- Back to Home »
- Cerpen »
- Ke’egoisan Hati Ini
Posted by : R.A Trivani Desyara
June 19, 2013
“Gue
jemput lo ntar lagi, tunggu pokoknya? Oke? Awas lo kalau kemana-mana.” Ujar
Talitha pada sahabatnya Arin, “Iya Lithaku sayang, gue tunggu lo disini,
makanya cepetan, udah siang banget nih, gue laper..” gerutu Arin kesal terhadap
sahabat kesayangannya itu, kemudian dengan kesal dia langsung mengakhiri
pembicaraan terhadap Talitha dan memutuskan untuk melanjutkan tugas kantornya
yang masih menumpuk sambil menunggu sahabatnya itu menjemputnya untuk makan siang.
Sepuluh menit kemudian Arin keluar
dari kantornya dengan menggunakan stiletto
hitam yang dia gunakan dan berjalan dengan kesal kearah mobil yang tengah
menunggunya siang itu, kemudian dia membuka pintu mobil dan langsung masuk
kedalamnya. “Huh.. akhirnya lo jemput juga, hampir ubanan gue nunggu lo
dikantor tau, mana perut udah bunyi terus nahan laper.” Sewot Arin pada Talitha
yang hanya memberi ekspresi datar seperti tak ada masalah apapun, “Iya maaf
Rin, lo bawel banget sih, nyantai aja napa sih.” balas Talitha tenang.
Arin manyun melihat jawaban sahabatnya itu,
Talitha mulai menyadari tingkah sahabatnya yang konyol itu dan sedikit
tersenyum sambil mencolek dagu Arin dengan sebelah tangannya dan sebelah lagi
konsentrasi menyetir.
“Jangan ngambek dong, gue yang
traktir deh” Mendengar kata ‘Traktir’ ekspresi Arin berubah menjadi senyum
lebar, “Ciyusss? Gitu dong, jadi gue gak bt lagi. Tumben lo baik, ada apa nih?”
tanya Arin memastikan, “Ih monyong lo, gue baik salah, gue jahat salah.
Sekarang pake nuduh lagi,” Sekarang Talitha yang kesal.
“Hahah piss piss, yaa biasanya kan
kalau gue minta traktir lo pelit banget. Huh” dengus Arin,
“Idih, mana pernah gue pelit, gue
sering ya neraktir lo Rin, lo tuh yang sering pelit minjemin gue barang-barang
bagus lo huh” balas Talitha tak mau kalah, tawa Arin meledak mendengar kalimat
yang dikeluarkan Talitha, “Iya ya.. haha.. maaf deh. Gue bukannya pelit Tha,
Cuma barang-barang yang lo pinjem pasti barang kesukaan gue, ya mikir dua kali
dong buat minjemin ke elo.”
“Udah ah, males gue berdebat sama lo
Rin, bawelllll.. nyebelin” Kemudian Talitha dan Arin tertawa berbarengan
melihat percakapan konyol itu, Talitha dan Arin sudah hampir satu tahun
bersahabat, memang belum terbilang lama, tetapi bagi kedua wanita itu satu
tahun belakangan ini sudah cukup bagi mereka mengenal satu sama lain. Pertama
kali bertemu ketika mereka sama-sama mencari rumah kost di Jakarta, waktu itu
Talitha dan Arin baru saja diterima kerja disebuah perusahaan swasta di Jakarta
sebagai karyawan tetap, kemudian diwaktu yang sama mereka sama-sama menyewa
disebuah kost yang sama. Karena kamar kost tinggal satu, jadi mereka memutuskan
untuk satu kamar berdua dan akhirnya mereka merasa dekat dan menjadi sangat
dekat sampai sekarang ini.
“Eh Rin, kita cari apartmen aja yuk
yang lebih bagus, bukannya gue sombong atau apa ya Tha, tapi jujur gue udah
kurang nyaman sama kostan kita sekarang ini, apalagi semenjak ibu kost kita
ganti, udah gak senyaman dulu lagi” ujar Arin pada Talitha yang tengah asik
memainkan iphone ditempat
tidurnya, Arin kemudian berbaring
disebelah Talitha dan menggoyangkan bahu Talitha.
