Archive for 2013

Apa yang Harus Aku Lakukan?

Aku tau bagaimana perasaanmu,
Aku tau hancurnya hatimu.
Tuhann.. maafkan diri ini,
Yang tak pernah cukup untuknya sehingga membuatnya mampu berpaling dan menyakiti orang lain.
Adakah cara lain agar ini terlihat sedikit lebih mudah?
Aku terlahir untuk tak menyakiti siapapun.
Lalu bagaimana jika keadaannya seperti ini Tuhan?
Harusnya aku membencinya.
Harusnya aku memakinya.
Tapi kenapa aku selalu tak bisa??
Apakah pantas aku masih bisa bahagia disaat aku tau ada seseorang yang terluka?
Aku bukan malaikat..
Aku juga mencintainyaa...
Aku tak mampu menahan perihnya kehilangan.
Aku tak sanggup menelan pahitnya ditinggalkan.
Apakah aku egois? Mempertahankan dia tetap disisiku?
Lalu bagaimana dengan seseorang lagi yang kutahu mencintai lelaki yg kini kucintai dan mencintaiku?
Apakabar dengan luka yg tertanam dihatinyaa?
Maafkan aku Tuhaann..
Yang tak pernah menjadi cukup untuknya dan memaksa hatinya untuk terus mencintaiku..
Andai... aku bisa mengorbankannya dan membiarkan rasa sakit ini, akan aku lakukan agar tak ada yang sakit lagi selain aku.
Tapi apa daya? Aku juga teramat dalam mencintainya dan tak bisa melepasnya untuk yang lain.
Dan ini semua membuatku bingung :'(
Apa yang Harus aku lakukan? :'(


Posted via Blogaway

Terimakasih Telah Mencintaiku

Dicintai olehmu adalah suatu kebanggaan oleh ku.
Mendapat seseorang sepertimu adalah anugerah terindah untukku.
Dari mu aku belajar banyak hal.
Darimu aku menjaga hati dan perasaan ini.
Hanya untukkmu aku persembahkan hidup dan jiwa ini.
Setiap hembusan nafasku.
Setiap kedipan mataku.
Saat itulah aku selalu bersyukur tuhan memberiku kesempatan untk menjadi salah satu orang yang paling dekat denganmu.
Atas nama segaka keegoisanku, semua sifat negatifku padamu aku minta maaf.
Terimakasih sudah mencintaiku atas segala kekurangan dan kelebihanku.
Terimakasih sudah begitu banyak memberiku pelajaran.
Bahwa hidup ini, bahwa dalam hidup ini aku harus mempertahankan cintaku agar tak lepas dan tak terbuang sia-sia.
Terimakasih untuk memilihku sebagai orang yang kaupilih dan kau cintai.
Diantara beribu wanita, aku merasa wanita paling beruntung dapat mengenalmu dan memiliki hatimu.
Jaga dan simpan perasaan kita, agar tetap bertahan pada tempatnya... aku ingin kebahagiaan yg kurasa bersamamu adalah kebahagiaanku selamanya. Hingga kita bisa benar-benar bersatu :)
IR ♡ 


Posted via Blogaway

'Kau yang terbaik' apakah masih pantas?

Kalau dulu aku katakan kau yang terbaik.
Jujur untuk saat ini itu masih jadi pertimbangan.
Apakah pantas, ? Disaat semuanya berubah..
Aku melihat rasa sakit ini.
Aku mendengar jeritan hati yg terluka ini.
Andai waktu bisa ku putar.
Andai hal seperti ini tak pernah ada.
Mungkin aku tak akan sesakit ini.
Kau pernah janji untuk tak menyakiti.
Kau pernah janji untuk selalu setia.
Karena itu aku menganggap kau adalah yang terbaik hingga saat ini.
Maaf sampai kapanpun, bekas luka ini takkan hilang.
Hal yang paling tak pernah terlintas dikepalaku.
Hal yang kuanggap tak mungkin terjadi,
Aku tahu, tanpa kau harus bilang aku tau kau lebih mencintaiku.
Tapi apakah menyakitiku masih bisa disebut cinta?
Apakah pilihanku tepat untuk saat ini?
Luka masalalu mu sudah sangat membuatku lelah.
Sudah hampir membuatku menyerah.
Dan setelah luka itu benar2 sembuh, kau datangkan lagi hal yang jauh lebih menyakitiku.
Semua hal kulakukan untuk membuatmu setia disisiku.
Semua hal bahkan kukorbankan untuk kebahagiaan kita.
Sekarang aku tanya padamu, pantaskah sebutan 'yang terbaik' masih untukmu?
Disaat aku merasa sakitt yang teramat dalam karena pengkhianatan itu.
Jika aku disuruh memilih, dulu aku pernah berķata 'aku tak ingin mengulang kesalahan yang sama' dan benar...
Kesalahan yang menyakitkan itu terulang lagi.
Aku sudah memaafkanmu, tapi tidak mudah bagiku melupakan bayangan buruk tentang kau dengannya di belakangku.
Sakit ini...
Coba sekali aja kau rasakan, bagaimana hati ini seperti dicambuk beribu-ribu x olehmu!!!

Posted via Blogaway

Posted via Blogaway


Posted via Blogaway

Make it easy

If u ask about my heart.
I dont know how it's hurt .
Firstly, I never believe u will
Make everything be like this.
Why? If this about her.
Or this about me, please.
Dont hurt me, let u go...
Unfortunately, I never know,
Even I dont know , why i still with u.
Maybe about my love deepest to you.
Must I stay again?
In all condition my tears always fall.
Sometimes, I think im a stupid girl why I still stay .
God.. make this be better.
For me and for him without liar again.
I just want him.
To make me strong, make me smile.
Let this happaned.
Because everything happaned for a reason. Yeah i know.
Tell him, I love him..
Even he always  make me cry.
But because this love more than big.
So I acccept him to touch my heart again.
Make it easy God.. please :'(

Posted via Blogaway


Posted via Blogaway

My 16th years old ^.^

15-12-2013

Umur yang semakin bertambah ini membuatku dewasa
Dewasa bukan hanya dari perkataan, tetapi dari tindakan dan pemikiran.
Cukup 16 tahun ini kulalui dengan segala sifat Childish ku,
Ketika mereka bilang aku dewasa, tapi ada bagian dri diriku yang menolak atas gagasan itu.
Aku belum dewasa, aku hanya remaja yang mencoba menghilangkan sifat 'labil' ku
Aku berusaha untuk bisa benar-benar menjadi seorang gadis yang mempunyai tanggung jawab untuk
diriku dan orang yang mencintaiku...
Bagiku diumurku yang memasuki tepat 16 tahun ini,
Semua terasa berbeda, aku tak menginginkan sepotong roti atau beberapa lilin,
Aku tidak membutuhkan kado ataupun perayaan besar-besaran,
Tapi aku benar-benar butuh Doa, doa yang tulus dari semua orang yang mencintaiku.
Aku merasa semua berbeda, aku sudah bukan anak umur 10 tahun lagi.
I've already 16th, and everything is chance!!
Tuhann... Makasih,
U give me Everyting, I have a wonderful Family's to love me,
I have a great career
I have a boyfriend who love me,
Everything was perfect right now...
Ma pa... makasih udah kasih pelajaran dan kasih sayang yang begitu besar di umurku yang sekarang ini..
For my beloved sista, makasih udah jadi sosok yang menjadi isnpirasiku dalam menulis :')
for my lovely Rain Boy.. Thx buat cinta, kesabaran dan pengertian kamu sama aku...
Makasih buat kejutan di hari ulang tahun aku ini 'Indra Rusyandi'
The most beautiful thing that can't be forgotten, I love You!!!
 For my Best friend yang gak lupa ngucapin 'selamat' buat aku hari ini.
Maaf gak ada perayaan apapun hari ini... :)
Ulang tahun ini adalah ulang tahun paling sederhana dalam hidup aku.
Tapi aku dapat makna yang bigitu besar di hari ini juga.
One thing 'My happiness not about how they celebrate, but about how i feel every people love me and care about me, it's enough'
Nothing Celebration, but just pray for me for today, everything be perfect.
Thx God! :')



Benih Cinta

Dalam hidup aku titipkan senyumku pada dunia
Dalam hidup aku titipkan tangisku untuk mereka
Tangis dan Senyum aku persembahkan untuk cinta
Aku memiliki cinta dari semua yang ada
Dari semua yang melemparkan cinta dan kasih sayang untukku.
Kasih yang tak ada batasnya,
Mereka yang menganggap kasih sayang dan cinta adalah hal yang suci.
Hidup itu indah, bukan untuk di sesali
Selama masih ada orang yang mencintai
Selama itu tak ada satu alasan pun untukku berhenti
Selama nafas masih berhembus, aku janji membuat orang
yang memberiku cinta,
suatu saat aku akan mengatakan pada mereka
bahwa aku lah orang paling beruntung dicintai oleh kalian.
Benih cinta dari kalian yang membuat aku kuat
Membuat aku mampu bertahan untuk terus berjuang


For Everyone who love me, I love you! :')

Pangeran Hujanku yang Hilang :'(

Pagi ini disambut dengan hujan lagi.
Pagi ini cuaca sangat melambangkan perasaanku..
Aroma kesejukan menghiasi dinding-dinding kamarku.
Pangeranku tak terlihat pagi ini,
Pangeran hujanku. salah satu orang menjadi semangat dalam hidupku..
Hey.. Kemana kau pergi ?
hingga aku tak dapat menangkap cahaya mu ditengah derasnya hujan Pagi ini.
Mengapa kau tak menampakkan rupamu sayang? :(
Dingin ini ku rasa sendiri, tanpa kehangatan darimu lagi...
Kembali kesisiku secepatnya dan mulai menghangatku yang kedinginan ditengah derasnya hujan ini.
Aku kehilangan sosok rupawanmu, yang selalu menghias senyuman di bibiku.
Kemana dirimu sekarang?
Aku selalu menunggu disini...
Selalu menunggumu, untuk menghangatkan ku dan hari ini.
Kembali secepatnya pangeranku :*
Aku membutuhkanmu.

