- Back to Home »
- Cerpen »
- Rain Boy and Rain Girl(please jangan dihapus)
Posted by : R.A Trivani Desyara
July 21, 2013
Aku
melihat dari balik jendela kelasku, gerimis mulai turun dengan perlahan, aku
mulai mengukir senyum diwajahku, biasanya jika gerimis mulai datang tak lama
lagi hujan akan turun. Pikirku, aku melirik jam tangan yang melingkar
dipergelangan tanganku, sebentar lagi jam waktu pulang sekolah akan tiba, aku
berniat untuk pulang dengan jalan kaki, menikmati setiap tetesan hujan yang
membasahi bumi, mungkin sebagian orang menganggapnya aneh, tetapi aku tak
perduli, apapun yang berhubungan dengan hujan, itu sudah menjadi bagian dari
hidupku. Namaku Viona Larasati, panggil aja Viona atau Vio, sekarang aku duduk
dibangku kelas dua belas, aku tinggal di Bandung, walaupun aku kelahiran di
Jakarta, tetapi aku memutuskan untuk melanjutkan SMA di Bandung karena aku
sangat menyukai kota ini, dan untungnya orangtua ku menyetujui kepindahanku ke
Bandung, dan aku memutuskan untuk tinggal di kost’an kecil di daerah Bandung.
Aku memang terbiasa hidup mandiri, jadi hanya untuk sekedar tinggal dikota ini
sendirian, tak masalah besar bagiku.
Jam pulang sekolah tiba, dengan
cepat aku membereskan semua peralatan tulisku dan memasukkannya dengan rapi
kedalam tas. “Hey, mau pulang jalan kaki lagi lo?” tanya Mira, teman sebangku
ku, aku tersenyum dan mengangguk. “Kenapa Mir? Mau ikut? Haha” candaku, dia
menggeleng dengan cepat. “Ogah, males banget gue basah-basahan, huh” jawabnya
polos.
“Kan pake payung sayang, basah juga
paling Cuma dikit” jawabku datar, dia tetap menggelang dengan pasti. Aku hanya
mengangkat bahaku tanda menyerah. “Yuk pulang” aku menarik tangan sahabatku itu
dan kami bergegas meninggalkan kelas.
Benar saja, hujan perlahan mulai
turun dengan lebatnya dan membuat semua orang mengeluh karena kedinginan dan
kebasahan, tapi berbeda denganku, setiap tetesan hujan yang jatuh aku selalu
mensyukuri ciptaan Tuhan ini. Aku mengeluarkan payung kecil dari tasku dan
membukanya, kemudian pelan-pelan aku menginjakkan kakiku di atas genangan air
di aspal jalanan. “Viona…” panggil seseorang dari arah belakang, aku langsung
melihat siapa yang memanggilku, suara itu tak asing lagi bagiku. Dia adalah
Roni, cowok terkenal playboy
disekolahku ini, banyak gadis yang memuja dan memujinya tapi tidak bagiku,
sudah beberapa kali dia menyatakan cinta padaku tetapi ku tolak, karena aku tak
mau jatuh dalam permainannya. “Ada Apa Ron?” tanyaku acuh tak acuh, “Pulang
sama gue aja yuk, naik motor, kan hujan Vio, ntar lu sakit” ujarnya, “Hmm.. gak
papa lagi Ron, gue suka sama hujan kok, jadi ya lu gak usah repot-repot ngantar
gue, oke? Thanks” balasku lalu
bergegas pergi meninggalkan Roni yang kesal melihat tingkahku padanya. Dih males banget deh gue sama dia, dasar
playboy.
***
Aku berjalan terus sambil menikmati
tetesan-tetesan hujan yang jatuh ke bumi ini, terkadang aku menyentuh butiran
itu dari balik payung hijauku, samar-samar aku melihat seorang lelaki memakai
kemeja coklat dengan celana hitam panjang duduk dihalte bus sendirian,
disebelahnya terparkir sebuah mobil jazz putih, mobil siapa itu? Apakah
mobilnya? Tetapi kenapa dia duduk di halte itu? Untuk apa dia sendirian menatap
rintikan hujan dihalte itu? Aneh! Pikirku, kemudian aku berjalan mendekati
halte itu, pandanganku tak lepas dari sosok lelaki muda tampan itu. Oke Viona.. kenapa gue bisa bilang dia
ganteng? Padahal baru liat juga, astagfirullah, dasar bodoh.