“Lo dengar gue napa Tha, gue serius
nih”
“Iya gue denger, bentar dulu napa
sih, gue lagi balas mention nih”
“Twitteran
sama siapa sih lo asik banget, sampe gue dicuekin. Ahh males gue” Karena kesal
Arin mengambil gulingnya dan berbalik badan untuk tidur, malam sudah larut Arin
pun sudah terlelap tidur. Talitha kemudian mematikan lampu kamar dan mengikuti
Arin yang sudah memasuki alam mimpi.
“Kemana
hari ini? jalan yuk Rin, kan libur kerja.” Ajak Talitha, “Lo gak jalan sama
pacar lo sih boy? Biasanya kan lo jalan sama dia kalau udah libur gini” tanya
Arin, “Dia lagi diluar kota Rin, ayo dong… bt nih di kostan mulu” Arin
memikirkan sesuatu kemudian menjentikkan jarinya tanda bahwa dia mendapatkan
ide bagus. “Kita cari apartemen aja yuk…” ujar Arin antusias, kemudian dengan
cepat Talitha menatap Arin bingung sambil menaikkan satu alisnya, “Maksud lo?”
tanya Talitha, “Maksud gue, gue mau kita pindah Tha, serius deh gue gak betah
disini… sumpah!” ujar Arin tegas.
“Ya ampun Rin, lo kira gampang apa
pindah-pindah? Kita udah setahun lo disini,
banyak banget barang yang harus kita pindahin, dan semua orang yang
kenal kita tahunya kan alamat kita disini, terus kalau kita pindah ada yang
nyariin kita gimana? Lo mikir dong.” Repet Talitha kesal, “Ih kenapa harus
dipermasalahin sih? hallo media komunikasi udah berkembang sayang, percuma lo
banyak gadget tapi gak digunain.” Balas Arin.
“Ngebet banget mau pindah kostan?”
tanya Talitha akhirnya, Arin pun mengangguk antusias, dengan berbagai
persyaratan akhirnya Talitha luluh juga dengan permintaan Arin sahabat
kesayangannya itu, Arin memang pintar merayu Thalita dengan berbagai alasan
yang ia utarakan. Akhirnya hari libur mereka, mereka gunakan untuk mencari-cari
apartemen yang setara dengan kemampuan mereka.
Setalah melihat berbagai apartemen
diJakarta, akhirnya mereka menemukan apartemen yang tepat. “Kapan kita pindah
Tha?” tanya Arin ketika mereka sedang asik menikmati makan malam disebuah kafe,
Thalita menatap Arin kesal, “Sabar dong Rin, lu sibuk banget sih sama apartemen,
bingung gue” ujar Thalita kesal, “Hehe, iya nih udah gak tahan banget” sambung
Arin
***
Seminggu kemudian Talitha dan Arin
resmi menempati apartemen baru mereka, Boy kekasih Talitha sejak dua bulan lalu
ikut membantu perihal kepindahan mereka. Setelah selesai berbenah, Thalita
duduk disamping Boy yang terlihat lelah, “Capek sayang?” tanya Talitha
perhatian, Boy hanya tersenyum sambil menghelus rambut Thalita, “Gak capek kok
kalau udah liat senyum kamu” goda Boy smabil mencolek dagu pacarnya itu, Talitha
hanya tertawa kecil. Arin yang melihat kemesraan diantar Talitha dengan Boy
hanya dapat menahan tangis, sakit didadanya mulai ia rasakan semenjak melihat
kemesraan sahabatnya itu, dia sadar dia egois, tetapi dia tak dapat menahan
perasaannya, dia memang cemburu melihat kemesraan mereka, dia sadar dia
memendam perasaan terhadap Boy semenjak Talitha mengenalkan pacarnya itu
padanya. Tetapi Thalita adalah sahabat baiknya, apapun keadaannya dia tidak mau
Talitha mengetahui tentang perasaannya ini, bisa hancur persahabatan diantara
mereka.
Tha,
kalau aja gue bisa jujur sama lo, gue sayang juga sama Boy, apa respon lo? Apa
lo bakal marah sama gue? gue yakin lo gak bakal mau sahabatan sama gue lagi,
emang gue salah mendam perasaan ini, maafin gue Tha. Perasaan ini terlalu egois.
