Archive for July 2013
Awal Pertemuan Dengannya
Awal pertama kita bertemu mengisahkan sedikit tanda tanya di benakku.
Kau hadir membawa sejuta hal yg tak pernah kurasakan.
Awalnya aku tak pernah berpikir bahwa kita akan sedekat ini.
Pertemuan yg tiba-tiba dan perkenalan yg singkat itu menjadi salah satu pegangan kita.
Kau membawa sebuah harapan,
Kau menunjukkan cinta dan kau mulai mengisi bagian dalam diriku yg haus akan kasih sayang..
Ntah sejak kapan.
Ntah berawal dari mana hatiku mulai luluh.
Hatiku mulai terus mengingat namamu.
Otakku selalu mengingat setiap kata yg kau ucapkan untukku..
Tuhan..
Apakah ini terlalu cepat?
Aku harap ini tak salah dan tak merugikan siapapun.
Biarkan kami merasakan kebahagiaan itu tanpa harus merasakan luka...
Biarkan kami menikmati setiap detik kenangan ini dengan senyuman .
Aku sadar, dengan hadirnya dia dihidupku, memberiku begitu banyak pembelajaran yg sulit kumengerti...
Dia mengajarkanku bagaimana melihat semua ini dari segi positif.
Aku butuh dia..
Aku butuh dia untuk bisa mencegah sedikit rasa sakit ini... karena hanya dengan dia aku merasa segala di dunia ini akan terasa baik-baik saja.. karena aku tahu, aku sudah jatuh kedalam cintanya...
Kau hadir membawa sejuta hal yg tak pernah kurasakan.
Awalnya aku tak pernah berpikir bahwa kita akan sedekat ini.
Pertemuan yg tiba-tiba dan perkenalan yg singkat itu menjadi salah satu pegangan kita.
Kau membawa sebuah harapan,
Kau menunjukkan cinta dan kau mulai mengisi bagian dalam diriku yg haus akan kasih sayang..
Ntah sejak kapan.
Ntah berawal dari mana hatiku mulai luluh.
Hatiku mulai terus mengingat namamu.
Otakku selalu mengingat setiap kata yg kau ucapkan untukku..
Tuhan..
Apakah ini terlalu cepat?
Aku harap ini tak salah dan tak merugikan siapapun.
Biarkan kami merasakan kebahagiaan itu tanpa harus merasakan luka...
Biarkan kami menikmati setiap detik kenangan ini dengan senyuman .
Aku sadar, dengan hadirnya dia dihidupku, memberiku begitu banyak pembelajaran yg sulit kumengerti...
Dia mengajarkanku bagaimana melihat semua ini dari segi positif.
Aku butuh dia..
Aku butuh dia untuk bisa mencegah sedikit rasa sakit ini... karena hanya dengan dia aku merasa segala di dunia ini akan terasa baik-baik saja.. karena aku tahu, aku sudah jatuh kedalam cintanya...
Rain Boy and Rain Girl(please jangan dihapus)
Aku
melihat dari balik jendela kelasku, gerimis mulai turun dengan perlahan, aku
mulai mengukir senyum diwajahku, biasanya jika gerimis mulai datang tak lama
lagi hujan akan turun. Pikirku, aku melirik jam tangan yang melingkar
dipergelangan tanganku, sebentar lagi jam waktu pulang sekolah akan tiba, aku
berniat untuk pulang dengan jalan kaki, menikmati setiap tetesan hujan yang
membasahi bumi, mungkin sebagian orang menganggapnya aneh, tetapi aku tak
perduli, apapun yang berhubungan dengan hujan, itu sudah menjadi bagian dari
hidupku. Namaku Viona Larasati, panggil aja Viona atau Vio, sekarang aku duduk
dibangku kelas dua belas, aku tinggal di Bandung, walaupun aku kelahiran di
Jakarta, tetapi aku memutuskan untuk melanjutkan SMA di Bandung karena aku
sangat menyukai kota ini, dan untungnya orangtua ku menyetujui kepindahanku ke
Bandung, dan aku memutuskan untuk tinggal di kost’an kecil di daerah Bandung.
Aku memang terbiasa hidup mandiri, jadi hanya untuk sekedar tinggal dikota ini
sendirian, tak masalah besar bagiku.
Jam pulang sekolah tiba, dengan
cepat aku membereskan semua peralatan tulisku dan memasukkannya dengan rapi
kedalam tas. “Hey, mau pulang jalan kaki lagi lo?” tanya Mira, teman sebangku
ku, aku tersenyum dan mengangguk. “Kenapa Mir? Mau ikut? Haha” candaku, dia
menggeleng dengan cepat. “Ogah, males banget gue basah-basahan, huh” jawabnya
polos.
“Kan pake payung sayang, basah juga
paling Cuma dikit” jawabku datar, dia tetap menggelang dengan pasti. Aku hanya
mengangkat bahaku tanda menyerah. “Yuk pulang” aku menarik tangan sahabatku itu
dan kami bergegas meninggalkan kelas.
Benar saja, hujan perlahan mulai
turun dengan lebatnya dan membuat semua orang mengeluh karena kedinginan dan
kebasahan, tapi berbeda denganku, setiap tetesan hujan yang jatuh aku selalu
mensyukuri ciptaan Tuhan ini. Aku mengeluarkan payung kecil dari tasku dan
membukanya, kemudian pelan-pelan aku menginjakkan kakiku di atas genangan air
di aspal jalanan. “Viona…” panggil seseorang dari arah belakang, aku langsung
melihat siapa yang memanggilku, suara itu tak asing lagi bagiku. Dia adalah
Roni, cowok terkenal playboy
disekolahku ini, banyak gadis yang memuja dan memujinya tapi tidak bagiku,
sudah beberapa kali dia menyatakan cinta padaku tetapi ku tolak, karena aku tak
mau jatuh dalam permainannya. “Ada Apa Ron?” tanyaku acuh tak acuh, “Pulang
sama gue aja yuk, naik motor, kan hujan Vio, ntar lu sakit” ujarnya, “Hmm.. gak
papa lagi Ron, gue suka sama hujan kok, jadi ya lu gak usah repot-repot ngantar
gue, oke? Thanks” balasku lalu
bergegas pergi meninggalkan Roni yang kesal melihat tingkahku padanya. Dih males banget deh gue sama dia, dasar
playboy.
***
Aku berjalan terus sambil menikmati
tetesan-tetesan hujan yang jatuh ke bumi ini, terkadang aku menyentuh butiran
itu dari balik payung hijauku, samar-samar aku melihat seorang lelaki memakai
kemeja coklat dengan celana hitam panjang duduk dihalte bus sendirian,
disebelahnya terparkir sebuah mobil jazz putih, mobil siapa itu? Apakah
mobilnya? Tetapi kenapa dia duduk di halte itu? Untuk apa dia sendirian menatap
rintikan hujan dihalte itu? Aneh! Pikirku, kemudian aku berjalan mendekati
halte itu, pandanganku tak lepas dari sosok lelaki muda tampan itu. Oke Viona.. kenapa gue bisa bilang dia
ganteng? Padahal baru liat juga, astagfirullah, dasar bodoh.
Aku sekarang berjalan tepat
didepannya, bodohnya aku tetap melihatnya, dan sekarang dia juga melihatku, dia
menatapku bingung, aku juga bingung dengan diriku yang tak bisa lepas dari
pandangan matanya, lalu kemudian aku bisa merasakan segaris senyum dia berikan
padaku, aku membalasnya dengan senyuman kecil juga. “Hey, kenapa liatin aku
kayak gitu banget?” tanya cowok itu padaku sambil tersenyum ramah, aku kaget
mendengar pertanyaannya, “Ehh. Hmm.. ini, eumm gak papa kok kak, maaf” ucapku
terbata-bata, aku rasa dia lebih tua daripadaku jadi aku menyebutnya dengan
panggilan ‘kak’ oke mungkin lebih baik seperti itu untuk menghormati. Dia
tertawa kecil melihat kegugupanku, aku pun tersenyum malu.
Astaga
ya ampun, mimpi apa gue bisa ketemu orang seganteng ini, senyumnya ya Allah…
manis bangettt.
“Kenapa minta maaf? Gak papa kok,
aneh ya lihat aku duduk disini sendirian?” tanya cowok itu seperti tahu apa
yang kupikirkan, aku hanya tersenyum tak jelas sebagai jawaban. Aku tetap
berdiri disitu, aku tak tahu apa yang harus kulakukan sekarang, apakah harus
pergi atau tetap berdiri disini? Entahlah, aku hanya menunggu kalimatnya saja.