Aku sekarang berjalan tepat
didepannya, bodohnya aku tetap melihatnya, dan sekarang dia juga melihatku, dia
menatapku bingung, aku juga bingung dengan diriku yang tak bisa lepas dari
pandangan matanya, lalu kemudian aku bisa merasakan segaris senyum dia berikan
padaku, aku membalasnya dengan senyuman kecil juga. “Hey, kenapa liatin aku
kayak gitu banget?” tanya cowok itu padaku sambil tersenyum ramah, aku kaget
mendengar pertanyaannya, “Ehh. Hmm.. ini, eumm gak papa kok kak, maaf” ucapku
terbata-bata, aku rasa dia lebih tua daripadaku jadi aku menyebutnya dengan
panggilan ‘kak’ oke mungkin lebih baik seperti itu untuk menghormati. Dia
tertawa kecil melihat kegugupanku, aku pun tersenyum malu.
Astaga
ya ampun, mimpi apa gue bisa ketemu orang seganteng ini, senyumnya ya Allah…
manis bangettt.
“Kenapa minta maaf? Gak papa kok,
aneh ya lihat aku duduk disini sendirian?” tanya cowok itu seperti tahu apa
yang kupikirkan, aku hanya tersenyum tak jelas sebagai jawaban. Aku tetap
berdiri disitu, aku tak tahu apa yang harus kulakukan sekarang, apakah harus
pergi atau tetap berdiri disini? Entahlah, aku hanya menunggu kalimatnya saja.
“Hehe, kamu lucu deh, dari pada kamu
berdiri disitu, mendingan kamu temenin aku duduk disini” ujarnya sambil
mempersilahkan aku duduk disampingnya, dan parahnya aku merasa jantungku
benar-benar tak karuan. “Engg..enggak usah kak, aku langsung pulang aja”
jawabku akhirnya, karena aku merasa belum kenal sama sekali dengan cowok
dihadapanku ini, aku memutuskan untuk menjaga jarak, bukan bermaksud berpikiran
negative, tetapi aku rasa tak seharusnya aku duduk dengannya disitu, karena
kami sama-sama belum saling mengenal.
“Kamu mau pulang? Hujannya deras
banget loh, ntar seragam kamu basah”
“Aku suka hujan kok, so, no problem” jawabku masih dengan
senyuman, kemudian aku perlahan mulai melangkahkan kaki ku meninggalkan cowok
itu, kemudian aku merasa cowok yang belum kukenal itu menarik pergelangan
tanganku, aku terhenti, sekarang aku benar-benar gugup, untuk apa dia memegang
tanganku.
“Kamu suka hujan? Hey, aku juga suka
hujan loh” ucapnya tanpa ditanya, tapi kemudian mataku membesar, terkejut atas
pengakuannya, apa benar dia juga pecinta hujan sama sepertiku? Jujur jarang
sekali aku melihat lelaki yang menyukai hujan. “Serius kak? Masa sih?” tanyaku
tak percaya, kemudian dia menganggukkan kepalanya cepat. Aku masih menatapnya
dengan tatapan tak percaya. “It’s why I’m
here.” Jawabya santai, kemudian saat itu juga gemuruh petir datang dengan
suara yang sangat kencang, aku kaget dan sangat ketakutan, aku menutup mataku
dan kupingku, membiarkan payungku jatuh, dan akhirnya bajuku basah karena
terkena butiran-demi butiran hujan siang itu. “Kan baju kamu basah tuh, udah
temenin aku aja disini dulu, kita bisa cerita bareng tentang hujan. Ayolah, aku
bukan orang jahat kok” ajaknya, mau tak mau aku harus menyetujui permintannya,
karena jujur tak mungkin aku pulang sekarang ditengah petir yang sangat besar
ini, aku memang sangat mencintai hujan, tapi aku tak suka petir!
“Sini duduk disamping aku, ngapain
kamu berdiri disitu terus.” Ujarnya sambil menarik tanganku untuk duduk
disampingnya, akhinya aku pun duduk disampingnya, aku merasakan kehangat saat
aku berada disampingnya, demi tuhan lelaki ini hampir membuat nafasku berhenti,
ramah, baik, sopan, tampan, ya ampun…
aku hanya bisa diam tak berkutik selama disampingnya, aku tak sanggup
berbicara apapun.
