Posted by : indra rusyandi March 29, 2014

Sudah lama aku menyendiri dalam sepi, sudah lama aku menangis tanpa ada kekasih dalam hidup, aku yakin, suatu saat, aku bisa tersenyum lagi, bisa menikmati hangatnya sentuhan seseorang yang benar-benar tulus mencintaiku, tanpa sakit lagi, tanpa harus kecewa lagi, tiada air mata, tiada ketersiksaan lagi. Hari-hariku jalani bebas, tanpa beban. Jujur aku ingin melupakan perasaan ini, perasaan sakit karena luka masa lalunya sehingga akhirnya dia meninggalkanku tanpa sedikitpun merasa salah. Aku hanya dapat berharap, suatu saat perasaan ini hilang seiring berjalannya hari dalam kehampaan hidupku.

            “Van, kasian amat sih masih ngejomblo, belum bisa lupain mantan ya? Haha” ledek teman sebangku ku, sebut saja Zie. Aku hanya tersenyum kecil dan berusaha mengabaikan ucapannya, lalu kemudian temanku Ceni duduk di belakang ku sambil menepuk pundakku, “Van, kamu suka nulis kan? Aku punya saran grup di fb nih, kumpulan para penulis novel gitu dari berbagai daerah, gabung gih, siapa tau kan berguna buat ngasah hobi kamu dalam menulis.” Ujarnya, aku tertarik dengan saran Ceni, sudah lama aku ingin mempunyai teman sesama penulis agar bisa sharing tentang tulisanku.

            Kemudian aku mencoba mencari grup yang disarankan oleh sahabatku itu di fb, lalu aku langsung bergabung dengan grup tersebut. Aku melihat sangat banyak penulis yang memamerkan karya-karya mereka di grup itu, aku coba berkenalan dan sharing dengan mereka, walaupun masih terbilang sangat baru, dan baru beberapa jam bergabung di grup itu, aku sangat merasa akrab dengan mereka, mereka sangat wellcome padaku,  aku sangat senang, karena sudah lama sekali aku sangat ingin mempunya teman sesama hobi denganku.

            Dan aku pikir aku satu-satunya penulis yang masih berumur 15 tahun dan yang tinggal di Medan. Aku mencoba mengomentari kiriman dari salah satu cowok yang fbnya bernama ‘Rd Indra Rusyandi’  dia menanyakan tentang bagaimana menulis novel agar cerita didalamnya terkesan hidup dan nyata, aku coba membantu dan memberi beberapa masukan untuknya, aku merasa cowok satu ini sedikit cuek dan angkuh, aku melihat dari bagaimana cara dia merespon setiap komentar-komentar yang kuberikan, tak masalah, karena aku juga sebagai member yang baik mencoba memeberi masukan walaupun tanggapannya sedikit tak bersahabat.

Sampai pada akhirnya dia mempromosikan blognya dan akupun tak mau kalah, aku juga mempromosikan blog ku padanya,  tak kusangka ternyata cowok itu membuka blogku, dan aku juga penasaran dengan blognya, desain blog yang menarik yang membuatku tertarik membaca setiap tulisan demi tulisan yang dia tulis, “Rainni” adalah salah satu novel yang sedang ia tulis, ternyata cowok ini pecinta hujan, aku jadi tertarik untuk berkenalan dengannya, tapi kemudian kuurungkan niatku karena mengingat sifat dinginnya padaku ketika di grup tadi.

Kemudian setelah puas melihat blognya, aku beralih ke blog milikku, yang didominasi dengan warna hijau, salah satu warna kesukaanku, dan banyak juga cerita-cerita tentang hujan didalamnya, karena aku juga gadis yang suka sekali dengan hal yang bertema hujan. Ketika aku melihat ada seseorang yang memberikan komentar tentang puisiku berjudul ‘Rain is part of my life’ aku langsung membukanya, aku terkejut, karena yang mengomentari puisiku itu adalah cowok yang ku kenal di grup tadi ‘Rd Indra Rusyandi’ sepertinya dia sangat tertarik dengan hujan sampai dia langsung mengomentari tulisanku di blog tersebut, aku sangat senang mempunyai teman baru seorang penulis dan pecinta hujan sepertiku. Ternyata orang itu tidak secuek yang aku pikir di awal, lalu aku beralih ke twitter, lagi-lagi cowok itu yang aku sekarang menyebutnya dengan sebutan ‘Kak Indra’ dengan username twitter @indra_xtra ternyata memfollow twitterku, langsung saja aku follback, aku jadi ingin lebih mengenalnya lagi, sebelumnya kami juga sudah berteman di fb dan aku juga sudah melihat beberapa foto-foto di album cowok itu, setelah akhirnya kami lebih sering mengobrol lewat mention di twitter. Orangnya baik, dewasa, asik, dan menarik, aku sekarang mengetahui bahwa cowok itu sudah berumur 19 tahun, dan tinggal di kota Depok.