It's not only about 'LOVE'



Dahulu aku pikir, menjalani suatu hubungan cukup berdasarkan 'Cinta'
tadinya, gagasan itu aku benarkan dan aku yakin.
semakin lama aku menjalani, malah aku semakin ragu dengan gagasanku itu.
Jika bukan dengan berlandaskan cinta, hal apa lagi yang aku inginkan?
aku yang terlalu berlebihan atau memang ini lah keinginanku.
terkadang aku berpikir, apa aku salah mengambil tindakan?
apa aku terlalu cepat memutuskan hal yang kutahu akan menyulitkanku.
Mencintai seseorang dengan teramat dalam bukan perkara mudah.
Dengan cinta kita bias tertawa dan menangis secara bersamaan dan dalam waktu dekat.
Ya... Kehidupan tak pernah menjadi sempurna tanpa kasih saying.
Untuk survive, to be strong, I need Love.
and I need You.
but is't true? apakah hanya Cinta dari mu saja sudah cukup?
Hidup ini rumit, serumit kau dan aku sekarang :')
tak ingin berakhir, dan tak ingin melepas. so How?
Apa lagi yang aku butuhkan? karena aku merasa kurang...
padahal jelas aku sudah percaya cinta itu memang ada,
cinta dari aku untukmu, dan darimu untukku.
Terus apa lagi yang kita butuhkan?

1. Pengertian dan Perhatian
    Maybe, kita sama-sama butuh hal itu. tapi yang ku maksud adalah bukan pengertian dan perhatian yang dibuat-buat, tapi yang 'nyata' yang memang kau hadirkan karena rasa khawatir dan rasa kasih sayang. hal kecil aja, tapi itu sangat berarti bagiku, terutama bagi kita :) (Read : yang menjalin hubungan LDR -_-) dalam hal ini kita udah bias mengatasi, ya.. it's enough

2. Kesabaran
    Ini yang agak rumat bagi kita, :/ kenapa? hubungan tanpa ada rasa sabar apa yang terjadi? ya hancur -,- sama-sama mementingkan ego masing2, dan akhirnya gak ada yang mau mengalah, akhir-akhirnya terucap kata 'Putus' it's so Difficult.. God :( Ajarkan kami sabar Ya Allah.. *amiin*
 hey kamu.. ya kamu!!! yang jauh disana, aku mau kamu sabar dengan sifat aku :( maaafff....

3. Peka!!
    That's why I always never never trust you! huh? :3 aku udah pura2 sakit, pura2 ngambek, pura2 gak balas sms, pura2 marah, pura2 cuek.. Why??? think!!! coz I hope u understand...!! ini malah asik sendiri, bikin kesel. dan akhirnya ??? ya aku keselll... damn -_______-

4. Jaga Perasaan dan ucapan.
    Tolong dong, jangan bahas hal2 sensitive, bikin bt !!! :( masa iya aku harus denger ocehan kamu tentang mantan2 kamu terus. jangan ngomong hal yang bisa bikin mood aku hancur, walau emang aku pura2 ketawa, but back number 3 peka woyy peka!!! -____- , jaga perasaan aku dong, udah cukup banyak lukanya jangan ditambah.

4 point of I need from you, not only you just say you love me, and everything felt better. aihhh.... -_- not just about me, but this about you and be about "we" nothing perfect I Know, but try to be perfect please. I need that, katanya CINTA masa gak mau mencoba jadi orang yang bisa jadi yang aku butuhin sihh.
Akhir-akhirnya tetep aja jadi galau  :#@#$#$%^&^*&&^?????

Thanks :)

Love December



December Come!!! my Lovely Month in every year.
Semoga dibulan Desember ini semua yang sempat terhenti bisa berjalan...
semua bisa seperti yang aku harapkan...
semoga mimpi2 ku bisa sedikit mulai tercapai di bulan ini,
bulan yang merubah hidupku,
bulan yang menambah usia ku...
My Wish, still same...
and exactly, I hope u!!!
we 'always together honey :*'
bulan ini mengawali semua perjalanan kita,
perjalanan aku, kamu :')
wait for date 15 and 24!!! <3
I love this month!!!
especially for this year.
because I grow up, and I have you ...
Thx God,
mungkin tahun ini, tahun pertamaku akan merayakan hari besarku  with my lovely.
I hope come true!!
Welcome December O:)

-Semoga Nilai Ujian Juga Memuaskan-
Amiinnn :D


You Still the Best :)

Jika ini semua tak seperti yang kuharapkan.
Jika ini semua tak seperti yang kubayangkan,
Aku janji aku bakal terus bertahan.
Aku janji untuk menghapus keegoisanku dan mencoba mengerti kamu.
Mencoba untuk terus bertahan dan mengerti kamu.
Walau aku harus membenam sendiri rasa sakit ini.
Karena aku sadar, aku disini terlalu mencintaimu.
Aku disini selalu mengharap kita selalu bersama.
Tuhan tau yg terbaik, aku hanya bisa terus menerima kenyataan.
Gak ada yg sempurna, termasuk aku, kamu! Kita :')
Sekuat apapun aku memaksamu menjadi yg seperti aku harapkan, tak akan mengubah keadaan.
Kamu akan tetap menjadi kamu yg seperti itu.
Dan aku juga tetap menjadi aku yang seperti ini.
Dan kita akan selamanya menjadi kita :')
Semoga Hubungan ini bisa saling melengkapi sayang :'*
Sejauh ini "u still the best for me"  :)



Cinta dan Jarak

Bersamanya aku merasa hidup..
Menjalin hubungan dengannya adalah kebahagiaanku.
Tuhann..
Aku titipkan hati dan perasaan ini pada jauh nya jarak yang menghalangi kebersamaan kami.
Kutitipkan doa padamu.
Kuselipkan namanya dalam setiap doa2ku.
Disetiap hembusan nafasku,
NamaNya selalau menjadi semangat hidupku.
Tuhan..
Aku sangat mencintainya.
Aku ingin, suatu saat nanti.
Aku bisa tunjukan pada semua.
Aku bisa tunjukan pada Dunia.
Bahwa aku memilikinya
Dan kita akan bersama.
Kita akan mewarnai dunia,
Dan tak terpisah oleh jarak lgi.
Aku akan tunjukkan bahwa hubungan ini hebat.
Hebat karena kita mampu bertahan dalam Rindu yg teramat dalam.
Hebat karena kita bisa menjalin hubungan ini tanpa keluhan.
Aku mencintaimu,
Dengan segala kemampuanku.
Jarak.... buat ini menjadi dekat. :') kutitipkan dia, padamu.
Sayang, percaya . Suatu saat kita bisa bertemu disaat yg paling indah. Hanya kamu dan aku :-*
24-07-2013

Sakit :'(

Aku tak tahu mengapa ini sangat menyakitkan untukku.
Aku tak suka dengan apa yg telah kulihat.
Tuhann...
Jujur aku sayang dia.
Aku cinta dia.
Aku mohon,
Hapus rasa sakit ini.
Hapus air mata ini..
Aku gak kuat.. aku lemah ya Allah...
Bantu aku..
Itu cuma masa lalu..
Yakin kan aku
Bahwa apa yang aku lihat
Hanya masa lalu...
Kenapa itu harus ditunjukkan sekarang?
Disaat hati ini benar2
Sangat bergantung padanya?
Kenapa kau harus menunjukkan itu padaku?
Aku rapuh tuhan.
Aku sakit...
Aku tak sanggup.
Itu terlalu nyata.
Itu terlalu berat.
Bagaimana caranya aku bisa menerima?
Bagaimana caranya aku bisa melupakan yg baru saja terlihat?
Cukup sakit hati ini.
Jujur aku tak bisa menerima :'(

Isi Hati

Terkadang, bukan karena apapun.
Bukan karena aku tak bisa menuruti
Semua keinginanmu.
Aku bisa saja tidak melanggar
Aku bisa saja mengikuti
Semua yang kau katakan.
Tapi....
Apa yang harus kulakukan
Disaat permintaanmu benar2 ku turuti
Dan saat itu juga kau
Berubah....
Terkadang aku melanggar
Bukan karena marah.
Aku hanya kesal..
Aku hanya ingin
Mencari perhatianmu...
Aku haus akan itu.
Aku butuh kamu...
Sekarang...
Detik ini...
Bukan besok
Ataupun hari yang akan datang.
Sayang...
Maaf jika aku lancang.
Maaf jika memang kau murka.
Ini bukan kemauan ku.
Keadaan yang memaksa
Aku untuk melanggar.
Kau ingin aku seperti itu.
Aku juga ingin kau seperti itu.
Ini kita, bukan masalah aku dan kamu.
Perasaan tidak bisa bohong.
Aku penat, aku lelah..
Haruskan aku benar2 menunjukkan keegoisan ini?
Atau karena terlalu sesak.
Haruskah ini berakhir?
Tuhan....
Jujur aku tak mau ini menjadi sesal.
Beritahu dia...
Aku selalu mencintainya... :')
Walau karena teramat dalam mencintainya...
Aku harus menahan sakitnya :'(

To my sister ♡

Tuhan....
Beri kekuatan baginya..
Beri secercah cahaya agar dia tetap semangat.
Hampa itu hanya sesaat.
Aku mencintainya..
Aku tak mau dia terluka karena ditinggal oleh sahabatnya...
Saudaraku...
Ini semua cobaan.
Cobaan utk lebih kuat.
Cobaan untuk lebih tegar.
Ini hidup, dan ini nyata.
Terkadang hal yg tak pernah rela kita ikhlaskan.
Harus dengan terpaksa kita relakan..
Biar dia bahagia disana.
Kita jalani kehidupan singkat ini.
Beri senyum padanya.
Lihat dunia,
Lihat masih banyak orang yang mau memberikan pundaknya untukmu :')
Kau bahagia disini,
Dia juga akan bahagia disana.
Melihat perjuanganmu dan kekuatanmu
Menjalani hari-hari tanpanya yang kau anggap bagian hidupmu...
Memang sulit
Tapi yakinlah
Ini akan menjadi mudah
Jika kau benar-benar meng ikhlaskannya...
Aku bahkan semua,
Ada disini untuk menghapus duka itu... ♡

06-09-2013

Sudah lama aku tak menggerakkan jari ini.
sudah lama aku tak merangkai kata-kata menjadi kalimat indah.
aku takut ini menjadi sesal,
aku takut aku tak sebisa dulu merangkai kata-kata itu menjadi kalimat yg mewakili perasaan hati ini.
sekarang, aku mencoba menulis, aku mencoba mengeluarkan semua dari hati dan pikiranku.