“Kamu bilang kamu suka hujan kan? Sejak
kapan?” tanya nya memulai pembicaraan, masih dengan nada bicara yang lembut dan
membuatku nyaman berada didekatnya, “Udah lama sih kak, semenjak kecil juga
suka sama hujan” jawabku,
“Oh ya? Emang kenapa kamu suka sama
hujan?” tanya nya lagi,
“Hujan itu indah, hujan itu damai,
hujan itu penuh dengan kenangan, dan hujan itu udah bagian dari hidup aku kak”
jawabku lagi sambil terus memandangi hujan yang turun bergiliran. Setiap melihat
hujan aku tak dapat menahan kekagumanku akan ciptaan tuhan yang satu ini,
betapa indahnya hujan.
“Oh.. iya yah, hujan itu indah
banget. Kamu bener, orang bodoh yang gak suka sama hujan” Aku mengangguk meng-iyakan ucapannya, “Kakak
sendiri kenapa bisa suka sama hujan?” tanyaku, kali ini aku memberanikan diri
menatap nya.
“Gak tahu entah sejak kapan,
semenjak hujan datang, aku selalu merasa beban dihidupku hilang, sejenak aku
bisa melupakan masalah-maslaah yang ada dikehidupanku, itu alasan aku sangat
suka sama hujan.” Jawabnya. Aku mengangguk meng-iyakan ucapannya, tak menyangka
aku bisa bertemu dengan lelaki yang begitu senang dengan hujan.
“Oh iya, nama kamu siapa kalau boleh
tau?” tanya cowok itu menatapku, aku menjulurkan tanganku dan dia membalas
juluran tanganku, “Viona” jawabku, “Radit” jawabnya sambil tersenyum.
Ya
Allah.. demi apapun, gue senang banget bisa kenalan sama kak Radit, astaga
tangannya lembut banget…bisa pingsan gue disini.
Pikiranku mulai berkeliaran entah kemana.
“Kamu kelas berapa Viona?” tanya nya
lagi, “Kelas dua belas kak” jawabku, dia hanya mengangguk. “Kakak kuliah atau
udah kerja?”
“Aku kuliah sambil kerja, hehe.”
“Oh ya? Hebat dong kak. Oh ya, kalau
boleh tau, kenapa kak duduk sendiri disini? Itu mobil kakak kan? Kenapa gak
langsung pulang?” Aku sangat penasaran jadi aku memutuskan untuk bertanya
padanya.
“Iya itu mobil aku, aku tadi lagi
nyetir, rencana mau pulang sih, Cuma tiba-tiba hujan turun kan, yaudah aku liat
ada halte kosong disini, aku duduk aja. niatnya mau mandangin hujan gitu Vi”
ujarnya, “Wow, sesuka itu sama hujan yah? Sama kayak aku”
“Iya emang aku suka hujan, suka
banget, kebetulan ketemu sama kamu
disini, beruntung banget ya aku, ketemu gadis cantik, baik, suka hujan lagi”
jawabnya memandangiku, aku tersenyum malu mendengar ucapannya tentangku. Aku tak
dapat menahan senyum yang berkeliaran dipipiku.
“Eh, hujannya udah mulai reda nih,
aku antar pulang yuk. Rumah kamu dimana?”
“Eh gak usah kak, aku jalan aja. gak
papa kok”
“Udah sekalian sama aku aja Vio,
pokoknya kamu gak boleh nolak. Oke?
“Tapi kak.. aku gak enak”
“Kan aku yang nawarin, kenapa harus
gak enak? Ayolah” paksanya, aku akhirnya luluh dan mengangguk, sebenarnya aku
sangat senang sekali, ingin sekali rasanya aku loncat-loncat sanking senangnya.
Radit mengeluarkan kunci mobilnya kemudian menarik tanganku untuk naik
dimobilnya, perlahan aku masuk, aku merasakan aroma harum didalam mobilnya,
benar-benar mobil yang sangat nyaman.
***
Sesampainya di kost’an ku, aku
berterima kasih padanya, “Makasih ya kak, kamu baik banget sih sama aku. maaf
ngerepotin”
“Anytime
dear, gak merasa direpotin kok” ujarnya tulus,
“Yaudah aku masuk dulu ya kak”
ketika aku hendak membuka pintu mobil tiba-tiba dia memegang bahku. “Hey, boleh
minta nomor hp kamu gak?”
