Posted by : R.A Trivani Desyara June 18, 2013

“Ma.. aku berangkat sekolah dulu yah, udah mau telat nihh.. ntar pintu gerbang ditutup, bye mama muaachh “ Mitha gadis berumur 17 tahun yang sekarang duduk dibangku kelas 3 SMA itu dengan terburu-buru mencium mamanya kemudian berlari menuju mobil untuk segera berangkat kesekolah, “Hati-hati sayang… jangan buru-buru. Makanya lain kali jangan kesiangan bangun” teriak mama, “Iya mama… dada..” 
Aku langsung naik kemobilku tanpa menghiraukan mama.
            “Pak cepetan dong… nanti aku telat nih” ujarku pada pak supir, “Ini juga udah ngebut neng.. makanya lain kali bangun jangan kesiangan lagi”  balas pak supir, aku hanya diam sambil memonyongkan bibirku. Sesampainya disekolah aku menarik napas lega karena ternyata aku belum telat, dengan cepat aku turun dari mobil dan masuk kekelasku.
            “Huh.. hampir aja” Aku mengelus dadaku, “Kenapa lo Mit? Kok ngos-ngosan gitu, kayak baru dikejar setan” sapa Ardi teman sekelasku, sebenarnya aku dan Ardi tidak berapa dekat bahkan jarang mengobrol satu sama lain, tetapi melihatku yang bercucuran keringat karena takut telat menarik perhatian cowok cuek itu untuk bertanya padaku.
            “Hehe.. gak papa kok Di, Cuma tadi takut telat aja. makanya buru-buru jadi keringatan gini deh” jawabku jujur. “Hmm.. pantesan aja, makanya lain kali bangun jangan kesiangan.” Ujar cowok itu sambil tersenyum kearahku kemudian berlalu dari hadapanku untuk duduk dibangkunya.
            Perasaan hari ini udah tiga orang deh yang berturu-turut nyuruh gue jangan bangun kesiangan, duhh harus tobat nih insomnia malam-malam.. bisa telat tiap hari gue. batinku.
            Bel tanda masuk kelas sudah berbunyi, pelajaran pun segera dimulai. Jam pelajaran pertama adalah Biologi, pelajaran paling kubenci, tidak tahu mengapa, setiap pelajaran ini aku selalu badmood sendiri dikelas, padahal hampir rata-rata semua murid dikelasku ini menyukai pelajaran itu, ditambah dengan gurunya yang baik dan menyenangkan, tapi tidak untukku.
“Baik anak-anak, ibu minta satu dari kalian mengerjakan soal yang ada dipapan, ibu akan menunjuk salah satu dari kalian” ujar bu Risa selaku guru biologi disekolahku, semua orang pada antusias untuk mengerjakan soal dipapan tulis itu, terkecuali diriku.. tetapi aku pura-pura antusias seperti teman yang lain agar guru biologiku itu tidak memilihku untuk mengerjakan soal yang sama sekali tak kumengerti itu,  aku melihat sekeliling kelas siapa yang akan dipilih oleh Bu Risa untuk mengerjakan soalnya itu, semua orang terlihat ingin mengerjakan soal itu, ya semua murid terkecuali aku, tetapi mata ku terpaku pada satu orang yang ku pikir sama seperti diriku, tidak antusias mengikuti pelajaran biologi ini, sekilas aku tersenyum karena mendapatkan teman yang sepertinya sama dengan diriku walaupun hanya untuk saat ini. orang itu adalah sih cuek Ardi, cowok yang terkenal paling cuek, suka ngomong asal-asalan,  dan penampilannya yang selalu acak-acakan dikelas, dia memang terkenal sedikit badung disekolah ku, tetapi cowok itu bukan berarti bodoh, dia selalu mendapat nilai yang memuaskan disetiap semester, sangat bertolak belakang pada ku. Tetapi ntah mengapa aku melihat sesuatu yang aneh pada cowok itu hari ini, dia seperti lagi banyak masalah, tidak seperti biasanya.
“Ardi, bisa tolong kamu kerjakan soal dipapan tulis itu?” ujar bu Risa tiba-tiba yang sedari tadi sudah memperhatikan sikap Ardi yang tak acuh.  Semua orang menatap Ardi, begitupun aku, tetapi Ardi tetap memegang pulpennya dan mencoret-coret bukunya tanpa menghiraukan guru itu.
“Bro, lo disuruh ngerjain tugas didepan tuh sama bu Risa,” bisik Tian teman sebangku Ardi, lalu kemudian Ardi tersadar dan kemudian berdiri mengambil spidol dari tangan bu Risa, dengan santai Ardi mengerjakan soal dipapan tulis dan dalam waktu kurang dari dua menit dia menyelesaikan soal itu dengan sempurna, semua orang terkejut begitupun bu Risa.

