Posted by : R.A Trivani Desyara June 20, 2013

Aku terbangun dari tidur nyenyakku, entah mengapa beberapa minggu ini aku selalu bermimpi tentangnya, padahal semenjak putus dengannya tiga bulan yang lalu, aku mulai menerima keadaan, bahkan aku sudah sangat hapal dengan rasa sakit dihati ini yang sering datang tiba-tiba, semua keadaan ini harus kujalani bahkan sampai detik ini, sosoknya belum pernah terganti oleh siapapun, untuk beberapa saat, sempat aku mulai melupakannya dan menjalani hari-hariku seperti biasa, karena aku tahu, buat apa terus memikirkan orang yang sama sekali tak pernah memikirkan rasa sakit ini, tapi sialnya tak segampang itu, sekuat apapun usahaku melupakannya tetap bayangan-bayangan wajah itu, sosoknya yang selalu membelai kepalaku disaatku sedih, ahh… sampai kapan aku terus seperti ini?
Dua bulan yang lalu, Ardi pindah sekolah, aku tak tahu apa alasan pasti dia memilih untuk pindah dari sekolahku, tapi dengan kepindahannya kupikir akan lebih mudah melupakannya, tetapi nyatanya, itu malah semakin sulit, tapi aku berusaha menahan hati ini, menahan rasa rindu ini.  Parahnya semenjak kepindahannya dua bulan yang lalu, dia sama sekali tidak pernah mengabariku, tak pernah menelponku lagi, tak ada kabar apapun, terakhir kali aku berkomunikasi dengannya pada tanggal 12 mei 2012, itu adalah hari ulang tahunnya, sebelumnya aku masih ragu untuk memberi ucapan itu atau tidak, tetapi setelah kupikir-pikir apa salahnya untuk terus berhubungan baik dengannya? Aku hanya ingin dia sadar, bahwa sampai hari itu pun aku masih perduli dengannya.
Setelah aku mengucapkan selamat ulang tahun padanya dan memberi sebuah gambar untuk mengingatkan masa-masa manis kami dulu, kupikir dia akan luluh, tetapi aku salah, responnya sama sekali membuat luka dibagian dalam hatiku, dia hanya memberi jawaban tiga kata, yang sampai sekarang masih kuingat ‘Amin, sip makasih’ dan itu cukup membuatku berhenti untuk terus berharap, dia sama sekali tak menghargaiku, mungkin memang aku yang terlalu banyak berharap, toh aku tahu, Ardi memang cuek,ya walaupun karena sifat cuek nya itu yang buat aku penasaran dan memilih mencintainya, tapi kenapa setelah berpisah dengannya aku masih merasa dia mencintaiku? Kalaupun iya, aku harap kita masih bisa berteman baik Di, kamu cowok yang beda yang pernah aku temuin..

Aku tersadar dari lamunanku, aku merasakan setetes air mata tiba-tiba meluncur keluar dari mataku, bahkan sampai sekarang, sampai detik ini air mata ini tak pernah habis untuknya.
Aku cepat-cepat menepis air mataku dan bergegas mandi, sekarang bukan saat yang tepat untuk flashback semua kenanganku tentang dirinya, aku harus fokus pada sekolahku, karena sebentar lagi aku harus dihadapkan pada ujian kelulusan. Aku sadar jika aku terus seperti ini, mau tak mau akan berpengaruh pada nilai ujianku.

“Abis nangis lagi ya lo Mit? Kenapa? Mikirin Ardi lagi?” tanya Nisa teman sebangkuku, aku hanya mengangguk pasrah, tak ada gunanya berbohong pada sahabatku ini, tak akan berhasil, karena kutahu dia adalah sahabat yang paling tak bisa kubohongi masalah perasaan ini.
“Aduh sayang, udahlah.. ngapain dipikir lagi? Dia juga udah gak pernah ngasih kabar ke lo kan? Lupain dong.. lupain!”
“Lo tahu gue lah Nis, dia berpengaruh banget dihidup gue, gak segampang itu ngelupain dia” jawabku pelan, “Iya gue tahu, tapi kenapa gak dicoba buka hati buat yang lain? Liat tuh sih Dani, dia itu berusaha banget buat dapetin cinta lo, kenapa lo gak kasih kesempatan buat dia?” tanya Nisa yang mengalihkan perhatianku pada Dani, Dani memang menyukaiku, dan aku sangat mengetahui hal itu, tapi kenapa aku sama sekali tak bisa mulai menyukainya juga? Dani memang baik, pintar, lumayan menarik bagi kebanyakan wanita, tapi apapun usaha yang ia lakukan untukku, tetap belum berpengaruh besar bagiku pribadi, aku juga terkadang bingung dengan perasaan ini, ya Tuhan.. lalu aku harus bagaimana?
“Udah deh Nis, gak usah bahas Dani deh, gue udah coba buka hati buat dia, tapi?”
“Tapi lo belum bisa ngelupain Ardi? Duh Mit, gue bingung sama lo, kurang apa coba si Dani? Lo pikir baik-baik deh, jangan nyesel ntar kalau Dani udah nyerah dan menjauh dari lo”
“Lo kan tau gue udah coba, mungkin usaha sih Dani belum cukup buat hati gue” jawabku. Nisa hanya menggeleng-geleng tanda menyerah.