“Hehe, kamu lucu deh, dari pada kamu
berdiri disitu, mendingan kamu temenin aku duduk disini” ujarnya sambil
mempersilahkan aku duduk disampingnya, dan parahnya aku merasa jantungku
benar-benar tak karuan. “Engg..enggak usah kak, aku langsung pulang aja”
jawabku akhirnya, karena aku merasa belum kenal sama sekali dengan cowok
dihadapanku ini, aku memutuskan untuk menjaga jarak, bukan bermaksud berpikiran
negative, tetapi aku rasa tak seharusnya aku duduk dengannya disitu, karena
kami sama-sama belum saling mengenal.
“Kamu mau pulang? Hujannya deras
banget loh, ntar seragam kamu basah”
“Aku suka hujan kok, so, no problem” jawabku masih dengan
senyuman, kemudian aku perlahan mulai melangkahkan kaki ku meninggalkan cowok
itu, kemudian aku merasa cowok yang belum kukenal itu menarik pergelangan
tanganku, aku terhenti, sekarang aku benar-benar gugup, untuk apa dia memegang
tanganku.
“Kamu suka hujan? Hey, aku juga suka
hujan loh” ucapnya tanpa ditanya, tapi kemudian mataku membesar, terkejut atas
pengakuannya, apa benar dia juga pecinta hujan sama sepertiku? Jujur jarang
sekali aku melihat lelaki yang menyukai hujan. “Serius kak? Masa sih?” tanyaku
tak percaya, kemudian dia menganggukkan kepalanya cepat. Aku masih menatapnya
dengan tatapan tak percaya. “It’s why I’m
here.” Jawabya santai, kemudian saat itu juga gemuruh petir datang dengan
suara yang sangat kencang, aku kaget dan sangat ketakutan, aku menutup mataku
dan kupingku, membiarkan payungku jatuh, dan akhirnya bajuku basah karena
terkena butiran-demi butiran hujan siang itu. “Kan baju kamu basah tuh, udah
temenin aku aja disini dulu, kita bisa cerita bareng tentang hujan. Ayolah, aku
bukan orang jahat kok” ajaknya, mau tak mau aku harus menyetujui permintannya,
karena jujur tak mungkin aku pulang sekarang ditengah petir yang sangat besar
ini, aku memang sangat mencintai hujan, tapi aku tak suka petir!
“Sini duduk disamping aku, ngapain
kamu berdiri disitu terus.” Ujarnya sambil menarik tanganku untuk duduk
disampingnya, akhinya aku pun duduk disampingnya, aku merasakan kehangat saat
aku berada disampingnya, demi tuhan lelaki ini hampir membuat nafasku berhenti,
ramah, baik, sopan, tampan, ya ampun…
aku hanya bisa diam tak berkutik selama disampingnya, aku tak sanggup
berbicara apapun.
“Kamu bilang kamu suka hujan kan? Sejak
kapan?” tanya nya memulai pembicaraan, masih dengan nada bicara yang lembut dan
membuatku nyaman berada didekatnya, “Udah lama sih kak, semenjak kecil juga
suka sama hujan” jawabku,
“Oh ya? Emang kenapa kamu suka sama
hujan?” tanya nya lagi,
“Hujan itu indah, hujan itu damai,
hujan itu penuh dengan kenangan, dan hujan itu udah bagian dari hidup aku kak”
jawabku lagi sambil terus memandangi hujan yang turun bergiliran. Setiap melihat
hujan aku tak dapat menahan kekagumanku akan ciptaan tuhan yang satu ini,
betapa indahnya hujan.
“Oh.. iya yah, hujan itu indah
banget. Kamu bener, orang bodoh yang gak suka sama hujan” Aku mengangguk meng-iyakan ucapannya, “Kakak
sendiri kenapa bisa suka sama hujan?” tanyaku, kali ini aku memberanikan diri
menatap nya.
“Gak tahu entah sejak kapan,
semenjak hujan datang, aku selalu merasa beban dihidupku hilang, sejenak aku
bisa melupakan masalah-maslaah yang ada dikehidupanku, itu alasan aku sangat
suka sama hujan.” Jawabnya. Aku mengangguk meng-iyakan ucapannya, tak menyangka
aku bisa bertemu dengan lelaki yang begitu senang dengan hujan.
“Oh iya, nama kamu siapa kalau boleh
tau?” tanya cowok itu menatapku, aku menjulurkan tanganku dan dia membalas
juluran tanganku, “Viona” jawabku, “Radit” jawabnya sambil tersenyum.
Ya
Allah.. demi apapun, gue senang banget bisa kenalan sama kak Radit, astaga
tangannya lembut banget…bisa pingsan gue disini.
Pikiranku mulai berkeliaran entah kemana.
“Kamu kelas berapa Viona?” tanya nya
lagi, “Kelas dua belas kak” jawabku, dia hanya mengangguk. “Kakak kuliah atau
udah kerja?”
“Aku kuliah sambil kerja, hehe.”
“Oh ya? Hebat dong kak. Oh ya, kalau
boleh tau, kenapa kak duduk sendiri disini? Itu mobil kakak kan? Kenapa gak
langsung pulang?” Aku sangat penasaran jadi aku memutuskan untuk bertanya
padanya.
“Iya itu mobil aku, aku tadi lagi
nyetir, rencana mau pulang sih, Cuma tiba-tiba hujan turun kan, yaudah aku liat
ada halte kosong disini, aku duduk aja. niatnya mau mandangin hujan gitu Vi”
ujarnya, “Wow, sesuka itu sama hujan yah? Sama kayak aku”
“Iya emang aku suka hujan, suka
banget, kebetulan ketemu sama kamu
disini, beruntung banget ya aku, ketemu gadis cantik, baik, suka hujan lagi”
jawabnya memandangiku, aku tersenyum malu mendengar ucapannya tentangku. Aku tak
dapat menahan senyum yang berkeliaran dipipiku.
“Eh, hujannya udah mulai reda nih,
aku antar pulang yuk. Rumah kamu dimana?”
“Eh gak usah kak, aku jalan aja. gak
papa kok”
“Udah sekalian sama aku aja Vio,
pokoknya kamu gak boleh nolak. Oke?
“Tapi kak.. aku gak enak”
“Kan aku yang nawarin, kenapa harus
gak enak? Ayolah” paksanya, aku akhirnya luluh dan mengangguk, sebenarnya aku
sangat senang sekali, ingin sekali rasanya aku loncat-loncat sanking senangnya.
Radit mengeluarkan kunci mobilnya kemudian menarik tanganku untuk naik
dimobilnya, perlahan aku masuk, aku merasakan aroma harum didalam mobilnya,
benar-benar mobil yang sangat nyaman.
***
Sesampainya di kost’an ku, aku
berterima kasih padanya, “Makasih ya kak, kamu baik banget sih sama aku. maaf
ngerepotin”
“Anytime
dear, gak merasa direpotin kok” ujarnya tulus,
“Yaudah aku masuk dulu ya kak”
ketika aku hendak membuka pintu mobil tiba-tiba dia memegang bahku. “Hey, boleh
minta nomor hp kamu gak?”
“Oh boleh kak,” Akhirnya kami
bertukaran nomor hp, aku memberinya nomor hp ku dan dia memberikan nomor hpnya
untukku. “Makasih ya Viona, nice to meet
you” “Nice to meet you to”
***
“Lo tau gak Mir? Kemaren pas gue
pulang sekolah, gue kenalan sama cowok ganteng, gilaa sumpah seneng banget gue”
ujarku berapi-api, Mira terlihat antusias dan mendengar semua cerita ku tentang
Radit, “Ih gue penasaran gila sama Radit itu, kenalin ke gue dong Viona… gue
pingin liat wajahnya.. sumpah” ujar Mira antusias.
“Nanti ya Mir, katanya dia mau
jemput gue ntar pulang sekolah. Tapi gatau deh bener atau enggak” ujarku,
“Wahh mau jemput lo Vio? Beruntung
banget lo bisa kenal sama dia” Aku hanya tersenyum menyetujui perkataan
sahabatku itu, ya.. benar aku memang beruntung dapat berkenalan dengan ka
Radit.