***

“Oh mama pake mobil ya? Yaudah gak papa kok ma, aku kan bisa naik kendaraan umum. Tenang aja ma… oke ma.. bye” Aku menutup telpon dan menyimpannya ditas kemudian berjalan menuju gerbang untuk mencari kendaraan umum. Aku berdiri didepan gerbang sekolah sambil menunggu angkot yang mengarah kerumahku, sudah hampir setengah jam aku berdiri untuk menunggu angkot, tetapi tidak satupun terlihat angkot kearah rumahku.
“Tet..tet..” bunyi klakson motor membuat lamunanku buyar,
“Kok belum pulang Mit? Gak dijemput?” tanya cowok itu sambil membuka helmnya agar Aku dapat melihatnya, “Eh elo Di, gue kira siapa, ngagetin aja. hehe.. iya nih, mobil dipake nyokap jadi gue pulang disuruh naik angkot hehe.. lo kenapa belum pulang?” tanyaku pada Ardi, aku mengingat kejadian dikelas tadi, aku yakin tadi mukanya seperti sangat bete, tapi sekarang aku melihat perubahan pada wajahnya.
 “Iya tadi abis main baskeat bentar sama anak-anak, bareng gue aja yuk. Kasian lo’nya jam segini belum dapat angkot.” tawar Ardi, aku menggeleng “Nyantai aja kali Di, gak papa kok, ntar juga angkotnya datang.” Jawabku santai, “Udah deh gak usah sok malu-malu gitu, gue tau lo juga bt kan nunggu sampe jam segini? Udah tenang aja gue gak bakal macem-macem kok Mitha, gak usah takut.” Ujar Ardi asal, aku memukul bahunya pelan.
“Hahah dasar lo, siapa juga yang mikir kayak gitu, yaudah kalau lo maksa okedeh gue gak ada alasan lain” ujarku akhinya, “Tuh kan bener apa kata gue, bt kan lo disini? Haha yaudah yuk naik” Aku tertawa sebentar kemudian memegang bahu Ardi dan naik keatas motor besarnya.
Setelah memberi tahu alamat rumahku, akhirnya kami sampai dirumah ku dengan cepat aku turun dari motor Ardi dan berterima kasih, “Gue pulang yah, bye” Ardi bersiap-siap menghidupkan motornya tetapi aku menghalanginya. “Bentar Di, gue boleh nanya gak?”
“Mau nanya apa Mit?”
“Eum.. gue liat, tadi dikelas lo.. kayak bt gitu, lagi ada masalah ya? Soalnya gue gak pernah liat lo kayak gitu selama gue kenal lo sih”
“Gak ada apa-apa kok Mit, eum mungkin karena gue kurang suka aja sama pelajarannya” ujar Ardi asal,  aku menaikkan kedua alisnya tanda bingung. Ardi gak suka pelajaran biologi? Tapi kenapa tadi dia bisa nyelesaikan soal-soal dipapan itu dengan begitu mudah? Gak mungkin, pasti dia bohong.. oke Mitha.. sejak kapan lo jadi suka ikut campur masalah orang?
“Oh gitu, gue kira lagi ada maslah gitu, ternyata gue salah, eh tapi gue juga gak suka tuh sama pelajaran yang satu itu” aku ku tanpa ditanya, Ardi hanya tersenyum. “berarti kita sama dong, wow banget yaa”  ujar Ardi, “Apaan sih lo, ngeledek huh. Udah pulang sana”
“Ngusir nih ceritanyaa? Oke Fine,” Aku dan Ardi kemudian tertawa bersamaan melihat tingkah kami yang konyol tadi.
Lo mungkin bener Mit, gue emang lagi ada masalah.. gue gak tahu apakah masalah ini bisa selesai dan buat senyum tulus gue terukir lagi kayak dulu, gue coba untuk tertawa didepan lo dan semua orang, padahal nyatanya, rasa sakit dan kecewa ini masih tertahan didalam hati.. ya Tuhan.. andai bunuh diri bukan suatu hal yang dosa, udah gue lakuin dari dulu. Batin Ardi, dia melajukan motornya dengan sangat kencang, sangat kencang sampai ia tak tahu kemana dia akan membawa langkahnya.

