Posted by : R.A Trivani Desyara July 21, 2013

Aku melihat dari balik jendela kelasku, gerimis mulai turun dengan perlahan, aku mulai mengukir senyum diwajahku, biasanya jika gerimis mulai datang tak lama lagi hujan akan turun. Pikirku, aku melirik jam tangan yang melingkar dipergelangan tanganku, sebentar lagi jam waktu pulang sekolah akan tiba, aku berniat untuk pulang dengan jalan kaki, menikmati setiap tetesan hujan yang membasahi bumi, mungkin sebagian orang menganggapnya aneh, tetapi aku tak perduli, apapun yang berhubungan dengan hujan, itu sudah menjadi bagian dari hidupku. Namaku Viona Larasati, panggil aja Viona atau Vio, sekarang aku duduk dibangku kelas dua belas, aku tinggal di Bandung, walaupun aku kelahiran di Jakarta, tetapi aku memutuskan untuk melanjutkan SMA di Bandung karena aku sangat menyukai kota ini, dan untungnya orangtua ku menyetujui kepindahanku ke Bandung, dan aku memutuskan untuk tinggal di kost’an kecil di daerah Bandung. Aku memang terbiasa hidup mandiri, jadi hanya untuk sekedar tinggal dikota ini sendirian, tak masalah besar bagiku.  
            Jam pulang sekolah tiba, dengan cepat aku membereskan semua peralatan tulisku dan memasukkannya dengan rapi kedalam tas. “Hey, mau pulang jalan kaki lagi lo?” tanya Mira, teman sebangku ku, aku tersenyum dan mengangguk. “Kenapa Mir? Mau ikut? Haha” candaku, dia menggeleng dengan cepat. “Ogah, males banget gue basah-basahan, huh” jawabnya polos.
            “Kan pake payung sayang, basah juga paling Cuma dikit” jawabku datar, dia tetap menggelang dengan pasti. Aku hanya mengangkat bahaku tanda menyerah. “Yuk pulang” aku menarik tangan sahabatku itu dan kami bergegas meninggalkan kelas.
            Benar saja, hujan perlahan mulai turun dengan lebatnya dan membuat semua orang mengeluh karena kedinginan dan kebasahan, tapi berbeda denganku, setiap tetesan hujan yang jatuh aku selalu mensyukuri ciptaan Tuhan ini. Aku mengeluarkan payung kecil dari tasku dan membukanya, kemudian pelan-pelan aku menginjakkan kakiku di atas genangan air di aspal jalanan. “Viona…” panggil seseorang dari arah belakang, aku langsung melihat siapa yang memanggilku, suara itu tak asing lagi bagiku. Dia adalah Roni, cowok terkenal playboy disekolahku ini, banyak gadis yang memuja dan memujinya tapi tidak bagiku, sudah beberapa kali dia menyatakan cinta padaku tetapi ku tolak, karena aku tak mau jatuh dalam permainannya. “Ada Apa Ron?” tanyaku acuh tak acuh, “Pulang sama gue aja yuk, naik motor, kan hujan Vio, ntar lu sakit” ujarnya, “Hmm.. gak papa lagi Ron, gue suka sama hujan kok, jadi ya lu gak usah repot-repot ngantar gue, oke? Thanks” balasku lalu bergegas pergi meninggalkan Roni yang kesal melihat tingkahku padanya. Dih males banget deh gue sama dia, dasar playboy.
***