Seminggu sudah berlalu, hubunganku dengan
Radit semakin dekat, banyak hal yang aku ketahui sekarang tentang dirinya, Mira
juga sudah sempat kukenalkan dengannya. Walaupun sudah dibilang sangat dekat,
hubungan kami masih sebatas teman, tak lebih. Terkadang aku berpikir, apakah
aku pantas menginginkan hubungan kami untuk lebih dari sekedar teman? Mungkin
terlalu cepat, tapi entah mengapa aku merasa sangat nyaman berada didekatnya,
hubungan yang berawal dari kecintaan kami terhadap hujan, ya Tuhan.
Aku sadar cepat atau lambat,
perasaan ini tak bisa dipungkiri, semakin lama aku semakin menaruh perasaan
yang lebih pada Radit, aku berharap bisa menghilangkan perasaan aneh ini, tapi
aku tak punya kekuatan lebih akan itu. Yang aku tau sekarang, sulit bagiku
untuk menerima kenyataan bahwa Radit jauh dariku, hatinya sudah memiliki
sebagian kecil dari hatiku.
Hari ini Radit ingin berjumpa
denganku ditaman biasa kami bertemu, aku tak tahu pasti apa maksudnya menyuruhku
datang menemuinya disana.
Aku berjalan menuju bangku taman
itu, dari jauh aku sudah melihat Radit duduk di bangku itu, aku mempercepat
langkahku dan menepuk bahunya dari belakang.
“Hey kak. Udah lama nunggunya?”
tanyaku tersenyum,
“Enggak kok Vio, baru aja” jawabnya,
kemudian aku duduk disebelahnya, aku merasa hari ini sifatnya aneh, dia sedikit
diam dan wajahnya kelihatan lagi memikirkan sesuatu.
“Ada apa kak?” tanyaku memulai
pembicaraan, “Ada yang mau aku bilang sama kamu Vi” ujar Radit, aku melihat
kesedihan dimatanya, aku mulai khawatir, apa yang ingin dibicarakan oleh Radit,
aku hanya diam menunggu lanjutan kalimatnya.
“Ini perjumpaan terakhir kita”
ucapnya, aku terkejut mendengar ucapannya, apa maksudnya perjumpaan terakhir? Ya
Tuhan, ada apa ini?
“Mak… mak,.. maksud nya kak?”
tanyaku terbata-bata,
“Maaf Viona, seharusnya emang dari
awal aku gak biarin kamu dekat sama aku, sejujurnya, pacar aku, tahu kedekatan
kita, dia pikir aku dan kamu punya hubungan khusus, jadi…” Radit diam sesaat, aku
mencoba menebak apa kalimat yang akan dikeluarkannya lagi.
Pacar?
Kak Radit punya pacar? Ya Allah, kenapa aku merasa sesakit ini? kenapa aku
merasa sekecewa ini ya Allah? Aku mencoba menahan air mata yang akan jatuh,
aku berusaha sekuat mungkin untuk tak menangis, aku memang tak berhak menangis,
dia bukan siapa-siapaku.
“Jadi dia minta aku untuk gak
berhubungan sama kamu lagi, Vi, maaf, aku gak bisa nolak permintaannya.” Ujar Radit, kali ini air mataku benar-benar
menetes, hujan pun perlahan mulai datang, mungkin Radit tak dapat membedakan
mana hujan dan mana air mataku, aku benar-benar menangis. Aku sedih, aku kesal,
aku kecewa, aku bingung, semua menjadi satu.
Ya
Allah kenapa seberat ini rasanya? Mungkin aku masih bisa terima kalau kak Radit
memang memiliki pacar, tapi jujur aku tak bisa menerima untuk tak berhubungan
dengannya lagi, ini terlalu sulit ya Allah…
“Kenapa
kak? Kenapa harus gak boleh berhubungan lagi?” tanyaku ditengah isakan
tangisku, aku yakin dia menyadari aku menangis, tapi aku tak perduli.
“Maafin aku Viona, maaf baget bikin
kamu nangis, tapi aku gak bisa ngelakuin apapun”
“Aku gak mau jauh dari kamu kak, aku
gak bisa..” jawabku jujur, aku tak perduli dengan derasnya hujan yang membuat
bajuku basah, aku tak perduli dengan dinginnya sore ini, aku hanya mau Radit
selalu denganku. “Kamu bisa Viona, percaya sama aku, kamu bisa”ujarnya
meyakinkan, “please don’t do that, aku..a..aku sayang kamu kak” tangisku tambah
kencang, aku tak dapat menahan isakan itu, aku tak tahu sejak kapan aku nangis
karena cowok, tapi yang jelas aku disini berharap semua ini hanya mimpi. “Percaya
sama aku akan satu hal Vio, aku juga sayang kamu. Tapi.. aku harus ngelakuin
ini, aku punya pacar. Makasih udah beri begitu banyak hal indah beberapa minggu
ini, aku beruntung pernah kenal kamu” Kemudian Radit mencium keningku dan pergi
meninggalkanku sendiri, hanya hujan yang menemaniku, hujan yang jadi saksi
bagaimana rasa sakit dan perih dihati ini.
Aku
tahu kamu sedih Viona, maafin aku telah buat kamu seperti ini, aku gak bisa
ngelakuin apapun Vio, andai aku bisa merubah keadaan, andai aku bisa dikit aja
ambil keputusan, tapi aku gak bisa apa-apa, aku gak bisa milih kamu, aku sudah
dimiliki oleh wanita lain Viola.. maafin aku. please jangan nangis, aku gak mau
kamu nangis Cuma buat cowok kayak aku.
***
Aku mulai menerima keadaan, sudah
hampir sebulan aku tak berhubungan lagi dengan Radit, jujur setiap mengingat
dirinya namanya masih menyimpan sebersit luka dihatiku, apalagi setiap hujan
turun, begitu banyak kenangan yang dia hadirkan dalam hidupku walau hanya
beberapa hari, mungkin dia memang cinta pertamaku, tapi, bukankah cinta itu
datang sendiri dan pergi dengan sendirinya? Entah sampai kapan aku memendam
perasaan ini, yang jelas aku tak pernah berniat melupakannya dari hatiku,
karena aku yakin, suatu saat aku akan menemukan yang terbaik, mungkin hanya
tinggal menunggu waktu, entah kapan aku tak tahu, yang jelas aku akan menunggu
penggantimu Radit.
Aku memeluk boneka beruang pemberian
Radit waktu itu, tangisku muncul lagi, setiap melihat boneka ini, aku selalu
teringat wajah dan senyum nya,
Kamu
lagi ngapain sih kak? Pernah gak sih dikit aja kamu mikirin perasaan ini? apa
kamu udah bahagia dengan pacar kamu ya?kamu udah gak ingat sama aku lagi?
Tiba-tiba aku mendengar pintu
kamarku diketuk oleh seseorang, aku cepat-cepat menghapus air mataku yang
sedari tadi meluncur bebas, aku membenarkan posisi rambutku agar tak terlihat
berantakan, itu pasti Mira, katanya dia akan bermain ke kost ku malam ini.
Aku membuka pintu kamarku, tetapi dugaanku ternyata salah, dia bukan Mira, aku menebak-nebak siapa lelaki ini, karena dia menghadap membelakangiku, tetapi postur tubuhnya aku yakin sudah tak asing bagiku.
Aku membuka pintu kamarku, tetapi dugaanku ternyata salah, dia bukan Mira, aku menebak-nebak siapa lelaki ini, karena dia menghadap membelakangiku, tetapi postur tubuhnya aku yakin sudah tak asing bagiku.
“Hey,” sapaku, kemudian dia berbalik
menatap wajahku, aku tertegun melihat siapa yang berdiri tepat didepanku,
lelaki yang selama ini kurindukan, lelaki yang hampir membuatku tak punya
semangat hidup, ya Tuhan, apa ini mimpi?
“Kak Radit” ucapku tak percaya, dia
hanya diam, kemudian aku mempersilahkannya masuk dan duduk di sofa kamarku,
kamar kost ku lumayan besar, jadi ada ruangan khusus untuk menempatkan tamu
yang berkunjung. Radit duduk di sofaku, aku pun duduk didepannya, aku bingung
harus berkata apa, ingin sekali aku memeluknya, ingin sekali aku mengatakan
bahwa aku sangat merindukannya.
“Viona, apa kabar?” tanya Radit, “Aku
baik kak..” jawabku singkat, Dia mengangguk, lalu terdiam lagi, aku bingung
harus bagaimana, aku tak tahu apa maksudnya datang malam seperti ini, apakah
dia hanya ingin memberitahu bahwa dia dan pacarnya akan segera tunangan? Atau menikah?