Aku yakin, Ardi sedang ada masalah, senyum itu… aku tahu persis dibalik senyum dan tawa cowok itu pasti terdapat luka, aku dapat melihat mata Ardi yang menyembunyikan begitu banyak konflik, walau bagaimanapun Ardi adalah teman sekelasku, walaupun tidak terlalu dekat tetapi aku tahu Ardi selalu ceria dengan gaya acuh tak acuhnya itu, bagiku Ardi itu cowok yang menarik, baik, pintar, dan masa bodo dengan penampilan dan sejauh aku mengenal Ardi, menurutku Ardi gampang bergaul dengan semua orang. Tetapi tidak pernah sekalipun aku mendengar cerita cinta tentang cowok satu itu, lebih tepatnya Ardi selalu cuek dengan masalah cinta, padahal untuk tipe wajah sepertinya, dikategorikan ‘lumayan’.
***

Aku dan Ardi sekarang semakin dekat setelah peristiwa Ardi mengantarkan aku pulang siang itu, kami sering sharing tentang sekolah dan pelajaran yang mereka sukai atau yang tidak mereka sukai, aku merasa nyambung dekat Ardi, begitupun sebaliknya. Tapi jujur, sering sekali aku melihat ekspresi sedih pada cowok itu, walaupun aku hanya mengambil sikap tak acuh, karena aku tahu, Ardi paling tidak suka ditanya tentang masalah hidupnya. Sebenarnya aku pun begitu.
Tanpa disadari, aku yakin, aku memendam perasaan lebih dari seorang teman pada cowok itu, tetapi aku berusaha menghilangkannya. Entah sejak kapan, perasaan itu muncul, berawal dari sikap Ardi yang konyol dan selalu membuat ku nyaman berada didekatnya, sikap cuek dan apa adanya yang membuat ku tertarik pada cowok itu, tetapi aku sadar, sangat kecil kemungkinan untuk Ardi membalas perasaanku ini, mengingat sikapnya yang selalu cuek pada persoalan mengenai cinta, bahkan selama dekat dengannya beberapa minggu ini, tak sekalipun aku mendengar tentang wanita dari mulut Ardi. Hari demi hari yang aku lewatkan bersama cowok itu terasa indah, sekarang tanpa sadar setiap melihat matanya dia mulai merasa canggung dan gugup. Demi Tuhan, andai aku bisa menghilangkan perasaan ini, aku akan menghilangkannya dari dulu.
Ya Allah, kenapa tak kau ubah saja perasaan ini menjadi perasaan sayang sebagai sahabat? Itu jauh lebih baik, dari pada aku terus memendam rasa cinta ini.

“Mit, gue liat lo lagi pdkt sama Ardi ya? Cyee.. kapan mau jadian?” goda Nisa teman sebangku ku, aku hanya tersenyum sendiri mendengar sahabatku itu, “Apaan sih Nis, enggak kok. Gue sama Ardi Cuma temen” jawab aku, “Temen atau temen? Dekat banget kalian, sampai-sampai lo jarang main sama gue” ujar Nisa cemberut, “Maaf deh sayang, bukan maksud gue kayak gitu, maaf yaa” sesalku yang menyadari semua perkataan Nisa.
“Hahha yaudah gak papa, ehh hari ini Ardi gak masuk, kemana dia?” tanya Nisa, aku melihat disekeliling kelas, “Iya yah, gak tau gue, dia gak ada bilang sih” jawab ku, kemudian memberhentikan percakapan dengan sahabatku itu karena pelajaran sudah dimulai.