            Aku berjalan terus sambil menikmati tetesan-tetesan hujan yang jatuh ke bumi ini, terkadang aku menyentuh butiran itu dari balik payung hijauku, samar-samar aku melihat seorang lelaki memakai kemeja coklat dengan celana hitam panjang duduk dihalte bus sendirian, disebelahnya terparkir sebuah mobil jazz putih, mobil siapa itu? Apakah mobilnya? Tetapi kenapa dia duduk di halte itu? Untuk apa dia sendirian menatap rintikan hujan dihalte itu? Aneh! Pikirku, kemudian aku berjalan mendekati halte itu, pandanganku tak lepas dari sosok lelaki muda tampan itu. Oke Viona.. kenapa gue bisa bilang dia ganteng? Padahal baru liat juga, astagfirullah, dasar bodoh.
            Aku sekarang berjalan tepat didepannya, bodohnya aku tetap melihatnya, dan sekarang dia juga melihatku, dia menatapku bingung, aku juga bingung dengan diriku yang tak bisa lepas dari pandangan matanya, lalu kemudian aku bisa merasakan segaris senyum dia berikan padaku, aku membalasnya dengan senyuman kecil juga. “Hey, kenapa liatin aku kayak gitu banget?” tanya cowok itu padaku sambil tersenyum ramah, aku kaget mendengar pertanyaannya, “Ehh. Hmm.. ini, eumm gak papa kok kak, maaf” ucapku terbata-bata, aku rasa dia lebih tua daripadaku jadi aku menyebutnya dengan panggilan ‘kak’ oke mungkin lebih baik seperti itu untuk menghormati. Dia tertawa kecil melihat kegugupanku, aku pun tersenyum malu.
            Astaga ya ampun, mimpi apa gue bisa ketemu orang seganteng ini, senyumnya ya Allah… manis bangettt.
            “Kenapa minta maaf? Gak papa kok, aneh ya lihat aku duduk disini sendirian?” tanya cowok itu seperti tahu apa yang kupikirkan, aku hanya tersenyum tak jelas sebagai jawaban. Aku tetap berdiri disitu, aku tak tahu apa yang harus kulakukan sekarang, apakah harus pergi atau tetap berdiri disini? Entahlah, aku hanya menunggu kalimatnya saja.
            “Hehe, kamu lucu deh, dari pada kamu berdiri disitu, mendingan kamu temenin aku duduk disini” ujarnya sambil mempersilahkan aku duduk disampingnya, dan parahnya aku merasa jantungku benar-benar tak karuan. “Engg..enggak usah kak, aku langsung pulang aja” jawabku akhirnya, karena aku merasa belum kenal sama sekali dengan cowok dihadapanku ini, aku memutuskan untuk menjaga jarak, bukan bermaksud berpikiran negative, tetapi aku rasa tak seharusnya aku duduk dengannya disitu, karena kami sama-sama belum saling mengenal.
            “Kamu mau pulang? Hujannya deras banget loh, ntar seragam kamu basah”
            “Aku suka hujan kok, so, no problem” jawabku masih dengan senyuman, kemudian aku perlahan mulai melangkahkan kaki ku meninggalkan cowok itu, kemudian aku merasa cowok yang belum kukenal itu menarik pergelangan tanganku, aku terhenti, sekarang aku benar-benar gugup, untuk apa dia memegang tanganku.
            “Kamu suka hujan? Hey, aku juga suka hujan loh” ucapnya tanpa ditanya, tapi kemudian mataku membesar, terkejut atas pengakuannya, apa benar dia juga pecinta hujan sama sepertiku? Jujur jarang sekali aku melihat lelaki yang menyukai hujan. “Serius kak? Masa sih?” tanyaku tak percaya, kemudian dia menganggukkan kepalanya cepat. Aku masih menatapnya dengan tatapan tak percaya. “It’s why I’m here.” Jawabya santai, kemudian saat itu juga gemuruh petir datang dengan suara yang sangat kencang, aku kaget dan sangat ketakutan, aku menutup mataku dan kupingku, membiarkan payungku jatuh, dan akhirnya bajuku basah karena terkena butiran-demi butiran hujan siang itu. “Kan baju kamu basah tuh, udah temenin aku aja disini dulu, kita bisa cerita bareng tentang hujan. Ayolah, aku bukan orang jahat kok” ajaknya, mau tak mau aku harus menyetujui permintannya, karena jujur tak mungkin aku pulang sekarang ditengah petir yang sangat besar ini, aku memang sangat mencintai hujan, tapi aku tak suka petir!
