling tak bisa kubohongi
masalah perasaan ini.
“Aduh
sayang, udahlah.. ngapain dipikir lagi? Dia juga udah gak pernah ngasih kabar
ke lo kan? Lupain dong.. lupain!”
“Lo
tahu gue lah Nis, dia berpengaruh banget dihidup gue, gak segampang itu
ngelupain dia” jawabku pelan, “Iya gue tahu, tapi kenapa gak dicoba buka hati
buat yang lain? Liat tuh sih Dani, dia itu berusaha banget buat dapetin cinta
lo, kenapa lo gak kasih kesempatan buat dia?” tanya Nisa yang mengalihkan
perhatianku pada Dani, Dani memang menyukaiku, dan aku sangat mengetahui hal
itu, tapi kenapa aku sama sekali tak bisa mulai menyukainya juga? Dani memang
baik, pintar, lumayan menarik bagi kebanyakan wanita, tapi apapun usaha yang ia
lakukan untukku, tetap belum berpengaruh besar bagiku pribadi, aku juga
terkadang bingung dengan perasaan ini, ya Tuhan.. lalu aku harus bagaimana?
“Udah
deh Nis, gak usah bahas Dani deh, gue udah coba buka hati buat dia, tapi?”
“Tapi
lo belum bisa ngelupain Ardi? Duh Mit, gue bingung sama lo, kurang apa coba si
Dani? Lo pikir baik-baik deh, jangan nyesel ntar kalau Dani udah nyerah dan menjauh
dari lo”
“Lo
kan tau gue udah coba, mungkin usaha sih Dani belum cukup buat hati gue”
jawabku. Nisa hanya menggeleng-geleng tanda menyerah.
***
“Mit,
hari ini gue bawa motor, gue antar pulang ya?” Tiba-tiba Dani sudah ada
disampingku dan menawarkan tumpangan, Dani memang sudah beberapa kali
mengantarkanku pulang, bahkan aku sudah sering jalan bersamanya hanya sekedar
untuk melepaskan kepenatan dihati ini, aku pikir dengan begitu aku bisa
melupakan Ardi, tak ada salahnya aku memberi kesempatan pada cowok ini.
“Eum
boleh, tapi gue laper, temenin makan dulu yah” pintaku,
“Anytime
Mitha, gue traktir deh” jawabnya santai, aku hanya tersenyum dan mengambil helm
dari tangannya kemudian kami meluncur ke rumah makan terdekat.
“Lo baik banget sih sama gue Dan,
maaf gue belum bisa balas apapun sampai sekarang” ujarku ketika kami menikmati
makan siang, aku merasa tak enak pada Dani yang terus berbuat baik padaku. “Gue
ngerti, gak usah dipaksain Mit, gue juga gak mau lo nerima gue karena terpaksa”
“Tapi sumpah gue udah berusaha, gue
udah coba” ujarku lagi, “Ya gue tahu kok, gak papa, gue ngelakuin ini semua
ikhlas kok, ya anggap aja ini rasa sayang gue ke lo” Aku hanya tersenyum datar
mendengar kata-kata itu. Ingatanku kembali pada Ardi, bahkan disaat bersama
Dani, aku masih terus mengingat mantanku, percuma aku berusaha melupakannya,
itu malah membuatku semakin dan terus mengenang masa-masa itu.
Besok tanteku dari Inggris akan
datang ke Indonesia untuk berlibur, mendengar kabar itu wajahku langsung menjadi
ceria, sudah berapa lama aku tak berjumpa dengannya, begitu banyak hal yang
akan kuceritakan padanya ketika bertemu nanti, selama hidupku hanya dengan
tanteku itu aku merasa nyaman saat aku menceritakan semua masalah
dikehidupanku, dia yang selalu memberi nasihat yang menyentuh hatiku, aku
merasa sangat merindukannya, tak sabar menunggu hari esok. Aunty, there so much many have problem will I tell with you, I miss you
so much.
Keessokan harinya aku memilih untuk
menunggu kedatangan tanteku dirumah, aku membiarkan kedua orang tuaku yang
menjemput tanteku di bandara, karena mama menugaskanku membersihkan rumah
menyambut kedatangan tanteku itu.
Ardi,
boleh ya aku cerita tentang kita ke tante aku, kamu gak akan keberatankan? Aku
butuh teman berbagi Di, aku butuh orang yang bisa kasih masukan ke aku buat
gimana caranya benar-benar lupain kamu, aku capek Di, aku capek terus kayak
gini.
***
“Aunty..
ya Allah, Mitha kangen banget sama Aunt, apa kabar aunty?” Aku langsung memeluk tanteku ketika dia memasuki rumahku,
seperti biasa, dia hanya tertawa geli melihat tingkahku yang sangat manja
padanya, “Aunty baik kok sayang, kamu
gimana?”
“Aku baik kok aunt,” jawabku
tersenyum, “Nanti aja deh kangen-kangenannya Mit, aunty kamu capek tuh baru nyampe, ntar aja ya curcolnya, biarin dia
istirahat dulu” ujar mama, “Oke deh, aunty
istirahat aja dulu, ntar malam sharing
ya aunt, aku mau cerita banyak nih sama aunty”
ujarku,
“Hahaha,,,
aunty tau kamu mau cerita apa,
oke-oke gampang, aunty istirahat dulu
ya sayang” Aku mengangguk lalu membiarkan tanteku istirahat dikamarnya. Tante
Vera, salah satu orang yang paling mengerti aku didunia ini setelah kedua orang
tuaku.
Seminggu sudah tanteku di Indonesia,
tetapi sampai detik ini aku belum ada waktu yang tepat untuk menceritakan semua
masalah perasaan ini, mungkin nanti, karena aku bingung dengan keadaan ku saat
ini, sekarang bukan hanya Ardi yang kupikirkan, tetapi juga Dani. Entah sejak
kapan aku merasa bersalah pada cowok itu, dia mulai menjauhiku, mulai tak memberi
perhatian padaku lagi. Sejak saat itu pula hati ini mulai kehilangan, aku
bingung, aku khawatir, aku merasa cewek paling munafik sedunia, aku sadar sifat
itu wajar dia berikan padaku, mengingat sikapku yang terlalu cuek dan tak pernah membalas perasaannya
sampai detik ini, itu yang membuat ku menyesal, apa ini yang dinamakan
kehilangan? Aku mencoba menghubungi Dani, aku coba untuk minta maaf, tapi
usahaku tak berhasil, dia tak membalas smsku dan tak mengangkat telponku, andai
aku bisa beri dia sedikit peluang waktu itu, sekarang aku benar-benar menyesal,
aku terlalu banyak memberi dia harapan palsu, dan pada akhirnya dia menyadari
dan memilih menjauhiku. Sekarang aku benar-benar sendiri, ya Tuhan, andai aku
dikasih kesempatan lagi, aku janji tak akan menyia-nyiakan Dani. Aku sadar aku
butuh dia, semua yang Nisa katakan benar, aku menyesal ketika dia benar-benar
menjauh.
Malam ini hujan lebat, aku tak bisa
menghalangi air mataku, aku sadar malam ini aku mulai memikirkan Dani,
mengingat semua hal yang ia berikan padaku, usahanya yang selalu membuatku
kagum, tapi aku terlalu menganggap semua yang ia lakukan dengan sebelah mata,
dia bilang dia menjauh dariku karena tak ingin membuatku merasa tak nyaman saat
bersamanya, dia tak mau memaksaku, ya sekarang yang kudapat hanyalah sifat
cueknya terhadapku, Dani benar-benar menjauh dan itu yang membuatku tersiksa,
sekarang setelah Ardi pergi, perlahan Dani juga meninggalkanku, terus bagaimana
aku menahan perasaan ini? bagaimana aku harus menjadi wanita yang kuat?
Ardi…Dani…. Aku butuh kalian.
Hujan semakin lebat dan air mata ini semakin
bertambah, Twitter dan Facebook ku hiasi dengan semua kata-kata
maaf untuk Dani, semua penyesalanku kutumpahkan di timeline twitterku,
semakin ku mencoba tegar, semakin lemah diri ini. Namun sama sekali tak ada
hasil, dia benar-benar bertekad untuk menjauhiku. Dan sekarang aku harus
belajar menerima (lagi) rasa kehilangan itu.
“Sayang… “ panggil tanteku yang
tiba-tiba sudah ada dipintu kamarku, dengan cepat aku menghusap air mata yang
terlihat jelas di wajahku, tante Vera duduk disebelahku dan membelai rambut
panjangku, “Kamu kenapa? Aunty liat
kok status kamu galau banget ya? Terus sekarang kamu nangis, ada apa Mit?”
tanya tente Vera, mungkin ini saat yang tepat untuk bercerita semua pada tante
Vera, aku memang sangat butuh teman curhat. Perlahan aku memeluk tanteku dan
menangis sepuasnya dipelukan tanteku itu, lalu kemudian dengan pelan aku
menceritakan tentang Ardi, kuceritakan semua kisah cinta kami kemudian aku juga
bercerita tentang Dani, dari awal pendekatan sampai akhirnya dia menjauh
dariku.
“Jadi itu yang bikin kamu nangis
kayak gini?” tanya Tante Vera, dan aku hanya mengangguk mengiyakan ucapan
tanteku, tante Vera kembali tersenyum dan menghusap air mata yang jatuh dari
pipiku.