***

Sudah tiga hari Ardi tidak sekolah tanpa keterangan, aku mulai khawatir dan merindukan cowok itu, aku tidak tahu harus melakukan apa, ditelpon tidak aktif dan disms pun tidak dibalas, sempat aku menangis memikirkan Ardi, walaupunku tahu mungkin terlalu bodoh menangisi cowok yang sama sekali bukan siapa-siapaku.

Dear Diary,
Perasaan rindu ini sudah tak bisa kusimpan sendiri, tangis ini pun sudah mulai bosan keluar, haruskah aku terus memendam perasaan cinta ini padanya? Apakah aku terlalu egois untuk mengharap dia akan membalas perasaan ku ini Tuhan?? Jika perasaan ini salah, tolong hapus rasa ini, Jika perasaan ini benar, buat dia merasakannya juga Tuhan, mungkin Ini terlalu cepat, mungkin ini terlalu egois tapi, hanya dengan dia, aku merasa hal yang salah itu berubah menjadi benar. Dimana dia saat ini? sedang apa dia saat ini? apakah ada masalah yang harus dia pendam sendiri sampai dia harus menghilang? Ardi.. aku rindu sama kamu.. adakah kamu merasakan hal yang sama? Adakah kamu sedikit aja memkirikan ku? Kau membuatku tersiksa dengan perasaan ini…