            “Sini duduk disamping aku, ngapain kamu berdiri disitu terus.” Ujarnya sambil menarik tanganku untuk duduk disampingnya, akhinya aku pun duduk disampingnya, aku merasakan kehangat saat aku berada disampingnya, demi tuhan lelaki ini hampir membuat nafasku berhenti, ramah, baik, sopan, tampan, ya ampun…  aku hanya bisa diam tak berkutik selama disampingnya, aku tak sanggup berbicara apapun.
            “Kamu bilang kamu suka hujan kan? Sejak kapan?” tanya nya memulai pembicaraan, masih dengan nada bicara yang lembut dan membuatku nyaman berada didekatnya, “Udah lama sih kak, semenjak kecil juga suka sama hujan” jawabku,
            “Oh ya? Emang kenapa kamu suka sama hujan?” tanya nya lagi,
            “Hujan itu indah, hujan itu damai, hujan itu penuh dengan kenangan, dan hujan itu udah bagian dari hidup aku kak” jawabku lagi sambil terus memandangi hujan yang turun bergiliran. Setiap melihat hujan aku tak dapat menahan kekagumanku akan ciptaan tuhan yang satu ini, betapa indahnya hujan.
            “Oh.. iya yah, hujan itu indah banget. Kamu bener, orang bodoh yang gak suka sama hujan”  Aku mengangguk meng-iyakan ucapannya, “Kakak sendiri kenapa bisa suka sama hujan?” tanyaku, kali ini aku memberanikan diri menatap nya.
            “Gak tahu entah sejak kapan, semenjak hujan datang, aku selalu merasa beban dihidupku hilang, sejenak aku bisa melupakan masalah-maslaah yang ada dikehidupanku, itu alasan aku sangat suka sama hujan.” Jawabnya. Aku mengangguk meng-iyakan ucapannya, tak menyangka aku bisa bertemu dengan lelaki yang begitu senang dengan hujan.
            “Oh iya, nama kamu siapa kalau boleh tau?” tanya cowok itu menatapku, aku menjulurkan tanganku dan dia membalas juluran tanganku, “Viona” jawabku, “Radit” jawabnya sambil tersenyum.
            Ya Allah.. demi apapun, gue senang banget bisa kenalan sama kak Radit, astaga tangannya lembut banget…bisa pingsan gue disini. Pikiranku mulai berkeliaran entah kemana.
            “Kamu kelas berapa Viona?” tanya nya lagi, “Kelas dua belas kak” jawabku, dia hanya mengangguk. “Kakak kuliah atau udah kerja?”
            “Aku kuliah sambil kerja, hehe.”
            “Oh ya? Hebat dong kak. Oh ya, kalau boleh tau, kenapa kak duduk sendiri disini? Itu mobil kakak kan? Kenapa gak langsung pulang?” Aku sangat penasaran jadi aku memutuskan untuk bertanya padanya.
            “Iya itu mobil aku, aku tadi lagi nyetir, rencana mau pulang sih, Cuma tiba-tiba hujan turun kan, yaudah aku liat ada halte kosong disini, aku duduk aja. niatnya mau mandangin hujan gitu Vi” ujarnya, “Wow, sesuka itu sama hujan yah? Sama kayak aku”
            “Iya emang aku suka hujan, suka banget,  kebetulan ketemu sama kamu disini, beruntung banget ya aku, ketemu gadis cantik, baik, suka hujan lagi” jawabnya memandangiku, aku tersenyum malu mendengar ucapannya tentangku. Aku tak dapat menahan senyum yang berkeliaran dipipiku.
            “Eh, hujannya udah mulai reda nih, aku antar pulang yuk. Rumah kamu dimana?”
            “Eh gak usah kak, aku jalan aja. gak papa kok”
            “Udah sekalian sama aku aja Vio, pokoknya kamu gak boleh nolak. Oke?
            “Tapi kak.. aku gak enak”
            “Kan aku yang nawarin, kenapa harus gak enak? Ayolah” paksanya, aku akhirnya luluh dan mengangguk, sebenarnya aku sangat senang sekali, ingin sekali rasanya aku loncat-loncat sanking senangnya. Radit mengeluarkan kunci mobilnya kemudian menarik tanganku untuk naik dimobilnya, perlahan aku masuk, aku merasakan aroma harum didalam mobilnya, benar-benar mobil yang sangat nyaman.
***