“Hey, jam segini kok belum tidur
Rin? Sibuk banget sama tuh diary?
Nulis apa sih? gue liat dong”
“Eitt, namanya aja juga diary, masa
bisa diliat-liat sih, lo kira ini novel apa” sewot Arin, Talitha menyengir
lebar, “Haha ya mana tau lo mau ngasih liat persoalan hidup lo, kok kayaknya
tiap hari gak bisa ya gak nulis diary” ujar Talitha sambil menaikkan alisnya,
“Iya dong, lo juga kan? Tiap hari hobinya mentionan
di twitter” balas Arin menjulurkan lidahnya, “Lah itu beda dong” jawab Talitha,
“Apa bedanya?” tanya Arin lagi, “Udah ah, udah malem males gue berdebat. Daa
gue mau tidur”
“Dihh, yaudah tidur sana, siapa juga
yang mau ngelarang? Wekk” Arin kembali menjulurkan lidahnya lalu membiarkan
Talitha terlelap.
Hari
ini Talitha pulang kerja lebih cepat dari Arin, sepulang kerja dia langsung
pulang ke apartemennya karena mengingat mereka baru pindah, jadi banyak barang
yang harus Talitha bereskan agar mereka bisa tinggal di apartemen itu dengan
nyaman tanpa barang yang berantakan. Arin sepertinya hari ini pulang sore
karena ada meeting penting
dikantornya, dan Talitha dapat memaklumi sahabatnya itu. Akhirnya Talitha
memutuskan untuk berbenah sendiri, Talitha mulai membereskan barang-barangnya,
kemudian beralih kebarang Arin, Talitha merapikan baju Arin yang masih
berantakan dikamar mereka, kemudian memasukkannya kedalam lemari pakaian Arin. Dasar sih Arin, pakaiannya berantakan banget
ya ampun, dasar ni anak, lemari gak pernah rapi. Akhirnya gue juga yang rapiin
kan. Huh!
Tengah
asik merapikan lemari baju Arin, tak sengaja Talitha melihat diary kecil Arin disela-sela baju yang
berserakan itu, Talitha mengambil diary kecil itu dan mengamatinya
beberapa menit. “Ini nih yang tiap malam selalu Arin tulis, dia nulis apaan ya
di diary ini? jadi penasaran gue, baca gak yaa? Tapi kalau
gue baca dia pasti marah, tapi kalau gak tau gak papa dong? Emm penasaran gue”
Talitha masih ragu ingin membaca diary
milik Arin itu, dia masih menimbang-nimbang keputusannya membaca diary Arin, karena kelewat penasaran
akhirnya dengan perlahan Talitha membaca halaman pertama diary itu, senyum mewarnai wajah Talitha ketika membaca halaman
pertama sampai halaman tengah diary milik
sahabatnya itu, karena yang ditulis Arin tak lain kebanyakan tentangnya dan
tentang teman-temannya dikantor, ada banyak foto dirinya yang ditempel Arin
dibeberapa halaman diary itu.
Akhirnya Talitha sampai pada halaman terakhir di diary itu, ada perubahan diwajah Talitha, semakin dia membaca
halaman terakhir di diary itu, dadanya semakin terasa sesak. Dia mulai
memegang dadanya dan mencoba tenang. Kemudian dia merasakan matanya mulai basah
dengan buliran air mata yang membasahi pipinya, hal satu-satunya yang
dirahasiakan sahabatnya itu padanya, setelah membaca halaman terakhir diary itu Talitha dengan cepat menutup diary itu dan menyimpannya ditempat
semula agar Arin tak mengetahui bahwa diary
nya telah dibaca oleh Talitha. Talitha menangis tersedu-sedu dilantai
apartemennya, baru kali ini dia merasakan sakit karena merasa tak peka, sakit
karena bingung harus bagaimana…. Sakit karena harus memikirkan bagaimana rasa
sakit yang Arin alami karenanya.