“Denger
ya, kamu berani menjalin suatu hubungan, berarti kamu harus berani mengambil
koensekuensi yang akan kamu alami di akhir cerita, dalam hubungan, seharusnya
kita gak mikirin indahnya terus, sekali-sekali mikirin gimana kamu harus kuat
disaat kamu mengalami kehilangan, karena apapun ceritanya dalam pacaran kata
‘putus’ itu pasti ada sayang”
“Ya aku tahu aunt, tapi kenapa?
Kenapa Cuma gara-gara latar belakang dia itu, dia gak mau berhubungan sama aku
lagi, padahal dia tahu aku gak pernah mempermasalahkan hal itu”
“Kamu emang gak mempermasalahkan,
tapi dia? Mungkin emang dia ngelakuin ini untuk yang terbaik buat kalian, kalau
dia sayang sama kamu , percaya deh sama aunty,
suatu saat, dia bakal datang untuk ngejelasin sama kamu, apa alasan dia kayak
gitu”
“Aku yakin dia sayang sama aku aunt,
aku tahu dia gimana. aku cinta sama dia aunty,
itu yang buat aku susah buat ngerelain dia jauh dari aku.” ujarku parau,
suaraku mulai habis, aku sesenggukan karena menahan agar tangis ini tak keluar
lagi.
“Aunty
tau kok Mitha, aunt ngerti, so, how about
Dani?” tanya tante Vera, aku terdiam sesaat, Ya Allah, egoiskan perasaan ini jika ternyata aku juga mencintai Dani
dan sulit untuk jauh darinya?lalu, apa jadinya jika lagi-lagi aku harus
merelakan orang yang kucintai menjauh dariku? Bahkan kali ini karena aku yang
terlalu tidak peka, atau tepatnya aku yang selalu membandingkan Dani dengan
Ardi.
“Aku sadar aunt, aku juga mulai
sayang sama Dani, tapi jujur cinta aku ke Ardi masih terlalu besar”
“Jangan mikir gimana caranya buat
ngelupain Ardi, coba pikir gimana caranya buat buka hati buat yang lain, dengan
begitu dengan mudah kamu bisa ngelupain Ardi, satu hal ya sayang, kita gak akan
merasakan betapa pentingnya seseorang dihidup kita sebelum kita kehilangan
orang itu, sekarang kamu udah ngerasain kan? Saran aunty, nanti, kalau ada orang yang dengan tulus sayang sama kamu,
jangan kamu sia-siakan yah, kamu jaga dia, jangan pernah menyakitinya, karena
kamu tahu disakitin itu suatu hal yang gak enak kan?” jelas tante Vera panjang,
aku mulai menyadari semua perkataan tante Vera itu benar, perasaan ku mulai
lega, aku mulai bisa tersenyum walau belum bisa menghilangkan rasa sakit ini.
Setelah curhat dengan tante Vera,
aku rasa tugasku sekarang hanyalah menjalankan hidupku tanpa perlu memikirkan
apapun, tak usah memikirkan rasa sakit ini, aku ingin hidup bebas tanpa beban
perasaan untuk sementara, aku janji pada diriku untuk tak terus-terusan
mengingat hal-hal yang membuatku galau.
Ardi…
kamu sekarang dimana? Lagi apa? Aku kangen banget sama kamu… kangen banget..
udah hampir tiga bulan kita gak pernah berhubungan, wajar jika rasa rindu ini
menghampiriku, tapi kamu tenang aja yah, aku disini, aku baik-baik aja, aku
janji aku akan menjalankan hari-hariku seperti biasa walaupun kamu gak
disampingku lagi.
Dani…
makasih udah beri begitu banyak pelajaran, begitu banyak perhatian sehingga
saat kamu menjauh aku merasa sangat kehilangan, maaf karena menggoreskan luka
dihatimu karena keterlambatanku menyadari bahwa aku butuh kamu, aku sayang
kamu. Kamu benar, mungkin memang lebih baik, kita berteman seperti dulu!!!
Hari ini adalah hari kelulusanku, Alhamdulillah aku dinyatakan lulus dan
mendapatkan hasil yang lumayan bagus. Sekarang aku punya kehidupan baru,
selamat tinggal putih abu-abu, selamat datang dunia baru, di kampus yang baru
dan pergaulan yang baru. Dan aku berharap disini aku menemukan hidupku,
menemukan apa yang kuinginkan dan bisa melupakan
Ardi. Jujur aku rindu padanya, tapi hanya sekedar rindu, karena aku mulai kebal dengan rasa sakit ini, biarkan saja dia membekas direlung hatiku dan aku hanya tinggal menjalani alur cerita hidupku selanjutnya, aku bisa, aku kuat, aku mampu! Bantu aku ya Allah.
Ardi. Jujur aku rindu padanya, tapi hanya sekedar rindu, karena aku mulai kebal dengan rasa sakit ini, biarkan saja dia membekas direlung hatiku dan aku hanya tinggal menjalani alur cerita hidupku selanjutnya, aku bisa, aku kuat, aku mampu! Bantu aku ya Allah.
Next? keep waiting yah :)
thanks for reading ^.^
Hallo ^..^
apa kabar yang lagi baca blog aku ini? haha wlaupun termasuk blogger baru, tapi aku senang kok alhamdulillah semakin hari semakin banyak yang ngunjungi Blog aku, untuk yang sering diam-diam lihat blog aku, makasih yaa ;)
Aku disini cuma mau ngabarin cerita pertamaku "Untill now i still love you" ada kelanjutannya loh, bagi yang merasa ceritaku itu masih gantung, sabar guys. insyallah bakal aku terusin, bagi yang minat sama cerita itu, keep wait ya ceman-ceman ;;) *mulaialay -_-
so, thx for everything, makasih untuk semua yang udah nyempetin waktunya buat baca ceritaku yang ala kadarnya ini .-. ya maklum lah ya, aku juga penulis baru, jadi tulisannya agak-agak labil mungkin, hihihi, enjoy yah ;) thx for read yah, love love buat kalian :D
Trivani <3
apa kabar yang lagi baca blog aku ini? haha wlaupun termasuk blogger baru, tapi aku senang kok alhamdulillah semakin hari semakin banyak yang ngunjungi Blog aku, untuk yang sering diam-diam lihat blog aku, makasih yaa ;)
Aku disini cuma mau ngabarin cerita pertamaku "Untill now i still love you" ada kelanjutannya loh, bagi yang merasa ceritaku itu masih gantung, sabar guys. insyallah bakal aku terusin, bagi yang minat sama cerita itu, keep wait ya ceman-ceman ;;) *mulaialay -_-
so, thx for everything, makasih untuk semua yang udah nyempetin waktunya buat baca ceritaku yang ala kadarnya ini .-. ya maklum lah ya, aku juga penulis baru, jadi tulisannya agak-agak labil mungkin, hihihi, enjoy yah ;) thx for read yah, love love buat kalian :D
Trivani <3
Ke’egoisan Hati Ini
“Gue
jemput lo ntar lagi, tunggu pokoknya? Oke? Awas lo kalau kemana-mana.” Ujar
Talitha pada sahabatnya Arin, “Iya Lithaku sayang, gue tunggu lo disini,
makanya cepetan, udah siang banget nih, gue laper..” gerutu Arin kesal terhadap
sahabat kesayangannya itu, kemudian dengan kesal dia langsung mengakhiri
pembicaraan terhadap Talitha dan memutuskan untuk melanjutkan tugas kantornya
yang masih menumpuk sambil menunggu sahabatnya itu menjemputnya untuk makan siang.
Sepuluh menit kemudian Arin keluar
dari kantornya dengan menggunakan stiletto
hitam yang dia gunakan dan berjalan dengan kesal kearah mobil yang tengah
menunggunya siang itu, kemudian dia membuka pintu mobil dan langsung masuk
kedalamnya. “Huh.. akhirnya lo jemput juga, hampir ubanan gue nunggu lo
dikantor tau, mana perut udah bunyi terus nahan laper.” Sewot Arin pada Talitha
yang hanya memberi ekspresi datar seperti tak ada masalah apapun, “Iya maaf
Rin, lo bawel banget sih, nyantai aja napa sih.” balas Talitha tenang.
Arin manyun melihat jawaban sahabatnya itu,
Talitha mulai menyadari tingkah sahabatnya yang konyol itu dan sedikit
tersenyum sambil mencolek dagu Arin dengan sebelah tangannya dan sebelah lagi
konsentrasi menyetir.
“Jangan ngambek dong, gue yang
traktir deh” Mendengar kata ‘Traktir’ ekspresi Arin berubah menjadi senyum
lebar, “Ciyusss? Gitu dong, jadi gue gak bt lagi. Tumben lo baik, ada apa nih?”
tanya Arin memastikan, “Ih monyong lo, gue baik salah, gue jahat salah.
Sekarang pake nuduh lagi,” Sekarang Talitha yang kesal.
“Hahah piss piss, yaa biasanya kan
kalau gue minta traktir lo pelit banget. Huh” dengus Arin,
“Idih, mana pernah gue pelit, gue
sering ya neraktir lo Rin, lo tuh yang sering pelit minjemin gue barang-barang
bagus lo huh” balas Talitha tak mau kalah, tawa Arin meledak mendengar kalimat
yang dikeluarkan Talitha, “Iya ya.. haha.. maaf deh. Gue bukannya pelit Tha,
Cuma barang-barang yang lo pinjem pasti barang kesukaan gue, ya mikir dua kali
dong buat minjemin ke elo.”