            Sesampainya di kost’an ku, aku berterima kasih padanya, “Makasih ya kak, kamu baik banget sih sama aku. maaf ngerepotin”
            “Anytime dear, gak merasa direpotin kok” ujarnya tulus,
            “Yaudah aku masuk dulu ya kak” ketika aku hendak membuka pintu mobil tiba-tiba dia memegang bahku. “Hey, boleh minta nomor hp kamu gak?”
            “Oh boleh kak,” Akhirnya kami bertukaran nomor hp, aku memberinya nomor hp ku dan dia memberikan nomor hpnya untukku. “Makasih ya Viona, nice to meet you” “Nice to meet you to”
***

            “Lo tau gak Mir? Kemaren pas gue pulang sekolah, gue kenalan sama cowok ganteng, gilaa sumpah seneng banget gue” ujarku berapi-api, Mira terlihat antusias dan mendengar semua cerita ku tentang Radit, “Ih gue penasaran gila sama Radit itu, kenalin ke gue dong Viona… gue pingin liat wajahnya.. sumpah” ujar Mira antusias.
            “Nanti ya Mir, katanya dia mau jemput gue ntar pulang sekolah. Tapi gatau deh bener atau enggak” ujarku,
            “Wahh mau jemput lo Vio? Beruntung banget lo bisa kenal sama dia” Aku hanya tersenyum menyetujui perkataan sahabatku itu, ya.. benar aku memang beruntung dapat berkenalan dengan ka Radit.

            Seminggu sudah berlalu, hubunganku dengan Radit semakin dekat, banyak hal yang aku ketahui sekarang tentang dirinya, Mira juga sudah sempat kukenalkan dengannya. Walaupun sudah dibilang sangat dekat, hubungan kami masih sebatas teman, tak lebih. Terkadang aku berpikir, apakah aku pantas menginginkan hubungan kami untuk lebih dari sekedar teman? Mungkin terlalu cepat, tapi entah mengapa aku merasa sangat nyaman berada didekatnya, hubungan yang berawal dari kecintaan kami terhadap hujan, ya Tuhan.
            Aku sadar cepat atau lambat, perasaan ini tak bisa dipungkiri, semakin lama aku semakin menaruh perasaan yang lebih pada Radit, aku berharap bisa menghilangkan perasaan aneh ini, tapi aku tak punya kekuatan lebih akan itu. Yang aku tau sekarang, sulit bagiku untuk menerima kenyataan bahwa Radit jauh dariku, hatinya sudah memiliki sebagian kecil dari hatiku.
            Hari ini Radit ingin berjumpa denganku ditaman biasa kami bertemu, aku tak tahu pasti apa maksudnya menyuruhku datang menemuinya disana.
            Aku berjalan menuju bangku taman itu, dari jauh aku sudah melihat Radit duduk di bangku itu, aku mempercepat langkahku dan menepuk bahunya dari belakang.
            “Hey kak. Udah lama nunggunya?” tanyaku tersenyum,
            “Enggak kok Vio, baru aja” jawabnya, kemudian aku duduk disebelahnya, aku merasa hari ini sifatnya aneh, dia sedikit diam dan wajahnya kelihatan lagi memikirkan sesuatu.
            “Ada apa kak?” tanyaku memulai pembicaraan, “Ada yang mau aku bilang sama kamu Vi” ujar Radit, aku melihat kesedihan dimatanya, aku mulai khawatir, apa yang ingin dibicarakan oleh Radit, aku hanya diam menunggu lanjutan kalimatnya.
            “Ini perjumpaan terakhir kita” ucapnya, aku terkejut mendengar ucapannya, apa maksudnya perjumpaan terakhir? Ya Tuhan, ada apa ini?
            “Mak… mak,.. maksud nya kak?” tanyaku terbata-bata,
            “Maaf Viona, seharusnya emang dari awal aku gak biarin kamu dekat sama aku, sejujurnya, pacar aku, tahu kedekatan kita, dia pikir aku dan kamu punya hubungan khusus, jadi…” Radit diam sesaat, aku mencoba menebak apa kalimat yang akan dikeluarkannya lagi.
            Pacar? Kak Radit punya pacar? Ya Allah, kenapa aku merasa sesakit ini? kenapa aku merasa sekecewa ini ya Allah? Aku mencoba menahan air mata yang akan jatuh, aku berusaha sekuat mungkin untuk tak menangis, aku memang tak berhak menangis, dia bukan siapa-siapaku.
            “Jadi dia minta aku untuk gak berhubungan sama kamu lagi, Vi, maaf, aku gak bisa nolak permintaannya.”  Ujar Radit, kali ini air mataku benar-benar menetes, hujan pun perlahan mulai datang, mungkin Radit tak dapat membedakan mana hujan dan mana air mataku, aku benar-benar menangis. Aku sedih, aku kesal, aku kecewa, aku bingung, semua menjadi satu.
            Ya Allah kenapa seberat ini rasanya? Mungkin aku masih bisa terima kalau kak Radit memang memiliki pacar, tapi jujur aku tak bisa menerima untuk tak berhubungan dengannya lagi, ini terlalu sulit ya Allah…
            “Kenapa kak? Kenapa harus gak boleh berhubungan lagi?” tanyaku ditengah isakan tangisku, aku yakin dia menyadari aku menangis, tapi aku tak perduli.
            “Maafin aku Viona, maaf baget bikin kamu nangis, tapi aku gak bisa ngelakuin apapun”
            “Aku gak mau jauh dari kamu kak, aku gak bisa..” jawabku jujur, aku tak perduli dengan derasnya hujan yang membuat bajuku basah, aku tak perduli dengan dinginnya sore ini, aku hanya mau Radit selalu denganku. “Kamu bisa Viona, percaya sama aku, kamu bisa”ujarnya meyakinkan,  “please don’t do that, aku..a..aku sayang kamu kak” tangisku tambah kencang, aku tak dapat menahan isakan itu, aku tak tahu sejak kapan aku nangis karena cowok, tapi yang jelas aku disini berharap semua ini hanya mimpi. “Percaya sama aku akan satu hal Vio, aku juga sayang kamu. Tapi.. aku harus ngelakuin ini, aku punya pacar. Makasih udah beri begitu banyak hal indah beberapa minggu ini, aku beruntung pernah kenal kamu” Kemudian Radit mencium keningku dan pergi meninggalkanku sendiri, hanya hujan yang menemaniku, hujan yang jadi saksi bagaimana rasa sakit dan perih dihati ini.