            Setelah mentionan dan saling mengenal beberapa menit lewat twitter, aku merasa semakin akrab dengannya, terlebih perkenalan kami yang berawal dari mempunyai hobi dan kesukaan yang sama yaitu ‘menulis dan hujan’ akhirnya dia memberanikan diri meminta nomor hp ku, langsung saja aku memberikan nomor ku padanya lewat direct massage twitter. Lalu setelah puas mention’an di twitter, dia mengirim pesan melalui sms. Aku tersenyum membaca pesan pertamanya.

From : 0897*****

            Hy Rain Girl J

Lalu aku langsung membalas dan mulailah perkenalan kami melalui sms berlanjut, dia memanggilku Rain Girl, dan sampai saat ini sama sekali tidak menyebut namaku, aku tak tahu alasan pasti mengapa dia enggan menyebut namaku tapi aku tak mempermasalahkannya, bahkan itu yang membuatku merasa special, aku tetap memanggil cowok Depok itu dengan sebutan ‘kakak’ sesekali aku juga ikut-ikutan memanggilnyanya Rain Boy agar lebih terasa dekat.

            Beberapa hari saling mengenal, melalui sms-sms singkat, aku merasa sangat dekat dengannya, dia selalu mengsms ku tiap ada waktu luang, itu yang membuatku merasa istimewa diperlakukan seperti itu, dia selalu berhasil membuatku tersenyum melalaui kata-kata yang dia sampaikan padaku, ditambah kami sering membahas tentang hujan, salah satu topik pembicaraan yang sangat menarik bagi aku dan dia. Aku merasa beruntung bisa berkenalan dengannya, aku sadar dia mampu membuatku tersenyum lagi, diluar dugaanku.                  

***

Hari-hariku sekarang terasa lebih berwarna, entah faktor apa yang membuatku merasa seperti itu, aku lebih sering tersenyum, bahkan teman-teman ku juga berkata seperti itu. Apakah benar ini karena cowok itu? Jujur, setiap mendapat pesan-pesan darinya yang selalu menyapaku tiap saat, selalu memberikan perhatian lebih padaku, aku selalu merasa senang dan merasa dia memperlakukanku layaknya aku wanita paling special. Aku tak tahu mengapa perasaanku seperti ini, tapi aku sadar, ini sangat belum wajar. Aku baru mengenalnya lima hari, dan aku pun tak bisa pungkiri, aku sadar hatiku mulai melihatnya. Tuhan… salahkan ini? apalagi kenyataannya aku dan dia memiliki jarak yang cukup jauh. Aku di Medan dan dia di Depok,.

Aku merasa semenjak mengenalnya, rasa sakit yang selama ini terlihat jelas hilang, sakit yang kurasa di awal takkan pernah terhapus. Terkadang aku bingung, aku berpikir jika hanya dengan berhubungan dengan Indra dari jarak jauh dapat sedikit mengurangi luka ini, apakah mungkin jika suatu saat, aku dan Indra benar-benar dekat, rasa sakit ini juga akan sepenuhnya hilang? Entahlah… aku sudah berpikir terlalu jauh, terlalu berlebihan. Aku tak mau terjatuh dalam kesalahan yang sama lagi!

Indra mulai bercerita tentang kehidupannya, tentang segala kisah hidupnya padaku. Aku berusaha menjadi pendengar yang baik. Dia juga secara tak langsung menunjukkan jika dia nyaman bercerita dengan ku.