tadinya ku kira semua akan baik-baik saja...
tadinya ku kira semua akan berjalan sempurna.
bukannya aku berharap yang berlebihan
bukannya aku meminta yang tak seharusnya kupinta,
tapi... jika aku menginginkan seseuatu yang memang sudah seharusnya kau berikan untukku,
apakah aku masih juga salah?
aku tak tahu apa maksud semua,
bahkan aku tak tahu apa maksud kalimat bodohku ini..
ini semua keluar dari ketikan tanganku,
dan membuat ini menjadi sebuah kalimat,
terangkai karena perihnya,
tercipta karena sakitnya...
aku memang seorang manusia yang penuh dengan keluhan
penuh dengan permintaan...
bantu aku...
bimbing aku...
untuk mengerti ini..
untuk mengetahui semua ini.
aku tak lebih dari seorang gadis yang butuh adanya keadilan
aku benci ini...
aku tidak suka semua ini...
apakah terlalu egois?
apakah terlalu hina perasaan ini?
aku diam bukan berarti bodoh,
aku nangis bukan berarti lemah..
aku hanya tak mampu..
aku hanya tak sanggup...
aku hanya ingin satu...
semua ini dapat terpikir dan ter'mengerti oleh mu :)

Tentang Perasaan Ini

Awalnya aku merasa ini semua nyata,
Aku merasa ini semua sempurna. Jika ditanya apakah aku mencintainya, aku akan menjawab sangat mencintainya.
Tapi bagaimana pun rasa penat ini muncul, berawal dari sifat cuek mu yg terkadang terlalu berlebihan sehingga aku sering berpikir, bagi mu hubungan ini unsur keterpaksaan.
Walau kau membantah itu semua, jujur aku selalu berharap kau tulus menjalankan hubungan ini.
Aku takut, aku gelisah , aku khawatir jika suatu saat kenyataannya berbeda dari apa yg kuharapkan padamu.
Mungkin memang aku yg terlalu menganggap ini semua negatif atau mmg begini adanya, ntahlah..
TUHAN... kau tahu aku tak mau ini menjadi sesal. Aku tak mau ini unsur kebohongan, aku coba percaya, aku coba jujur tapi nyatanya hatiku terus memikirkan hal-hal yg kuanggap salah...
Jika ini benar adanya.. jika mencintainya adalah suatu hal yg salah aku mohon hentikan perasaan ini.
Dan jika mencintainya suatu hal yg benar aku mohon tunjukan kebenaran itu.
Aku takut mengulang kesalahan yg sama, aku takut dikkhianati... aku takut disakiti.. aku takut ini semua tak seperti yg kuharapkan. Tuhan beritahu padanya, aku disini berharap tak ada kebohongan diantara perasaan kami.
Jika hubungan ini berarti baginya, tunjukan sedikit saja hal itu. Agar ku yakin, ini tak sia-sia....

Awal Pertemuan Dengannya

Awal pertama kita bertemu mengisahkan sedikit tanda tanya di benakku.
Kau hadir membawa sejuta hal yg tak pernah kurasakan.
Awalnya aku tak pernah berpikir bahwa kita akan sedekat ini.
Pertemuan yg tiba-tiba dan perkenalan yg singkat itu menjadi salah satu pegangan kita.
Kau membawa sebuah harapan,
Kau menunjukkan cinta dan kau mulai mengisi bagian dalam diriku yg haus akan kasih sayang..
Ntah sejak kapan.
Ntah berawal dari mana hatiku mulai luluh.
Hatiku mulai terus mengingat namamu.
Otakku selalu mengingat setiap kata yg kau ucapkan untukku..
Tuhan..
Apakah ini terlalu cepat?
Aku harap ini tak salah dan tak merugikan siapapun.
Biarkan kami merasakan kebahagiaan itu tanpa harus merasakan luka...
Biarkan kami menikmati setiap detik kenangan ini dengan senyuman .
Aku sadar, dengan hadirnya dia dihidupku, memberiku begitu banyak pembelajaran yg sulit kumengerti...
Dia mengajarkanku bagaimana melihat semua ini dari segi positif.
Aku butuh dia..
Aku butuh dia untuk bisa mencegah sedikit rasa sakit ini... karena hanya dengan dia aku merasa segala di dunia ini akan terasa baik-baik saja.. karena aku tahu, aku sudah jatuh kedalam cintanya...

Rain Boy and Rain Girl(please jangan dihapus)

Aku melihat dari balik jendela kelasku, gerimis mulai turun dengan perlahan, aku mulai mengukir senyum diwajahku, biasanya jika gerimis mulai datang tak lama lagi hujan akan turun. Pikirku, aku melirik jam tangan yang melingkar dipergelangan tanganku, sebentar lagi jam waktu pulang sekolah akan tiba, aku berniat untuk pulang dengan jalan kaki, menikmati setiap tetesan hujan yang membasahi bumi, mungkin sebagian orang menganggapnya aneh, tetapi aku tak perduli, apapun yang berhubungan dengan hujan, itu sudah menjadi bagian dari hidupku. Namaku Viona Larasati, panggil aja Viona atau Vio, sekarang aku duduk dibangku kelas dua belas, aku tinggal di Bandung, walaupun aku kelahiran di Jakarta, tetapi aku memutuskan untuk melanjutkan SMA di Bandung karena aku sangat menyukai kota ini, dan untungnya orangtua ku menyetujui kepindahanku ke Bandung, dan aku memutuskan untuk tinggal di kost’an kecil di daerah Bandung. Aku memang terbiasa hidup mandiri, jadi hanya untuk sekedar tinggal dikota ini sendirian, tak masalah besar bagiku.  
            Jam pulang sekolah tiba, dengan cepat aku membereskan semua peralatan tulisku dan memasukkannya dengan rapi kedalam tas. “Hey, mau pulang jalan kaki lagi lo?” tanya Mira, teman sebangku ku, aku tersenyum dan mengangguk. “Kenapa Mir? Mau ikut? Haha” candaku, dia menggeleng dengan cepat. “Ogah, males banget gue basah-basahan, huh” jawabnya polos.
            “Kan pake payung sayang, basah juga paling Cuma dikit” jawabku datar, dia tetap menggelang dengan pasti. Aku hanya mengangkat bahaku tanda menyerah. “Yuk pulang” aku menarik tangan sahabatku itu dan kami bergegas meninggalkan kelas.
            Benar saja, hujan perlahan mulai turun dengan lebatnya dan membuat semua orang mengeluh karena kedinginan dan kebasahan, tapi berbeda denganku, setiap tetesan hujan yang jatuh aku selalu mensyukuri ciptaan Tuhan ini. Aku mengeluarkan payung kecil dari tasku dan membukanya, kemudian pelan-pelan aku menginjakkan kakiku di atas genangan air di aspal jalanan. “Viona…” panggil seseorang dari arah belakang, aku langsung melihat siapa yang memanggilku, suara itu tak asing lagi bagiku. Dia adalah Roni, cowok terkenal playboy disekolahku ini, banyak gadis yang memuja dan memujinya tapi tidak bagiku, sudah beberapa kali dia menyatakan cinta padaku tetapi ku tolak, karena aku tak mau jatuh dalam permainannya. “Ada Apa Ron?” tanyaku acuh tak acuh, “Pulang sama gue aja yuk, naik motor, kan hujan Vio, ntar lu sakit” ujarnya, “Hmm.. gak papa lagi Ron, gue suka sama hujan kok, jadi ya lu gak usah repot-repot ngantar gue, oke? Thanks” balasku lalu bergegas pergi meninggalkan Roni yang kesal melihat tingkahku padanya. Dih males banget deh gue sama dia, dasar playboy.
***