            Aku tahu kamu sedih Viona, maafin aku telah buat kamu seperti ini, aku gak bisa ngelakuin apapun Vio, andai aku bisa merubah keadaan, andai aku bisa dikit aja ambil keputusan, tapi aku gak bisa apa-apa, aku gak bisa milih kamu, aku sudah dimiliki oleh wanita lain Viola.. maafin aku. please jangan nangis, aku gak mau kamu nangis Cuma buat cowok kayak aku.

***

            Aku mulai menerima keadaan, sudah hampir sebulan aku tak berhubungan lagi dengan Radit, jujur setiap mengingat dirinya namanya masih menyimpan sebersit luka dihatiku, apalagi setiap hujan turun, begitu banyak kenangan yang dia hadirkan dalam hidupku walau hanya beberapa hari, mungkin dia memang cinta pertamaku, tapi, bukankah cinta itu datang sendiri dan pergi dengan sendirinya? Entah sampai kapan aku memendam perasaan ini, yang jelas aku tak pernah berniat melupakannya dari hatiku, karena aku yakin, suatu saat aku akan menemukan yang terbaik, mungkin hanya tinggal menunggu waktu, entah kapan aku tak tahu, yang jelas aku akan menunggu penggantimu Radit.
            Aku memeluk boneka beruang pemberian Radit waktu itu, tangisku muncul lagi, setiap melihat boneka ini, aku selalu teringat wajah dan senyum nya,
            Kamu lagi ngapain sih kak? Pernah gak sih dikit aja kamu mikirin perasaan ini? apa kamu udah bahagia dengan pacar kamu ya?kamu udah gak ingat sama aku lagi?
            Tiba-tiba aku mendengar pintu kamarku diketuk oleh seseorang, aku cepat-cepat menghapus air mataku yang sedari tadi meluncur bebas, aku membenarkan posisi rambutku agar tak terlihat berantakan, itu pasti Mira, katanya dia akan bermain ke kost ku malam ini.
            Aku membuka pintu kamarku, tetapi dugaanku ternyata salah, dia bukan Mira, aku menebak-nebak siapa lelaki ini, karena dia menghadap membelakangiku, tetapi postur tubuhnya aku yakin sudah tak asing bagiku.
            “Hey,” sapaku, kemudian dia berbalik menatap wajahku, aku tertegun melihat siapa yang berdiri tepat didepanku, lelaki yang selama ini kurindukan, lelaki yang hampir membuatku tak punya semangat hidup, ya Tuhan, apa ini mimpi?
            “Kak Radit” ucapku tak percaya, dia hanya diam, kemudian aku mempersilahkannya masuk dan duduk di sofa kamarku, kamar kost ku lumayan besar, jadi ada ruangan khusus untuk menempatkan tamu yang berkunjung. Radit duduk di sofaku, aku pun duduk didepannya, aku bingung harus berkata apa, ingin sekali aku memeluknya, ingin sekali aku mengatakan bahwa aku sangat merindukannya.
            “Viona, apa kabar?” tanya Radit, “Aku baik kak..” jawabku singkat, Dia mengangguk, lalu terdiam lagi, aku bingung harus bagaimana, aku tak tahu apa maksudnya datang malam seperti ini, apakah dia hanya ingin memberitahu bahwa dia dan pacarnya akan segera tunangan? Atau menikah? Atau yang lain? Entahlah, aku sudah sangat kebal dengan rasa sakit ini.
            “Aku kesini karena aku rindu banget sama kamu,”
            “Masa? Tapi kamu yang minta buat gak berhubungan sama aku lagi” jawabku,