Jarang kutemui cowok yang suka sekali dengan hujan sepertiku, bahkan Indra mengatakan dia sedang membuat novel tentang hujan. Karena itu awalnya alasan dia mendekatiku, dia ingin aku membantunya dalam pembuatan novelnya itu. Dan tentu saja aku katakan padanya, aku akan membantunya semampuku, sampai pada akhirnya kami mulai bercerita tentang kisah cinta kami masing-masing. Aku tak tahu gambaran perasaanku sendiri, air mataku tak dapat kutahan ketika dia mulai berbicara tentang mantan yang sangat dia cintai, bahkan sampai detik ini. sekuat tenaga aku mencoba memberinya semangat. Walau kusadar ada bagian kecil dari hatiku yang terasa perih, kenapa harus begini? Aku tahu aku tak punya hak untuk sakssit hati, Indra bukan siapa-siapaku, tetapi dengan begitu, bukan berarti air mataku dapat dengan cepat berhenti mengalir,  sejak itu aku benar-benar sadar, hatiku mulai terbuka untuknya, Indra telah mengisi ruang kosong dari bagian kecil hatiku, untuk mencintanya. Jika aku tahu ini akan terjadi, mungkin aku tak mencoba menyalakan api itu. Aku tak siap untuk terluka lagi, tersakiti oleh luka masa lalu lagi. Akankah ini masuk akal?

Vani, kamu baru kenal dia lima hari, dia jauh!! Dia asing!! Gak boleh..gak boleh…

Hari ini malam minggu, seperti biasa, aku berharap hujan turun di malam ini, karena jika malam minggu datang, aku hanya bisa berdiam diri dikamar. Ditambah statusku yang single, membuat malam ini tidak pernah terasa istimewa tanpa hujan. Tiba-tiba aku teringat pada Indra, apa kabar dia? Tumben sekali hari ini tidak ada sms, padahal aku sangat berharap dia meng’sms’ ku malam ini. Ya setidaknya, membuat malam mingguku tidak terlalu buruk. Tapi apa daya? Tak mungkin aku menghubunginya terlebih dulu, dimalam minggu pula.  Astaga .. kenapa dengan aku? kenapa aku harus berharap pada orang itu?

Setelah beberapa saat aku hanya membaca novelku dikamar, aku mendengar ponselku berdering, kali ini setelah lama berdiam diri, akhirnya ponselku itu berbunyi juga. Langsung aku meraih dan melihat siapa orang yang menelponku malam minggu begini, suatu hal yang sangat jarang.

Ketika aku melihat nama orang yang sejak tadi kurapakan menghubungiku, akhirnya muncul juga. Kali ini dia menelponku, tiba-tiba aku gugup. Karena kami belum pernah berbicara melalui telpon, aku ragu untuk mengangkan panggilan itu, walau aku tak dapat menahan senyumku. Ponsel itu terus berdering, akhirnya perlahan aku mengangkatnya.

“Hallo..” jawabku pelan, sumpah.. suaraku terdengar sangat konyol.

“Hallo Rain Girl, aku ganggu satnite kamu ya?” tanya Indra to the point, aku terdiam sesaat. Ini pertama kalinya aku mendengar suaranya, ya Tuhan.. aku hampir tak bisa menyembunyikan rasa senang ini. “Hey, diem aja. aku beneran ganggu ya dek?” tanyanya lagi yang membuyarkan lamunanku. “Eh, hmm enggak kok kak, yaelah, enggak ganggu kok. Nyantai aja, hehe” Jawabku sedikit grogi, tapi aku harus berusaha agar tak terdengar garing. Jangan panggil aku Trivani kalau tak bisa menetralkan suasana!

“Ah masa? Hmm, bagus dong. Malam minggu gak jalan sama pacar?”

“Enggak kak, pacar dari Hongkong. Aku kan single hehe, kamu sendiri? Tumben nelpon? Hayo.. pasti lagi ngejomblo kan? Hahaha” ledekku, dia pun ikut tertawa, sejenak aku merasa sangat bahagia berbincang-bincang dengannya melalui telpon, setelah beberapa jam mengobrol, dan mengenal satu sama lain, aku jadi sangat ingin lebih dekat dengannya lagi, tetapi aku pun tak tahu apakah dia juga senang dan ingin dekat denganku juga? Hufpt

“Coba aja kita dekat dek, aku ajak kamu jalan deh. Sayang kita jauh banget ya? Hehe”

“Hmm.. iya nih, jauh banget. Udah si kak, pindah aja sini ke Medan, biar bisa ketemu sama aku. haha”

“Nah, aku pinginnya juga gitu, cuma kapan-kapan ya. Kalau aku udah sukses, aku bakal main ke Medan deh, biar bisa deket sama kamu”

Setelah dua jam aku berbicara dengannya, aku sama sekali tidak merasa bosan. Semakin lama, dia semakin terasa dekat dan nyata. Akhirnya, jam sudah menunjukkan pukul 11.25 malam. “Rain Girl.. aku boleh ngomong serius gak?”