“Lo kemana aja Di? Kenapa hampir 3 hari gak masuk? Gue sms gak dibalas, telpon selalu sibuk, gue khawatir sumpah” ujarku to the point pada Ardi ketika Ardi menyuruh aku menemuinya disebuah taman di dekat rumahku, “Maaf bikin lo khawatir, gue Cuma lagi ada maslaah dikit” jawab Ardi singkat, “Masalah apa sih Di? Cerita dong sama gue, biar lo bisa lega” ujarku perhatian dan duduk disebelah Ardi dibangku taman, “Nyokap bokap gue cerai, hidup gue hancur sekrang Mit, gue jadi broken home, sial..” Ardi mengausap mukanya dengan kedua tangannya, aku tahu Ardi sedang menahan tangisnya, aku terdiam sesaat, kemudian memgang bahu Ardi, “Maaf.. gu..gue gak maksud” Omonganku terpotong oleh Ardi, “Gak perlu merasa sungkan gitu, lo gak salah kok” jawab Ardi, “Sabar Di, semua ini ada hikmahnya, gue ngerti.. gue.. gue” Aku tak bisa berbicara apapun, aku sedih dan sakit melihat wajah menderita yang terlihat jelas diwajah Ardi, “Satu-satunya hal, yang paling gue takutin didunia ini, satu-satunya orang yang paling gue sayang berpisah, dan yang bikin gue sakit, gue harus memilih.. gue gak bisa Mit, andai bunuh diri itu adalah pilihan, akan gue pilih.arrghh”
Terlihat setetes air mata mulai menetes dipipi Ardi, aku menggenggam tangan Ardi, dan menenagkannya.. Rasa sakit seperti apa yang sedang lo rasain Di? Andai bisa lo transfer rasa sakit dan sedih itu, andai gue bisa membantu mengurangi dikit aja kesedihan lo itu Di, gue akan lakuin. Please gue gak sanggup liat lo kayak gini.
“Mitha, gue gak punya siapa-siapa buat cerita selain elo, maaf udah cerita terlalu banyak, gue butuh teman curhat, dan Cuma lo, Cuma sama lo gue bisa merasa sakit ini berkurang, sedih ini berkurang. Gue mohon, jangan tinggalin gue.” ujar Ardi memelukku, aku membiarkan Ardi memelukku erat snagat erat sampai aku sulit bernapas, aku merasakan sekujur tubuhku membeku seketika mendengar penuturan itu, Ardi.. merasa nyaman bersamaku.. apakah aku mimpi?
Aku hanya bisa diam dan mencoba merasakan sakit itu, menggenggam tangan Ardi, aku tahu cowok itu membutuhkanku saat ini, “Terkadang hidup ini gak bisa kita tebak Di, dan mau gak mau kita harus terima hal seburuk apapun itu, ini cobaan, buat lo, buat ortu lo, dan buat masa depan lo, Tuhan anggap lo udah dewasa untuk menghadapi masalah ini. keep strong yah, gue janji selalu ada saat lo butuh” Tanpa sadar air mataku menetes juga, dan cepat-cepat aku menghapusnya agar tak terlihat oleh Ardi, “Thanks for there by my side, trying to comfort me and strengthen me” ujarnya tulus, “Anytime Di, aku janji mengubah sedih itu menjadi kebahagiaan”  
“Kebahagiaan aku Cuma ada sama kamu” ujar Ardi yang berhasil membuatku terkejut, “Sebelumnya aku pikir, gak ada yang bisa buat aku bahagia selain kedua orangtua ku, sekarang bahagia itu lenyap, dan aku sadar, kamu menghadirkan bahagia itu lagi Mit, hanya kamu yang bisa buat aku bisa tertawa lepas,” ujarnya lagi .
Ya Allah, jika bisa kukatakan padanya kalau aku merasakan itu juga, aku merasakan lebih dari sekedar bahagia, aku merasakan cinta, aku cinta kamu Ardi…
“Aku yakin aku jatuh cinta sama kamu Mit,”  ujar Ardi akhirnya, aku menutup mataku menahan tangis, aku merasakan angin sangat kencang dan membuat rambut panjangku menari-nari dikepalaku, bunga-bunga ditaman ini terlihat sangat indah ketika Ardi mengatakan itu, mengatakan dia mencintaiku. Aku hanya diam, membiarkan air mataku mengalir dihadapannya, tak ada pilihan lain, tak ada gunanya juga aku menghentikan tangis ini.
“Aku sadar aku gak sempurna, aku broken home, aku gak pantas buat kamu, aku sadar, gak akan ada cewek yang mau sama aku, apalagi setelah mengetahui latar belakang keluargaku, tapi aku juga gak bisa bohongi perasaanku, disaat aku benar-benar gak punya semangat hidup, disaat aku benar-benar butuh seseorang untuk menguatkanku, disaat itu juga pikiranku gak bisa memikirkan hal lain selain kamu, satu-satunya teman cewek aku, yang bisa berteman dengan aku tanpa melihat bagaimana aku,” jelas Ardi, “Kamu baik Ardi, aku gak ada alasan buat gak nyaman berada didekat kamu.. dan aku sadar aku juga butuh kamu” ujarku jujur. Aku melihat Ardi tertawa kecil,
 “Baik? Setelah kamu tahu hidupku hampir berantakan, apa kata baik itu masih pantas buat aku?” tanya Ardi, “Yang berantakan itu kedua orang tua kamu, bukan kamu! Please jangan karena hal ini kamu berubah Ardi, aku yakin kamu cowok baik, kamu cukup dewasa untuk hal ini…”
“Kamu bisa bilang kayak gini sekarang, tapi nanti? Aku gak yakin, sumpah aku benar-benar gak bisa jauh dari kamu sekarang.”
“Kamu tahu gak apa alasan aku tetap ada disisi kamu?” tanyaku pelan, “Aku tahu, karena kamu kasihan sama aku” jawab Ardi asal, aku menggeleng kemudian menarik napasku. Aku diam sesaat… “Karena aku juga cinta kamu Di, aku tersiksa saat kamu jauh dari aku. aku butuh kamu, aku sayang sama kamu” jawabku jujur. Ardi tertegun dan menatapku, “Kamu cinta sama aku? aku gak pantes kamu cintai, dengan kondisi keluarga aku…”
“Aku cinta sama kamu, bukan sama latar belakang keluarga kamu Ardi, aku mohon.. jangan ungkit hal itu”  Kemudian Ardi memelukku dan aku berharap detik berhenti detik ini juga, dan aku yakin, Doa kuselama ini tak sia-sia, memang dia yang kubutuhkan.
“Yakin Di, Tuhan menciptakan segala sesuatu itu karena sebuah alasan, seburuk apapun hal itu” ujarku, “Dan aku yakin, Tuhan menciptakan kamu untuk terus ada buat aku” ujarnya yakin.
***