“Udah ah, males gue berdebat sama lo
Rin, bawelllll.. nyebelin” Kemudian Talitha dan Arin tertawa berbarengan
melihat percakapan konyol itu, Talitha dan Arin sudah hampir satu tahun
bersahabat, memang belum terbilang lama, tetapi bagi kedua wanita itu satu
tahun belakangan ini sudah cukup bagi mereka mengenal satu sama lain. Pertama
kali bertemu ketika mereka sama-sama mencari rumah kost di Jakarta, waktu itu
Talitha dan Arin baru saja diterima kerja disebuah perusahaan swasta di Jakarta
sebagai karyawan tetap, kemudian diwaktu yang sama mereka sama-sama menyewa
disebuah kost yang sama. Karena kamar kost tinggal satu, jadi mereka memutuskan
untuk satu kamar berdua dan akhirnya mereka merasa dekat dan menjadi sangat
dekat sampai sekarang ini.
“Eh Rin, kita cari apartmen aja yuk
yang lebih bagus, bukannya gue sombong atau apa ya Tha, tapi jujur gue udah
kurang nyaman sama kostan kita sekarang ini, apalagi semenjak ibu kost kita
ganti, udah gak senyaman dulu lagi” ujar Arin pada Talitha yang tengah asik
memainkan iphone ditempat
tidurnya, Arin kemudian berbaring
disebelah Talitha dan menggoyangkan bahu Talitha.
“Lo dengar gue napa Tha, gue serius
nih”
“Iya gue denger, bentar dulu napa
sih, gue lagi balas mention nih”
“Twitteran
sama siapa sih lo asik banget, sampe gue dicuekin. Ahh males gue” Karena kesal
Arin mengambil gulingnya dan berbalik badan untuk tidur, malam sudah larut Arin
pun sudah terlelap tidur. Talitha kemudian mematikan lampu kamar dan mengikuti
Arin yang sudah memasuki alam mimpi.
“Kemana
hari ini? jalan yuk Rin, kan libur kerja.” Ajak Talitha, “Lo gak jalan sama
pacar lo sih boy? Biasanya kan lo jalan sama dia kalau udah libur gini” tanya
Arin, “Dia lagi diluar kota Rin, ayo dong… bt nih di kostan mulu” Arin
memikirkan sesuatu kemudian menjentikkan jarinya tanda bahwa dia mendapatkan
ide bagus. “Kita cari apartemen aja yuk…” ujar Arin antusias, kemudian dengan
cepat Talitha menatap Arin bingung sambil menaikkan satu alisnya, “Maksud lo?”
tanya Talitha, “Maksud gue, gue mau kita pindah Tha, serius deh gue gak betah
disini… sumpah!” ujar Arin tegas.
“Ya ampun Rin, lo kira gampang apa
pindah-pindah? Kita udah setahun lo disini,
banyak banget barang yang harus kita pindahin, dan semua orang yang
kenal kita tahunya kan alamat kita disini, terus kalau kita pindah ada yang
nyariin kita gimana? Lo mikir dong.” Repet Talitha kesal, “Ih kenapa harus
dipermasalahin sih? hallo media komunikasi udah berkembang sayang, percuma lo
banyak gadget tapi gak digunain.” Balas Arin.
“Ngebet banget mau pindah kostan?”
tanya Talitha akhirnya, Arin pun mengangguk antusias, dengan berbagai
persyaratan akhirnya Talitha luluh juga dengan permintaan Arin sahabat
kesayangannya itu, Arin memang pintar merayu Thalita dengan berbagai alasan
yang ia utarakan. Akhirnya hari libur mereka, mereka gunakan untuk mencari-cari
apartemen yang setara dengan kemampuan mereka.
Setalah melihat berbagai apartemen
diJakarta, akhirnya mereka menemukan apartemen yang tepat. “Kapan kita pindah
Tha?” tanya Arin ketika mereka sedang asik menikmati makan malam disebuah kafe,
Thalita menatap Arin kesal, “Sabar dong Rin, lu sibuk banget sih sama apartemen,
bingung gue” ujar Thalita kesal, “Hehe, iya nih udah gak tahan banget” sambung
Arin
***
Seminggu kemudian Talitha dan Arin
resmi menempati apartemen baru mereka, Boy kekasih Talitha sejak dua bulan lalu
ikut membantu perihal kepindahan mereka. Setelah selesai berbenah, Thalita
duduk disamping Boy yang terlihat lelah, “Capek sayang?” tanya Talitha
perhatian, Boy hanya tersenyum sambil menghelus rambut Thalita, “Gak capek kok
kalau udah liat senyum kamu” goda Boy smabil mencolek dagu pacarnya itu, Talitha
hanya tertawa kecil. Arin yang melihat kemesraan diantar Talitha dengan Boy
hanya dapat menahan tangis, sakit didadanya mulai ia rasakan semenjak melihat
kemesraan sahabatnya itu, dia sadar dia egois, tetapi dia tak dapat menahan
perasaannya, dia memang cemburu melihat kemesraan mereka, dia sadar dia
memendam perasaan terhadap Boy semenjak Talitha mengenalkan pacarnya itu
padanya. Tetapi Thalita adalah sahabat baiknya, apapun keadaannya dia tidak mau
Talitha mengetahui tentang perasaannya ini, bisa hancur persahabatan diantara
mereka.
Tha,
kalau aja gue bisa jujur sama lo, gue sayang juga sama Boy, apa respon lo? Apa
lo bakal marah sama gue? gue yakin lo gak bakal mau sahabatan sama gue lagi,
emang gue salah mendam perasaan ini, maafin gue Tha. Perasaan ini terlalu egois.
“Hey, jam segini kok belum tidur
Rin? Sibuk banget sama tuh diary?
Nulis apa sih? gue liat dong”
“Eitt, namanya aja juga diary, masa
bisa diliat-liat sih, lo kira ini novel apa” sewot Arin, Talitha menyengir
lebar, “Haha ya mana tau lo mau ngasih liat persoalan hidup lo, kok kayaknya
tiap hari gak bisa ya gak nulis diary” ujar Talitha sambil menaikkan alisnya,
“Iya dong, lo juga kan? Tiap hari hobinya mentionan
di twitter” balas Arin menjulurkan lidahnya, “Lah itu beda dong” jawab Talitha,
“Apa bedanya?” tanya Arin lagi, “Udah ah, udah malem males gue berdebat. Daa
gue mau tidur”
“Dihh, yaudah tidur sana, siapa juga
yang mau ngelarang? Wekk” Arin kembali menjulurkan lidahnya lalu membiarkan
Talitha terlelap.
Hari
ini Talitha pulang kerja lebih cepat dari Arin, sepulang kerja dia langsung
pulang ke apartemennya karena mengingat mereka baru pindah, jadi banyak barang
yang harus Talitha bereskan agar mereka bisa tinggal di apartemen itu dengan
nyaman tanpa barang yang berantakan. Arin sepertinya hari ini pulang sore
karena ada meeting penting
dikantornya, dan Talitha dapat memaklumi sahabatnya itu. Akhirnya Talitha
memutuskan untuk berbenah sendiri, Talitha mulai membereskan barang-barangnya,
kemudian beralih kebarang Arin, Talitha merapikan baju Arin yang masih
berantakan dikamar mereka, kemudian memasukkannya kedalam lemari pakaian Arin. Dasar sih Arin, pakaiannya berantakan banget
ya ampun, dasar ni anak, lemari gak pernah rapi. Akhirnya gue juga yang rapiin
kan. Huh!
Tengah
asik merapikan lemari baju Arin, tak sengaja Talitha melihat diary kecil Arin disela-sela baju yang
berserakan itu, Talitha mengambil diary kecil itu dan mengamatinya
beberapa menit. “Ini nih yang tiap malam selalu Arin tulis, dia nulis apaan ya
di diary ini? jadi penasaran gue, baca gak yaa? Tapi kalau
gue baca dia pasti marah, tapi kalau gak tau gak papa dong? Emm penasaran gue”
Talitha masih ragu ingin membaca diary
milik Arin itu, dia masih menimbang-nimbang keputusannya membaca diary Arin, karena kelewat penasaran
akhirnya dengan perlahan Talitha membaca halaman pertama diary itu, senyum mewarnai wajah Talitha ketika membaca halaman
pertama sampai halaman tengah diary milik
sahabatnya itu, karena yang ditulis Arin tak lain kebanyakan tentangnya dan
tentang teman-temannya dikantor, ada banyak foto dirinya yang ditempel Arin
dibeberapa halaman diary itu.
Akhirnya Talitha sampai pada halaman terakhir di diary itu, ada perubahan diwajah Talitha, semakin dia membaca
halaman terakhir di diary itu, dadanya semakin terasa sesak. Dia mulai
memegang dadanya dan mencoba tenang. Kemudian dia merasakan matanya mulai basah
dengan buliran air mata yang membasahi pipinya, hal satu-satunya yang
dirahasiakan sahabatnya itu padanya, setelah membaca halaman terakhir diary itu Talitha dengan cepat menutup diary itu dan menyimpannya ditempat
semula agar Arin tak mengetahui bahwa diary
nya telah dibaca oleh Talitha. Talitha menangis tersedu-sedu dilantai
apartemennya, baru kali ini dia merasakan sakit karena merasa tak peka, sakit
karena bingung harus bagaimana…. Sakit karena harus memikirkan bagaimana rasa
sakit yang Arin alami karenanya.