Atau yang lain? Entahlah, aku sudah sangat kebal dengan rasa sakit ini.
“Aku kesini karena aku rindu banget
sama kamu,”
“Masa? Tapi kamu yang minta buat gak
berhubungan sama aku lagi” jawabku,
“Aku tahu itu, tapi setelah aku jauh
dari kamu Vi, aku merasa sebagian hidupku hilang, dan aku sadar aku juga gak
bisa jauh dari kamu” ujarnya menatapku, aku tersenyum kecil.
“Kak… gak usah becanda, kamu udah
punya pacar, aku ngerti.”
“Aku udah putus sama pacar aku dua
minggu yang lalu” jawabnya cepat, aku tercengang, walaupun kaget tapi jujur
sebagian dari hatiku merasa senang. “Oh.?”
“Viona, aku mutusin pacar aku,
karena aku yakin, semenjak kenal kamu, hati aku Cuma buat kamu, aku cinta sama
kamu” ujarnya menggenggam tanganku, air mata mulai membasahi pipiku setetes
demi setetes, “Tapi kenapa waktu itu kamu tega ninggalin aku kak? Apa itu yang
namanya cinta?”
“Waktu itu emang aku gak punya
pilihan Viona, aku dijodohin, aku pacaran sama dia juga bukan kemauanku, aku
gak pernah cinta sama dia, percaya sama aku”
“Tapi kenapa kakak harus datang
sekarang? Bukannya kakak bilang kakak udah putus sama dia dari semenjak dua
minggu yang lalu? Hah? Kenapa kak?” ujarku menahan emosi, “Maaf, aku juga waktu
itu ingin jelasin ini semua sama kamu, tapi aku tak punya keberanian, aku takut
kamu marah, aku takut kamu gak mau ketemu sama aku, aku takut sama semua
pikiran-pikiran aku tentang kamu Viona.” Aku terdiam mendengar penjelasan
Radit, aku merasa genggamannya semakin erat, kemudian dia beralih duduk
disampingku, menyentuh pipiku, dan menghusap air mataku, “Maaf udah bikin kamu
nangis, maaf udah pernah bikin kamu kecewa, maaf udah ninggalin kamu waktu itu,
maafin aku Vio, aku tahu aku cowok paling bodoh biarin kamu sedih karena aku,”
Dia menarik ku dalam pelukannya, aku melingkarkan tanganku dipinggangnya erat,
aku sadar air mataku mulai membasahi kaos hitamnya, tapi aku tak perduli.
“Aku udah lama maafin kamu kak, aku
gak pernah benci sama kamu, karena aku juga cinta sama kamu” jawabku akhirnya.
“Kamu mau jadi pacar aku kan Viona?”
“Tapi kamu harus janji satu hal”
“Apa?”
“Jangan kecewain aku, jangan pernah ninggalin aku”
“Jangan kecewain aku, jangan pernah ninggalin aku”
“I’m
Promise honey, please be mine”
“I’m
yours,”
“Thanks
my Rain Girl,” Aku mempererat pelukanku, aku merasa segala beban dihidupku
hilang, aku tak pernah sebahagia ini, aku tak pernah sehidup ini ya Tuhan. Makasih,
rencanamu sungguh indah. Makasih juga untuk hujan yang yang mempertemukan aku
dan Radit, my Rain Boy. Aku cinta
kamu Radit….
nb : kak Indra, maaf kalau ceritanya gak memuaskan, but thx for idea yah :)
nb : kak Indra, maaf kalau ceritanya gak memuaskan. but thx for idea yah ;)
Kenangan Bersamamu
Kenangan bersamamu adalah suatu hal yang sulit terlupa.
Melihat senyummu adalah sebagian dari kebahagiaanku.
Terkadang lelahku memikirkan semua ini.
Terkadang sesalku membiarkan namamu tertancap dipikiranku.
Namun, apakah masih ada waktu untuk ku mengulang waktu?
Jika aku tahu bersama denganmu menimbulkan luka.
Jika aku tau bersamamu menimbulkan air mata.
Mungkin aku akan mencegah dari awal.
Namun, aku sadar, ketika bersamamu banyak hal yg aku mengerti.
Banyak hal yg kudapat.
Salah satunya, bagaimana menjadi kuat disaat tangis tak bisa dicegah.
Bagaimana menjadi kuat disaat hati tak kunjung lelah menahan penat.
Ya.... banyak hal yg kudapat saat tak bersamamu lagi.
Mgkin memang senang itu sesaat,
Setelah itu, aku balajar bagaimana menerima kesedihan di akhir cerita.
Melihat senyummu adalah sebagian dari kebahagiaanku.
Terkadang lelahku memikirkan semua ini.
Terkadang sesalku membiarkan namamu tertancap dipikiranku.
Namun, apakah masih ada waktu untuk ku mengulang waktu?
Jika aku tahu bersama denganmu menimbulkan luka.
Jika aku tau bersamamu menimbulkan air mata.
Mungkin aku akan mencegah dari awal.
Namun, aku sadar, ketika bersamamu banyak hal yg aku mengerti.
Banyak hal yg kudapat.
Salah satunya, bagaimana menjadi kuat disaat tangis tak bisa dicegah.
Bagaimana menjadi kuat disaat hati tak kunjung lelah menahan penat.
Ya.... banyak hal yg kudapat saat tak bersamamu lagi.
Mgkin memang senang itu sesaat,
Setelah itu, aku balajar bagaimana menerima kesedihan di akhir cerita.
Rain is part of my life ♥♥
Ketika perlahanku membuka mataku,
Aku tersenyum lebar,
Mendung menyapaku dengan kedinginan dan kesejukannya.
Membuat aku berpikir hari ini akan indah.
Karena ku tahu butiran-demi butiran hujan akan menemani perjalanan panjangku hari ini.
Aku tak pernah lelah menunggu
Aku tak pernah bosan mengharap.
Hujan selalu datang beramai-ramai membawa kawanannya utk menyapa ku yg tengah sendiri.
Hujan selalu membawaku ke dalam hal-hal yg membuatku melihat segala sesuatu didunia ini dari segit positif..
Entah sejak kpan.
Entah barawal dari mana
Rain was be part of my life :')
Thx for god create rain in this world.
Aku tersenyum lebar,
Mendung menyapaku dengan kedinginan dan kesejukannya.
Membuat aku berpikir hari ini akan indah.
Karena ku tahu butiran-demi butiran hujan akan menemani perjalanan panjangku hari ini.
Aku tak pernah lelah menunggu
Aku tak pernah bosan mengharap.
Hujan selalu datang beramai-ramai membawa kawanannya utk menyapa ku yg tengah sendiri.
Hujan selalu membawaku ke dalam hal-hal yg membuatku melihat segala sesuatu didunia ini dari segit positif..
Entah sejak kpan.
Entah barawal dari mana
Rain was be part of my life :')
Thx for god create rain in this world.
Mimpi!!!
Perlahan kupaksa mataku untuk terbuka.
Aku tahu saat itu aku tengah mengalami mimpi.
Mimpi yang membuat kutercekat dan hampir sulit untuk bernapas.
"Tuhan.. bantu aku bangun, bantu aku terlepas dari mimpi buruk ini..."
Aku meronta ditengah mimpiku,
Ketika aku benar-benar terbangun dari mimpiku, saat itu aku sadar.
Betapa indahnya ketika bangun dari mimpi dan berpikir yang kualami beberapa saat itu hanyalah MIMPI.
Hidupku sudah sempurna, jadi buat apa aku terus mengharap mimpi yang terlalu tinggi? Karena ada saatnya mimpi itu akan menjadi sebuah jeritan histeris dikala suatu saat aku tersadar aku tak bisa bangun dari mimpi itu
Dan saat itulah aku diam membisu.
Menyesali semua yang telah terjadi.
Aku tahu saat itu aku tengah mengalami mimpi.
Mimpi yang membuat kutercekat dan hampir sulit untuk bernapas.
"Tuhan.. bantu aku bangun, bantu aku terlepas dari mimpi buruk ini..."
Aku meronta ditengah mimpiku,
Ketika aku benar-benar terbangun dari mimpiku, saat itu aku sadar.
Betapa indahnya ketika bangun dari mimpi dan berpikir yang kualami beberapa saat itu hanyalah MIMPI.