            Aku berjalan terus sambil menikmati tetesan-tetesan hujan yang jatuh ke bumi ini, terkadang aku menyentuh butiran itu dari balik payung hijauku, samar-samar aku melihat seorang lelaki memakai kemeja coklat dengan celana hitam panjang duduk dihalte bus sendirian, disebelahnya terparkir sebuah mobil jazz putih, mobil siapa itu? Apakah mobilnya? Tetapi kenapa dia duduk di halte itu? Untuk apa dia sendirian menatap rintikan hujan dihalte itu? Aneh! Pikirku, kemudian aku berjalan mendekati halte itu, pandanganku tak lepas dari sosok lelaki muda tampan itu. Oke Viona.. kenapa gue bisa bilang dia ganteng? Padahal baru liat juga, astagfirullah, dasar bodoh.
            Aku sekarang berjalan tepat didepannya, bodohnya aku tetap melihatnya, dan sekarang dia juga melihatku, dia menatapku bingung, aku juga bingung dengan diriku yang tak bisa lepas dari pandangan matanya, lalu kemudian aku bisa merasakan segaris senyum dia berikan padaku, aku membalasnya dengan senyuman kecil juga. “Hey, kenapa liatin aku kayak gitu banget?” tanya cowok itu padaku sambil tersenyum ramah, aku kaget mendengar pertanyaannya, “Ehh. Hmm.. ini, eumm gak papa kok kak, maaf” ucapku terbata-bata, aku rasa dia lebih tua daripadaku jadi aku menyebutnya dengan panggilan ‘kak’ oke mungkin lebih baik seperti itu untuk menghormati. Dia tertawa kecil melihat kegugupanku, aku pun tersenyum malu.
            Astaga ya ampun, mimpi apa gue bisa ketemu orang seganteng ini, senyumnya ya Allah… manis bangettt.
            “Kenapa minta maaf? Gak papa kok, aneh ya lihat aku duduk disini sendirian?” tanya cowok itu seperti tahu apa yang kupikirkan, aku hanya tersenyum tak jelas sebagai jawaban. Aku tetap berdiri disitu, aku tak tahu apa yang harus kulakukan sekarang, apakah harus pergi atau tetap berdiri disini? Entahlah, aku hanya menunggu kalimatnya saja.
            “Hehe, kamu lucu deh, dari pada kamu berdiri disitu, mendingan kamu temenin aku duduk disini” ujarnya sambil mempersilahkan aku duduk disampingnya, dan parahnya aku merasa jantungku benar-benar tak karuan. “Engg..enggak usah kak, aku langsung pulang aja” jawabku akhirnya, karena aku merasa belum kenal sama sekali dengan cowok dihadapanku ini, aku memutuskan untuk menjaga jarak, bukan bermaksud berpikiran negative, tetapi aku rasa tak seharusnya aku duduk dengannya disitu, karena kami sama-sama belum saling mengenal.
            “Kamu mau pulang? Hujannya deras banget loh, ntar seragam kamu basah”
            “Aku suka hujan kok, so, no problem” jawabku masih dengan senyuman, kemudian aku perlahan mulai melangkahkan kaki ku meninggalkan cowok itu, kemudian aku merasa cowok yang belum kukenal itu menarik pergelangan tanganku, aku terhenti, sekarang aku benar-benar gugup, untuk apa dia memegang tanganku.
            “Kamu suka hujan? Hey, aku juga suka hujan loh” ucapnya tanpa ditanya, tapi kemudian mataku membesar, terkejut atas pengakuannya, apa benar dia juga pecinta hujan sama sepertiku? Jujur jarang sekali aku melihat lelaki yang menyukai hujan. “Serius kak? Masa sih?” tanyaku tak percaya, kemudian dia menganggukkan kepalanya cepat. Aku masih menatapnya dengan tatapan tak percaya. “It’s why I’m here.” Jawabya santai, kemudian saat itu juga gemuruh petir datang dengan suara yang sangat kencang, aku kaget dan sangat ketakutan, aku menutup mataku dan kupingku, membiarkan payungku jatuh, dan akhirnya bajuku basah karena terkena butiran-demi butiran hujan siang itu. “Kan baju kamu basah tuh, udah temenin aku aja disini dulu, kita bisa cerita bareng tentang hujan. Ayolah, aku bukan orang jahat kok” ajaknya, mau tak mau aku harus menyetujui permintannya, karena jujur tak mungkin aku pulang sekarang ditengah petir yang sangat besar ini, aku memang sangat mencintai hujan, tapi aku tak suka petir!
            “Sini duduk disamping aku, ngapain kamu berdiri disitu terus.” Ujarnya sambil menarik tanganku untuk duduk disampingnya, akhinya aku pun duduk disampingnya, aku merasakan kehangat saat aku berada disampingnya, demi tuhan lelaki ini hampir membuat nafasku berhenti, ramah, baik, sopan, tampan, ya ampun…  aku hanya bisa diam tak berkutik selama disampingnya, aku tak sanggup berbicara apapun.
            “Kamu bilang kamu suka hujan kan? Sejak kapan?” tanya nya memulai pembicaraan, masih dengan nada bicara yang lembut dan membuatku nyaman berada didekatnya, “Udah lama sih kak, semenjak kecil juga suka sama hujan” jawabku,
            “Oh ya? Emang kenapa kamu suka sama hujan?” tanya nya lagi,
            “Hujan itu indah, hujan itu damai, hujan itu penuh dengan kenangan, dan hujan itu udah bagian dari hidup aku kak” jawabku lagi sambil terus memandangi hujan yang turun bergiliran. Setiap melihat hujan aku tak dapat menahan kekagumanku akan ciptaan tuhan yang satu ini, betapa indahnya hujan.
            “Oh.. iya yah, hujan itu indah banget. Kamu bener, orang bodoh yang gak suka sama hujan”  Aku mengangguk meng-iyakan ucapannya, “Kakak sendiri kenapa bisa suka sama hujan?” tanyaku, kali ini aku memberanikan diri menatap nya.
            “Gak tahu entah sejak kapan, semenjak hujan datang, aku selalu merasa beban dihidupku hilang, sejenak aku bisa melupakan masalah-maslaah yang ada dikehidupanku, itu alasan aku sangat suka sama hujan.” Jawabnya. Aku mengangguk meng-iyakan ucapannya, tak menyangka aku bisa bertemu dengan lelaki yang begitu senang dengan hujan.
            “Oh iya, nama kamu siapa kalau boleh tau?” tanya cowok itu menatapku, aku menjulurkan tanganku dan dia membalas juluran tanganku, “Viona” jawabku, “Radit” jawabnya sambil tersenyum.
            Ya Allah.. demi apapun, gue senang banget bisa kenalan sama kak Radit, astaga tangannya lembut banget…bisa pingsan gue disini. Pikiranku mulai berkeliaran entah kemana.
            “Kamu kelas berapa Viona?” tanya nya lagi, “Kelas dua belas kak” jawabku, dia hanya mengangguk. “Kakak kuliah atau udah kerja?”
            “Aku kuliah sambil kerja, hehe.”
            “Oh ya? Hebat dong kak. Oh ya, kalau boleh tau, kenapa kak duduk sendiri disini? Itu mobil kakak kan? Kenapa gak langsung pulang?” Aku sangat penasaran jadi aku memutuskan untuk bertanya padanya.
            “Iya itu mobil aku, aku tadi lagi nyetir, rencana mau pulang sih, Cuma tiba-tiba hujan turun kan, yaudah aku liat ada halte kosong disini, aku duduk aja. niatnya mau mandangin hujan gitu Vi” ujarnya, “Wow, sesuka itu sama hujan yah? Sama kayak aku”
            “Iya emang aku suka hujan, suka banget,  kebetulan ketemu sama kamu disini, beruntung banget ya aku, ketemu gadis cantik, baik, suka hujan lagi” jawabnya memandangiku, aku tersenyum malu mendengar ucapannya tentangku. Aku tak dapat menahan senyum yang berkeliaran dipipiku.
            “Eh, hujannya udah mulai reda nih, aku antar pulang yuk. Rumah kamu dimana?”
            “Eh gak usah kak, aku jalan aja. gak papa kok”
            “Udah sekalian sama aku aja Vio, pokoknya kamu gak boleh nolak. Oke?
            “Tapi kak.. aku gak enak”
            “Kan aku yang nawarin, kenapa harus gak enak? Ayolah” paksanya, aku akhirnya luluh dan mengangguk, sebenarnya aku sangat senang sekali, ingin sekali rasanya aku loncat-loncat sanking senangnya. Radit mengeluarkan kunci mobilnya kemudian menarik tanganku untuk naik dimobilnya, perlahan aku masuk, aku merasakan aroma harum didalam mobilnya, benar-benar mobil yang sangat nyaman.
***

            Sesampainya di kost’an ku, aku berterima kasih padanya, “Makasih ya kak, kamu baik banget sih sama aku. maaf ngerepotin”
            “Anytime dear, gak merasa direpotin kok” ujarnya tulus,
            “Yaudah aku masuk dulu ya kak” ketika aku hendak membuka pintu mobil tiba-tiba dia memegang bahku. “Hey, boleh minta nomor hp kamu gak?”
            “Oh boleh kak,” Akhirnya kami bertukaran nomor hp, aku memberinya nomor hp ku dan dia memberikan nomor hpnya untukku. “Makasih ya Viona, nice to meet you” “Nice to meet you to”
***

            “Lo tau gak Mir? Kemaren pas gue pulang sekolah, gue kenalan sama cowok ganteng, gilaa sumpah seneng banget gue” ujarku berapi-api, Mira terlihat antusias dan mendengar semua cerita ku tentang Radit, “Ih gue penasaran gila sama Radit itu, kenalin ke gue dong Viona… gue pingin liat wajahnya.. sumpah” ujar Mira antusias.
            “Nanti ya Mir, katanya dia mau jemput gue ntar pulang sekolah. Tapi gatau deh bener atau enggak” ujarku,
            “Wahh mau jemput lo Vio? Beruntung banget lo bisa kenal sama dia” Aku hanya tersenyum menyetujui perkataan sahabatku itu, ya.. benar aku memang beruntung dapat berkenalan dengan ka Radit.

            Seminggu sudah berlalu, hubunganku dengan Radit semakin dekat, banyak hal yang aku ketahui sekarang tentang dirinya, Mira juga sudah sempat kukenalkan dengannya. Walaupun sudah dibilang sangat dekat, hubungan kami masih sebatas teman, tak lebih. Terkadang aku berpikir, apakah aku pantas menginginkan hubungan kami untuk lebih dari sekedar teman? Mungkin terlalu cepat, tapi entah mengapa aku merasa sangat nyaman berada didekatnya, hubungan yang berawal dari kecintaan kami terhadap hujan, ya Tuhan.
            Aku sadar cepat atau lambat, perasaan ini tak bisa dipungkiri, semakin lama aku semakin menaruh perasaan yang lebih pada Radit, aku berharap bisa menghilangkan perasaan aneh ini, tapi aku tak punya kekuatan lebih akan itu. Yang aku tau sekarang, sulit bagiku untuk menerima kenyataan bahwa Radit jauh dariku, hatinya sudah memiliki sebagian kecil dari hatiku.
            Hari ini Radit ingin berjumpa denganku ditaman biasa kami bertemu, aku tak tahu pasti apa maksudnya menyuruhku datang menemuinya disana.
            Aku berjalan menuju bangku taman itu, dari jauh aku sudah melihat Radit duduk di bangku itu, aku mempercepat langkahku dan menepuk bahunya dari belakang.
            “Hey kak. Udah lama nunggunya?” tanyaku tersenyum,
            “Enggak kok Vio, baru aja” jawabnya, kemudian aku duduk disebelahnya, aku merasa hari ini sifatnya aneh, dia sedikit diam dan wajahnya kelihatan lagi memikirkan sesuatu.
            “Ada apa kak?” tanyaku memulai pembicaraan, “Ada yang mau aku bilang sama kamu Vi” ujar Radit, aku melihat kesedihan dimatanya, aku mulai khawatir, apa yang ingin dibicarakan oleh Radit, aku hanya diam menunggu lanjutan kalimatnya.
            “Ini perjumpaan terakhir kita” ucapnya, aku terkejut mendengar ucapannya, apa maksudnya perjumpaan terakhir? Ya Tuhan, ada apa ini?
            “Mak… mak,.. maksud nya kak?” tanyaku terbata-bata,
            “Maaf Viona, seharusnya emang dari awal aku gak biarin kamu dekat sama aku, sejujurnya, pacar aku, tahu kedekatan kita, dia pikir aku dan kamu punya hubungan khusus, jadi…” Radit diam sesaat, aku mencoba menebak apa kalimat yang akan dikeluarkannya lagi.
            Pacar? Kak Radit punya pacar? Ya Allah, kenapa aku merasa sesakit ini? kenapa aku merasa sekecewa ini ya Allah? Aku mencoba menahan air mata yang akan jatuh, aku berusaha sekuat mungkin untuk tak menangis, aku memang tak berhak menangis, dia bukan siapa-siapaku.
            “Jadi dia minta aku untuk gak berhubungan sama kamu lagi, Vi, maaf, aku gak bisa nolak permintaannya.”  Ujar Radit, kali ini air mataku benar-benar menetes, hujan pun perlahan mulai datang, mungkin Radit tak dapat membedakan mana hujan dan mana air mataku, aku benar-benar menangis. Aku sedih, aku kesal, aku kecewa, aku bingung, semua menjadi satu.
            Ya Allah kenapa seberat ini rasanya? Mungkin aku masih bisa terima kalau kak Radit memang memiliki pacar, tapi jujur aku tak bisa menerima untuk tak berhubungan dengannya lagi, ini terlalu sulit ya Allah…
            “Kenapa kak? Kenapa harus gak boleh berhubungan lagi?” tanyaku ditengah isakan tangisku, aku yakin dia menyadari aku menangis, tapi aku tak perduli.
            “Maafin aku Viona, maaf baget bikin kamu nangis, tapi aku gak bisa ngelakuin apapun”
            “Aku gak mau jauh dari kamu kak, aku gak bisa..” jawabku jujur, aku tak perduli dengan derasnya hujan yang membuat bajuku basah, aku tak perduli dengan dinginnya sore ini, aku hanya mau Radit selalu denganku. “Kamu bisa Viona, percaya sama aku, kamu bisa”ujarnya meyakinkan,  “please don’t do that, aku..a..aku sayang kamu kak” tangisku tambah kencang, aku tak dapat menahan isakan itu, aku tak tahu sejak kapan aku nangis karena cowok, tapi yang jelas aku disini berharap semua ini hanya mimpi. “Percaya sama aku akan satu hal Vio, aku juga sayang kamu. Tapi.. aku harus ngelakuin ini, aku punya pacar. Makasih udah beri begitu banyak hal indah beberapa minggu ini, aku beruntung pernah kenal kamu” Kemudian Radit mencium keningku dan pergi meninggalkanku sendiri, hanya hujan yang menemaniku, hujan yang jadi saksi bagaimana rasa sakit dan perih dihati ini.