Dir Diary, hari demi hari yang kulewati
bersama Talitha, terasa begitu indah bagiku, Talitha sahabat yang lebih dari
baik buatku, disaat itu juga, Tuhan menghadirkan sosok pria dalam kehidupannya,
semenjak Talitha mengenalkan pacar barunya denganku, disaat itu juga perasaanku
merasakan suatu hal yang salah pada cowok itu. Aku tahu, aku terlalu egois
memiliki perasaan ini, aku terlalu rapuh untuk tidak mengakuinya, toh
kenyataannya aku gak bisa bohongi perasaan ku sendiri, andai aku bisa
menghilangkan perasaan sakit ini setiap melihat mereka berdua, andai aku bisa
tersenyum tulus melihat sahabatku bahagia, aku akan lakukan hal itu. Tapi aku
juga manusia dan aku gak bisa munafik dengan keadaan. Aku cemburu, aku nangis
walau dia tak tahu.
Tha, gue sayang sama lo, tapi kenapa
gue juga harus sayang sama cowo lo? Salahkah perasaan ini? salahkan kalau
kenyataannya gue selalu nangis setiap lihat lo bersamanya? Ya… gue tahu gue
salah, tapi gue harus gimana? Perasaan ini muncul tiba-tiba, dan gue gak bisa
melarangnya masuk. Mungkin gue yang terlalu lancang, mungkin gue yang terlalu
egois, tapi gue harus gimana Tha? Gue Cinta sama Boy, gue juga sayang sama lo,
Boy Cinta sama lo, terus gue gimana? Sakit hati ini setiap melihat kalian itu
rasanya nyesek banget Tha, sampai kapan gue harus kayak gini? Bantu gue, maafin
gue. Gue tahu gue salah….
Kata-kata
terakhir yang ditulis Arin mesih terngiang dipikiran Talitha, dia berusaha
menahan isakannya tetapi tetap tak berhasil, terlalu banyak hal yang dia
pikirkan, Boy.. Arin..Boy..Arin..
“Terus
gue harus gimana Rin? Kenapa lo harus suka sama Boy? Kenapa lo harus cinta sama
cowok gue? gu.gu..ee sayang sama lo, tapi gue gak bisa ngelepas Boy, maafin
gue.. gue cinta sama Boy, dan lo bilang lo juga cinta sama Boy, terus gue
sebagai sahabat lo harus ngelakuin apa buat kita bertiga? Ya Tuhan.. apa aku
yang terlalu tak memahami Arin? Apa aku yang terlalu mengabaikan perasaan Arin
selama ini? andai aku tahu Arin juga suka sama Boy, Rin… kenapa kenyataan ini
terlalu berat buat gue? maaf selalu buat lo sakit dan nangis saat gue bersama
Boy. Demi Tuhan gue nyesel gak pernah peka sama perasaan lo”
Talitha
terus terisak di kamarnya, memikirkan setiap hal-hal indah yang dia alami
dengan Boy dan Arin. Terlalu sulit membayangkan harus memilih satu diantara
mereka, Talitha sayang pada Arin tetapi dia juga sayang pada kekasihnya, Arin
juga sayang pada Boy, terus apa yang harus Talitha lakukan saat ini? rasa
bersalah yang ada didalam hatinya teramat sakit, dia sudah mengenal sahabatnya
itu setahun lebih, tetapi kenapa hal seperti ini dia tak pernah peka.
Kenapa harus sama Boy
Rin? Kenapa lo harus nyembunyiin ini dari gue? kenapa lo selalu tersenyum saat
gue sama Boy seakan tak pernah terjadi apa-apa dengan lo? Kenapa lo sekarang
buat gue jadi merasa bersalah Arin? Kenapa ? kenapa??? Ya Allah…
***
“Eh
lemari gue udah rapi aja nih, thanks
ya Tha hehe” ujar Arin pada Talitha yang hanya tersenyum kecil, Arin menyadari
perubahan Talitha hari ini, sahabatnya itu jadi lebih banyak diam, dan dia
melihat mata Talitha sedikit membengkak. Kemudian Arin menghampiri sahabatnya
itu, mana tahu Talitha lagi ada masalah. Pikirnya.
“Tha,
mata lo kok bengkak gitu ya? Kenapa say? Abis nangis?” tanya Arin, Talitha
menggeleng cepat “Enggak kok Rin, gatau kenapa nih mata, kelilipan tadi.
Makanya bengkak gini” dusta Talitha, “Masa? Lo gak lagi bohong sama gue kan
Tha?” tanya Arin memastikan, “Enggak kok, suer, emang gue pernah bohong sama
lo? Hehe udah ah, gak usah dipikirin” elak Talitha cepat agar Arin tak banyak
bertanya-tanya lagi.
Gue nangis aja lo bisa
nebak Rin, lo bisa peka sama kondisi gue, tapi kenapa saat lo nangis gue gak
pernah tau dan gak pernah peka? Lo salah kalau bilang gue sahabat yang baik,
nyatanya gue buruk banget Rin, maaf. Batin Talitha.
Jam
sudah menunjukkan pukul 02.00 pagi, Arin sudah tertidur pulas, tetapi tidak
dengan Talitha yang sama sekali tidak dapat tidur, dia masih gelisah dengan
semua permasalahan ini, dia tidak bisa tenang memikirkan perasaan Arin,
akhirnya dia mengambil ponselnya dan
menekan satu tombol dikontak ponselnya.
“Hallo
Tha, kamu belum tidur?” sapa cowok disebrang sana, air matanya perlahan menetes
mendengar kelembutan dinada bicara cowok itu, cowok yang sudah dua bulan
mengisi hidupnya, member warna baru dalam hidupnya. Ya Allah, apa keputusan ini tepat? Apa aku harus menambah luka dihati
seseorang lagi? Kalau dengan begitu aku bisa melihatnya bahagia?
“Hey,
kok diam sayang?”
“Emm
Boy, ada yang mau aku omongin sama kamu”
“Mau
ngomong apa?” tanya Boy lembut, perlahan Talitha menarik napasnya kemudian
membuangnya, air mata terus mengalir membanjiri pipi dan bajunya, dengan
terpaksa dan rasa sakit yang teramat dalam, dia akhirnya mengatakan kalimat
itu. “Kita putus aja ya” Talitha berusaha kuat untuk tidak terlihat tengah
menangis, “Apa? Kamu jangan bercanda Tha, please
ini gak lucu sayang,” balas Boy panik, “Aku gak lagi becanda Boy, aku mau kita
putus. Maafin aku, aku udah gak ngerasa apa-apa lagi sama kamu, mungkin ini
yang terbaik buat kita. Makasih Boy” Kemudian dengan cepat Talitha menutup
telponnya dan menutup mulutnya dengan kedua tangannya, sekuat tenaga dia menahan
agar isakan itu terhenti agar dia tak mengganggu tidur sahabatnya.
“Maafin
aku Boy, aku sayang sama kamu… sayang banget. Tapi aku juga sayang sama Arin,
lama-lama kamu pasti ngerti kondisinya Boy, aku gak mau bikin luka yang terlalu
dalam dihati Arin karena kita, hikkkss… aa…aa..ku ya Allah, aku mohon apa yang
aku lakuin ini adalah yang terbaik untuk kami bertiga” gumam Talitha ditengah
tangisnya, ponselnya terus bergetar dan itu panggilan dari Boy, dia tak
menghiraukan dan mematikan hpnya, Talitha menatap Arin yang tengah tertidur
pulas, kemudian dia mencium kening sahabatnya itu.
“Jika ini bisa buat lo lebih baik
dan gak tersiksa Rin, gue bakal lakuin, gue gak mau lo terus-terusan mendam
perasaan sakit lo, sekarang gue udah putus sama Boy, lo punya peluang besar
buat dapatin cintanya, buat dia cinta sama lo Rin, biar gue benar-benar bisa
liat orang yang gue sayang bahagia”
Kemudian Talitha terlelap tidur.
***
“Lo baik-baik di sana yah, duh bakal
sepi deh gak ada lo Tha, jangan lama-lama ya sayang” Arin memeluk Talitha erat,
Talitha ditugaskan dari kantornya untuk keSamarinda selama sebulan, jadi
terpaksa dia harus meninggalkan sahabatnya itu sendirian diapartemen mereka.
“Iya sayang, lo jangan macem-macem lo selama gue di Samarinda.. pokoknya jangan
sampe pulang-pulang nih apartemen udah jadi kayak sarang laba-laba haha” . “Iya
Talitha kusayang, lo tenang aja. udah gih sana, ntar telat pesawat lagi”
Kemudian Arin memeluk Talitha lagi beberapa saat sebelum Talitha naik ke taxi.