Hidupku sudah sempurna, jadi buat apa aku terus mengharap mimpi yang terlalu tinggi? Karena ada saatnya mimpi itu akan menjadi sebuah jeritan histeris dikala suatu saat aku tersadar aku tak bisa bangun dari mimpi itu
Dan saat itulah aku diam membisu.
Menyesali semua yang telah terjadi.
Untill Now I Still Love You Part 3
Sudah
sebulan aku menjalani kehidupan baruku di kampus, semua berjalan lancar dan tak
ada halangan. Walaupun terbilang baru dikampus ini, tapi aku sudah mendapatkan
banyak teman. Tidak terlalu buruk keadaan ini buatku, aku rasa aku sudah mulai
menjalankan cerita hidupku dengan mulus dan tak seburuk yang
kupikirkan..awalnya aku takut untuk menjalankan kehidupan baruku, tapi semua
berbeda dari apa yang kupikirkan, bahkan sekarang aku merasa keadaan jauh lebih
indah dari pada masa putih abu-abuku yang terlalu rumit bagiku.
Mungkin memang inilah kenyataan yang
harus kuterima, kenangan suram yang harus ku kubur dalam-dalam, tak mungkin aku
terus membiarkannya terkenang dalam memori otakku, karena jauh dalam lubuk
hatiku, aku sadar, aku terlalu rapus akan hal itu.
“Mit, ngelamunin apa sih lo?” sapa
Tirtan teman kampus baruku, sambil membawa dua botol minuman kaleng dan
menyerahkan satu untuku, “Thanks,”
Aku mengambil minuman itu dan membuka kemudian meminumnya, siang ini matahari
begitu terik, sampai-sampai aku mengeluarkan sapu tangan kecilku dan menghusap
air keringat yang sedari tadi membasahi wajahku, “Panas banget ya Tan, harusnya kantin kampus kita di pasang AC
juga biar adem, haha” Aku tertawa kecil untuk mengalihan pertanyaan Tirtan,
Tirtan hanya menggelengkan kepala mengabaikan kalimatku, Tirtan adalah teman
terbaikku selama aku masuk universitas baruku ini, dia sangat baik dan menjadi
salah satu teman terdekatku, walaupun aku baru disakiti oleh seorang cowok,
menurutku bukan berarti aku membatasi pergaulanku dengan cowok juga, karena
mungkin dengan membuka lembaran baru dengan teman yang baru aku benar-benar
bisa melupakan semuanya… ya. Semuanya… sampai benar-benar tak ada bekas.
“Lo mau langsung pulang abis ini?
atau gimana?” tanya Tirtan lagi,
“Pulang aja deh, mau kemana coba?
Panas-panas begini”
“Sama siapa? Bareng gue aja yuk.”
“Hmm boleh, kebetulan banget. Hari
ini lagi males pulang sendiri” Akhirnya setelah menghabiskan makanan dan
minuman aku dan Tirtan langsung pulang, aku menerima tawaran diantar oleh
Tirtan oleh mobil jazz-nya, ini yang
ketiga kalinya Tirtan mengantarku pulang kerumah.
Malamnya, hujan deras, aku
memutuskan untuk sedikit menaikkan suhu
AC kamarku agar tak terlalu menggigil, biasanya kalau hujan malam-malam seperti
ini aku menghabiskan waktuku untuk menulis, karena kupikir disaat indah seperti
ini inspirasi datang. Tapi tidak untuk malam ini, aku terlalu lelah dan letih,
entah mengapa aku hanya ingin rebahan dikamarku dan memejamkan mata, aku tak
tau apa yang kukerjakan seharian ini sehingga aku sangat lelah. Tapi sayangnya
takdir tak membiarkanku tidur dengan gampangnya, karena tiba-tiba hpku
berdering dengan lantangnya, aku mencoba mengabaikan tetapi tetap tak berhasil,
mau tak mau dengan malas aku meraih benda berisik itu, aku melihat nomor yang
tertera dilayar, “Unnamed” Aku
mencoba menebak siapa sipenelpon ini.
“Hallo.”
“Ini Mitha?” tanya si penelpon,
perlahan aku mengangkat sebelah tanganku dan menutup mulutku dengan cepat,
tiba-tiba aku merasa jantungku berdetak lima kali lebih cepat mendengar suara
itu, suara yang aku yakin tak asing ditelingaku, apa dugaanku benar? Tapi
rasanya tak mungkin. “Hallo? Ini benar Mitha kan?” tanyanya sekali lagi, aku
mengangguk cepat, padahal aku tahu bahwa sang penelpon sama sekali tak bisa
melihat anggukan ku.
“I..iya ini aku Mitha, i..i..ini
siapa ya?” tanyaku sedikit gugup, tanganku mulai dingin mendengar suara lembut
itu, suara yang sampai sekarang tak pernah bisa kulupakan. Dugaanku pasti tak
salah, aku yakin itu dia, tapi mengapa? Kenapa bisa?
“Hmm aku yakin kamu kenal suara aku
Mit,” jawabnya, aku tak memberi respon apapun, aku hanya sibuk dengan pikiran-pikiranku
sendiri, apakah benar?
“Mitha, kamu tau kan aku siapa? Please jawab” lanjutnya, aku tak bisa
menahan butiran yang tiba-tiba keluar dari mataku, aku tak bisa membayangkan
apa jadinya kalau dugaanku benar, dari kejauhan aku bisa mendengar suara cowok
itu sangat pelan dan berat, aku merasa aneh dengan gaya bicaranya, terdengar
juga dia sedikit terbatuk dan seperti ditahan agar aku tak mendengarnya.
“Ardi? Ini Ardi kan?” ujarku
akhirnya, aku akhirnya menyebutkan nama itu, nama yang hampir membuat seluruh
hidupku menjadi sangat rumit, membuatku sangat merindukan sosoknya, membuatku
tak bisa berhenti menangis selama beberapa bulan. Lalu kalau ini benar Ardi,
kerumitan apa lagi yang akan dia beri padaku?
“Syukur kamu masih bisa ngenalin
suara aku” ucapnya sedikit tertawa, saat itu juga aku benar-benar bingung,
kaget, semua perasaan menjadi satu, berarti benar yang menelponnya adalah Ardi,
mantan yang membuatnya hampir putus asa, orang yang sama sekali tidak pernah
memberikan alasan atas kepergiannya, orang yang selama hampir satu tahun
mengisi luka dalam dihatiku, orang yang tak pernah sama sekali bertanggung
jawab atas kepedihan dan ketersiksaan batinku. Rasa kesal ini tak dapat
dibendung, tetapi rasa rindu ini juga mulai menghampiri bagian dalam hatiku. Ya Tuhan, susah payah aku mencoba melupakan,
sekuat tenaga aku coba mengikhlaskan, disaat aku hampir bahkan sudah mulai
melupakannya, kenapa ya Allah… kenapa dia harus datang dan membuat air mata ini
mengalir lagi? Aku mohon hentikan kepedihan ini…. jangan lagi.
“Hmm.. oke ada apa?” tanyaku
berusaha secuek mungkin, aku hanya tak ingin Ardi berpikiran aku senang
mendapat telpon darinya setelah hampir setahun tak ada kabar.
“Cuek banget, kenapa Mit? Marah
banget sama aku?” tanya Ardi sedikit tertawa, aku hanya diam menunggu apa
kalimat selanjutnya yang akan diucapkan cowok itu, tak bisa dipungkiri tanganku
sedikit bergetar, aku gugup dan tak tahu harus apa sekarang.
“Mitha? Aku tahu aku salah, udah
hilang begitu aja, gak pernah kasih alasan sama kamu atas kepergian aku, dengar
aku please, setelah ini terserah kamu
mau gimana, tapi untuk terakhir kalinya, aku butuh bicara sama kamu” ujarnya
panjang, aku menarik napas lalu
membuangnya kembali, “Mau bicara apa Di? Belum cukup semua yang kamu lakuin ke
aku?” Hanya kata-kata itu yang akhirnya keluar dari mulutku, isakan kecil mulai
terdengar dari mulutku, aku berusaha mati-matian agar isakan itu tak terdengar
olehnya.
“Tolong, sekali aja, sekali ini aja
Mit, kamu cukup pegang hp kamu, dengerin penjelasan aku, terus habis itu,
terserah kamu, aku gak akan bahkan mungkin gak akan pernah ganggu atau bikin
hati kamu terluka lagi”
“Mau ngomong apa?” Akhirnya aku
memberi kesempatan pada Ardi untuk berbicara dan aku mendengarkan dengan baik.