“Ngomong apa kak?  Ngomong aja lagi”

“Aku suka sama kamu”

“Hah..???? hey!! Jangan becanda” ujarku, walau jujur perasaan ini tak dapat kubohongi, aku sangat bahagia mendengar kalimat itu. “Boleh aku bicara? Tapi jangan dipotong, kamu cukup jadi pendengar yang baik” ujarnya, aku hanya mengangguk walaupun kutahu dia tak dapat melihat anggukanku, “Dek, aku kenal kamu baru seminggu yang lalu, aku tahu kita baru kenal banget, tapi karena perkenalan yang singkat ini, aku mulai mencoba, mencoba untuk mengenal kamu. Sampai pada akhirnya, jujur tak bisa aku pungkiri, aku sayang kamu. Aku nyaman sama kamu. Rain Girl, jarak kita emang jauh, jauh banget. Jauh aja kamu mampu buat aku nyaman, apalagi kalau kita dekat? Imagine! Aku mulai mengenal kamu, dan begitupun sebaliknya, salahkan jika rasa ini muncul secepat ini? apakah aku salah kalau aku bilang, aku sudah mulai melihat kamu, aku mulai mencintaimu?”

Aku terdiam tak bisa menjawab pertanyaannya, andai dia tahu aku juga merasakan hal yang sama sejak awal. Tapi aku bingung, apakah ini juga tidak terlalu cepat buat ‘kami’?

“Kak, kamu yakin dengan kata-kata kamu tadi? So, how about your feeling with ‘her’? bukannya waktu itu kamu bilang sulit banget untuk lupain dia?” tanyaku akhirnya, teringat pada mantannya. “Aku juga bingung dek, selama kenal kamu, aku jarang kepikiran dia lagi. Kamu cukup hebat bisa bikin aku berpaling darinya dan sekarang lebih sering memikirkan kamu. Ini jujur, gak ada kebohongan, aku yakin ini cinta. Aku emang gak pernah ketemu kamu, tapi jujur hati ini bisa dek, hati ini bisa merasakan kamu.”

Mendengar penjelasannya, entah bagaimana aku percaya, aku yakin apa yang Ia rasakan terhadapku, persis seperti apa yang aku rasakan padanya saat ini. “Gini ya kak, aku ngerti perasaan kamu ke aku, aku gak mau munafik. Aku juga ngerasa hal yang sama, tapi…” Aku terdiam, dia masih menunggu lanjutan kalimat ku,

 “Apakah ini tidak terlalu cepat?” Aku dan Indra mengucapkan kata-kata itu serentak, lalu kemudian kami tertawa. Akhirnya setelah sama-sama kami saling memberikan pertanyaan, kami semakin yakin dengan perasaan ini, dia meyakinkanku. Tepat pukul 11.35 malam tanggal 24 Juli 2013 Kami memutuskan untuk mencoba menjalin kasih. Walau dengan hubungan LDR, kami yakin, kami bisa bertahan pada jarak jauh ini.

“I love you my Rain Girl”

“I love you too my Rain Boy”

  Rain Boy, aku mencintaimu dengan jarak yang begitu jauh, aku memilihmu dan menitipkan hatiku pada jauhnya jarak diantara kita, semoga kita bisa bertahan.