Dir Diary, hari demi hari yang kulewati
bersama Talitha, terasa begitu indah bagiku, Talitha sahabat yang lebih dari
baik buatku, disaat itu juga, Tuhan menghadirkan sosok pria dalam kehidupannya,
semenjak Talitha mengenalkan pacar barunya denganku, disaat itu juga perasaanku
merasakan suatu hal yang salah pada cowok itu. Aku tahu, aku terlalu egois
memiliki perasaan ini, aku terlalu rapuh untuk tidak mengakuinya, toh
kenyataannya aku gak bisa bohongi perasaan ku sendiri, andai aku bisa
menghilangkan perasaan sakit ini setiap melihat mereka berdua, andai aku bisa
tersenyum tulus melihat sahabatku bahagia, aku akan lakukan hal itu. Tapi aku
juga manusia dan aku gak bisa munafik dengan keadaan. Aku cemburu, aku nangis
walau dia tak tahu.
Tha, gue sayang sama lo, tapi kenapa
gue juga harus sayang sama cowo lo? Salahkah perasaan ini? salahkan kalau
kenyataannya gue selalu nangis setiap lihat lo bersamanya? Ya… gue tahu gue
salah, tapi gue harus gimana? Perasaan ini muncul tiba-tiba, dan gue gak bisa
melarangnya masuk. Mungkin gue yang terlalu lancang, mungkin gue yang terlalu
egois, tapi gue harus gimana Tha? Gue Cinta sama Boy, gue juga sayang sama lo,
Boy Cinta sama lo, terus gue gimana? Sakit hati ini setiap melihat kalian itu
rasanya nyesek banget Tha, sampai kapan gue harus kayak gini? Bantu gue, maafin
gue. Gue tahu gue salah….
Kata-kata
terakhir yang ditulis Arin mesih terngiang dipikiran Talitha, dia berusaha
menahan isakannya tetapi tetap tak berhasil, terlalu banyak hal yang dia
pikirkan, Boy.. Arin..Boy..Arin..
“Terus
gue harus gimana Rin? Kenapa lo harus suka sama Boy? Kenapa lo harus cinta sama
cowok gue? gu.gu..ee sayang sama lo, tapi gue gak bisa ngelepas Boy, maafin
gue.. gue cinta sama Boy, dan lo bilang lo juga cinta sama Boy, terus gue
sebagai sahabat lo harus ngelakuin apa buat kita bertiga? Ya Tuhan.. apa aku
yang terlalu tak memahami Arin? Apa aku yang terlalu mengabaikan perasaan Arin
selama ini? andai aku tahu Arin juga suka sama Boy, Rin… kenapa kenyataan ini
terlalu berat buat gue? maaf selalu buat lo sakit dan nangis saat gue bersama
Boy. Demi Tuhan gue nyesel gak pernah peka sama perasaan lo”
Talitha
terus terisak di kamarnya, memikirkan setiap hal-hal indah yang dia alami
dengan Boy dan Arin. Terlalu sulit membayangkan harus memilih satu diantara
mereka, Talitha sayang pada Arin tetapi dia juga sayang pada kekasihnya, Arin
juga sayang pada Boy, terus apa yang harus Talitha lakukan saat ini? rasa
bersalah yang ada didalam hatinya teramat sakit, dia sudah mengenal sahabatnya
itu setahun lebih, tetapi kenapa hal seperti ini dia tak pernah peka.
Kenapa harus sama Boy
Rin? Kenapa lo harus nyembunyiin ini dari gue? kenapa lo selalu tersenyum saat
gue sama Boy seakan tak pernah terjadi apa-apa dengan lo? Kenapa lo sekarang
buat gue jadi merasa bersalah Arin? Kenapa ? kenapa??? Ya Allah…
***
“Eh
lemari gue udah rapi aja nih, thanks
ya Tha hehe” ujar Arin pada Talitha yang hanya tersenyum kecil, Arin menyadari
perubahan Talitha hari ini, sahabatnya itu jadi lebih banyak diam, dan dia
melihat mata Talitha sedikit membengkak. Kemudian Arin menghampiri sahabatnya
itu, mana tahu Talitha lagi ada masalah. Pikirnya.