“Oh boleh kak,” Akhirnya kami
bertukaran nomor hp, aku memberinya nomor hp ku dan dia memberikan nomor hpnya
untukku. “Makasih ya Viona, nice to meet
you” “Nice to meet you to”
***
“Lo tau gak Mir? Kemaren pas gue
pulang sekolah, gue kenalan sama cowok ganteng, gilaa sumpah seneng banget gue”
ujarku berapi-api, Mira terlihat antusias dan mendengar semua cerita ku tentang
Radit, “Ih gue penasaran gila sama Radit itu, kenalin ke gue dong Viona… gue
pingin liat wajahnya.. sumpah” ujar Mira antusias.
“Nanti ya Mir, katanya dia mau
jemput gue ntar pulang sekolah. Tapi gatau deh bener atau enggak” ujarku,
“Wahh mau jemput lo Vio? Beruntung
banget lo bisa kenal sama dia” Aku hanya tersenyum menyetujui perkataan
sahabatku itu, ya.. benar aku memang beruntung dapat berkenalan dengan ka
Radit.
Seminggu sudah berlalu, hubunganku dengan
Radit semakin dekat, banyak hal yang aku ketahui sekarang tentang dirinya, Mira
juga sudah sempat kukenalkan dengannya. Walaupun sudah dibilang sangat dekat,
hubungan kami masih sebatas teman, tak lebih. Terkadang aku berpikir, apakah
aku pantas menginginkan hubungan kami untuk lebih dari sekedar teman? Mungkin
terlalu cepat, tapi entah mengapa aku merasa sangat nyaman berada didekatnya,
hubungan yang berawal dari kecintaan kami terhadap hujan, ya Tuhan.
Aku sadar cepat atau lambat,
perasaan ini tak bisa dipungkiri, semakin lama aku semakin menaruh perasaan
yang lebih pada Radit, aku berharap bisa menghilangkan perasaan aneh ini, tapi
aku tak punya kekuatan lebih akan itu. Yang aku tau sekarang, sulit bagiku
untuk menerima kenyataan bahwa Radit jauh dariku, hatinya sudah memiliki
sebagian kecil dari hatiku.
Hari ini Radit ingin berjumpa
denganku ditaman biasa kami bertemu, aku tak tahu pasti apa maksudnya menyuruhku
datang menemuinya disana.
Aku berjalan menuju bangku taman
itu, dari jauh aku sudah melihat Radit duduk di bangku itu, aku mempercepat
langkahku dan menepuk bahunya dari belakang.
“Hey kak. Udah lama nunggunya?”
tanyaku tersenyum,
“Enggak kok Vio, baru aja” jawabnya,
kemudian aku duduk disebelahnya, aku merasa hari ini sifatnya aneh, dia sedikit
diam dan wajahnya kelihatan lagi memikirkan sesuatu.
“Ada apa kak?” tanyaku memulai
pembicaraan, “Ada yang mau aku bilang sama kamu Vi” ujar Radit, aku melihat
kesedihan dimatanya, aku mulai khawatir, apa yang ingin dibicarakan oleh Radit,
aku hanya diam menunggu lanjutan kalimatnya.
“Ini perjumpaan terakhir kita”
ucapnya, aku terkejut mendengar ucapannya, apa maksudnya perjumpaan terakhir? Ya
Tuhan, ada apa ini?
“Mak… mak,.. maksud nya kak?”
tanyaku terbata-bata,
“Maaf Viona, seharusnya emang dari
awal aku gak biarin kamu dekat sama aku, sejujurnya, pacar aku, tahu kedekatan
kita, dia pikir aku dan kamu punya hubungan khusus, jadi…” Radit diam sesaat, aku
mencoba menebak apa kalimat yang akan dikeluarkannya lagi.
Pacar?
Kak Radit punya pacar? Ya Allah, kenapa aku merasa sesakit ini? kenapa aku
merasa sekecewa ini ya Allah? Aku mencoba menahan air mata yang akan jatuh,
aku berusaha sekuat mungkin untuk tak menangis, aku memang tak berhak menangis,
dia bukan siapa-siapaku.
“Jadi dia minta aku untuk gak
berhubungan sama kamu lagi, Vi, maaf, aku gak bisa nolak permintaannya.” Ujar Radit, kali ini air mataku benar-benar
menetes, hujan pun perlahan mulai datang, mungkin Radit tak dapat membedakan
mana hujan dan mana air mataku, aku benar-benar menangis. Aku sedih, aku kesal,
aku kecewa, aku bingung, semua menjadi satu.