            Aku tahu kamu sedih Viona, maafin aku telah buat kamu seperti ini, aku gak bisa ngelakuin apapun Vio, andai aku bisa merubah keadaan, andai aku bisa dikit aja ambil keputusan, tapi aku gak bisa apa-apa, aku gak bisa milih kamu, aku sudah dimiliki oleh wanita lain Viola.. maafin aku. please jangan nangis, aku gak mau kamu nangis Cuma buat cowok kayak aku.

***

            Aku mulai menerima keadaan, sudah hampir sebulan aku tak berhubungan lagi dengan Radit, jujur setiap mengingat dirinya namanya masih menyimpan sebersit luka dihatiku, apalagi setiap hujan turun, begitu banyak kenangan yang dia hadirkan dalam hidupku walau hanya beberapa hari, mungkin dia memang cinta pertamaku, tapi, bukankah cinta itu datang sendiri dan pergi dengan sendirinya? Entah sampai kapan aku memendam perasaan ini, yang jelas aku tak pernah berniat melupakannya dari hatiku, karena aku yakin, suatu saat aku akan menemukan yang terbaik, mungkin hanya tinggal menunggu waktu, entah kapan aku tak tahu, yang jelas aku akan menunggu penggantimu Radit.
            Aku memeluk boneka beruang pemberian Radit waktu itu, tangisku muncul lagi, setiap melihat boneka ini, aku selalu teringat wajah dan senyum nya,
            Kamu lagi ngapain sih kak? Pernah gak sih dikit aja kamu mikirin perasaan ini? apa kamu udah bahagia dengan pacar kamu ya?kamu udah gak ingat sama aku lagi?
            Tiba-tiba aku mendengar pintu kamarku diketuk oleh seseorang, aku cepat-cepat menghapus air mataku yang sedari tadi meluncur bebas, aku membenarkan posisi rambutku agar tak terlihat berantakan, itu pasti Mira, katanya dia akan bermain ke kost ku malam ini.
            Aku membuka pintu kamarku, tetapi dugaanku ternyata salah, dia bukan Mira, aku menebak-nebak siapa lelaki ini, karena dia menghadap membelakangiku, tetapi postur tubuhnya aku yakin sudah tak asing bagiku.
            “Hey,” sapaku, kemudian dia berbalik menatap wajahku, aku tertegun melihat siapa yang berdiri tepat didepanku, lelaki yang selama ini kurindukan, lelaki yang hampir membuatku tak punya semangat hidup, ya Tuhan, apa ini mimpi?
            “Kak Radit” ucapku tak percaya, dia hanya diam, kemudian aku mempersilahkannya masuk dan duduk di sofa kamarku, kamar kost ku lumayan besar, jadi ada ruangan khusus untuk menempatkan tamu yang berkunjung. Radit duduk di sofaku, aku pun duduk didepannya, aku bingung harus berkata apa, ingin sekali aku memeluknya, ingin sekali aku mengatakan bahwa aku sangat merindukannya.
            “Viona, apa kabar?” tanya Radit, “Aku baik kak..” jawabku singkat, Dia mengangguk, lalu terdiam lagi, aku bingung harus bagaimana, aku tak tahu apa maksudnya datang malam seperti ini, apakah dia hanya ingin memberitahu bahwa dia dan pacarnya akan segera tunangan? Atau menikah? Atau yang lain? Entahlah, aku sudah sangat kebal dengan rasa sakit ini.
            “Aku kesini karena aku rindu banget sama kamu,”
            “Masa? Tapi kamu yang minta buat gak berhubungan sama aku lagi” jawabku,
            “Aku tahu itu, tapi setelah aku jauh dari kamu Vi, aku merasa sebagian hidupku hilang, dan aku sadar aku juga gak bisa jauh dari kamu” ujarnya menatapku, aku tersenyum kecil.
            “Kak… gak usah becanda, kamu udah punya pacar, aku ngerti.”
            “Aku udah putus sama pacar aku dua minggu yang lalu” jawabnya cepat, aku tercengang, walaupun kaget tapi jujur sebagian dari hatiku merasa senang.  “Oh.?”
            “Viona, aku mutusin pacar aku, karena aku yakin, semenjak kenal kamu, hati aku Cuma buat kamu, aku cinta sama kamu” ujarnya menggenggam tanganku, air mata mulai membasahi pipiku setetes demi setetes, “Tapi kenapa waktu itu kamu tega ninggalin aku kak? Apa itu yang namanya cinta?” 
            “Waktu itu emang aku gak punya pilihan Viona, aku dijodohin, aku pacaran sama dia juga bukan kemauanku, aku gak pernah cinta sama dia, percaya sama aku”
            “Tapi kenapa kakak harus datang sekarang? Bukannya kakak bilang kakak udah putus sama dia dari semenjak dua minggu yang lalu? Hah? Kenapa kak?” ujarku menahan emosi, “Maaf, aku juga waktu itu ingin jelasin ini semua sama kamu, tapi aku tak punya keberanian, aku takut kamu marah, aku takut kamu gak mau ketemu sama aku, aku takut sama semua pikiran-pikiran aku tentang kamu Viona.” Aku terdiam mendengar penjelasan Radit, aku merasa genggamannya semakin erat, kemudian dia beralih duduk disampingku, menyentuh pipiku, dan menghusap air mataku, “Maaf udah bikin kamu nangis, maaf udah pernah bikin kamu kecewa, maaf udah ninggalin kamu waktu itu, maafin aku Vio, aku tahu aku cowok paling bodoh biarin kamu sedih karena aku,” Dia menarik ku dalam pelukannya, aku melingkarkan tanganku dipinggangnya erat, aku sadar air mataku mulai membasahi kaos hitamnya, tapi aku tak perduli.
            “Aku udah lama maafin kamu kak, aku gak pernah benci sama kamu, karena aku juga cinta sama kamu” jawabku akhirnya.
            “Kamu mau jadi pacar aku kan Viona?”
            “Tapi kamu harus janji satu hal”
            “Apa?”
            “Jangan kecewain aku, jangan pernah  ninggalin aku”
            “I’m Promise honey, please be mine”
            “I’m yours,”

            “Thanks my Rain Girl,” Aku mempererat pelukanku, aku merasa segala beban dihidupku hilang, aku tak pernah sebahagia ini, aku tak pernah sehidup ini ya Tuhan. Makasih, rencanamu sungguh indah. Makasih juga untuk hujan yang yang mempertemukan aku dan Radit, my Rain Boy. Aku cinta kamu Radit….  


nb : kak Indra, maaf kalau ceritanya gak memuaskan, but thx for idea yah :)

nb : kak Indra, maaf kalau ceritanya gak memuaskan. but thx for idea yah ;)

Kenangan Bersamamu

Kenangan bersamamu adalah suatu hal yang sulit terlupa.
Melihat senyummu adalah sebagian dari kebahagiaanku.
Terkadang lelahku memikirkan semua ini.
Terkadang sesalku membiarkan namamu tertancap dipikiranku.
Namun, apakah masih ada waktu untuk ku mengulang waktu?
Jika aku tahu bersama denganmu menimbulkan luka.
Jika aku tau bersamamu menimbulkan air mata.
Mungkin aku akan mencegah dari awal.
Namun, aku sadar, ketika bersamamu banyak hal yg aku mengerti.
Banyak hal yg kudapat.
Salah satunya, bagaimana menjadi kuat disaat tangis tak bisa dicegah.
Bagaimana menjadi kuat disaat hati tak kunjung lelah menahan penat.
Ya.... banyak hal yg kudapat saat tak bersamamu lagi.
Mgkin memang senang itu sesaat,
Setelah itu, aku balajar bagaimana menerima kesedihan di akhir cerita.

Rain is part of my life ♥♥

Ketika perlahanku membuka mataku,
Aku tersenyum lebar,
Mendung menyapaku dengan kedinginan dan kesejukannya.
Membuat aku berpikir hari ini akan indah.
Karena ku tahu butiran-demi butiran hujan akan menemani perjalanan panjangku hari ini.
Aku tak pernah lelah menunggu
Aku tak pernah bosan mengharap.
Hujan selalu datang beramai-ramai membawa kawanannya utk menyapa ku yg tengah sendiri.
Hujan  selalu membawaku ke dalam hal-hal yg membuatku melihat segala sesuatu didunia ini dari segit positif..
Entah sejak kpan.
Entah barawal dari mana
Rain was be part of my life :')
Thx for god create rain in this world.

Mimpi!!!

Perlahan kupaksa mataku untuk terbuka.
Aku tahu saat itu aku tengah mengalami mimpi.
Mimpi yang membuat kutercekat dan hampir sulit untuk bernapas.
"Tuhan.. bantu aku bangun, bantu aku terlepas dari mimpi buruk ini..."
Aku meronta ditengah mimpiku,
Ketika aku benar-benar terbangun dari mimpiku, saat itu aku sadar.
Betapa indahnya ketika bangun dari mimpi dan berpikir yang kualami beberapa saat itu hanyalah MIMPI.
Hidupku sudah sempurna, jadi buat apa aku terus mengharap mimpi yang terlalu tinggi? Karena ada saatnya mimpi itu akan menjadi sebuah jeritan histeris dikala suatu saat aku tersadar aku tak bisa bangun dari mimpi itu
Dan saat itulah aku diam membisu.
Menyesali semua yang telah terjadi.