“Tha,
mata lo kok bengkak gitu ya? Kenapa say? Abis nangis?” tanya Arin, Talitha
menggeleng cepat “Enggak kok Rin, gatau kenapa nih mata, kelilipan tadi.
Makanya bengkak gini” dusta Talitha, “Masa? Lo gak lagi bohong sama gue kan
Tha?” tanya Arin memastikan, “Enggak kok, suer, emang gue pernah bohong sama
lo? Hehe udah ah, gak usah dipikirin” elak Talitha cepat agar Arin tak banyak
bertanya-tanya lagi.
Gue nangis aja lo bisa
nebak Rin, lo bisa peka sama kondisi gue, tapi kenapa saat lo nangis gue gak
pernah tau dan gak pernah peka? Lo salah kalau bilang gue sahabat yang baik,
nyatanya gue buruk banget Rin, maaf. Batin Talitha.
Jam
sudah menunjukkan pukul 02.00 pagi, Arin sudah tertidur pulas, tetapi tidak
dengan Talitha yang sama sekali tidak dapat tidur, dia masih gelisah dengan
semua permasalahan ini, dia tidak bisa tenang memikirkan perasaan Arin,
akhirnya dia mengambil ponselnya dan
menekan satu tombol dikontak ponselnya.
“Hallo
Tha, kamu belum tidur?” sapa cowok disebrang sana, air matanya perlahan menetes
mendengar kelembutan dinada bicara cowok itu, cowok yang sudah dua bulan
mengisi hidupnya, member warna baru dalam hidupnya. Ya Allah, apa keputusan ini tepat? Apa aku harus menambah luka dihati
seseorang lagi? Kalau dengan begitu aku bisa melihatnya bahagia?
“Hey,
kok diam sayang?”
“Emm
Boy, ada yang mau aku omongin sama kamu”
“Mau
ngomong apa?” tanya Boy lembut, perlahan Talitha menarik napasnya kemudian
membuangnya, air mata terus mengalir membanjiri pipi dan bajunya, dengan
terpaksa dan rasa sakit yang teramat dalam, dia akhirnya mengatakan kalimat
itu. “Kita putus aja ya” Talitha berusaha kuat untuk tidak terlihat tengah
menangis, “Apa? Kamu jangan bercanda Tha, please
ini gak lucu sayang,” balas Boy panik, “Aku gak lagi becanda Boy, aku mau kita
putus. Maafin aku, aku udah gak ngerasa apa-apa lagi sama kamu, mungkin ini
yang terbaik buat kita. Makasih Boy” Kemudian dengan cepat Talitha menutup
telponnya dan menutup mulutnya dengan kedua tangannya, sekuat tenaga dia menahan
agar isakan itu terhenti agar dia tak mengganggu tidur sahabatnya.
“Maafin
aku Boy, aku sayang sama kamu… sayang banget. Tapi aku juga sayang sama Arin,
lama-lama kamu pasti ngerti kondisinya Boy, aku gak mau bikin luka yang terlalu
dalam dihati Arin karena kita, hikkkss… aa…aa..ku ya Allah, aku mohon apa yang
aku lakuin ini adalah yang terbaik untuk kami bertiga” gumam Talitha ditengah
tangisnya, ponselnya terus bergetar dan itu panggilan dari Boy, dia tak
menghiraukan dan mematikan hpnya, Talitha menatap Arin yang tengah tertidur
pulas, kemudian dia mencium kening sahabatnya itu.
“Jika ini bisa buat lo lebih baik
dan gak tersiksa Rin, gue bakal lakuin, gue gak mau lo terus-terusan mendam
perasaan sakit lo, sekarang gue udah putus sama Boy, lo punya peluang besar
buat dapatin cintanya, buat dia cinta sama lo Rin, biar gue benar-benar bisa
liat orang yang gue sayang bahagia”
Kemudian Talitha terlelap tidur.
***
“Lo baik-baik di sana yah, duh bakal
sepi deh gak ada lo Tha, jangan lama-lama ya sayang” Arin memeluk Talitha erat,
Talitha ditugaskan dari kantornya untuk keSamarinda selama sebulan, jadi
terpaksa dia harus meninggalkan sahabatnya itu sendirian diapartemen mereka.