“Mitha, sebelumnya aku minta maaf
telah memberi banyak luka dihati kamu dulu, aku sadar semua yang aku lakuin itu
hal bodoh. Aku pindah dari sekolah itu karena aku gak mau terus-terusan buat
kamu kepikiran sama aku, aku gak bisa lihat wajah kamu yang selalu sedih
semenjak kita putus” Ardi menarik napas sesaat kemudian melanjutkan ceritanya. Ya, aku memang sangat sedih Di, tersiksa dan
memang itu semua karena kepergian kamu.
“Aku tahu tentang Dani, aku tau
tentang bagaimana tersiksanya kamu saat dia ngejauhin kamu, Mitha walaupun aku
jauh dari kamu, aku selalu tau tentang kamu, aku minta Tian untuk selalu
ngabarin aku tentang kamu, aku pingin ketemu kamu saat kamu benar-benar terluka,
aku pingin meluk kamu, tapi aku terlalu pengecut akan hal itu, aku selalu takut
kamu marah sama aku, aku takut kamu gak mau ketemu aku, sampai akhirnya malam ini
keberanian itu muncul.” Aku merasakan perubahan suara Ardi, suaranya mulai
melemah, ada apa dengannya? Aku merasa dia sangat rapuh, tetapi dia terus
melanjutkan kalimatnya, air mata terus mengalir dan bertambah deras disetiap
kalimat-kalimat yang ia lontarkan yang membuatku tak dapat berpikir jernih.
“Mitha, mungkin sekarang kamu bisa ngelupain aku, tapi percaya sama aku, nama
kamu gak pernah hilang dalam hati aku, dari dulu sampai sekarang kamu masih
mengisi seluruh hati dan pikiranku. Tapi, aku terpaksa meninggalkanmu,
meninggalkan semua kenangan kita waktu itu, sebenarnya alasannya bukan hanya
karena keluargaku, alasannya yang tepat adalah karena aku tahu aku gak akan
bisa buat kamu bahagia, dan gak akan bisa hidup lebih lama daripada kamu,”
ujarnya, Aku bingung dengan apa yang ia ucapkan, “Maksud kamu apa Di?” tanyaku
akhirnya, aku tak bisa menahan mulutku untuk bertanya.
“Aku sakit Mit, Liver. Dan sekarang
penyakit itu tambah parah, aku gak bisa Mit, aku gamau kamu kepikiran makanya
aku sembunyiin hal ini, aku gatau gimana dan kapan tiba-tiba penyakit ini
datang, makanya aku cari seribu alasan buat ninggalin kamu. Padahal
meninggalkan kamu, adalah satu-satunya hal paling menyakitkan didunia, kamu
tahu gimana rasanya ninggalin orang yang udah bikin hari-hari kamu penuh warna,
penuh cinta, aku udah ngerasain itu, aku udah ngelakuin itu sama kamu” Ardi
diam, aku menunggu kalimat berikutnya, tetapi dia hanya diam, air mataku sudah
mulai membasahi seluruh bagian wajahku, dinginnya malam menjadi panas, aku
menangis sepuasnya, aku terisak sedalam-dalamnya. Tak menyangka, sedih, kesal,
sesal, bingung semua campur aduk dalam benakku mendengar penjelasan Ardi.
Demi
Tuhan Di, aku khawatir banget sama kamu sekarang… liver? Sejak kapan? Kenapa
baru sekarang? Kenapa semua baru kamu katakan sekarang setelah aku memutuskan
untuk membencimu!!!
“Kamu selalu begini, kamu mau apa
sih Ardi? Hah? Hikss..,. aku coba tahan, aku coba benci kamu, aku coba lupain
kamu dari hidup aku, tapi kamu sekarang datang dan menjelaskan semua hal yang
harusnya kamu jelaskan dulu, bukan sekarang!! Arrrghh… sekarang kamu bilang kamu
sakit? Aku..ak..?? astagfirullah”
“Maafin aku Mit, aku tahu gimana
perasaan kamu, aku minta maaf! Kalau kamu di posisi aku, kamu ngerti gimana
rasanya jadi aku, Mitha aku sayang banget sama kamu, gak ada dikitpun aku
berniat buat mainin perasaan kamu, aku kangen kamu. Aku minta sama kamu,
sebelum semuanya berakhir, aku ingin ngomong sama kamu langsung” ujarnya,
“Dimana? Kamu dimana sekarang?”
“Aku di rumah sakit Pelita Harapan
Bogor, kamu mau gak datang kesini, aku butuh kamu disaat aku yakin hidup aku
bergantung pada alat-alat medis ini”
Tangisku benar-benar pecah,
mendengar kalimat itu aku hampir mau pingsan, aku berusaha menjaga keseimbangan
tubuhku, aku harus menemui Ardi malam ini, tak perduli walaupun Jakarta-Bogor
membutuhkan beberapa jam perjalanan, aku hanya ingin bertemu dengan Ardi, aku
harus bertemu dengannya secepat mungkin.
“Tunggu aku, please bertahan demi aku Ardi, malam ini aku kesana,”
“Kamu jangan sendirian, ini udah males,
jangan nyetir sendiri Mit, ajak teman kamu”
“Kamu tenang aja,” Lalu kemudian aku
mematikan telpon dan bersiap akan ke Bogor,
Untungnya
Tirtan mau menemaniku ke Bogor malam ini, dia memang sahabat terbaikku, ada
disaat aku benar-benar butuh walau kami belum lama kenal. Dia sudah seperti
kakak bagiku, bahkan semua hal tentang Ardi dan tentang kehidupanku sudah
banyak kuceritakan padanya. Ketika dimobil aku menceritakan semua hal pada
Tirtan tentang pembicaraanku dengan Ardi, Tirtan mencoba mengerti perasaanku,
dia hanya mengusap air mata yang sesekali jatuh dari mataku, “Sabar, berdoa dan
tawakal, semua bakal baik-baik aja Mit, gue yakin. Jangan sedih terus, bentar
lagi kita sampai kok” ucapnya menenangkanku. Aku hanya mengangguk-angguk,
ketika sampai dirumah sakit tempat Ardi dirawat, dengan segera aku turun dari
mobil dan menggandeng tangan Tirtan agar mengikuti langkahku, dia hanya
mengikutiku. Aku mencari ruang kamar 25, karena kata Ardi itu nomor kamar
dimana ia dirawat. Aku sesekali melirik jam tanganku, sudah pukul 01.00 malam,
ini sudah terlalu malam. Aku melihat Tirtan mulai lelah, ketika aku menemukan
kamar 25, jantungku mulai berpacu hebat, kakiku sedikit bergetar ingin masuk
keruangan itu. Benarkah didalam ruangan
ini ada Ardi? Ya Tuhan, betapa aku sangat merindukannya…
“Masuk
gih, gue tunggu disini” ujar Tirtan,
“Gak
mau ikut masuk Tan? Masa iya gue sendiri”
“Lo
sendiri aja, ntar kalau butuh gue, sms aja, gue bakal masuk”
“Oke
deh, gue masuk dulu, lo pasti capek, duduk aja dibangku itu.” Ujarku
menunjukkan bangku kosong disebelah ruangan itu, “Iya Mit, tenang aja.”
Kemudian perlahan aku membuka pintu kamar nomor 25 itu denga pelan, kemudian
aku mulai melangkah masuk, ruangan yang cukup besar dan nyaman, pasti ruangan
kamar ini adalah ruangan VIP, aku
melihat seorang pria sedang tertirdur diranjang kamar itu, dengan berbagai
macam selang yang tertempel pada tubuhnya, lagi-lagi air mataku menetes
menyadari bahwa lelaki itu memang benar-benar Ardi, cowok yang pernah membuat
hari-hariku bahagia dan menderita. Separah inikah kondisinya? Berarti tadi dia
menelponku dalam keadaan sangat rapuh, tetapi dia masih bisa tertawa seperti
tak terjadi apapun. Aku berjalan lambat menuju ranjang tempat tidur itu, dan
kemudian duduk disalah satu bangku yang berada disisi ranjang, tak ada siapapun
kecuali Ardi, lalu kemana orangtua atau saudara-saudaranya? Mengapa tak ada
satupun yang menjaga Ardi disini? Benar-benar keterlaluan!