Untill Now I Still Love You Part 3

Sudah sebulan aku menjalani kehidupan baruku di kampus, semua berjalan lancar dan tak ada halangan. Walaupun terbilang baru dikampus ini, tapi aku sudah mendapatkan banyak teman. Tidak terlalu buruk keadaan ini buatku, aku rasa aku sudah mulai menjalankan cerita hidupku dengan mulus dan tak seburuk yang kupikirkan..awalnya aku takut untuk menjalankan kehidupan baruku, tapi semua berbeda dari apa yang kupikirkan, bahkan sekarang aku merasa keadaan jauh lebih indah dari pada masa putih abu-abuku yang terlalu rumit bagiku.
            Mungkin memang inilah kenyataan yang harus kuterima, kenangan suram yang harus ku kubur dalam-dalam, tak mungkin aku terus membiarkannya terkenang dalam memori otakku, karena jauh dalam lubuk hatiku, aku sadar, aku terlalu rapus akan hal itu.
           
            “Mit, ngelamunin apa sih lo?” sapa Tirtan teman kampus baruku, sambil membawa dua botol minuman kaleng dan menyerahkan satu untuku, “Thanks,” Aku mengambil minuman itu dan membuka kemudian meminumnya, siang ini matahari begitu terik, sampai-sampai aku mengeluarkan sapu tangan kecilku dan menghusap air keringat yang sedari tadi membasahi wajahku, “Panas banget ya  Tan, harusnya kantin kampus kita di pasang AC juga biar adem, haha” Aku tertawa kecil untuk mengalihan pertanyaan Tirtan, Tirtan hanya menggelengkan kepala mengabaikan kalimatku, Tirtan adalah teman terbaikku selama aku masuk universitas baruku ini, dia sangat baik dan menjadi salah satu teman terdekatku, walaupun aku baru disakiti oleh seorang cowok, menurutku bukan berarti aku membatasi pergaulanku dengan cowok juga, karena mungkin dengan membuka lembaran baru dengan teman yang baru aku benar-benar bisa melupakan semuanya… ya. Semuanya… sampai benar-benar tak ada bekas.
            “Lo mau langsung pulang abis ini? atau gimana?” tanya Tirtan lagi,
            “Pulang aja deh, mau kemana coba? Panas-panas begini”
            “Sama siapa? Bareng gue aja yuk.”
            “Hmm boleh, kebetulan banget. Hari ini lagi males pulang sendiri” Akhirnya setelah menghabiskan makanan dan minuman aku dan Tirtan langsung pulang, aku menerima tawaran diantar oleh Tirtan oleh mobil jazz-nya, ini yang ketiga kalinya Tirtan mengantarku pulang kerumah.
            Malamnya, hujan deras, aku memutuskan untuk sedikit menaikkan  suhu AC kamarku agar tak terlalu menggigil, biasanya kalau hujan malam-malam seperti ini aku menghabiskan waktuku untuk menulis, karena kupikir disaat indah seperti ini inspirasi datang. Tapi tidak untuk malam ini, aku terlalu lelah dan letih, entah mengapa aku hanya ingin rebahan dikamarku dan memejamkan mata, aku tak tau apa yang kukerjakan seharian ini sehingga aku sangat lelah. Tapi sayangnya takdir tak membiarkanku tidur dengan gampangnya, karena tiba-tiba hpku berdering dengan lantangnya, aku mencoba mengabaikan tetapi tetap tak berhasil, mau tak mau dengan malas aku meraih benda berisik itu, aku melihat nomor yang tertera dilayar, “Unnamed” Aku mencoba menebak siapa sipenelpon ini.
            “Hallo.”
            “Ini Mitha?” tanya si penelpon, perlahan aku mengangkat sebelah tanganku dan menutup mulutku dengan cepat, tiba-tiba aku merasa jantungku berdetak lima kali lebih cepat mendengar suara itu, suara yang aku yakin tak asing ditelingaku, apa dugaanku benar? Tapi rasanya tak mungkin. “Hallo? Ini benar Mitha kan?” tanyanya sekali lagi, aku mengangguk cepat, padahal aku tahu bahwa sang penelpon sama sekali tak bisa melihat anggukan ku.
            “I..iya ini aku Mitha, i..i..ini siapa ya?” tanyaku sedikit gugup, tanganku mulai dingin mendengar suara lembut itu, suara yang sampai sekarang tak pernah bisa kulupakan. Dugaanku pasti tak salah, aku yakin itu dia, tapi mengapa? Kenapa bisa?
            “Hmm aku yakin kamu kenal suara aku Mit,” jawabnya, aku tak memberi respon apapun, aku hanya sibuk dengan pikiran-pikiranku sendiri, apakah benar?
            “Mitha, kamu tau kan aku siapa? Please jawab” lanjutnya, aku tak bisa menahan butiran yang tiba-tiba keluar dari mataku, aku tak bisa membayangkan apa jadinya kalau dugaanku benar, dari kejauhan aku bisa mendengar suara cowok itu sangat pelan dan berat, aku merasa aneh dengan gaya bicaranya, terdengar juga dia sedikit terbatuk dan seperti ditahan agar aku tak mendengarnya.
            “Ardi? Ini Ardi kan?” ujarku akhirnya, aku akhirnya menyebutkan nama itu, nama yang hampir membuat seluruh hidupku menjadi sangat rumit, membuatku sangat merindukan sosoknya, membuatku tak bisa berhenti menangis selama beberapa bulan. Lalu kalau ini benar Ardi, kerumitan apa lagi yang akan dia beri padaku?
            “Syukur kamu masih bisa ngenalin suara aku” ucapnya sedikit tertawa, saat itu juga aku benar-benar bingung, kaget, semua perasaan menjadi satu, berarti benar yang menelponnya adalah Ardi, mantan yang membuatnya hampir putus asa, orang yang sama sekali tidak pernah memberikan alasan atas kepergiannya, orang yang selama hampir satu tahun mengisi luka dalam dihatiku, orang yang tak pernah sama sekali bertanggung jawab atas kepedihan dan ketersiksaan batinku. Rasa kesal ini tak dapat dibendung, tetapi rasa rindu ini juga mulai menghampiri bagian dalam hatiku. Ya Tuhan, susah payah aku mencoba melupakan, sekuat tenaga aku coba mengikhlaskan, disaat aku hampir bahkan sudah mulai melupakannya, kenapa ya Allah… kenapa dia harus datang dan membuat air mata ini mengalir lagi? Aku mohon hentikan kepedihan ini…. jangan lagi.
            “Hmm.. oke ada apa?” tanyaku berusaha secuek mungkin, aku hanya tak ingin Ardi berpikiran aku senang mendapat telpon darinya setelah hampir setahun tak ada kabar.
            “Cuek banget, kenapa Mit? Marah banget sama aku?” tanya Ardi sedikit tertawa, aku hanya diam menunggu apa kalimat selanjutnya yang akan diucapkan cowok itu, tak bisa dipungkiri tanganku sedikit bergetar, aku gugup dan tak tahu harus apa sekarang.
            “Mitha? Aku tahu aku salah, udah hilang begitu aja, gak pernah kasih alasan sama kamu atas kepergian aku, dengar aku please, setelah ini terserah kamu mau gimana, tapi untuk terakhir kalinya, aku butuh bicara sama kamu” ujarnya panjang,  aku menarik napas lalu membuangnya kembali, “Mau bicara apa Di? Belum cukup semua yang kamu lakuin ke aku?” Hanya kata-kata itu yang akhirnya keluar dari mulutku, isakan kecil mulai terdengar dari mulutku, aku berusaha mati-matian agar isakan itu tak terdengar olehnya.
            “Tolong, sekali aja, sekali ini aja Mit, kamu cukup pegang hp kamu, dengerin penjelasan aku, terus habis itu, terserah kamu, aku gak akan bahkan mungkin gak akan pernah ganggu atau bikin hati kamu terluka lagi”
            “Mau ngomong apa?” Akhirnya aku memberi kesempatan pada Ardi untuk berbicara dan aku mendengarkan dengan baik.
            “Mitha, sebelumnya aku minta maaf telah memberi banyak luka dihati kamu dulu, aku sadar semua yang aku lakuin itu hal bodoh. Aku pindah dari sekolah itu karena aku gak mau terus-terusan buat kamu kepikiran sama aku, aku gak bisa lihat wajah kamu yang selalu sedih semenjak kita putus” Ardi menarik napas sesaat kemudian melanjutkan ceritanya. Ya, aku memang sangat sedih Di, tersiksa dan memang itu semua karena kepergian kamu.
            “Aku tahu tentang Dani, aku tau tentang bagaimana tersiksanya kamu saat dia ngejauhin kamu, Mitha walaupun aku jauh dari kamu, aku selalu tau tentang kamu, aku minta Tian untuk selalu ngabarin aku tentang kamu, aku pingin ketemu kamu saat kamu benar-benar terluka, aku pingin meluk kamu, tapi aku terlalu pengecut akan hal itu, aku selalu takut kamu marah sama aku, aku takut kamu gak mau ketemu aku, sampai akhirnya malam ini keberanian itu muncul.” Aku merasakan perubahan suara Ardi, suaranya mulai melemah, ada apa dengannya? Aku merasa dia sangat rapuh, tetapi dia terus melanjutkan kalimatnya, air mata terus mengalir dan bertambah deras disetiap kalimat-kalimat yang ia lontarkan yang membuatku tak dapat berpikir jernih. “Mitha, mungkin sekarang kamu bisa ngelupain aku, tapi percaya sama aku, nama kamu gak pernah hilang dalam hati aku, dari dulu sampai sekarang kamu masih mengisi seluruh hati dan pikiranku. Tapi, aku terpaksa meninggalkanmu, meninggalkan semua kenangan kita waktu itu, sebenarnya alasannya bukan hanya karena keluargaku, alasannya yang tepat adalah karena aku tahu aku gak akan bisa buat kamu bahagia, dan gak akan bisa hidup lebih lama daripada kamu,” ujarnya, Aku bingung dengan apa yang ia ucapkan, “Maksud kamu apa Di?” tanyaku akhirnya, aku tak bisa menahan mulutku untuk bertanya.
            “Aku sakit Mit, Liver. Dan sekarang penyakit itu tambah parah, aku gak bisa Mit, aku gamau kamu kepikiran makanya aku sembunyiin hal ini, aku gatau gimana dan kapan tiba-tiba penyakit ini datang, makanya aku cari seribu alasan buat ninggalin kamu. Padahal meninggalkan kamu, adalah satu-satunya hal paling menyakitkan didunia, kamu tahu gimana rasanya ninggalin orang yang udah bikin hari-hari kamu penuh warna, penuh cinta, aku udah ngerasain itu, aku udah ngelakuin itu sama kamu” Ardi diam, aku menunggu kalimat berikutnya, tetapi dia hanya diam, air mataku sudah mulai membasahi seluruh bagian wajahku, dinginnya malam menjadi panas, aku menangis sepuasnya, aku terisak sedalam-dalamnya. Tak menyangka, sedih, kesal, sesal, bingung semua campur aduk dalam benakku mendengar penjelasan Ardi.
            Demi Tuhan Di, aku khawatir banget sama kamu sekarang… liver? Sejak kapan? Kenapa baru sekarang? Kenapa semua baru kamu katakan sekarang setelah aku memutuskan untuk membencimu!!!
            “Kamu selalu begini, kamu mau apa sih Ardi? Hah? Hikss..,. aku coba tahan, aku coba benci kamu, aku coba lupain kamu dari hidup aku, tapi kamu sekarang datang dan menjelaskan semua hal yang harusnya kamu jelaskan dulu, bukan sekarang!! Arrrghh… sekarang kamu bilang kamu sakit? Aku..ak..?? astagfirullah”
            “Maafin aku Mit, aku tahu gimana perasaan kamu, aku minta maaf! Kalau kamu di posisi aku, kamu ngerti gimana rasanya jadi aku, Mitha aku sayang banget sama kamu, gak ada dikitpun aku berniat buat mainin perasaan kamu, aku kangen kamu. Aku minta sama kamu, sebelum semuanya berakhir, aku ingin ngomong sama kamu langsung” ujarnya, “Dimana? Kamu dimana sekarang?”
            “Aku di rumah sakit Pelita Harapan Bogor, kamu mau gak datang kesini, aku butuh kamu disaat aku yakin hidup aku bergantung pada alat-alat medis ini”
            Tangisku benar-benar pecah, mendengar kalimat itu aku hampir mau pingsan, aku berusaha menjaga keseimbangan tubuhku, aku harus menemui Ardi malam ini, tak perduli walaupun Jakarta-Bogor membutuhkan beberapa jam perjalanan, aku hanya ingin bertemu dengan Ardi, aku harus bertemu dengannya secepat mungkin.
            “Tunggu aku, please bertahan demi aku Ardi, malam ini aku kesana,”
            “Kamu jangan sendirian, ini udah males, jangan nyetir sendiri Mit, ajak teman kamu”
            “Kamu tenang aja,” Lalu kemudian aku mematikan telpon dan bersiap akan ke Bogor,