Arin
menghapus setetes air mata yang keluar membasahi pipinya, “Gue gak pernah
ditinggal selama sebulan sama lo Tha, berat banget rasanya tanpa lo”
Talitha sayang, sumpah
gue gak tahu gimana rasanya sebulan tanpa lo, duhh kan jadi nangis nih, gue
emang cengeng tau tanpa lo, lo itu berpengaruh banget deh kayaknya dihidup gue.
oh ya lo baca diary gue kok gak bilang-bilang sih Tha? Gue kan jadi malu sama
lo. Tapi gak papa, mungkin emang Tuhan takdirkan lo untuk baca semua isi hati
gue lewat diary gue itu. Gue kayak anak-anak banget kan Tha? Maaf ya bikin lo
terlalu banyak berkorban hanya untuk bikin gue bahagia, maaf bikin semua ini
menjadi rumit sayang. You know What? Lo itu udah kayak malaikat bagi gue, lo
itu sahabat gue yang … yang gimana ya? Susah deh diungkapin sama kata-kata,
Tha, tanpa lo harus berkorban, tanpa lo harus ngorbanin perasaan lo demi gue, lo itu udah jadi malaikat banget buat gue,
maaf bikin lo nangis kemaren malam karena lo harus mutusin Boy demi gue.
Talitha
menarik napas perlahan, kemudian menghusap air mata yang mulai membasahi
matanya, kemudian melanjutkan membaca e-mail
dari Arin.
Lo tau gak? Waktu lo
mutusin Boy kemarin malam, waktu denger lo nangis begitu kuat, saat itu gue
sadar Tha, liat lo menderita itu jauh bikin gue sakit dibanding sakitnya
perasaan gue saat gue lihat lo berdua sama Boy. Lo salah kalau lo pikir malam
itu gue udah tidur, gue Cuma pura-pura tidur biar bisa tau apa masalah lo
sehingga mata lo bengkak banget hari itu. Tha, kenapa lo bodoh banget sih? hah?
Kenapa lo ngelakuin hal itu Cuma buat gue? lo gak perlu mutusin Boy, apa lo
pikir dengan lo putus dengan Boy gue mau gitu sama Boy? Lo salah, sekarang gue
tau, rasa sayang gue sama lo jauh lebih besar dari pada rasa sayang gue ke Boy,
sumpah Tha, lo gak perlu mikirin perasaan gue, malah dengan lo kayak gitu, gue
jauh lebih sakit sayang. Boy itu cinta banget sama lo, dan bukan sama gue,
kasian dong si Boy lo putusin tanpa alasan gitu, please, sekarang setelah lo
baca email dari gue, gue mohon , telpon Boy dan minta maaf sama dia, bilang lo
sayang sama dia, gue udah jelasin semua sama Boy, dan Boy bisa ngertiin lo kok,
awas kalau lo gak nurutin permintaan gue, gue bakal ngambek loh. Oke Talitha ?
jangan mikirin gue terus-terusan Tha, lo harus mikirin diri lo. Masa depan lo.
Trust me, im fine here, please. Back with Boy yah J
:* {} I love u more than I love my self sista J
Talitha
akhirnya tersenyum membaca e-mail
yang masuk dari sahabatnya itu, dia merasa semua beban pikiran yang ia alami
beberapa hari ini telah menemukan titik terang. Semua terasa begitu ringan
sekarang, ya mungkin Arin benar, Tuhan telah menakdirkan diary Arin untuk terbaca olehnya, agar tak ada kebohongan diantara
mereka. “Makasih banget Rin, gue beruntung banget bisa dapat sahabat yang
selalu ngertiin gue kayak lo. Sekarang lo bener, gue harus minta maaf ke Boy”
Aku mengambil Telponku dan aku menelpon Boy, semua masalah sudah selesai,
hubunganku dengan Boy sudah kembali seperti biasa. Setelah berbicara dengan Boy
melalui telpon, aku membalas email Arin.
Aaa… Arin L
kamu the best banget sih sayang, makasih udah banyak ngertiin aku, makasih
untuk semuanya, aku tahu aku salah, aku terlalu cepat mutusin hubungan dengan
Boy, aku tahu aku bodoh…. Maaf.. tapi bener kamu gak papa kan? Aku yakin kamu
bisa dapat pasangan yang terbaik buat kamu ya sayang. Aku udah balikan kok sama
Boy, pokoknya makasih sekali lagi, I Love u too. Much more darl :*
Beberapa menit kemudian Arin
membalas email Talitha, dan Talitha dengam cepat membaca email itu.
Lama
banget sih balasnya L
gue nungguin kabar dari lo dari tadi tau! Beneran udah balikan sama Boy?
Gak lagi bohongin gue tah? Hehe, gue lega deh sekarang. Im okey, lo tenang aja.
lagian sekarang gue nyadar kok perasaan ini Cuma sesaat, gue yakin ini Cuma
keegoisan sesaat. Lo gak usah minta maaf, lo gak salah, gue gak salah dan Boy
juga gak salah, kita gak salah Tha, Cuma kondisi aja yang gak tepat. Dengan
kejadian ini gue yakin kita bisa lebih dewasa dalam menghadapi masalah. Iya,
gue yakin kok pasti gue bakal dapat yang terbaik buat gue J
Setelah
membaca balasan dari Arin, Talitha mematikan laptopnya kemudian berbaring
dikamar Hotelnya, dia sadar betapa dia tengah merindukan sahabatnya itu saat
ini, dan untuk sebulan kedepan dia bakal terus merindukan Arin dan Boy, andai
waktu bisa dipercepat. Dia ingin segera kembali ke Jakarta, tidur bersama Arin,
bercanda bersama Arin dan bermesraan dengan Boy. Malam ini dia dapat tidur
dengan pulas, tanpa harus memikirkan apapun.
***
Sebulan Kemudian..
Talitha sampai di Bandara Soekarno
Hatta dan langsung disambut oleh orang yang Ia rindukan selama beberapa bulan
ini, Arin dan Boy.
Talitha langsung memeluk Arin dengan
erat, betapa rindunya dia dengan sahabatnya itu. “Gue kangen bangett Rin…
sumpah” ujar Talitha, “Gue juga Tha, kesepian gue tidur sendirian dikamar gak
ada lo” balas Arin tak mau kalah, Talitha melepaskan pelukannya kemudian
matanya beralih pada Boy, lalu dia menatap Arin lagi.
“Samperin dong cowok lo Tha, dia
juga kangen sama lo” ujar Arin yakin, Talitha mengangguk dan memeluk Boy, “Maafin
aku Boy, I miss you honey” ujarnya, “I miss you more than everything beb, love you” Aku menatap mata Boy dan
melihat Arin tersenyum, aku yakin senyum Arin sekarang senyum ketulusan. Tak
terlihat tanda-tanda kesakitan disana, dengan yakin aku membalas tatapan Boy “I Love you too sayang.”
Kebahagiaan
itu sederhana ternyata, hanya dengan menyadari betapa berharganya senyuman itu,
hanya dengan melihat orang yang aku sayang tersenyum itu sudah menjadi
kebahagiaanku. Mungkin kau yang dikatakan sahabat sejati Talitha, kau yang
selalu mengubah tangis ini menjadi senyum, mungkin aku yang terlalu egois
memaksa kan sesuatu hal yang aku tahu itu salah, sekarang aku bisa yakin, aku
bisa menerima kenyataan. Hanya dengan melihat mu tersenyum aku rela melakukan
apapun didunia ini, karena aku tahu, kau terlalu banyak berkorban untukku. Itu
yang menydarkanku, bahwa semua hal tak bisa dipaksakan, kita hanya harus
belajar bagaimana menerima, sesakit apapun itu.
This my second short story, thanks for read guys... hope u like ;) Love Vani :*
Untill Now I still love you
“Ma..
aku berangkat sekolah dulu yah, udah mau telat nihh.. ntar pintu gerbang
ditutup, bye mama muaachh “ Mitha
gadis berumur 17 tahun yang sekarang duduk dibangku kelas 3 SMA itu dengan
terburu-buru mencium mamanya kemudian berlari menuju mobil untuk segera
berangkat kesekolah, “Hati-hati sayang… jangan buru-buru. Makanya lain kali
jangan kesiangan bangun” teriak mama, “Iya mama… dada..”
Aku
langsung naik kemobilku tanpa menghiraukan mama.
“Pak cepetan dong… nanti aku telat
nih” ujarku pada pak supir, “Ini juga udah ngebut neng.. makanya lain kali
bangun jangan kesiangan lagi” balas pak
supir, aku hanya diam sambil memonyongkan bibirku. Sesampainya disekolah aku
menarik napas lega karena ternyata aku belum telat, dengan cepat aku turun dari
mobil dan masuk kekelasku.
“Huh.. hampir aja” Aku mengelus
dadaku, “Kenapa lo Mit? Kok ngos-ngosan gitu, kayak baru dikejar setan” sapa
Ardi teman sekelasku, sebenarnya aku dan Ardi tidak berapa dekat bahkan jarang
mengobrol satu sama lain, tetapi melihatku yang bercucuran keringat karena
takut telat menarik perhatian cowok cuek itu untuk bertanya padaku.
“Hehe.. gak papa kok Di, Cuma tadi
takut telat aja. makanya buru-buru jadi keringatan gini deh” jawabku jujur. “Hmm..
pantesan aja, makanya lain kali bangun jangan kesiangan.” Ujar cowok itu sambil
tersenyum kearahku kemudian berlalu dari hadapanku untuk duduk dibangkunya.