Malam itu Ardi menelponku dan akhirnya menembakku, aku dan Ardi sama-sama sepakat untuk mencoba menjalin hubungan, aku pikir tak ada salahnya, kami sama-sama saling mencintai, dan aku tak butuh waktu lama untuk menerimanya, karena memang itu yang kuinginkan selama aku memutuskan mencintainya. Beberapa minggu aku menjalin hubungan dengannya aku merasa hubungan kami tak akan bertahan lama, karena aku merasa Ardi sangat cuek padaku, bahkan aku sempat berpikir dia hanya memainkan perasaanku, tetapi dugaanku salah ketika tadi siang sepulang sekolah, Ardi kerumahku dan memberikanku sepucuk bunga mawar.
“Maaf akhir-akhir ini sering cuek sama kamu, aku tau aku salah, maafin aku ya sayang” ujar Ardi sambil menyerahkan bunga itu untukku, aku mengambil mawar itu dengan hati berbunga-bunga melihat perubahan sikap Ardi, “Tapi kenapa Di? Kenapa kamu selalu cuek sama aku?” tanyaku, “Bukannya aku emang sering cuek ya? Hmm?” tanyanya yang membuatku kesal dan cemberut lagi, kemudian Ardi menghelus rambut panjangku, “Maaf janji deh gak bakal gitu lagi, maaf ya sayang” Lalu dia memelukku.

“Aku harus gimana Di? Aku gak sanggup nahan ini sendirian, aku sedih liat mama yang terus-terusan nangis karena ulah kakak aku,” Aku menceritakan masalah keluargaku dengan Ardi melalui telpon, aku sudah tidak tahu harus bagaimana dengan sikap kakak kandungku yang terus-terusan membuat ulah dan akhirnya mengakibatkan kedua orang tuaku bertengkar, hanya Ardi satu-satunya orang yang dengan siap mendengar segala keluh kesahku.
“Sayang.. ada kalanya hidup ini gak seindah yang kamu bayangkan, dan aku udah merasakan apa yang kamu rasa itu lebih dari sekali, kamu hanya butuh sabar, kamu berdoa sama Allah, untuk yang terbaik buat keluarga kamu, Allah yang tahu semua itu, Allah gak pernah ngasih cobaan diluar batas kemampuan kamu dan keluarga kamu, aku yakin kakak kamu lama-kelamaan bakal sadar, betapa penting orang tuanya itu.”
“I just realized what you feel as long as it is not as easy as I thought. Forgiveme sayang” ujarku sambil terisak, aku sadar apa yang kurasakan belum seberapa dibanding apa yang Ardi rasakan, “Jangan nangis, aku gak mau kamu nangis. Aku bakal berdoa buat kebaikan keluarga kamu, agar kamu gak terus-terusan merasakan apa yang kurasa sayang, keep strong honey”
“Maaf kalau aku bikin kamu teringat tentang masalah kamu, maafin aku sayang,”
“Gak papa, bukannya aku dan kamu itu dipertemukan untuk saling mengerti? Yang kuat, kamu gak sendiri, ada aku. seperti kamu yang selalu ada buat aku.”
“Aku cinta kamu Mitha”
“Aku juga cinta kamu Ardi”