“Iya sayang, lo jangan macem-macem lo selama gue di Samarinda.. pokoknya jangan
sampe pulang-pulang nih apartemen udah jadi kayak sarang laba-laba haha” . “Iya
Talitha kusayang, lo tenang aja. udah gih sana, ntar telat pesawat lagi”
Kemudian Arin memeluk Talitha lagi beberapa saat sebelum Talitha naik ke taxi.
Arin
menghapus setetes air mata yang keluar membasahi pipinya, “Gue gak pernah
ditinggal selama sebulan sama lo Tha, berat banget rasanya tanpa lo”
Talitha sayang, sumpah
gue gak tahu gimana rasanya sebulan tanpa lo, duhh kan jadi nangis nih, gue
emang cengeng tau tanpa lo, lo itu berpengaruh banget deh kayaknya dihidup gue.
oh ya lo baca diary gue kok gak bilang-bilang sih Tha? Gue kan jadi malu sama
lo. Tapi gak papa, mungkin emang Tuhan takdirkan lo untuk baca semua isi hati
gue lewat diary gue itu. Gue kayak anak-anak banget kan Tha? Maaf ya bikin lo
terlalu banyak berkorban hanya untuk bikin gue bahagia, maaf bikin semua ini
menjadi rumit sayang. You know What? Lo itu udah kayak malaikat bagi gue, lo
itu sahabat gue yang … yang gimana ya? Susah deh diungkapin sama kata-kata,
Tha, tanpa lo harus berkorban, tanpa lo harus ngorbanin perasaan lo demi gue, lo itu udah jadi malaikat banget buat gue,
maaf bikin lo nangis kemaren malam karena lo harus mutusin Boy demi gue.
Talitha
menarik napas perlahan, kemudian menghusap air mata yang mulai membasahi
matanya, kemudian melanjutkan membaca e-mail
dari Arin.
Lo tau gak? Waktu lo
mutusin Boy kemarin malam, waktu denger lo nangis begitu kuat, saat itu gue
sadar Tha, liat lo menderita itu jauh bikin gue sakit dibanding sakitnya
perasaan gue saat gue lihat lo berdua sama Boy. Lo salah kalau lo pikir malam
itu gue udah tidur, gue Cuma pura-pura tidur biar bisa tau apa masalah lo
sehingga mata lo bengkak banget hari itu. Tha, kenapa lo bodoh banget sih? hah?
Kenapa lo ngelakuin hal itu Cuma buat gue? lo gak perlu mutusin Boy, apa lo
pikir dengan lo putus dengan Boy gue mau gitu sama Boy? Lo salah, sekarang gue
tau, rasa sayang gue sama lo jauh lebih besar dari pada rasa sayang gue ke Boy,
sumpah Tha, lo gak perlu mikirin perasaan gue, malah dengan lo kayak gitu, gue
jauh lebih sakit sayang. Boy itu cinta banget sama lo, dan bukan sama gue,
kasian dong si Boy lo putusin tanpa alasan gitu, please, sekarang setelah lo
baca email dari gue, gue mohon , telpon Boy dan minta maaf sama dia, bilang lo
sayang sama dia, gue udah jelasin semua sama Boy, dan Boy bisa ngertiin lo kok,
awas kalau lo gak nurutin permintaan gue, gue bakal ngambek loh. Oke Talitha ?
jangan mikirin gue terus-terusan Tha, lo harus mikirin diri lo. Masa depan lo.
Trust me, im fine here, please. Back with Boy yah J
:* {} I love u more than I love my self sista J
Talitha
akhirnya tersenyum membaca e-mail
yang masuk dari sahabatnya itu, dia merasa semua beban pikiran yang ia alami
beberapa hari ini telah menemukan titik terang. Semua terasa begitu ringan
sekarang, ya mungkin Arin benar, Tuhan telah menakdirkan diary Arin untuk terbaca olehnya, agar tak ada kebohongan diantara
mereka. “Makasih banget Rin, gue beruntung banget bisa dapat sahabat yang
selalu ngertiin gue kayak lo. Sekarang lo bener, gue harus minta maaf ke Boy”
Aku mengambil Telponku dan aku menelpon Boy, semua masalah sudah selesai,
hubunganku dengan Boy sudah kembali seperti biasa. Setelah berbicara dengan Boy
melalui telpon, aku membalas email Arin.