Ya
Allah kenapa seberat ini rasanya? Mungkin aku masih bisa terima kalau kak Radit
memang memiliki pacar, tapi jujur aku tak bisa menerima untuk tak berhubungan
dengannya lagi, ini terlalu sulit ya Allah…
“Kenapa
kak? Kenapa harus gak boleh berhubungan lagi?” tanyaku ditengah isakan
tangisku, aku yakin dia menyadari aku menangis, tapi aku tak perduli.
“Maafin aku Viona, maaf baget bikin
kamu nangis, tapi aku gak bisa ngelakuin apapun”
“Aku gak mau jauh dari kamu kak, aku
gak bisa..” jawabku jujur, aku tak perduli dengan derasnya hujan yang membuat
bajuku basah, aku tak perduli dengan dinginnya sore ini, aku hanya mau Radit
selalu denganku. “Kamu bisa Viona, percaya sama aku, kamu bisa”ujarnya
meyakinkan, “please don’t do that, aku..a..aku sayang kamu kak” tangisku tambah
kencang, aku tak dapat menahan isakan itu, aku tak tahu sejak kapan aku nangis
karena cowok, tapi yang jelas aku disini berharap semua ini hanya mimpi. “Percaya
sama aku akan satu hal Vio, aku juga sayang kamu. Tapi.. aku harus ngelakuin
ini, aku punya pacar. Makasih udah beri begitu banyak hal indah beberapa minggu
ini, aku beruntung pernah kenal kamu” Kemudian Radit mencium keningku dan pergi
meninggalkanku sendiri, hanya hujan yang menemaniku, hujan yang jadi saksi
bagaimana rasa sakit dan perih dihati ini.
Aku
tahu kamu sedih Viona, maafin aku telah buat kamu seperti ini, aku gak bisa
ngelakuin apapun Vio, andai aku bisa merubah keadaan, andai aku bisa dikit aja
ambil keputusan, tapi aku gak bisa apa-apa, aku gak bisa milih kamu, aku sudah
dimiliki oleh wanita lain Viola.. maafin aku. please jangan nangis, aku gak mau
kamu nangis Cuma buat cowok kayak aku.
***
Aku mulai menerima keadaan, sudah
hampir sebulan aku tak berhubungan lagi dengan Radit, jujur setiap mengingat
dirinya namanya masih menyimpan sebersit luka dihatiku, apalagi setiap hujan
turun, begitu banyak kenangan yang dia hadirkan dalam hidupku walau hanya
beberapa hari, mungkin dia memang cinta pertamaku, tapi, bukankah cinta itu
datang sendiri dan pergi dengan sendirinya? Entah sampai kapan aku memendam
perasaan ini, yang jelas aku tak pernah berniat melupakannya dari hatiku,
karena aku yakin, suatu saat aku akan menemukan yang terbaik, mungkin hanya
tinggal menunggu waktu, entah kapan aku tak tahu, yang jelas aku akan menunggu
penggantimu Radit.
Aku memeluk boneka beruang pemberian
Radit waktu itu, tangisku muncul lagi, setiap melihat boneka ini, aku selalu
teringat wajah dan senyum nya,
Kamu
lagi ngapain sih kak? Pernah gak sih dikit aja kamu mikirin perasaan ini? apa
kamu udah bahagia dengan pacar kamu ya?kamu udah gak ingat sama aku lagi?
Tiba-tiba aku mendengar pintu
kamarku diketuk oleh seseorang, aku cepat-cepat menghapus air mataku yang
sedari tadi meluncur bebas, aku membenarkan posisi rambutku agar tak terlihat
berantakan, itu pasti Mira, katanya dia akan bermain ke kost ku malam ini.
Aku membuka pintu kamarku, tetapi dugaanku ternyata salah, dia bukan Mira, aku menebak-nebak siapa lelaki ini, karena dia menghadap membelakangiku, tetapi postur tubuhnya aku yakin sudah tak asing bagiku.
Aku membuka pintu kamarku, tetapi dugaanku ternyata salah, dia bukan Mira, aku menebak-nebak siapa lelaki ini, karena dia menghadap membelakangiku, tetapi postur tubuhnya aku yakin sudah tak asing bagiku.
“Hey,” sapaku, kemudian dia berbalik
menatap wajahku, aku tertegun melihat siapa yang berdiri tepat didepanku,
lelaki yang selama ini kurindukan, lelaki yang hampir membuatku tak punya
semangat hidup, ya Tuhan, apa ini mimpi?