***
“Mit, hari ini gue bawa motor, gue antar pulang ya?” Tiba-tiba Dani sudah ada disampingku dan menawarkan tumpangan, Dani memang sudah beberapa kali mengantarkanku pulang, bahkan aku sudah sering jalan bersamanya hanya sekedar untuk melepaskan kepenatan dihati ini, aku pikir dengan begitu aku bisa melupakan Ardi, tak ada salahnya aku memberi kesempatan pada cowok ini.
“Eum boleh, tapi gue laper, temenin makan dulu yah” pintaku,
            “Anytime Mitha, gue traktir deh” jawabnya santai, aku hanya tersenyum dan mengambil helm dari tangannya kemudian kami meluncur ke rumah makan terdekat.

            “Lo baik banget sih sama gue Dan, maaf gue belum bisa balas apapun sampai sekarang” ujarku ketika kami menikmati makan siang, aku merasa tak enak pada Dani yang terus berbuat baik padaku. “Gue ngerti, gak usah dipaksain Mit, gue juga gak mau lo nerima gue karena terpaksa”
            “Tapi sumpah gue udah berusaha, gue udah coba” ujarku lagi, “Ya gue tahu kok, gak papa, gue ngelakuin ini semua ikhlas kok, ya anggap aja ini rasa sayang gue ke lo” Aku hanya tersenyum datar mendengar kata-kata itu. Ingatanku kembali pada Ardi, bahkan disaat bersama Dani, aku masih terus mengingat mantanku, percuma aku berusaha melupakannya, itu malah membuatku semakin dan terus mengenang masa-masa itu.
           
            Besok tanteku dari Inggris akan datang ke Indonesia untuk berlibur, mendengar kabar itu wajahku langsung menjadi ceria, sudah berapa lama aku tak berjumpa dengannya, begitu banyak hal yang akan kuceritakan padanya ketika bertemu nanti, selama hidupku hanya dengan tanteku itu aku merasa nyaman saat aku menceritakan semua masalah dikehidupanku, dia yang selalu memberi nasihat yang menyentuh hatiku, aku merasa sangat merindukannya, tak sabar menunggu hari esok. Aunty, there so much many have problem will I tell with you, I miss you so much.
            Keessokan harinya aku memilih untuk menunggu kedatangan tanteku dirumah, aku membiarkan kedua orang tuaku yang menjemput tanteku di bandara, karena mama menugaskanku membersihkan rumah menyambut kedatangan tanteku itu.
            Ardi, boleh ya aku cerita tentang kita ke tante aku, kamu gak akan keberatankan? Aku butuh teman berbagi Di, aku butuh orang yang bisa kasih masukan ke aku buat gimana caranya benar-benar lupain kamu, aku capek Di, aku capek terus kayak gini.
***

            “Aunty.. ya Allah, Mitha kangen banget sama Aunt, apa kabar aunty?” Aku langsung memeluk tanteku ketika dia memasuki rumahku, seperti biasa, dia hanya tertawa geli melihat tingkahku yang sangat manja padanya, “Aunty baik kok sayang, kamu gimana?”
            “Aku baik kok aunt,” jawabku tersenyum, “Nanti aja deh kangen-kangenannya Mit, aunty kamu capek tuh baru nyampe, ntar aja ya curcolnya, biarin dia istirahat dulu” ujar mama, “Oke deh, aunty istirahat aja dulu, ntar malam sharing ya aunt, aku mau cerita banyak nih sama aunty” ujarku,
“Hahaha,,, aunty tau kamu mau cerita apa, oke-oke gampang, aunty istirahat dulu ya sayang” Aku mengangguk lalu membiarkan tanteku istirahat dikamarnya. Tante Vera, salah satu orang yang paling mengerti aku didunia ini setelah kedua orang tuaku.