Perasaan
hari ini udah tiga orang deh yang berturu-turut nyuruh gue jangan bangun
kesiangan, duhh harus tobat nih insomnia malam-malam.. bisa telat tiap hari
gue. batinku.
Bel tanda masuk kelas sudah
berbunyi, pelajaran pun segera dimulai. Jam pelajaran pertama adalah Biologi,
pelajaran paling kubenci, tidak tahu mengapa, setiap pelajaran ini aku selalu badmood sendiri dikelas, padahal hampir rata-rata semua murid dikelasku ini
menyukai pelajaran itu, ditambah dengan gurunya yang baik dan menyenangkan,
tapi tidak untukku.
“Baik
anak-anak, ibu minta satu dari kalian mengerjakan soal yang ada dipapan, ibu
akan menunjuk salah satu dari kalian” ujar bu Risa selaku guru biologi
disekolahku, semua orang pada antusias untuk mengerjakan soal dipapan tulis
itu, terkecuali diriku.. tetapi aku pura-pura antusias seperti teman yang lain
agar guru biologiku itu tidak memilihku untuk mengerjakan soal yang sama sekali
tak kumengerti itu, aku melihat
sekeliling kelas siapa yang akan dipilih oleh Bu Risa untuk mengerjakan soalnya
itu, semua orang terlihat ingin mengerjakan soal itu, ya semua murid terkecuali
aku, tetapi mata ku terpaku pada satu orang yang ku pikir sama seperti diriku,
tidak antusias mengikuti pelajaran biologi ini, sekilas aku tersenyum karena
mendapatkan teman yang sepertinya sama dengan diriku walaupun hanya untuk saat
ini. orang itu adalah sih cuek Ardi, cowok yang terkenal paling cuek, suka
ngomong asal-asalan, dan penampilannya
yang selalu acak-acakan dikelas, dia memang terkenal sedikit badung disekolah ku,
tetapi cowok itu bukan berarti bodoh, dia selalu mendapat nilai yang memuaskan
disetiap semester, sangat bertolak belakang pada ku. Tetapi ntah mengapa aku
melihat sesuatu yang aneh pada cowok itu hari ini, dia seperti lagi banyak
masalah, tidak seperti biasanya.
“Ardi,
bisa tolong kamu kerjakan soal dipapan tulis itu?” ujar bu Risa tiba-tiba yang
sedari tadi sudah memperhatikan sikap Ardi yang tak acuh. Semua orang menatap Ardi, begitupun aku, tetapi
Ardi tetap memegang pulpennya dan mencoret-coret bukunya tanpa menghiraukan
guru itu.
“Bro,
lo disuruh ngerjain tugas didepan tuh sama bu Risa,” bisik Tian teman sebangku
Ardi, lalu kemudian Ardi tersadar dan kemudian berdiri mengambil spidol dari
tangan bu Risa, dengan santai Ardi mengerjakan soal dipapan tulis dan dalam
waktu kurang dari dua menit dia menyelesaikan soal itu dengan sempurna, semua
orang terkejut begitupun bu Risa.
***
“Oh
mama pake mobil ya? Yaudah gak papa kok ma, aku kan bisa naik kendaraan umum.
Tenang aja ma… oke ma.. bye” Aku menutup telpon dan menyimpannya ditas kemudian
berjalan menuju gerbang untuk mencari kendaraan umum. Aku berdiri didepan
gerbang sekolah sambil menunggu angkot yang mengarah kerumahku, sudah hampir
setengah jam aku berdiri untuk menunggu angkot, tetapi tidak satupun terlihat
angkot kearah rumahku.
“Tet..tet..”
bunyi klakson motor membuat lamunanku buyar,
“Kok
belum pulang Mit? Gak dijemput?” tanya cowok itu sambil membuka helmnya agar Aku
dapat melihatnya, “Eh elo Di, gue kira siapa, ngagetin aja. hehe.. iya nih,
mobil dipake nyokap jadi gue pulang disuruh naik angkot hehe.. lo kenapa belum
pulang?” tanyaku pada Ardi, aku mengingat kejadian dikelas tadi, aku yakin tadi
mukanya seperti sangat bete, tapi sekarang aku melihat perubahan pada wajahnya.
“Iya tadi abis main baskeat bentar sama
anak-anak, bareng gue aja yuk. Kasian lo’nya jam segini belum dapat angkot.”
tawar Ardi, aku menggeleng “Nyantai aja kali Di, gak papa kok, ntar juga
angkotnya datang.” Jawabku santai, “Udah deh gak usah sok malu-malu gitu, gue
tau lo juga bt kan nunggu sampe jam segini? Udah tenang aja gue gak bakal
macem-macem kok Mitha, gak usah takut.” Ujar Ardi asal, aku memukul bahunya
pelan.
“Hahah
dasar lo, siapa juga yang mikir kayak gitu, yaudah kalau lo maksa okedeh gue
gak ada alasan lain” ujarku akhinya, “Tuh kan bener apa kata gue, bt kan lo
disini? Haha yaudah yuk naik” Aku tertawa sebentar kemudian memegang bahu Ardi dan
naik keatas motor besarnya.
Setelah
memberi tahu alamat rumahku, akhirnya kami sampai dirumah ku dengan cepat aku
turun dari motor Ardi dan berterima kasih, “Gue pulang yah, bye” Ardi
bersiap-siap menghidupkan motornya tetapi aku menghalanginya. “Bentar Di, gue
boleh nanya gak?”
“Mau
nanya apa Mit?”
“Eum..
gue liat, tadi dikelas lo.. kayak bt gitu, lagi ada masalah ya? Soalnya gue gak
pernah liat lo kayak gitu selama gue kenal lo sih”
“Gak
ada apa-apa kok Mit, eum mungkin karena gue kurang suka aja sama pelajarannya”
ujar Ardi asal, aku menaikkan kedua
alisnya tanda bingung. Ardi gak suka
pelajaran biologi? Tapi kenapa tadi dia bisa nyelesaikan soal-soal dipapan itu
dengan begitu mudah? Gak mungkin, pasti dia bohong.. oke Mitha.. sejak kapan lo
jadi suka ikut campur masalah orang?
“Oh
gitu, gue kira lagi ada maslah gitu, ternyata gue salah, eh tapi gue juga gak
suka tuh sama pelajaran yang satu itu” aku ku tanpa ditanya, Ardi hanya
tersenyum. “berarti kita sama dong, wow banget yaa” ujar Ardi, “Apaan sih lo, ngeledek huh. Udah
pulang sana”
“Ngusir
nih ceritanyaa? Oke Fine,” Aku dan
Ardi kemudian tertawa bersamaan melihat tingkah kami yang konyol tadi.
Lo mungkin bener Mit,
gue emang lagi ada masalah.. gue gak tahu apakah masalah ini bisa selesai dan
buat senyum tulus gue terukir lagi kayak dulu, gue coba untuk tertawa didepan
lo dan semua orang, padahal nyatanya, rasa sakit dan kecewa ini masih tertahan
didalam hati.. ya Tuhan.. andai bunuh diri bukan suatu hal yang dosa, udah gue
lakuin dari dulu. Batin Ardi, dia melajukan motornya dengan
sangat kencang, sangat kencang sampai ia tak tahu kemana dia akan membawa
langkahnya.
Aku
yakin, Ardi sedang ada masalah, senyum itu… aku tahu persis dibalik senyum dan
tawa cowok itu pasti terdapat luka, aku dapat melihat mata Ardi yang menyembunyikan
begitu banyak konflik, walau bagaimanapun Ardi adalah teman sekelasku, walaupun
tidak terlalu dekat tetapi aku tahu Ardi selalu ceria dengan gaya acuh tak
acuhnya itu, bagiku Ardi itu cowok yang menarik, baik, pintar, dan masa bodo
dengan penampilan dan sejauh aku mengenal Ardi, menurutku Ardi gampang bergaul
dengan semua orang. Tetapi tidak pernah sekalipun aku mendengar cerita cinta
tentang cowok satu itu, lebih tepatnya Ardi selalu cuek dengan masalah cinta,
padahal untuk tipe wajah sepertinya, dikategorikan ‘lumayan’.
***
Aku
dan Ardi sekarang semakin dekat setelah peristiwa Ardi mengantarkan aku pulang
siang itu, kami sering sharing tentang
sekolah dan pelajaran yang mereka sukai atau yang tidak mereka sukai, aku
merasa nyambung dekat Ardi, begitupun sebaliknya. Tapi jujur, sering sekali aku
melihat ekspresi sedih pada cowok itu, walaupun aku hanya mengambil sikap tak
acuh, karena aku tahu, Ardi paling tidak suka ditanya tentang masalah hidupnya.
Sebenarnya aku pun begitu.