Aaa… Arin L
kamu the best banget sih sayang, makasih udah banyak ngertiin aku, makasih
untuk semuanya, aku tahu aku salah, aku terlalu cepat mutusin hubungan dengan
Boy, aku tahu aku bodoh…. Maaf.. tapi bener kamu gak papa kan? Aku yakin kamu
bisa dapat pasangan yang terbaik buat kamu ya sayang. Aku udah balikan kok sama
Boy, pokoknya makasih sekali lagi, I Love u too. Much more darl :*
Beberapa menit kemudian Arin
membalas email Talitha, dan Talitha dengam cepat membaca email itu.
Lama
banget sih balasnya L
gue nungguin kabar dari lo dari tadi tau! Beneran udah balikan sama Boy?
Gak lagi bohongin gue tah? Hehe, gue lega deh sekarang. Im okey, lo tenang aja.
lagian sekarang gue nyadar kok perasaan ini Cuma sesaat, gue yakin ini Cuma
keegoisan sesaat. Lo gak usah minta maaf, lo gak salah, gue gak salah dan Boy
juga gak salah, kita gak salah Tha, Cuma kondisi aja yang gak tepat. Dengan
kejadian ini gue yakin kita bisa lebih dewasa dalam menghadapi masalah. Iya,
gue yakin kok pasti gue bakal dapat yang terbaik buat gue J
Setelah
membaca balasan dari Arin, Talitha mematikan laptopnya kemudian berbaring
dikamar Hotelnya, dia sadar betapa dia tengah merindukan sahabatnya itu saat
ini, dan untuk sebulan kedepan dia bakal terus merindukan Arin dan Boy, andai
waktu bisa dipercepat. Dia ingin segera kembali ke Jakarta, tidur bersama Arin,
bercanda bersama Arin dan bermesraan dengan Boy. Malam ini dia dapat tidur
dengan pulas, tanpa harus memikirkan apapun.
***
Sebulan Kemudian..
Talitha sampai di Bandara Soekarno
Hatta dan langsung disambut oleh orang yang Ia rindukan selama beberapa bulan
ini, Arin dan Boy.
Talitha langsung memeluk Arin dengan
erat, betapa rindunya dia dengan sahabatnya itu. “Gue kangen bangett Rin…
sumpah” ujar Talitha, “Gue juga Tha, kesepian gue tidur sendirian dikamar gak
ada lo” balas Arin tak mau kalah, Talitha melepaskan pelukannya kemudian
matanya beralih pada Boy, lalu dia menatap Arin lagi.
“Samperin dong cowok lo Tha, dia
juga kangen sama lo” ujar Arin yakin, Talitha mengangguk dan memeluk Boy, “Maafin
aku Boy, I miss you honey” ujarnya, “I miss you more than everything beb, love you” Aku menatap mata Boy dan
melihat Arin tersenyum, aku yakin senyum Arin sekarang senyum ketulusan. Tak
terlihat tanda-tanda kesakitan disana, dengan yakin aku membalas tatapan Boy “I Love you too sayang.”
Kebahagiaan
itu sederhana ternyata, hanya dengan menyadari betapa berharganya senyuman itu,
hanya dengan melihat orang yang aku sayang tersenyum itu sudah menjadi
kebahagiaanku. Mungkin kau yang dikatakan sahabat sejati Talitha, kau yang
selalu mengubah tangis ini menjadi senyum, mungkin aku yang terlalu egois
memaksa kan sesuatu hal yang aku tahu itu salah, sekarang aku bisa yakin, aku
bisa menerima kenyataan. Hanya dengan melihat mu tersenyum aku rela melakukan
apapun didunia ini, karena aku tahu, kau terlalu banyak berkorban untukku. Itu
yang menydarkanku, bahwa semua hal tak bisa dipaksakan, kita hanya harus
belajar bagaimana menerima, sesakit apapun itu.
This my second short story, thanks for read guys... hope u like ;) Love Vani :*
My Slide Show Photo
My Slide Show Photo by Slidely Slideshow