***

Sebulan sudah aku menjalani hubungan LDR bersama Indra, ternyata dia orang yang sangat cemburuan dan emosional. Bahkan aku yang dulunya seorang yang sangat up to date masalah social media, sekarang bahkan sangat jarang membukanya lagi, pastinya larangan dari pacarku yang tak ingin aku terlalu berlebihan pada jejaring sosial itu, aku menerima peraturan-peraturan yang dia buat, karena aku tak mau kehilangannya, semakin hari aku semakin mencintainya, jujur aku merasa sangat beruntung bisa menjadi pacarnya, dia baik, perhatian padaku, dan aku merasa perhatiannya tidak berlebihan, cukup membuatku nyaman. Walau kami terpisah oleh jarak dan belum pernah bertemu, tetapi bukan alasan untuk aku tidak mencintainya, karena aku sadar aku mencintainya dengan jarak yang begitu jauh.

“Sayang, aku kangen sama kamu. Kemana aja sih? di sms gak dibalas, bt aku!” ujar Indra padaku melalui telepon saat aku sedang belajar. Aku tertawa mendengar nada bicaranya.  “Maaf yang, aku lagi belajar nih. ponsel aku letak ditempat tidur, maaf ya” jawabku, “Oh gitu, rajin banget belajar. Haha, oh ya, aku mau tanya, jawab jujur ya, aku tadi buka fb kamu, aku lihat inbox kamu, ada yang kirim pesan ke kamu pakai ‘sayang-sayang’, huh! Nyebelin banget. Siapa sih?” tanya Indra dengan nada tak senang, aku yang tengah asik membaca buku langsung mengecek fbku, ternyata orang itu adalah teman sekolahku yang memang dari dulu ‘katanya’ suka padaku. “Bukan siapa-siapa sayang, paling juga penggemar, hehe. Udah ya jangan dipikirin deh” ujarku meyakinkannya, suatu hal yang paling sulit adalah membuatnya yakin dengan alasan-alasanku. Aku harus menerima omelan-omelannya, itulah yang selalu kami bahas selama sebulan ini, ada saja masalah-masalah kecil yang dipermasalahkan, bahkan terkadang kata ‘putus’ hampir terucap karena hal-hal kecil seperti itu. LDR oh LDR.. , hanya bisa mendengar dan merasakan, tanpa bisa melakukan lebih. Karena kita memang tak mungkin bertemu, entah kapan, tapi kami yakin dan selalu menunggu saat dimana kami bisa bertemu dan tak terpisah jarak lagi.

***

Karena aku tak diizinkan oleh Indra membuka fbku sendiri, akhirnya aku iseng membuka fb Indra, aku ingin melihat kehidupan Indra di fb. Pertama aku melihat pesan fbnya, dan aku tak menemukan tanda yang mencurigakan. Aku beralih melihat album lainnya, aku melihat foto-foto Indra pada saat dia masih SMA, aku sedikit tertawa melihat wajahnya pada saat itu. Kemudian aku beralih ke album lain, terbaca olehku satu album privacy yang berjudul ‘ Special Moment’ dan aku penasaran untuk melihat foto yang ada di album yang menurutku belum pernah aku lihat. Betapa terkejutnya aku  ketika melihat foto-foto mesra Indra dengan mantan terakhirnya yang sempat ia ceritakan padaku, yang selama ini membuat hidupnya hancur sebelum ia mengenalku. Jujur, hati ini sakit melihat foto itu, aku kesal, aku marah, aku kecewa dan aku mulai tak bisa menhana butiran air dari mataku, tangis pun perlahan mulai terdengar, sekuat tenaga aku mencoba menenangkan diri,  dan bodohnya aku, kenapa aku harus melihat semua foto-foto mesra mereka itu. Aku memilih diam, aku sama sekali tak berniat memberi tahu padanya, aku hanya membalas sms darinya sesingkat mungkin, Indra mulai merasakan perubahan pada diriku, aku hanya mengatakan padanya ‘Aku gak papa’ dan dia tetap tak percaya, pada akhirnya karena tak tahan melihat sifatku yang cuek padanya, dia menelponku ketika aku pulang sekolah.

“Hey.. kamu kenapa sih?” ujarnya di telpon, aku diam sesaat, aku berusaha menarik napas, menahan tangisku yang hampir pecah saat ini. “Hm.. aku kan udah bilang, aku gak kenapa-kenapa” jawabku singkat, lagi-lagi foto itu terbayang jelas di otakku, aku tak dapat melakukan apapun, terlalu sakit rasanya setiap kali aku teringat foto mereka berdua, dan terlalu sulit menghapus kenangan Indra dengan mantannya itu. “Bohong! Aku tau kamu nyembunyiin sesuatu dari aku, jujur sama aku, jangan kayak gini dong, please”

Setelah beberapa saat berpikir, aku memutuskan untuk jujur. Aku juga tak sanggup terus-terusan menahan sakit ini sendirian,

“Aku cuma sedang berusaha meredam rasa sakit ini” jawabku, dia terdiam, kemudian aku melanjutkan.