Sudah lima bulan kami menjalani hubungan dengan baik-baik, aku merasa sangat beruntung bisa menjadi pacarnya, aku sangat beruntung hatiku memilihnya sebagai orang yang kucintai, Ardi sangat mengertiku dengan berbagai sifat dan setiap hal-hal yang kualami dihidup ini, dia selalu membuatku tersenyum disaat aku tak punya alasan untuk tersenyum. Aku juga selalu berusaha untuk membuatnya tetap tabah dengan semua masalah-masalah yang dialaminya. Sampai pada akhirnya ketika hubungan kami menginjak umur enam bulan, entah ada angin apa yang merasuki Ardi, dia membuatku hampir hilang kesadaran, membuat air mata ku hampir mengering, membuat hatiku sakit yang teramat dalam…
“Aku sadar aku gak pantes buat kamu Mit, maafin aku, aku minta kita putus aja,”
“Kamu kenapa sir Di? Kenapa minta putus? Kamu gak boleh kayak gini, aku gak mau.. aku mohon aku cinta banget sama kamu” Air mataku menangis mengingat hari-hariku tanpa Ardi, apakah aku sanggup?
“Jujur Mit, aku juga cinta banget sama kamu, tapi percaya sama aku, kamu sama aku itu gak cocok, aku dari keluarga yang berantakan, broken home Mitha, aku gak baik buat kamu. Aku gak mau kamu terbebani dengan latar belakang aku.”
“Aku gak perduli siapa keluarga kamu!!! Aku cinta sama kamu Ardiiii aku gak mau kita putus, please. A..a..aku… hikss..” Aku terisak sedalam-dalamnya, bibirku bergetar dan tak sanggup berbicara banyak. Aku hampir pingsan.
“Aku gak bisa nerusin hubungan ini Mit, maaf udah bikin kamu nangis lagi, maaf udah bikin kamu terlanjur mencintaiku terlalu dalam.”
“Kenapa Ardi kenapa?? Kenapa kamu bikin semua terasa sesulit ini? kenapa gak dari awal kamu jauhin aku kalau emang kamu gak niat buat hubungan kita ini, demi apapun Di, sumpah demi apapun… aku gak pernah mempermaslaahkan siapa kamu! Siapa keluarga kamu. Tolong... aa.aku.. gak bisa..”
“Ya aku tahu itu, kamu gak mempermasalahkannya, tapi aku selalu berpikir tentang masa depan kamu. Kamu bisa kok tanpa aku, aku yakin Mit, gak usah nangisin aku, gak usah nangisin cowok kayak aku.”
“Terserah kamu Di.. hikss… terserah kamu mau apa… yang jelas dan yang paling pasti perasaan ini udah terlanjur dalam, aku udah gak bisa jauh dari kamu. Kamu mau putus, kamu mau ninggalin aku terserah… aku gak bisa ngelarang kamu. Aku ikhlas kok. Walau butuh waktu yang lama buat lupain kamu, kamu emang keras kepala, aku gak bisa ubah sifat itu dari diri kamu”
“Maafin aku Mit, aku sadar aku terlalu banyak beri luka dihati kamu. Aku disini masih sangat menyayangimu… tapi mungkin ini yang terbaik untuk kita.”
Aku memtuskan telpon dan mencampakkannya ke lantai, aku melakukan semua itu diluar kesadaranku, aku tidak tahu apa yang harus kulakukan sekarang ini, aku lelah, aku kecewa, aku sedih, aku sakit. Ya .. sakit ini.. sakit dihati ini, terlalu sulit dilupakan. Terlalu sulit menerima kenyataan, terlalu sakit mengenang hal-hal indah bersamanya.. andai waktu bisa diulang, ya Tuhan.. sakit…

Tigabulan berlalu, semenjak aku putus dengan Ardi, aku merasa hidupku hambar tetapi apapun itu aku tetap harus menjalankan hidupku senormal mungkin tanpanya, walaupun sampai sekarang perasaan ini tak pernah berubah terhadapnya, terhadap lelaki satu-satunya yang sudah mengambil seluruh hatiku. Sahabat-sahabatku berusaha untuk menghiburku, aku mencoba selalu bersikap baik-baik saja didepan sahabatku, tetapi tetap tidak bisa, air mataku selalu tak henti-hentinya mengalir. Setiap hari, bahkan sampai detik ini. Ardi masih sering sms hanya untuk sekedar menanyakan kabarku, dan menelponku hanya untuk mendengar suaraku, dan sifat dia itu yang membuatku tambah sakit. Karena kutahu, dia bukan siapa-siapaku lagi.
Terlalu banyak luka yang kau gores sehingga membuatku kebal akan rasa sakit itu, terlalu banyak juga hal indah yang kau beri seingga mambuatku tak pernah menyesali pertemuan kita. Setiap saat bersamamu itu adalah anugerah terindah yang tuhan berikan buat kita. Mungkin kau benar, terkadang tak semua hal itu seperti yang kita harapkan, mungkin dulu aku mengharapkan agar kita tak pernah terpisah, tetapi kini aku hanya berharap kau bisa bahagia dan aku juga bisa bahagia tanpamu lagi. Makasih Ardi, until now really I still love you.

Inspirasi by : Riza Muvidya (Ree TI)
Tunggu kelanjutannya sayang :*

Leave a Reply

Subscribe to Posts | Subscribe to Comments

My Slide Show Photo

My Slide Show Photo by Slidely Slideshow

- Copyright © 2013 Trivani Desyara - Trivani Desyara - Powered by Blogger - Designed by Rain Boy -