Tanpa
disadari, aku yakin, aku memendam perasaan lebih dari seorang teman pada cowok
itu, tetapi aku berusaha menghilangkannya. Entah sejak kapan, perasaan itu
muncul, berawal dari sikap Ardi yang konyol dan selalu membuat ku nyaman berada
didekatnya, sikap cuek dan apa adanya yang membuat ku tertarik pada cowok itu,
tetapi aku sadar, sangat kecil kemungkinan untuk Ardi membalas perasaanku ini,
mengingat sikapnya yang selalu cuek pada persoalan mengenai cinta, bahkan
selama dekat dengannya beberapa minggu ini, tak sekalipun aku mendengar tentang
wanita dari mulut Ardi. Hari demi hari yang aku lewatkan bersama cowok itu
terasa indah, sekarang tanpa sadar setiap melihat matanya dia mulai merasa
canggung dan gugup. Demi Tuhan, andai aku bisa menghilangkan perasaan ini, aku
akan menghilangkannya dari dulu.
Ya Allah, kenapa tak
kau ubah saja perasaan ini menjadi perasaan sayang sebagai sahabat? Itu jauh
lebih baik, dari pada aku terus memendam rasa cinta ini.
“Mit,
gue liat lo lagi pdkt sama Ardi ya? Cyee.. kapan mau jadian?” goda Nisa teman
sebangku ku, aku hanya tersenyum sendiri mendengar sahabatku itu, “Apaan sih
Nis, enggak kok. Gue sama Ardi Cuma temen” jawab aku, “Temen atau temen? Dekat
banget kalian, sampai-sampai lo jarang main sama gue” ujar Nisa cemberut, “Maaf
deh sayang, bukan maksud gue kayak gitu, maaf yaa” sesalku yang menyadari semua
perkataan Nisa.
“Hahha
yaudah gak papa, ehh hari ini Ardi gak masuk, kemana dia?” tanya Nisa, aku
melihat disekeliling kelas, “Iya yah, gak tau gue, dia gak ada bilang sih”
jawab ku, kemudian memberhentikan percakapan dengan sahabatku itu karena
pelajaran sudah dimulai.
***
Sudah
tiga hari Ardi tidak sekolah tanpa keterangan, aku mulai khawatir dan
merindukan cowok itu, aku tidak tahu harus melakukan apa, ditelpon tidak aktif
dan disms pun tidak dibalas, sempat aku menangis memikirkan Ardi, walaupunku
tahu mungkin terlalu bodoh menangisi cowok yang sama sekali bukan siapa-siapaku.
Dear Diary,
Perasaan rindu ini sudah tak bisa
kusimpan sendiri, tangis ini pun sudah mulai bosan keluar, haruskah aku terus
memendam perasaan cinta ini padanya? Apakah aku terlalu egois untuk mengharap
dia akan membalas perasaan ku ini Tuhan?? Jika perasaan ini salah, tolong hapus
rasa ini, Jika perasaan ini benar, buat dia merasakannya juga Tuhan, mungkin
Ini terlalu cepat, mungkin ini terlalu egois tapi, hanya dengan dia, aku merasa
hal yang salah itu berubah menjadi benar. Dimana dia saat ini? sedang apa dia
saat ini? apakah ada masalah yang harus dia pendam sendiri sampai dia harus
menghilang? Ardi.. aku rindu sama kamu.. adakah kamu merasakan hal yang sama?
Adakah kamu sedikit aja memkirikan ku? Kau membuatku tersiksa dengan perasaan
ini…
“Lo
kemana aja Di? Kenapa hampir 3 hari gak masuk? Gue sms gak dibalas, telpon
selalu sibuk, gue khawatir sumpah” ujarku to
the point pada Ardi ketika Ardi menyuruh aku menemuinya disebuah taman di
dekat rumahku, “Maaf bikin lo khawatir, gue Cuma lagi ada maslaah dikit” jawab
Ardi singkat, “Masalah apa sih Di? Cerita dong sama gue, biar lo bisa lega”
ujarku perhatian dan duduk disebelah Ardi dibangku taman, “Nyokap bokap gue
cerai, hidup gue hancur sekrang Mit, gue jadi broken home, sial..” Ardi mengausap mukanya dengan kedua tangannya,
aku tahu Ardi sedang menahan tangisnya, aku terdiam sesaat, kemudian memgang
bahu Ardi, “Maaf.. gu..gue gak maksud” Omonganku terpotong oleh Ardi, “Gak
perlu merasa sungkan gitu, lo gak salah kok” jawab Ardi, “Sabar Di, semua ini
ada hikmahnya, gue ngerti.. gue.. gue” Aku tak bisa berbicara apapun, aku sedih
dan sakit melihat wajah menderita yang terlihat jelas diwajah Ardi,
“Satu-satunya hal, yang paling gue takutin didunia ini, satu-satunya orang yang
paling gue sayang berpisah, dan yang bikin gue sakit, gue harus memilih.. gue
gak bisa Mit, andai bunuh diri itu adalah pilihan, akan gue pilih.arrghh”
Terlihat
setetes air mata mulai menetes dipipi Ardi, aku menggenggam tangan Ardi, dan
menenagkannya.. Rasa sakit seperti apa
yang sedang lo rasain Di? Andai bisa lo transfer rasa sakit dan sedih itu,
andai gue bisa membantu mengurangi dikit aja kesedihan lo itu Di, gue akan
lakuin. Please gue gak sanggup liat lo kayak gini.
“Mitha,
gue gak punya siapa-siapa buat cerita selain elo, maaf udah cerita terlalu
banyak, gue butuh teman curhat, dan Cuma lo, Cuma sama lo gue bisa merasa sakit
ini berkurang, sedih ini berkurang. Gue mohon, jangan tinggalin gue.” ujar Ardi
memelukku, aku membiarkan Ardi memelukku erat snagat erat sampai aku sulit
bernapas, aku merasakan sekujur tubuhku membeku seketika mendengar penuturan itu,
Ardi.. merasa nyaman bersamaku.. apakah aku mimpi?
Aku
hanya bisa diam dan mencoba merasakan sakit itu, menggenggam tangan Ardi, aku
tahu cowok itu membutuhkanku saat ini, “Terkadang hidup ini gak bisa kita tebak
Di, dan mau gak mau kita harus terima hal seburuk apapun itu, ini cobaan, buat
lo, buat ortu lo, dan buat masa depan lo, Tuhan anggap lo udah dewasa untuk
menghadapi masalah ini. keep strong
yah, gue janji selalu ada saat lo butuh” Tanpa sadar air mataku menetes juga,
dan cepat-cepat aku menghapusnya agar tak terlihat oleh Ardi, “Thanks for there by my side, trying to
comfort me and strengthen me” ujarnya tulus, “Anytime Di, aku janji mengubah sedih itu menjadi kebahagiaan”
“Kebahagiaan
aku Cuma ada sama kamu” ujar Ardi yang berhasil membuatku terkejut, “Sebelumnya
aku pikir, gak ada yang bisa buat aku bahagia selain kedua orangtua ku,
sekarang bahagia itu lenyap, dan aku sadar, kamu menghadirkan bahagia itu lagi
Mit, hanya kamu yang bisa buat aku bisa tertawa lepas,” ujarnya lagi .
Ya Allah, jika bisa
kukatakan padanya kalau aku merasakan itu juga, aku merasakan lebih dari
sekedar bahagia, aku merasakan cinta, aku cinta kamu Ardi…
“Aku
yakin aku jatuh cinta sama kamu Mit,”
ujar Ardi akhirnya, aku menutup mataku menahan tangis, aku merasakan
angin sangat kencang dan membuat rambut panjangku menari-nari dikepalaku,
bunga-bunga ditaman ini terlihat sangat indah ketika Ardi mengatakan itu,
mengatakan dia mencintaiku. Aku hanya diam, membiarkan air mataku mengalir dihadapannya,
tak ada pilihan lain, tak ada gunanya juga aku menghentikan tangis ini.
“Aku
sadar aku gak sempurna, aku broken home,
aku gak pantas buat kamu, aku sadar, gak akan ada cewek yang mau sama aku,
apalagi setelah mengetahui latar belakang keluargaku, tapi aku juga gak bisa
bohongi perasaanku, disaat aku benar-benar gak punya semangat hidup, disaat aku
benar-benar butuh seseorang untuk menguatkanku, disaat itu juga pikiranku gak
bisa memikirkan hal lain selain kamu, satu-satunya teman cewek aku, yang bisa
berteman dengan aku tanpa melihat bagaimana aku,” jelas Ardi, “Kamu baik Ardi,
aku gak ada alasan buat gak nyaman berada didekat kamu.. dan aku sadar aku juga
butuh kamu” ujarku jujur. Aku melihat Ardi tertawa kecil,
“Baik? Setelah kamu tahu hidupku hampir
berantakan, apa kata baik itu masih pantas buat aku?” tanya Ardi, “Yang
berantakan itu kedua orang tua kamu, bukan kamu! Please jangan karena hal ini kamu berubah Ardi, aku yakin kamu
cowok baik, kamu cukup dewasa untuk hal ini…”
“Kamu
bisa bilang kayak gini sekarang, tapi nanti? Aku gak yakin, sumpah aku
benar-benar gak bisa jauh dari kamu sekarang.”
“Kamu
tahu gak apa alasan aku tetap ada disisi kamu?” tanyaku pelan, “Aku tahu,
karena kamu kasihan sama aku” jawab Ardi asal, aku menggeleng kemudian menarik
napasku. Aku diam sesaat… “Karena aku juga cinta kamu Di, aku tersiksa saat
kamu jauh dari aku. aku butuh kamu, aku sayang sama kamu” jawabku jujur. Ardi
tertegun dan menatapku, “Kamu cinta sama aku? aku gak pantes kamu cintai,
dengan kondisi keluarga aku…”
“Aku
cinta sama kamu, bukan sama latar belakang keluarga kamu Ardi, aku mohon..
jangan ungkit hal itu” Kemudian Ardi
memelukku dan aku berharap detik berhenti detik ini juga, dan aku yakin, Doa
kuselama ini tak sia-sia, memang dia yang kubutuhkan.