Untungnya Tirtan mau menemaniku ke Bogor malam ini, dia memang sahabat terbaikku, ada disaat aku benar-benar butuh walau kami belum lama kenal. Dia sudah seperti kakak bagiku, bahkan semua hal tentang Ardi dan tentang kehidupanku sudah banyak kuceritakan padanya. Ketika dimobil aku menceritakan semua hal pada Tirtan tentang pembicaraanku dengan Ardi, Tirtan mencoba mengerti perasaanku, dia hanya mengusap air mata yang sesekali jatuh dari mataku, “Sabar, berdoa dan tawakal, semua bakal baik-baik aja Mit, gue yakin. Jangan sedih terus, bentar lagi kita sampai kok” ucapnya menenangkanku. Aku hanya mengangguk-angguk, ketika sampai dirumah sakit tempat Ardi dirawat, dengan segera aku turun dari mobil dan menggandeng tangan Tirtan agar mengikuti langkahku, dia hanya mengikutiku. Aku mencari ruang kamar 25, karena kata Ardi itu nomor kamar dimana ia dirawat. Aku sesekali melirik jam tanganku, sudah pukul 01.00 malam, ini sudah terlalu malam. Aku melihat Tirtan mulai lelah, ketika aku menemukan kamar 25, jantungku mulai berpacu hebat, kakiku sedikit bergetar ingin masuk keruangan itu. Benarkah didalam ruangan ini ada Ardi? Ya Tuhan, betapa aku sangat merindukannya…
“Masuk gih, gue tunggu disini” ujar Tirtan,
“Gak mau ikut masuk Tan? Masa iya gue sendiri”
“Lo sendiri aja, ntar kalau butuh gue, sms aja, gue bakal masuk”
“Oke deh, gue masuk dulu, lo pasti capek, duduk aja dibangku itu.” Ujarku menunjukkan bangku kosong disebelah ruangan itu, “Iya Mit, tenang aja.” Kemudian perlahan aku membuka pintu kamar nomor 25 itu denga pelan, kemudian aku mulai melangkah masuk, ruangan yang cukup besar dan nyaman, pasti ruangan kamar ini adalah  ruangan VIP, aku melihat seorang pria sedang tertirdur diranjang kamar itu, dengan berbagai macam selang yang tertempel pada tubuhnya, lagi-lagi air mataku menetes menyadari bahwa lelaki itu memang benar-benar Ardi, cowok yang pernah membuat hari-hariku bahagia dan menderita. Separah inikah kondisinya? Berarti tadi dia menelponku dalam keadaan sangat rapuh, tetapi dia masih bisa tertawa seperti tak terjadi apapun. Aku berjalan lambat menuju ranjang tempat tidur itu, dan kemudian duduk disalah satu bangku yang berada disisi ranjang, tak ada siapapun kecuali Ardi, lalu kemana orangtua atau saudara-saudaranya? Mengapa tak ada satupun yang menjaga Ardi disini? Benar-benar keterlaluan!
Aku memberanikan diri menyentuh tangan Ardi, ada selang infus yang tertempel disana, tanagannya dingin, sangat dingin, tanpa sadar air mataku membasahi pergelangan tangannya, perih dihati ini tak dapat kutahan, sakit yang teramat dalam menyiksa batinku melihat kondisinya yang sangat rapuh sekarang, kenapa takdir mempertemukan kita disaat kau seperti ini? ah, bukan takdir, ini memang rencanamu yang menyembunyikan semua kondisi ini.
Tangan Ardi mulai bergerak, aku tersentak kaget, cepat-cepat aku menghapus air mata yang membanjiri pipiku, matanya mulai terbuka dan kulihat segaris senyum memenuhi wajahnya saat melihatku, dia sangat rapuh, aku dapat melihatnya, wajahnya benar-benar pucat, aku takut terjadi Sesuatu hal buruk padanya, aku takut kehilangannya, aku takut tak dapat melihat senyum itu lagi, karena aku merasakan firasat buruk yang akan terjadi hari ini, Tuhan… haruskan perasaan ini kembali? Ini tak adil, sudah terlalu cukup aku begini. Ardi membelai rambutku perlahan dengan sebelah tangannya, kemudian menghusap air mataku.
“Tolong jangan nangis Mit, aku pingin lihat senyum kamu” ujarnya lemah, aku memaksakan sedikit senyum ditengah deraian air mata yang tak dapat berhenti ini, bagaimana caranya aku tersenyum ketika melihatnya separah ini?
“Ardi, aku kangen kamu” ucapku tulus, kemudian dia tersenyum lagi.
“Syukur kamu kangen aku, berarti kamu gak benci atau marah sama aku”
“Aku gak pernah marah atau benci akan semua yang terjadi sama kita Di, aku cuma bingung dengan semua sifat kamu”
“Maaf, aku terlalu bodoh memang, sekarang semua udah terjadi, semua udah terungkap. Kamu udah tau semuanya, dan aku lega kamu gak benci sama aku” Ardi menggenggam tanganku dengan tangannya yang dingin, lalu mencium dengan lembut jari-jari tanganku, aku bergeming, menahan tangis yang akan meledak, mencoba menahan semua emosi yang tertahan didalam jiwa.
Aku hanya mencoba bertahan walau sakit, mencoba tegar disaat rapuh, mencoba menerima kenyataan disaat takdir tak berpihak padaku, lalu dimana kebahagiaan itu sekarang? Bahagiaku hanya satu, aku hanya ingin Ardi sembuh dan aku melihatnya sehat seperti dulu, aku tak perduli bisa terus bersamanya atau tidak, aku sudah tak berharap akan hal itu, yang aku mau hanya melihatnya terbebas dari semua alat-alat ini, ya Allah..
“Aku sayang kamu Mitha, aku masih sangat mencintaimu” ujar Ardi menatap mataku, aku tak bisa menatap matanya, aku melihat Ardi menangis, mengeluarkan air mata, aku menggigit bibirku sendiri, agar isakan ini tak terdengar.
“Aku sayang kamu Di, aku juga masih mencintaimu” ujarku terbata-bata.
“Janji akan terus hidup bahagia tanpa aku, cuma itu yang aku minta Mit, cari cinta mu pada lelaki lain selain aku, karena aku tau nafas terakhirku tak akan lama lagi, aku benar-bena sakit”
“Aku janji, hikss… aku janji akan terus mencintaimu Ardi, makasih… ma..ma..kasih begitu banyak hal yang kamu hadirkan dalam hidupku, aku cuma mau kamu bahagia.. aku akan bahagia, terus bahagia” Aku mencium tangan Ardi, kemudian memeluknya sangat erat, aku merasakan dia melingkarkan tangannya dibadanku, kemudian aku melepaskan pelukan itu, mata Ardi terpejam, bunyi panjang dari monitor yang menunjukkan kerja jantung Ardi, garis itu tak bergerak naik-turun lagi, hanya ada garis panjang yang menunjukkan bahwa jantung Ardi sudah tak bekerja. Aku berusaha kuat, menahan sesak yang teramat dalam dihati ini, beberapa detik kemudian suster dan beberapa orang perawat masuk kekamar Ardi, aku mendur perlahan, jatuh terduduk dilantai sambil memeluk lututku, menangis sepuasnya dan terisak sedalam-dalamnya… kemudian Tirtan datang memelukku dan menenangkanku, aku memeluk Tirtan erat, sangat erat sampai aku tak tahu apakah aku bisa melepaskannya lagi, kemeja yang ia kenakan juga sudah mulai membasah. Aku tak perduli, kemudian Tirtan merangkulku untuk berdiri dan membawaku pergi, kami tak langsung pulang ke Jakarta Karena aku ingin melihat Ardi untuk terakhir kalinya dan ingin menyaksikan pemakan Ardi. Aku memutuskan menginap disalah satu hotel di Bogor dengan Tirtan, tentu saja berbeda kamar. Aku tak tahu apa jadinya aku tanpa Tirtan yang selalu ada disisiku.
***