Aku
memberanikan diri menyentuh tangan Ardi, ada selang infus yang tertempel disana,
tanagannya dingin, sangat dingin, tanpa sadar air mataku membasahi pergelangan
tangannya, perih dihati ini tak dapat kutahan, sakit yang teramat dalam
menyiksa batinku melihat kondisinya yang sangat rapuh sekarang, kenapa takdir
mempertemukan kita disaat kau seperti ini? ah, bukan takdir, ini memang
rencanamu yang menyembunyikan semua kondisi ini.
Tangan
Ardi mulai bergerak, aku tersentak kaget, cepat-cepat aku menghapus air mata
yang membanjiri pipiku, matanya mulai terbuka dan kulihat segaris senyum memenuhi
wajahnya saat melihatku, dia sangat rapuh, aku dapat melihatnya, wajahnya
benar-benar pucat, aku takut terjadi Sesuatu hal buruk padanya, aku takut
kehilangannya, aku takut tak dapat melihat senyum itu lagi, karena aku
merasakan firasat buruk yang akan terjadi hari ini, Tuhan… haruskan perasaan
ini kembali? Ini tak adil, sudah terlalu cukup aku begini. Ardi membelai
rambutku perlahan dengan sebelah tangannya, kemudian menghusap air mataku.
“Tolong
jangan nangis Mit, aku pingin lihat senyum kamu” ujarnya lemah, aku memaksakan
sedikit senyum ditengah deraian air mata yang tak dapat berhenti ini, bagaimana
caranya aku tersenyum ketika melihatnya separah ini?
“Ardi,
aku kangen kamu” ucapku tulus, kemudian dia tersenyum lagi.
“Syukur
kamu kangen aku, berarti kamu gak benci atau marah sama aku”
“Aku
gak pernah marah atau benci akan semua yang terjadi sama kita Di, aku cuma
bingung dengan semua sifat kamu”
“Maaf,
aku terlalu bodoh memang, sekarang semua udah terjadi, semua udah terungkap.
Kamu udah tau semuanya, dan aku lega kamu gak benci sama aku” Ardi menggenggam
tanganku dengan tangannya yang dingin, lalu mencium dengan lembut jari-jari
tanganku, aku bergeming, menahan tangis yang akan meledak, mencoba menahan
semua emosi yang tertahan didalam jiwa.
Aku
hanya mencoba bertahan walau sakit, mencoba tegar disaat rapuh, mencoba
menerima kenyataan disaat takdir tak berpihak padaku, lalu dimana kebahagiaan
itu sekarang? Bahagiaku hanya satu, aku hanya ingin Ardi sembuh dan aku
melihatnya sehat seperti dulu, aku tak perduli bisa terus bersamanya atau
tidak, aku sudah tak berharap akan hal itu, yang aku mau hanya melihatnya
terbebas dari semua alat-alat ini, ya Allah..
“Aku
sayang kamu Mitha, aku masih sangat mencintaimu” ujar Ardi menatap mataku, aku
tak bisa menatap matanya, aku melihat Ardi menangis, mengeluarkan air mata, aku
menggigit bibirku sendiri, agar isakan ini tak terdengar.
“Aku
sayang kamu Di, aku juga masih mencintaimu” ujarku terbata-bata.
“Janji
akan terus hidup bahagia tanpa aku, cuma itu yang aku minta Mit, cari cinta mu
pada lelaki lain selain aku, karena aku tau nafas terakhirku tak akan lama
lagi, aku benar-bena sakit”
“Aku
janji, hikss… aku janji akan terus mencintaimu Ardi, makasih… ma..ma..kasih begitu
banyak hal yang kamu hadirkan dalam hidupku, aku cuma mau kamu bahagia.. aku
akan bahagia, terus bahagia” Aku mencium tangan Ardi, kemudian memeluknya sangat
erat, aku merasakan dia melingkarkan tangannya dibadanku, kemudian aku
melepaskan pelukan itu, mata Ardi terpejam, bunyi panjang dari monitor yang
menunjukkan kerja jantung Ardi, garis itu tak bergerak naik-turun lagi, hanya
ada garis panjang yang menunjukkan bahwa jantung Ardi sudah tak bekerja. Aku
berusaha kuat, menahan sesak yang teramat dalam dihati ini, beberapa detik
kemudian suster dan beberapa orang perawat masuk kekamar Ardi, aku mendur
perlahan, jatuh terduduk dilantai sambil memeluk lututku, menangis sepuasnya
dan terisak sedalam-dalamnya… kemudian Tirtan datang memelukku dan menenangkanku,
aku memeluk Tirtan erat, sangat erat sampai aku tak tahu apakah aku bisa
melepaskannya lagi, kemeja yang ia kenakan juga sudah mulai membasah. Aku tak
perduli, kemudian Tirtan merangkulku untuk berdiri dan membawaku pergi, kami
tak langsung pulang ke Jakarta Karena aku ingin melihat Ardi untuk terakhir
kalinya dan ingin menyaksikan pemakan Ardi. Aku memutuskan menginap disalah
satu hotel di Bogor dengan Tirtan, tentu saja berbeda kamar. Aku tak tahu apa
jadinya aku tanpa Tirtan yang selalu ada disisiku.
***
Ke’esokan
harinya, tepat habis solat juhur pemakaman Ardi dilaksanakan, aku yang
didampingi oleh Tirtan datang untuk melihat prosesi pemakamannya, sempat aku
melihat beberapa kerabat dan keluarga Ardi yang menangis tersedu-sedu dimakam
Ardi, ternyata dugaanku salah, keluarga Ardi di Bogor sangat banyak, begitupun
dengan kerabat-kerabatnya. Aku juga sempat berbincang dengan salah satu dari
mereka.
Tetapi,
aku belum melihat sama sekali kedua orangtua Ardi, dimana mereka? Apakah mereka
tahu bahwa anaknya sudah tiada? Ah, aku baru ingat bahwa kedua orang tuanya
sudah tidak bersama, tapi apakah mungkin mereka tidak perduli lagi dengan
kondisi anak kandungnya sendiri? Pertanyaan demi pertanyaan terus
menghampiriku, karena aku juga sama sekali belum pernah mengenal kedua orang
tua Ardi.
Setelah
semua orang sudah berlalu dari pemakaman Ardi, tetapi aku dan Tirtan tidak, aku
memohon pada Tirtan untuk lebih lama berada disini, dan Tirtan bersedia
menemaniku. Aku duduk disamping makan Ardi, menebarkan beberapa kelopak mawar
diatasnya dan menyiram dengan air, perlahan air mataku menetes lagi, begitu
banyak hal yang telah terlewatkan, begitu banyak kenangan yang mungkin belum
bisa sepenuhnya hilang tentang kebersamaan kita, aku coba melupakan dan hampir
berhasil, tetapi ketika aku melihat makam yang tertera nama Ardi dinisan itu,
semua kenangan muncul perlahan tetapi membuat sesak didadaku semakin
menjadi-jadi.
“Seharusnya
kamu harus bertahan hidup lebih lama Di, seharusnya kamu gak membiarkan aku
melihat nama kamu tertera di batu nisan ini. maafin aku yang mungkin selalu
berpikir negative tentang semua hal tentang kamu, jujur aku kehilangan kamu
banget. Aku masih ingin melihat senyum kamu Di” Aku menghusap air mataku yang
menetes lagi, sudah terlalu lelah aku menangis, sudah hampir habis tenaga ku
untuk berbicara, aku hanya mengharap Ardi tenang di atas sana. Tirtan yang
melihatku menangis sesegukan merangkul pundakku, aku membenamkan kepalaku
didadanya, mencoba mengambil segenap tenaga yang tersisa.
“Mencoba
mengikhlaskan itu yang terbaik Mit, biar dia tenang disana, jangan ditangisi
terus, dia gak suka lihat lo begini” ujar Tirtan menenangkanku,
“Tan,
kenapa semua harus berakhir seperti ini? kenapa ters-terusan seperti ini? apa
gak ada nasib baik yang memihak ke gue? gue pingin dikit aja merasa kebahagiaan
dengan orang yang gue sayang Tan, tapi semuanya harus pergi, dan disini gue
sendiri Tan, gue gak sanggup.” Tangisku semakin pecah dan dalam, kali ini
Tirtan memelukku erat, “Semua ini udah di atur Tuhan. Yakin semua ini yang
terbaik buat elo dan Ardi, Mitha, masih ada gue disini, yang selalu ada buat
lo, selalu ada saat lo butuh. Gue janji Mit, gue bakal lakuin apapun buat bikin
lo nyaman sama gue” ujar Tirtan tulus.