“Yakin
Di, Tuhan menciptakan segala sesuatu itu karena sebuah alasan, seburuk apapun
hal itu” ujarku, “Dan aku yakin, Tuhan menciptakan kamu untuk terus ada buat
aku” ujarnya yakin.
***
Malam
itu Ardi menelponku dan akhirnya menembakku, aku dan Ardi sama-sama sepakat
untuk mencoba menjalin hubungan, aku pikir tak ada salahnya, kami sama-sama
saling mencintai, dan aku tak butuh waktu lama untuk menerimanya, karena memang
itu yang kuinginkan selama aku memutuskan mencintainya. Beberapa minggu aku
menjalin hubungan dengannya aku merasa hubungan kami tak akan bertahan lama,
karena aku merasa Ardi sangat cuek padaku, bahkan aku sempat berpikir dia hanya
memainkan perasaanku, tetapi dugaanku salah ketika tadi siang sepulang sekolah,
Ardi kerumahku dan memberikanku sepucuk bunga mawar.
“Maaf
akhir-akhir ini sering cuek sama kamu, aku tau aku salah, maafin aku ya sayang”
ujar Ardi sambil menyerahkan bunga itu untukku, aku mengambil mawar itu dengan
hati berbunga-bunga melihat perubahan sikap Ardi, “Tapi kenapa Di? Kenapa kamu
selalu cuek sama aku?” tanyaku, “Bukannya aku emang sering cuek ya? Hmm?”
tanyanya yang membuatku kesal dan cemberut lagi, kemudian Ardi menghelus rambut
panjangku, “Maaf janji deh gak bakal gitu lagi, maaf ya sayang” Lalu dia
memelukku.
“Aku
harus gimana Di? Aku gak sanggup nahan ini sendirian, aku sedih liat mama yang
terus-terusan nangis karena ulah kakak aku,” Aku menceritakan masalah
keluargaku dengan Ardi melalui telpon, aku sudah tidak tahu harus bagaimana
dengan sikap kakak kandungku yang terus-terusan membuat ulah dan akhirnya
mengakibatkan kedua orang tuaku bertengkar, hanya Ardi satu-satunya orang yang
dengan siap mendengar segala keluh kesahku.
“Sayang..
ada kalanya hidup ini gak seindah yang kamu bayangkan, dan aku udah merasakan
apa yang kamu rasa itu lebih dari sekali, kamu hanya butuh sabar, kamu berdoa
sama Allah, untuk yang terbaik buat keluarga kamu, Allah yang tahu semua itu,
Allah gak pernah ngasih cobaan diluar batas kemampuan kamu dan keluarga kamu,
aku yakin kakak kamu lama-kelamaan bakal sadar, betapa penting orang tuanya
itu.”
“I just realized what you feel as long as it
is not as easy as I thought. Forgiveme sayang” ujarku sambil terisak, aku
sadar apa yang kurasakan belum seberapa dibanding apa yang Ardi rasakan,
“Jangan nangis, aku gak mau kamu nangis. Aku bakal berdoa buat kebaikan
keluarga kamu, agar kamu gak terus-terusan merasakan apa yang kurasa sayang, keep strong honey”
“Maaf
kalau aku bikin kamu teringat tentang masalah kamu, maafin aku sayang,”
“Gak
papa, bukannya aku dan kamu itu dipertemukan untuk saling mengerti? Yang kuat,
kamu gak sendiri, ada aku. seperti kamu yang selalu ada buat aku.”
“Aku
cinta kamu Mitha”
“Aku
juga cinta kamu Ardi”
Sudah
lima bulan kami menjalani hubungan dengan baik-baik, aku merasa sangat
beruntung bisa menjadi pacarnya, aku sangat beruntung hatiku memilihnya sebagai
orang yang kucintai, Ardi sangat mengertiku dengan berbagai sifat dan setiap
hal-hal yang kualami dihidup ini, dia selalu membuatku tersenyum disaat aku tak
punya alasan untuk tersenyum. Aku juga selalu berusaha untuk membuatnya tetap
tabah dengan semua masalah-masalah yang dialaminya. Sampai pada akhirnya ketika
hubungan kami menginjak umur enam bulan, entah ada angin apa yang merasuki
Ardi, dia membuatku hampir hilang kesadaran, membuat air mata ku hampir mengering,
membuat hatiku sakit yang teramat dalam…
“Aku
sadar aku gak pantes buat kamu Mit, maafin aku, aku minta kita putus aja,”
“Kamu
kenapa sir Di? Kenapa minta putus? Kamu gak boleh kayak gini, aku gak mau.. aku
mohon aku cinta banget sama kamu” Air mataku menangis mengingat hari-hariku
tanpa Ardi, apakah aku sanggup?
“Jujur
Mit, aku juga cinta banget sama kamu, tapi percaya sama aku, kamu sama aku itu
gak cocok, aku dari keluarga yang berantakan, broken home Mitha, aku gak baik buat kamu. Aku gak mau kamu
terbebani dengan latar belakang aku.”
“Aku
gak perduli siapa keluarga kamu!!! Aku cinta sama kamu Ardiiii aku gak mau kita
putus, please. A..a..aku… hikss..”
Aku terisak sedalam-dalamnya, bibirku bergetar dan tak sanggup berbicara
banyak. Aku hampir pingsan.
“Aku
gak bisa nerusin hubungan ini Mit, maaf udah bikin kamu nangis lagi, maaf udah
bikin kamu terlanjur mencintaiku terlalu dalam.”
“Kenapa
Ardi kenapa?? Kenapa kamu bikin semua terasa sesulit ini? kenapa gak dari awal
kamu jauhin aku kalau emang kamu gak niat buat hubungan kita ini, demi apapun
Di, sumpah demi apapun… aku gak pernah mempermaslaahkan siapa kamu! Siapa
keluarga kamu. Tolong... aa.aku.. gak bisa..”
“Ya
aku tahu itu, kamu gak mempermasalahkannya, tapi aku selalu berpikir tentang
masa depan kamu. Kamu bisa kok tanpa aku, aku yakin Mit, gak usah nangisin aku,
gak usah nangisin cowok kayak aku.”
“Terserah
kamu Di.. hikss… terserah kamu mau apa… yang jelas dan yang paling pasti
perasaan ini udah terlanjur dalam, aku udah gak bisa jauh dari kamu. Kamu mau
putus, kamu mau ninggalin aku terserah… aku gak bisa ngelarang kamu. Aku ikhlas
kok. Walau butuh waktu yang lama buat lupain kamu, kamu emang keras kepala, aku
gak bisa ubah sifat itu dari diri kamu”
“Maafin
aku Mit, aku sadar aku terlalu banyak beri luka dihati kamu. Aku disini masih sangat
menyayangimu… tapi mungkin ini yang terbaik untuk kita.”
Aku
memtuskan telpon dan mencampakkannya ke lantai, aku melakukan semua itu diluar
kesadaranku, aku tidak tahu apa yang harus kulakukan sekarang ini, aku lelah,
aku kecewa, aku sedih, aku sakit. Ya .. sakit ini.. sakit dihati ini, terlalu
sulit dilupakan. Terlalu sulit menerima kenyataan, terlalu sakit mengenang
hal-hal indah bersamanya.. andai waktu bisa diulang, ya Tuhan.. sakit…
Tigabulan
berlalu, semenjak aku putus dengan Ardi, aku merasa hidupku hambar tetapi
apapun itu aku tetap harus menjalankan hidupku senormal mungkin tanpanya,
walaupun sampai sekarang perasaan ini tak pernah berubah terhadapnya, terhadap
lelaki satu-satunya yang sudah mengambil seluruh hatiku. Sahabat-sahabatku
berusaha untuk menghiburku, aku mencoba selalu bersikap baik-baik saja didepan
sahabatku, tetapi tetap tidak bisa, air mataku selalu tak henti-hentinya
mengalir. Setiap hari, bahkan sampai detik ini. Ardi masih sering sms hanya
untuk sekedar menanyakan kabarku, dan menelponku hanya untuk mendengar suaraku,
dan sifat dia itu yang membuatku tambah sakit. Karena kutahu, dia bukan
siapa-siapaku lagi.
Terlalu banyak luka
yang kau gores sehingga membuatku kebal akan rasa sakit itu, terlalu banyak
juga hal indah yang kau beri seingga mambuatku tak pernah menyesali pertemuan
kita. Setiap saat bersamamu itu adalah anugerah terindah yang tuhan berikan
buat kita. Mungkin kau benar, terkadang tak semua hal itu seperti yang kita
harapkan, mungkin dulu aku mengharapkan agar kita tak pernah terpisah, tetapi
kini aku hanya berharap kau bisa bahagia dan aku juga bisa bahagia tanpamu
lagi. Makasih Ardi, until now really I still love you.
Tunggu kelanjutannya sayang :*
My Slide Show Photo
My Slide Show Photo by Slidely Slideshow