            Seminggu sudah tanteku di Indonesia, tetapi sampai detik ini aku belum ada waktu yang tepat untuk menceritakan semua masalah perasaan ini, mungkin nanti, karena aku bingung dengan keadaan ku saat ini, sekarang bukan hanya Ardi yang kupikirkan, tetapi juga Dani. Entah sejak kapan aku merasa bersalah pada cowok itu, dia mulai menjauhiku, mulai tak memberi perhatian padaku lagi. Sejak saat itu pula hati ini mulai kehilangan, aku bingung, aku khawatir, aku merasa cewek paling munafik sedunia, aku sadar sifat itu wajar dia berikan padaku, mengingat sikapku yang  terlalu cuek dan tak pernah membalas perasaannya sampai detik ini, itu yang membuat ku menyesal, apa ini yang dinamakan kehilangan? Aku mencoba menghubungi Dani, aku coba untuk minta maaf, tapi usahaku tak berhasil, dia tak membalas smsku dan tak mengangkat telponku, andai aku bisa beri dia sedikit peluang waktu itu, sekarang aku benar-benar menyesal, aku terlalu banyak memberi dia harapan palsu, dan pada akhirnya dia menyadari dan memilih menjauhiku. Sekarang aku benar-benar sendiri, ya Tuhan, andai aku dikasih kesempatan lagi, aku janji tak akan menyia-nyiakan Dani. Aku sadar aku butuh dia, semua yang Nisa katakan benar, aku menyesal ketika dia benar-benar menjauh.
            Malam ini hujan lebat, aku tak bisa menghalangi air mataku, aku sadar malam ini aku mulai memikirkan Dani, mengingat semua hal yang ia berikan padaku, usahanya yang selalu membuatku kagum, tapi aku terlalu menganggap semua yang ia lakukan dengan sebelah mata, dia bilang dia menjauh dariku karena tak ingin membuatku merasa tak nyaman saat bersamanya, dia tak mau memaksaku, ya sekarang yang kudapat hanyalah sifat cueknya terhadapku, Dani benar-benar menjauh dan itu yang membuatku tersiksa, sekarang setelah Ardi pergi, perlahan Dani juga meninggalkanku, terus bagaimana aku menahan perasaan ini? bagaimana aku harus menjadi wanita yang kuat? Ardi…Dani…. Aku butuh kalian.
            Hujan  semakin lebat dan air mata ini semakin bertambah, Twitter dan Facebook ku hiasi dengan semua kata-kata maaf untuk Dani, semua penyesalanku kutumpahkan di timeline twitterku, semakin ku mencoba tegar, semakin lemah diri ini. Namun sama sekali tak ada hasil, dia benar-benar bertekad untuk menjauhiku. Dan sekarang aku harus belajar menerima (lagi) rasa kehilangan itu.
            “Sayang… “ panggil tanteku yang tiba-tiba sudah ada dipintu kamarku, dengan cepat aku menghusap air mata yang terlihat jelas di wajahku, tante Vera duduk disebelahku dan membelai rambut panjangku, “Kamu kenapa? Aunty liat kok status kamu galau banget ya? Terus sekarang kamu nangis, ada apa Mit?” tanya tente Vera, mungkin ini saat yang tepat untuk bercerita semua pada tante Vera, aku memang sangat butuh teman curhat. Perlahan aku memeluk tanteku dan menangis sepuasnya dipelukan tanteku itu, lalu kemudian dengan pelan aku menceritakan tentang Ardi, kuceritakan semua kisah cinta kami kemudian aku juga bercerita tentang Dani, dari awal pendekatan sampai akhirnya dia menjauh dariku.
            “Jadi itu yang bikin kamu nangis kayak gini?” tanya Tante Vera, dan aku hanya mengangguk mengiyakan ucapan tanteku, tante Vera kembali tersenyum dan menghusap air mata yang jatuh dari pipiku.
“Denger ya, kamu berani menjalin suatu hubungan, berarti kamu harus berani mengambil koensekuensi yang akan kamu alami di akhir cerita, dalam hubungan, seharusnya kita gak mikirin indahnya terus, sekali-sekali mikirin gimana kamu harus kuat disaat kamu mengalami kehilangan, karena apapun ceritanya dalam pacaran kata ‘putus’ itu pasti ada sayang”
            “Ya aku tahu aunt, tapi kenapa? Kenapa Cuma gara-gara latar belakang dia itu, dia gak mau berhubungan sama aku lagi, padahal dia tahu aku gak pernah mempermasalahkan hal itu”