“Kak Radit” ucapku tak percaya, dia
hanya diam, kemudian aku mempersilahkannya masuk dan duduk di sofa kamarku,
kamar kost ku lumayan besar, jadi ada ruangan khusus untuk menempatkan tamu
yang berkunjung. Radit duduk di sofaku, aku pun duduk didepannya, aku bingung
harus berkata apa, ingin sekali aku memeluknya, ingin sekali aku mengatakan
bahwa aku sangat merindukannya.
“Viona, apa kabar?” tanya Radit, “Aku
baik kak..” jawabku singkat, Dia mengangguk, lalu terdiam lagi, aku bingung
harus bagaimana, aku tak tahu apa maksudnya datang malam seperti ini, apakah
dia hanya ingin memberitahu bahwa dia dan pacarnya akan segera tunangan? Atau menikah?
Atau yang lain? Entahlah, aku sudah sangat kebal dengan rasa sakit ini.
“Aku kesini karena aku rindu banget
sama kamu,”
“Masa? Tapi kamu yang minta buat gak
berhubungan sama aku lagi” jawabku,
“Aku tahu itu, tapi setelah aku jauh
dari kamu Vi, aku merasa sebagian hidupku hilang, dan aku sadar aku juga gak
bisa jauh dari kamu” ujarnya menatapku, aku tersenyum kecil.
“Kak… gak usah becanda, kamu udah
punya pacar, aku ngerti.”
“Aku udah putus sama pacar aku dua
minggu yang lalu” jawabnya cepat, aku tercengang, walaupun kaget tapi jujur
sebagian dari hatiku merasa senang. “Oh.?”
“Viona, aku mutusin pacar aku,
karena aku yakin, semenjak kenal kamu, hati aku Cuma buat kamu, aku cinta sama
kamu” ujarnya menggenggam tanganku, air mata mulai membasahi pipiku setetes
demi setetes, “Tapi kenapa waktu itu kamu tega ninggalin aku kak? Apa itu yang
namanya cinta?”
“Waktu itu emang aku gak punya
pilihan Viona, aku dijodohin, aku pacaran sama dia juga bukan kemauanku, aku
gak pernah cinta sama dia, percaya sama aku”
“Tapi kenapa kakak harus datang
sekarang? Bukannya kakak bilang kakak udah putus sama dia dari semenjak dua
minggu yang lalu? Hah? Kenapa kak?” ujarku menahan emosi, “Maaf, aku juga waktu
itu ingin jelasin ini semua sama kamu, tapi aku tak punya keberanian, aku takut
kamu marah, aku takut kamu gak mau ketemu sama aku, aku takut sama semua
pikiran-pikiran aku tentang kamu Viona.” Aku terdiam mendengar penjelasan
Radit, aku merasa genggamannya semakin erat, kemudian dia beralih duduk
disampingku, menyentuh pipiku, dan menghusap air mataku, “Maaf udah bikin kamu
nangis, maaf udah pernah bikin kamu kecewa, maaf udah ninggalin kamu waktu itu,
maafin aku Vio, aku tahu aku cowok paling bodoh biarin kamu sedih karena aku,”
Dia menarik ku dalam pelukannya, aku melingkarkan tanganku dipinggangnya erat,
aku sadar air mataku mulai membasahi kaos hitamnya, tapi aku tak perduli.
“Aku udah lama maafin kamu kak, aku
gak pernah benci sama kamu, karena aku juga cinta sama kamu” jawabku akhirnya.
“Kamu mau jadi pacar aku kan Viona?”
“Tapi kamu harus janji satu hal”
“Apa?”
“Jangan kecewain aku, jangan pernah ninggalin aku”
“Jangan kecewain aku, jangan pernah ninggalin aku”
“I’m
Promise honey, please be mine”
“I’m
yours,”
“Thanks
my Rain Girl,” Aku mempererat pelukanku, aku merasa segala beban dihidupku
hilang, aku tak pernah sebahagia ini, aku tak pernah sehidup ini ya Tuhan. Makasih,
rencanamu sungguh indah. Makasih juga untuk hujan yang yang mempertemukan aku
dan Radit, my Rain Boy. Aku cinta
kamu Radit….
nb : kak Indra, maaf kalau ceritanya gak memuaskan, but thx for idea yah :)
nb : kak Indra, maaf kalau ceritanya gak memuaskan. but thx for idea yah ;)
My Slide Show Photo
My Slide Show Photo by Slidely Slideshow
heheheh bagus kok de :) cuma karna ini cerpen jadi trasa singkat aja, kalau di perpanjang keren tuh heheh
ReplyDelete