 “Aku tau kok aku emang gak pantes marah dalam hal ini, tapi maaf sekali lagi, aku cemburu! Kenapa? Karena aku bodoh, aku gak sengaja lihat foto-foto mesra kamu dengan mantan kamu di album facebook kamu” Akhirnya isakan-isakan kecil terdengar dari mulutku, “Hah??? Astaga.. foto itu?” ujar Indra terbata-bata, “Aku sakit.. demi apapun aku gak bisa tahan keegoisan hati ini, maaf. Sebelumnya apa salah aku marah? Apa salah aku kecewa? Aku tahu itu emang masa lalu kamu, tapi kenapa aku harus lihat itu? Kenapa aku harus liat foto-foto itu secara langsung? Dan itu nyata! Ini terlalu sulit sayang, ini suliiittt buat aku.. a..a..aku selalu teringat foto-foto itu, setiap saat hati ini terasa perih, aku gak sanggup.. hikss…” jelasku yang mulai menangis, aku keluarkan semua unek-unek yang ada dalam hatiku padanya, “Ya Allah, maaf yang, maafin aku. sumpah aku gak tau kalau foto itu masih tersimpan di fb aku, aku lupa. Demi Allah bukan maksud aku buat nyakitin perasaan kamu atau bermaksud nyimpan foto-foto itu, please percaya dong. Itu masa lalu aku, bahkan aku udah lupa itu semua.”

“I don’t care, aku gak perduli kamu ingat atau enggak tentang foto-foto itu,  yang aku permasalahin kenapa harus sampai terlihat olehku? Kamu pikir gampang apa?”

“Aku mohon jangan nangis lagi, aku gak mau dengar kamu kayak gini, maafin aku, lupain ya please” pintanya, “Kamu pikir gampang ngelupain itu? Hey, kenapa sihhh??? Kenapa harus kayak gini? Dan kamu pikir dengan kata maaf, semua bisa hilang dari pikiran aku?” ujarku emosi ditengah tangis yang benar-benar sudah pecah, kemudian aku melanjutkan “Ya mungkin ada positif nya aku ngeliat foto itu, aku bisa lebih sadar diri kali yak,”

“Kamu ngomong apa sih? sadar diri apa?” “Ya biar aku sadar kalau aku gak akan mungkin, dan gak akan pernah mungkin gantiin posisi dia dihati kamu, apalagi ditambah jarak kita yang jauh, tetep aja aku selalu kurang dimata kamu dibanding dia yang dekat”

“Enggak! Aku gak pernah berpikir kayak gitu sayang. Walaupun kamu jauh banget, bukan berarti kamu gak lebih baik dari dia! Aku mencintai kamu dengan jarak yang begitu jauh, percaya sama aku, kamu lebih baik dari dia yang,” jelas Indra tegas, penjelasan Indra memang membuatku sedikit tenang, tapi bagaimanapun, foto-foto itu tetap teringat jelas diotakku dan selalu menimbulkan rasa sakit yang teramat dalam dihati ini. Aku memutuskan menyudahi pembicaraan kami, aku sangat lelah hari ini.

Aku tetap cuek padanya sampai hari ini, walaupun hari ini adalah hari 2 bulanan aku dan Indra, aku sebenarnya tak ingin seperti ini dengannya, tetapi aku tak bisa bohong tentang rasa sakit ini, apa memang aku yang terlalu egois? Entahlah, yang jelas dan pasti, yang aku tahu, karena teramat dalam mencintainya, rasa sakit ini juga semakin sakit.

Ketika aku pulang sekolah, aku mengecek hp ku, tak ada juga kabar dari Indra, aku kesal, padahal hari ini adalah hari penting bagi hubungan kami, tetapi mengapa tak ada kabar sama sekali darinya hari ini? aku bingung, apa mungkin dia sudah mulai bosan dengan sikapku padanya akhir-akhir ini? hmm, entahlah..