            “Kamu emang gak mempermasalahkan, tapi dia? Mungkin emang dia ngelakuin ini untuk yang terbaik buat kalian, kalau dia sayang sama kamu , percaya deh sama aunty, suatu saat, dia bakal datang untuk ngejelasin sama kamu, apa alasan dia kayak gitu”
            “Aku yakin dia sayang sama aku aunt, aku tahu dia gimana. aku cinta sama dia aunty, itu yang buat aku susah buat ngerelain dia jauh dari aku.” ujarku parau, suaraku mulai habis, aku sesenggukan karena menahan agar tangis ini tak keluar lagi.
            “Aunty tau kok Mitha, aunt ngerti, so, how about Dani?” tanya tante Vera, aku terdiam sesaat, Ya Allah, egoiskan perasaan ini jika ternyata aku juga mencintai Dani dan sulit untuk jauh darinya?lalu, apa jadinya jika lagi-lagi aku harus merelakan orang yang kucintai menjauh dariku? Bahkan kali ini karena aku yang terlalu tidak peka, atau tepatnya aku yang selalu membandingkan Dani dengan Ardi.
            “Aku sadar aunt, aku juga mulai sayang sama Dani, tapi jujur cinta aku ke Ardi masih terlalu besar”
            “Jangan mikir gimana caranya buat ngelupain Ardi, coba pikir gimana caranya buat buka hati buat yang lain, dengan begitu dengan mudah kamu bisa ngelupain Ardi, satu hal ya sayang, kita gak akan merasakan betapa pentingnya seseorang dihidup kita sebelum kita kehilangan orang itu, sekarang kamu udah ngerasain kan? Saran aunty, nanti, kalau ada orang yang dengan tulus sayang sama kamu, jangan kamu sia-siakan yah, kamu jaga dia, jangan pernah menyakitinya, karena kamu tahu disakitin itu suatu hal yang gak enak kan?” jelas tante Vera panjang, aku mulai menyadari semua perkataan tante Vera itu benar, perasaan ku mulai lega, aku mulai bisa tersenyum walau belum bisa menghilangkan rasa sakit ini.
            Setelah curhat dengan tante Vera, aku rasa tugasku sekarang hanyalah menjalankan hidupku tanpa perlu memikirkan apapun, tak usah memikirkan rasa sakit ini, aku ingin hidup bebas tanpa beban perasaan untuk sementara, aku janji pada diriku untuk tak terus-terusan mengingat hal-hal yang membuatku galau.
            Ardi… kamu sekarang dimana? Lagi apa? Aku kangen banget sama kamu… kangen banget.. udah hampir tiga bulan kita gak pernah berhubungan, wajar jika rasa rindu ini menghampiriku, tapi kamu tenang aja yah, aku disini, aku baik-baik aja, aku janji aku akan menjalankan hari-hariku seperti biasa walaupun kamu gak disampingku lagi.
            Dani… makasih udah beri begitu banyak pelajaran, begitu banyak perhatian sehingga saat kamu menjauh aku merasa sangat kehilangan, maaf karena menggoreskan luka dihatimu karena keterlambatanku menyadari bahwa aku butuh kamu, aku sayang kamu. Kamu benar, mungkin memang lebih baik, kita berteman seperti dulu!!!


            Hari ini adalah hari kelulusanku, Alhamdulillah aku dinyatakan lulus dan mendapatkan hasil yang lumayan bagus. Sekarang aku punya kehidupan baru, selamat tinggal putih abu-abu, selamat datang dunia baru, di kampus yang baru dan pergaulan yang baru. Dan aku berharap disini aku menemukan hidupku, menemukan apa yang kuinginkan dan bisa melupakan
Ardi. Jujur aku rindu padanya, tapi hanya sekedar rindu, karena aku mulai kebal dengan rasa sakit ini, biarkan saja dia membekas direlung hatiku dan aku hanya tinggal menjalani alur cerita hidupku selanjutnya, aku bisa, aku kuat, aku mampu! Bantu aku ya Allah.


Next? keep waiting yah :)

Leave a Reply

Subscribe to Posts | Subscribe to Comments

My Slide Show Photo

My Slide Show Photo by Slidely Slideshow

- Copyright © 2013 Trivani Desyara - Trivani Desyara - Powered by Blogger - Designed by Rain Boy -