Ke’esokan harinya, tepat habis solat juhur pemakaman Ardi dilaksanakan, aku yang didampingi oleh Tirtan datang untuk melihat prosesi pemakamannya, sempat aku melihat beberapa kerabat dan keluarga Ardi yang menangis tersedu-sedu dimakam Ardi, ternyata dugaanku salah, keluarga Ardi di Bogor sangat banyak, begitupun dengan kerabat-kerabatnya. Aku juga sempat berbincang dengan salah satu dari mereka.
Tetapi, aku belum melihat sama sekali kedua orangtua Ardi, dimana mereka? Apakah mereka tahu bahwa anaknya sudah tiada? Ah, aku baru ingat bahwa kedua orang tuanya sudah tidak bersama, tapi apakah mungkin mereka tidak perduli lagi dengan kondisi anak kandungnya sendiri? Pertanyaan demi pertanyaan terus menghampiriku, karena aku juga sama sekali belum pernah mengenal kedua orang tua Ardi.
Setelah semua orang sudah berlalu dari pemakaman Ardi, tetapi aku dan Tirtan tidak, aku memohon pada Tirtan untuk lebih lama berada disini, dan Tirtan bersedia menemaniku. Aku duduk disamping makan Ardi, menebarkan beberapa kelopak mawar diatasnya dan menyiram dengan air, perlahan air mataku menetes lagi, begitu banyak hal yang telah terlewatkan, begitu banyak kenangan yang mungkin belum bisa sepenuhnya hilang tentang kebersamaan kita, aku coba melupakan dan hampir berhasil, tetapi ketika aku melihat makam yang tertera nama Ardi dinisan itu, semua kenangan muncul perlahan tetapi membuat sesak didadaku semakin menjadi-jadi.
“Seharusnya kamu harus bertahan hidup lebih lama Di, seharusnya kamu gak membiarkan aku melihat nama kamu tertera di batu nisan ini. maafin aku yang mungkin selalu berpikir negative tentang semua hal tentang kamu, jujur aku kehilangan kamu banget. Aku masih ingin melihat senyum kamu Di” Aku menghusap air mataku yang menetes lagi, sudah terlalu lelah aku menangis, sudah hampir habis tenaga ku untuk berbicara, aku hanya mengharap Ardi tenang di atas sana. Tirtan yang melihatku menangis sesegukan merangkul pundakku, aku membenamkan kepalaku didadanya, mencoba mengambil segenap tenaga yang tersisa.
“Mencoba mengikhlaskan itu yang terbaik Mit, biar dia tenang disana, jangan ditangisi terus, dia gak suka lihat lo begini” ujar Tirtan menenangkanku, 
“Tan, kenapa semua harus berakhir seperti ini? kenapa ters-terusan seperti ini? apa gak ada nasib baik yang memihak ke gue? gue pingin dikit aja merasa kebahagiaan dengan orang yang gue sayang Tan, tapi semuanya harus pergi, dan disini gue sendiri Tan, gue gak sanggup.” Tangisku semakin pecah dan dalam, kali ini Tirtan memelukku erat, “Semua ini udah di atur Tuhan. Yakin semua ini yang terbaik buat elo dan Ardi, Mitha, masih ada gue disini, yang selalu ada buat lo, selalu ada saat lo butuh. Gue janji Mit, gue bakal lakuin apapun buat bikin lo nyaman sama gue” ujar Tirtan tulus.
Ardi… bahagia ya disana, mungkin kita bisa bertemu lain waktu, aku janji akan terus menyimpan kenangan-kenangan kita menjadi sebuah kepingan didalam memori otakku, makasih sudah datang dikehidupanku, mengisi semua bagian dihidupkan dengan tawa dan air mata, makasih buat cinta yang kamu beri untuk aku. aku janji akan bahagia tanpa kamu, karena aku tahu kamu akan kekal dihati aku. sekarang, besok ataupun beberapa tahun kedepan, aku tak akan melupakanmu sebagai orang terpenting dalam kehidupanku.
Aku mencium nisan itu sesaat lalu mengajak Tirtan pergi dari sana, Tirtan benar, aku masih memilikinya, jadi tak ada yang perlu ku khawatirkan, memiliki Tirtan sudah menjadi anugerah untuk hidupku, dia baik, perhatian dan selalu ada untukku.

Sebulan kemudian, Tirtan mengajakku kepantai disaat libur kuliah, aku sangat senang jika ada yang mengajakku ke pantai, dengan senang hati aku menyetujui ajakan Tirtan.
“Tumben banget lo ngajak gue kesini Tan, coba dari dulu kan enak haha” Aku menyenggol bahu Tirtan jahil, Tirtan kembali meneguk minumannya, kemudian dia tersenyum simpul ke arahku, tak tahu kenapa sekarang setiap melihat senyum yang diberikan Tirtan padaku, aku merasa senyum itu berarti, yang membuat jantungku sering berdebar saat disampingnya, Oh Tuhan, tolong hentikan rasa gugup ini. Angin berhembus dengan kuat membuat rambut panjangku berhamburan kemana-mana, desiran ombak laut menyentuh kakiku dan Tirtan, aku tertawa sambil menyentuh air-air yang datang. Aku melihat Tirtan yang sedari tadi tak berhenti menatapku sambil tersenyum.
“Lo kenapa? Liatin gue terus? Ada yang salah sama penampilan gue?” tanyaku penasaran, dia hanya menggeleng kemudian membenarkan letak rambutku yang berantakan.
Sumpah ya Allah, kenapa gue jadi deg’degan gini ya? Aduhh mampus… ini si Tirtan kenapa lagi kok ngeliatin gue segininya.
“Gue sayang sama lo Mit, sayang banget” ujar Tirtan, aku bergeming, tak percaya Tirtan mengatakan hal itu, sekarang jantungku benar-benar berdetak dua kali lipat, rasa sayang apa yang Tirtan maksud, entahlah aku tak bisa berpikir jernih sekarang. Aku hanya diam dan diam seperti orang bodoh.
“Hey, malah diam. Mitha gue serius, gue sayang sama lo” ucap Tirtan menegaskan, mataku mulai kabur, Jangan nangiss… jangan nangis please.. oh my God!!! Dan akhirnya setetes air mata membasahi pipiku, bahagia atau sedih akupun tak bisa mengartikannya dengan jelas. Yang pasti aku yakin, aku juga memiliki perasaan yang sama seperti Tirtan.
“Gue juga sayang sama lo Tan” jawabku seadanya, aku bingung harus menjawab apa, karena memang aku menyayanginya, sangat sayang padanya sampai-sampai mungkin aku tak tahu apa jadinya aku tanpanya. “Duh jangan nangis dong, kok jadi nangis sih” Aku cepat-cepat menghapus air mataku lagi, aku tertawa sejenak. “Lo buat gue nangis sih Tan,”
“Mitha, mungkin ini terlalu cepat, tapi gue gak bisa bohongin perasaan gue ke elo, gue gak mau kehilangan lo, gue mau terus bersama lo Mit. Gue sayang bahkan cinta sama lo” ujarnya lagi, aku menatapnya tak percaya, apa yang kudengar tadi benar-benar jelas ditelingaku. Tirtan mencintaiku? Apa mungkin? Lalu bagaimana dengan perasaan ini ya Tuhan? Aku juga tak mau kehilangannya, tapi aku belum yakin aku juga mencintainya.
“Don’t say please Tirtan, gue juga gak mau kehilangan lo.”
“Gue serius, gue mau lo jadi pacar gue” Tirtan menggenggem tanganku, dia menatapku sungguh-sungguh. Aku tak punya kekuatan lebih untuk menolak permintaannya… tapi jujur aku masih trauma dengan sebuah hubungan.. bagaimana ini ya Tuhan?
“Lo mau gak jadi pacar gue Mit?”
“Gue takut Tan, gue takut lo bakal ninggalin gue kayak Ardi dulu, bukan maksud gue buat ngungkit-ngungkit masa lalu gue, tapi…” Tirtan memotong pembicaraanku.
“Gue ngerti, gue ngerti gimana posisi lo, tapi gue janji gak bakal ninggalin lo Mit, karena gue bener-bener sayang sama lo. Please”
Tiba-tiba aku ingat dengan kata-kata Aunty vera dulu,  ‘Jangan mikir gimana caranya buat ngelupain Ardi, coba pikir gimana caranya buat buka hati buat yang lain, dengan begitu dengan mudah kamu bisa ngelupain Ardi, satu hal ya sayang, kita gak akan merasakan betapa pentingnya seseorang dihidup kita sebelum kita kehilangan orang itu’
Mungkin memang aku tidak terlalu mengingat Ardi lagi semenjak ada Tirtan yang selalu ada untukku, mungkin aunty benar, aku harus membuka hati untuk orang lain, agar aku tak menyesal. Apa salahnya? Toh Tirtan sudah mampu membuat jati diriku kembali. Dan aku yakin, aku tak akan sanggup kehilangannya.
Aku melingkarkan tanganku di lehernya, membiarkan tubuh mungilku berada dalam dekapannya, mungkin ini saat yang tepat aku benar-benar membuka kehidupanku yang baru, bersama Tirtan, karena aku merasa hanya bersamanya semua hal yang rumit itu menjadi mudah.
“Gue percaya sama lo Tan, dan gue mau jadi pacar lo” jawabku yakin, tak pernah aku merasa seyakin ini dalam hidupku. Kemudian Tirtan memelukku lebih erat lagi, kemudian mencium keningku dan mulai mengecup bibirku lembut.
“Aku janji gak bakal bikin kamu kecewa sayang, karena kamu, aku yakin semua hal didunia ini sudah cukup.”
“Jangan ngecewain aku, karena aku juga gak bisa bayangin apa jadinya aku tanpa kamu”

Cinta memang seharusnya mengerti tentang semua hal yang tak dimengerti, disaat aku memang butuh perhatian dan pengertian, dia datang tepat pada waktunya. Sekarang aku akan menunjukkan pada dunia, pada Ardi, dan pada siapapun, bahwa aku telah memilikinya, memliki seseorang yang memang kucari selama ini, seseorang yang mampu membuatku merasa nyaman.


End

My Slide Show Photo

My Slide Show Photo by Slidely Slideshow

- Copyright © 2013 Trivani Desyara - Trivani Desyara - Powered by Blogger - Designed by Rain Boy -