Saat aku sampai dirumah, hp ku bergetar

Massage From : My Rain Boy :*

Sayang, aku sekarang di Bandara Kuala Namu, kamu bisa kesini sebentar aja temuin aku sekarang? Karena aku gak tahu alamat rumah kamu, aku tunggu ya J

Mata ku terbuka lebar membaca pesan Indra, aku membaca sms nya berulang-ulang, lalu senyumku mulai mengembang, aku cepat-cepat mandi dan pakaian, kemudian langsung pergi menjumpai pacarku yang tengah menunggu di airport.

Aku mulai deg-deg’an ketika sampai di bandara Kuala Namu, tanganku dingin, aku mencari sosok Indra, seseorang yang belum pernah aku jumpai sebelumnya, tetapi aku ingat persis wajahnya di foto,  tetapi aku tak berhasil menemuinya. Aku duduk dibnguku dekat ruang kedatangan dalam negeri, karena lelah mencari. Tiba-tiba seorang cowok duduk disebelahku, sejenak aku memandang wajahnya, cowok tinggi, dengan menggunakan jaket putih itu terasa tak asing bagiku, aku tersenyum dan menaikkan alisku, “Lagi nunggu pacarnya ya mbak?” tanya cowok itu, aku mengangguk dan tetap memandang wajah manisnya,  cowok yang kutahu bernama Indra itu membalas senyumku, kemudian dia mencium keningku dan memelukku erat,

“Akhirnya aku bisa ketemu dan meluk kamu dengan jarak yang sedekat ini sayang. Happy 2montsarry beb,  I love you” Aku mulai menangis haru, aku letakkkan daguku dipundaknya, tak menyangka bisa memeluknya sedekat ini, ya Tuhan..  jaketnya mulai basah karena air mataku yang tak bisa berhenti mengalir. “Maafin aku ya sayang, aku cinta sama kamu, percaya sama aku.” ujar Indra menghelus rambutku, aku hanya bisa mengangguk tanda aku memaafkannya. Bersama Indra disini saja sudah lebih dari cukup buatku, akhirnya apa yang aku inginkan selama ini dengannya terwujud, hubungan ini bukan sekedar khayalan,  ini nyata! Buktinya aku dapat memeluknya sekarang, aku bisa mencium wangi tubuhnya sekarang, aku dapat menggenggam tangannya langsung!!!

Kami bertemu hanya dua jam, karena sorenya Indra langsung kembali ke Jakarta karena tak memiliki keluarga di Medan. Dia kesini hanya ingin bertemu denganku walau hanya sebentar, dia janji kami pasti akan bertemu kembali. Bagiku tak masalah, walau hanya dua jam, banyak hal yang kami lewatkan. Rindu ini sudah terbayar, kami membiarkan rindu-rindu lain berkembang agar suatu saat kami bisa bertemu dan melepas rindu kembali. Dia juga meyakinkanku, walau kami harus menjalin hubungan dengan jarak yang jauh,  tapi dia janji hanya aku yang akan mengisi hatinya, aku berusaha yakin padanya, aku percaya pada cinta ini, cinta yang kami titipkan pada jarak.

 Sekarang kami masih bisa bertahan pada hubungan jarak jauh ini walau masih sering terjadi pertengkaran-pertengkaran yang datang silih berganti, kami anggap itu sebagai cobaan dalam hubungan kami, hubungan yang hampir berjalan empat bulan ini, dan berharap bisa terus bertahan hingga kami bisa bersama selamanya.

Dan satu hal, Indra tidak pernah menyebut namaku sampai detik ini, aku juga sudah terbiasa dengan caranya memanggilku dengan sebutan Rain Girl, ya Tuhan… aku selalu menunggu janjinya, saat dimana dia menyebut nama ku, nanti ketika kami akan menjalin bahtera cinta J

#Based on True Story (Rain Boy and Rain Girl- 24-07-2013)

End


Posted via Blogaway

Leave a Reply

Subscribe to Posts | Subscribe to Comments

My Slide Show Photo

My Slide Show Photo by Slidely Slideshow

- Copyright © 2013 Trivani Desyara - Trivani Desyara - Powered by Blogger - Designed by Rain Boy -