            “Aku tahu itu, tapi setelah aku jauh dari kamu Vi, aku merasa sebagian hidupku hilang, dan aku sadar aku juga gak bisa jauh dari kamu” ujarnya menatapku, aku tersenyum kecil.
            “Kak… gak usah becanda, kamu udah punya pacar, aku ngerti.”
            “Aku udah putus sama pacar aku dua minggu yang lalu” jawabnya cepat, aku tercengang, walaupun kaget tapi jujur sebagian dari hatiku merasa senang.  “Oh.?”
            “Viona, aku mutusin pacar aku, karena aku yakin, semenjak kenal kamu, hati aku Cuma buat kamu, aku cinta sama kamu” ujarnya menggenggam tanganku, air mata mulai membasahi pipiku setetes demi setetes, “Tapi kenapa waktu itu kamu tega ninggalin aku kak? Apa itu yang namanya cinta?” 
            “Waktu itu emang aku gak punya pilihan Viona, aku dijodohin, aku pacaran sama dia juga bukan kemauanku, aku gak pernah cinta sama dia, percaya sama aku”
            “Tapi kenapa kakak harus datang sekarang? Bukannya kakak bilang kakak udah putus sama dia dari semenjak dua minggu yang lalu? Hah? Kenapa kak?” ujarku menahan emosi, “Maaf, aku juga waktu itu ingin jelasin ini semua sama kamu, tapi aku tak punya keberanian, aku takut kamu marah, aku takut kamu gak mau ketemu sama aku, aku takut sama semua pikiran-pikiran aku tentang kamu Viona.” Aku terdiam mendengar penjelasan Radit, aku merasa genggamannya semakin erat, kemudian dia beralih duduk disampingku, menyentuh pipiku, dan menghusap air mataku, “Maaf udah bikin kamu nangis, maaf udah pernah bikin kamu kecewa, maaf udah ninggalin kamu waktu itu, maafin aku Vio, aku tahu aku cowok paling bodoh biarin kamu sedih karena aku,” Dia menarik ku dalam pelukannya, aku melingkarkan tanganku dipinggangnya erat, aku sadar air mataku mulai membasahi kaos hitamnya, tapi aku tak perduli.
            “Aku udah lama maafin kamu kak, aku gak pernah benci sama kamu, karena aku juga cinta sama kamu” jawabku akhirnya.
            “Kamu mau jadi pacar aku kan Viona?”
            “Tapi kamu harus janji satu hal”
            “Apa?”
            “Jangan kecewain aku, jangan pernah  ninggalin aku”
            “I’m Promise honey, please be mine”
            “I’m yours,”

            “Thanks my Rain Girl,” Aku mempererat pelukanku, aku merasa segala beban dihidupku hilang, aku tak pernah sebahagia ini, aku tak pernah sehidup ini ya Tuhan. Makasih, rencanamu sungguh indah. Makasih juga untuk hujan yang yang mempertemukan aku dan Radit, my Rain Boy. Aku cinta kamu Radit….  


nb : kak Indra, maaf kalau ceritanya gak memuaskan, but thx for idea yah :)

nb : kak Indra, maaf kalau ceritanya gak memuaskan. but thx for idea yah ;)

{ 1 comments... read them below or add one }

  1. heheheh bagus kok de :) cuma karna ini cerpen jadi trasa singkat aja, kalau di perpanjang keren tuh heheh

    ReplyDelete

My Slide Show Photo

My Slide Show Photo by Slidely Slideshow

- Copyright © 2013 Trivani Desyara - Trivani Desyara - Powered by Blogger - Designed by Rain Boy -