Ardi… bahagia ya
disana, mungkin kita bisa bertemu lain waktu, aku janji akan terus menyimpan
kenangan-kenangan kita menjadi sebuah kepingan didalam memori otakku, makasih
sudah datang dikehidupanku, mengisi semua bagian dihidupkan dengan tawa dan air
mata, makasih buat cinta yang kamu beri untuk aku. aku janji akan bahagia tanpa
kamu, karena aku tahu kamu akan kekal dihati aku. sekarang, besok ataupun
beberapa tahun kedepan, aku tak akan melupakanmu sebagai orang terpenting dalam
kehidupanku.
Aku
mencium nisan itu sesaat lalu mengajak Tirtan pergi dari sana, Tirtan benar,
aku masih memilikinya, jadi tak ada yang perlu ku khawatirkan, memiliki Tirtan
sudah menjadi anugerah untuk hidupku, dia baik, perhatian dan selalu ada
untukku.
Sebulan
kemudian, Tirtan mengajakku kepantai disaat libur kuliah, aku sangat senang
jika ada yang mengajakku ke pantai, dengan senang hati aku menyetujui ajakan
Tirtan.
“Tumben
banget lo ngajak gue kesini Tan, coba dari dulu kan enak haha” Aku menyenggol
bahu Tirtan jahil, Tirtan kembali meneguk minumannya, kemudian dia tersenyum
simpul ke arahku, tak tahu kenapa sekarang setiap melihat senyum yang diberikan
Tirtan padaku, aku merasa senyum itu berarti, yang membuat jantungku sering
berdebar saat disampingnya, Oh Tuhan, tolong hentikan rasa gugup ini. Angin
berhembus dengan kuat membuat rambut panjangku berhamburan kemana-mana, desiran
ombak laut menyentuh kakiku dan Tirtan, aku tertawa sambil menyentuh air-air
yang datang. Aku melihat Tirtan yang sedari tadi tak berhenti menatapku sambil
tersenyum.
“Lo
kenapa? Liatin gue terus? Ada yang salah sama penampilan gue?” tanyaku
penasaran, dia hanya menggeleng kemudian membenarkan letak rambutku yang
berantakan.
Sumpah ya Allah, kenapa
gue jadi deg’degan gini ya? Aduhh mampus… ini si Tirtan kenapa lagi kok
ngeliatin gue segininya.
“Gue
sayang sama lo Mit, sayang banget” ujar Tirtan, aku bergeming, tak percaya
Tirtan mengatakan hal itu, sekarang jantungku benar-benar berdetak dua kali
lipat, rasa sayang apa yang Tirtan maksud, entahlah aku tak bisa berpikir
jernih sekarang. Aku hanya diam dan diam seperti orang bodoh.
“Hey,
malah diam. Mitha gue serius, gue sayang sama lo” ucap Tirtan menegaskan,
mataku mulai kabur, Jangan nangiss…
jangan nangis please.. oh my God!!! Dan akhirnya setetes air mata membasahi
pipiku, bahagia atau sedih akupun tak bisa mengartikannya dengan jelas. Yang pasti
aku yakin, aku juga memiliki perasaan yang sama seperti Tirtan.
“Gue
juga sayang sama lo Tan” jawabku seadanya, aku bingung harus menjawab apa,
karena memang aku menyayanginya, sangat sayang padanya sampai-sampai mungkin
aku tak tahu apa jadinya aku tanpanya. “Duh jangan nangis dong, kok jadi nangis
sih” Aku cepat-cepat menghapus air mataku lagi, aku tertawa sejenak. “Lo buat
gue nangis sih Tan,”
“Mitha,
mungkin ini terlalu cepat, tapi gue gak bisa bohongin perasaan gue ke elo, gue
gak mau kehilangan lo, gue mau terus bersama lo Mit. Gue sayang bahkan cinta
sama lo” ujarnya lagi, aku menatapnya tak percaya, apa yang kudengar tadi
benar-benar jelas ditelingaku. Tirtan mencintaiku? Apa mungkin? Lalu bagaimana
dengan perasaan ini ya Tuhan? Aku juga tak mau kehilangannya, tapi aku belum
yakin aku juga mencintainya.
“Don’t say please Tirtan, gue juga gak
mau kehilangan lo.”
“Gue
serius, gue mau lo jadi pacar gue” Tirtan menggenggem tanganku, dia menatapku
sungguh-sungguh. Aku tak punya kekuatan lebih untuk menolak permintaannya… tapi
jujur aku masih trauma dengan sebuah hubungan.. bagaimana ini ya Tuhan?
“Lo
mau gak jadi pacar gue Mit?”
“Gue
takut Tan, gue takut lo bakal ninggalin gue kayak Ardi dulu, bukan maksud gue
buat ngungkit-ngungkit masa lalu gue, tapi…” Tirtan memotong pembicaraanku.
“Gue
ngerti, gue ngerti gimana posisi lo, tapi gue janji gak bakal ninggalin lo Mit,
karena gue bener-bener sayang sama lo. Please”
Tiba-tiba
aku ingat dengan kata-kata Aunty vera
dulu, ‘Jangan mikir gimana caranya buat ngelupain Ardi, coba pikir gimana
caranya buat buka hati buat yang lain, dengan begitu dengan mudah kamu bisa
ngelupain Ardi, satu hal ya sayang, kita gak akan merasakan betapa pentingnya
seseorang dihidup kita sebelum kita kehilangan orang itu’
Mungkin
memang aku tidak terlalu mengingat Ardi lagi semenjak ada Tirtan yang selalu
ada untukku, mungkin aunty benar, aku
harus membuka hati untuk orang lain, agar aku tak menyesal. Apa salahnya? Toh Tirtan
sudah mampu membuat jati diriku kembali. Dan aku yakin, aku tak akan sanggup
kehilangannya.
Aku
melingkarkan tanganku di lehernya, membiarkan tubuh mungilku berada dalam
dekapannya, mungkin ini saat yang tepat aku benar-benar membuka kehidupanku
yang baru, bersama Tirtan, karena aku merasa hanya bersamanya semua hal yang
rumit itu menjadi mudah.
“Gue
percaya sama lo Tan, dan gue mau jadi pacar lo” jawabku yakin, tak pernah aku
merasa seyakin ini dalam hidupku. Kemudian Tirtan memelukku lebih erat lagi,
kemudian mencium keningku dan mulai mengecup bibirku lembut.
“Aku
janji gak bakal bikin kamu kecewa sayang, karena kamu, aku yakin semua hal
didunia ini sudah cukup.”
“Jangan
ngecewain aku, karena aku juga gak bisa bayangin apa jadinya aku tanpa kamu”
Cinta memang seharusnya
mengerti tentang semua hal yang tak dimengerti, disaat aku memang butuh
perhatian dan pengertian, dia datang tepat pada waktunya. Sekarang aku akan
menunjukkan pada dunia, pada Ardi, dan pada siapapun, bahwa aku telah
memilikinya, memliki seseorang yang memang kucari selama ini, seseorang yang
mampu membuatku merasa nyaman.
End
Putih-Abu-Abu Ada Digenggaman
Masa putih-biru telah berlalu
tangis, tawa, canda, cinta dan sayang itu
akan kujadikan sebuah memori besar dalam ingatanku
impi yang tak sampai,
kata yang tak terucap
perasaan yang tak terbalas menjadi saksi
perjalanan cerita panjang kita.
kini, kenangan manis itu kusimpan dalam
kotak kenanganku dan akan kubuka pada saatnya nanti.
sekarang, putih-abu-abu sudah digenggaman,
senyum bangga terpancar dari wajah yang tampan dan rupawan.
cerita baru pun dimulai,
perjalanan panjang yang akan di ceritakan,
alur kehidupan baru yang akan kita alami
persahabatan dan kebencian akan datang silih berganti
persaingan dan perjuangan dipertahankan sampai akhir perjalanan
disini, aku memulai semua dari awal,
mempersiapkan kotak-kotak kenangan lebih besar dan luas
agar ketika cerita ini menjadi akhir,
aku bisa menyimpannya dalam kenangan-kenangan yang lain
dan akan kusatukan agar
cerita demi cerita selalu terkenang dalam
sejarah panjang kehidupanku kelak.
My Slide Show Photo
My Slide Show Photo by Slidely Slideshow
